Risiko Ekonomi Naik, S&P Turunkan Peringkat Utang China

0
90
Presiden China Xi Jinping telah mencanangkan peningkatan pembangunan infrastruktur Jalan Sutra dengan membangun koneksivitas China ke berbagai negara di Asia, termasuk Indonesia. Namun proses itu semua sebagian dibiayai lewat utang.

Nusantara.news, Jakarta – Berutang adalah seni mengelola pertumbuhan menggunakan dana pihak lain, tentu ada enaknya, tapi tak sedikit menyebalkannya. Inilah yang tengah terjadi pada Pemerintah China.

Standard & Poors (S&P) Global Ratings baru saja memangkas peringkat utang luar negeri China untuk pertama kalinya sejak 1999, dengan alasan risiko melonjaknya hutang, dan merevisi pandangannya menjadi stabil dari yang negatif.

Peringkat utang luar negeri China dipangkas S&P satu peringkat, ke A + dari AA-, perusahaan pemeringkat tersebut mengatakan dalam sebuah pernyataan Kamis malam sebagaimana dikutip Bloomberg. Para analis juga menurunkan peringkat (downgrade) utang di tiga bank asing yang beroperasi di China, yakni HSBC China, Hang Seng China dan DBS Bank China Ltd. Alasannya, ketiga bank itu tidak mungkin menghindari default jika negara tersebut gagal membayar utangnya.

“Pertumbuhan jangka panjang China yang kuat telah meningkatkan risiko ekonomi dan keuangan,” kata S&P. “Meskipun pertumbuhan kredit ini telah berkontribusi terhadap pertumbuhan produk domestik bruto riil yang kuat dan harga aset yang lebih tinggi, kami percaya hal itu juga mengurangi stabilitas keuangan sampai batas tertentu.”

Penurunan peringkat utang China yang kedua oleh perusahaan pemeringkat utama tahun ini, menunjukkan kepercayaan internasional yang suram bahwa China dapat mencapai keseimbangan antara mempertahankan pertumbuhan ekonomi dan membersihkan sektor keuangannya. Langkah tersebut mungkin juga tidak nyaman bagi pejabat Partai Komunis, yang baru beberapa minggu lagi akan melakukan perombakan kepemimpinan dua kali satu dekade mereka.

“Ini pandangan yang buruk bagi China, terutama dari sudut pandang mereka di luar sana bahwa kebijakan dan retorika yang membicarakan utang lebih banyak dan mengakui tantangan utang mereka,” kata Andrew Polk, salah satu pendiri perusahaan riset Trivium China di Beijing. “Mungkin ini seperti berpotensi menumpuk rasa frustasi masyarakat internasional.”

Kementerian Keuangan China mengatakan dalam sebuah pernyataan pada hari Jumat bahwa S&P mengabaikan fundamental ekonomi negara tersebut dan bahwa pemerintah dapat sepenuhnya menjaga stabilitas keuangan jika memperkuat pengawasan dan pengendalian risiko utang. Pada Mei 2017, kementerian tersebut membantah penurunan peringkat oleh Moody’s Investors Service, dengan mengatakan bahwa hal tersebut melebih-lebihkan kesulitan ekonomi China.

Kantor Berita Xinhua mengatakan dalam sebuah analisis Kamis malam, bahwa downgrade tersebut tidak akan merugikan investasi asing dan tidak mencerminkan situasi ekonomi negara tersebut, mengutip para ahli.

China memang baru saja memutar arah perekonomian setelah mengalami perlambatan yang cukup signifikan dalam beberapa tahun terakhir, namun tidak berjalan mulus. Ambisi China untuk memompa perekonomian menyimpan risiko besar, khususnya pasar keuangan.

“Penurunan peringkat tersebut mencerminkan penilaian kami bahwa periode pertumbuhan kredit jangka panjang yang kuat telah meningkatkan risiko ekonomi dan keuangan China,” kata S&P dalam sebuah pernyataan, seperti dilansir dari Reuters, Jumat (22/9).

Keputusan S&P sebenarnya mengikuti langkah yang lebih dulu diambil oleh lembaga pemeringkat lainnya, yakni Moody’s dan Fitch. China sangat disarankan bisa menjalankan pertumbuhan ekonomi berbasis utang.

Downgrade adalah waktu pengingat yang tepat bagi pemangku kepentingan China, bahwa perlu beberapa reformasi yang lebih sulit, yaitu deleveraging perusahaan dan restrukturisasi perusahaan milik negara,” kata Rob Subbaraman, Ekonomi Nomura di Singapura.

“Fokus perlu beralih dari kuantitas ke kualitas pertumbuhan. Saya berharap akhir tahun ini China menurunkan target pertumbuhan PDB menjadi 6% dari 6,5%, atau tidak memilikinya sama sekali. Itu akan menjadi pertanda positif. ”

Dana Moneter Internasional (IMF) memperingatkan tahun ini, pertumbuhan kredit China berada pada pusaran berbahaya. IMF meminta tindakan tegas untuk mengantisipasi persoalan tersebut. Sementara Bank for International Settlements (BIS) mengatakan pada September lalu bahwa pertumbuhan kredit yang berlebihan menandakan krisis perbankan dalam tiga tahun ke depan.

Pemerintah protes

Pemerintah China sendiri tidak terima dengan keputusan S&P Global Ratings yang memangkas peringkat utang luar negeri China. Keputusan tersebut dianggap tidak mempertimbangkan kondisi fundamental ekonomi China dan potensi ke depan.

Pemerintah China memastikan pertumbuhan kredit sesuai dengan kondisi fundamental yang ada. Pemerintah juga telah mengantisipasi risiko keuangan melalui langkah stabilitas sistem keuangan dan dukungan terhadap ekonomi rill China.

Hanya saja Pemerintah China kurang jujur bahwa tidak ada di dunia ini makmur lewat utang. Amerika yang mbahnya utang saja pernah mentereng dan gagah, bahkan menjadi adidaya ekonomi dunia, harus mengakui kejatuhan ekonominya karena utang.

Kini giliran China yang mengambil alih adidaya ekonomi dunia, pun mulai membesarkan kue ekonominya secara agresif lewat utang. Maka hukum alam yang berbicara, lambat tapi pasti, ekonomi China akan terpuruk dan redup diterkam cicilan dan bunga utang yang terus menggelembung.

Bagaiimana dengan Indonesia? Sampai akhir Agustus 2017, utang pemerintah baru saja melonjak Rp45,02 triliun menjadi Rp3.825 triliun dari posisi Juli 2017 sebesar Rp3.779,98 triliun. Artinya, sepanjang bulan Agustus 2017 setiap hari Pemerintah Indonesia membuat utang Rp1,5 triliun.

Akan kah Indonesia yang baru saja menikmati kenaikan peringkat utang dari S$P, Moodys Rating Agency, dan Fitch Rating Service ke level investment grade, akan mengalami nasib yang sama dengan China? Mungkin pada akhirnya, karena saat ini saja Indonesia sudah memasuki periode defisit kesimbangan primer sebesar Rp140 triliun.

Artinya, Indonesia membuat utang baru untuk membayar bunga utang lama yang jatuh tempo sampai dengan Rp140 triliun. Maka ke depan, seiring dengan tambahan utang yang massif, hanya menunggu waktu mengalami downgrade peringkat utang dan pada akhirnya bisa terancam default. Hanya waktu yang akan menjelaskan…![]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here