Risiko Makro Meningkat, Rupiah Melonjak-Lonjak

0
152
Ekonom senior Rizal Ramli menilai risiko makro ekonomi telah berdampak serius terhadap pelemahan nilai tukar rupiah atas dolar AS.

Nusantara.news, Jakarta – Pergerakan rupiah dalam sebulan terakhir konsisten melemah terhadap dolar AS. Pelemahan itu begitu dramatis, sehingga sore ini sempat menembus ke level Rp15.100 per dolar AS di pasar spot. Ini mengonfirmasi bahwa risiko makro ekonomi terus meningkat.

Rupiah di pasar uang antar bank juga menunjukkan pelemahan yang berarti dengan quotation perdagangan di level Rp15.800. Sementara di pasar forward rupiah diperdagangkan di level Rp15.441 per dolar AS.

Mantan Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Rizal Ramli sudah memprediksi kondisi ini sejak setahun yang lalu. Karena dirinya telah melihat dan memperhatikan beberapa indeks perekonomian makro yang terus memburuk dalam dua tahun terakhir.

Risiko makro ekonomi Indonesia terus meningkat dua tahun terakhir, ditambah faktor eksternal sehingga sempurnalah situasi itu menekan rupiah. Tekanan terhadap nilai tukar begitu konsisten dan massif, sehingga Bank Indonesia (BI) harus melakukan intervensi aktif di pasar uang maupun pasar obligasi.

Namun rupiah tak kunjung menguat, justru terus melemah. Padahal BI sudah menghabiskan cadangan devisa sebesar US$13,69 miliar hingga Juli 2018 (ekuivalen Rp201,38 triliun).

Rizal menandai sedikitnya  ada tiga indeks yang bisa dilihat mengapa rupiah anjlok. Pertama, pertumbuhan ekonomi Indonesia sudah tiga tahun mandek, ekonomi yang biasanya tumbuh 6% lebih, namun selama tiga tahun terakhir ini hanya 5% saja.

Kedua, risiko makro ekonomi semakin tinggi, karena sumber ekonomi, daya beli, dan transaksi penjualan yang ikut merosot. Hal tersebut terjadi karena pengelolaan ekonomi yang tidak hati-hati atau tidak berhati-hati.

Defisit neraca perdagangan dan transaksi berjalan negatif, padahal seharusnya negara-negara di Asia tenggara rata-rata saat ini tengah mengalami positif,” jelasnya.

Ketiga, neraca pembayaran juga negatif. Dalam kondisi ini artinya negara meminjam sekedar untuk membayar bunga pinjaman saja. Semua indikator menunjukkan negatif, neraca perdagangan, neraca transaksi, neraca pembayaran, dan primary balance. “Kejadian ini sudah berlangsung setahun yang lalu,” demikian Rizal.

Sayangnya, selama ini pemerintah terlalu banyak membantah, dan terlalu banyak memberikan keterangan palsu. hanya informasi baik saja yang disiarkan, namun informasi buruk ditutup-tutupi.

Presiden Jokowi sendiri baru belakangan ini menyadari bahwa ekonomi Indonesia saat ini sedang sakit, transaksi perdagangan negatif, dan impor lebih banyak dari ekspor.

Kebijakan defensif

Sementara ekonomi FEUI Faisal Basri menyayangkan BI hanya mampu melakukan kebijakan yang defsensif, yakni melakukan intervensi dan menaikkan suku bunga dari 4,25% menjadi 5,5%.

Ekonom FEUI Faisal Basri menilai kebijakan Bank Indonesia dan pemerintah dalam mengatasi pelemahan rupiah terlalu defensif. Harusnya otoritas moneter dan otoritas fiskal melakukan kebijakan ofensif seperti menggenjot ekspor guna memperkuat nilai tukar rupiah.

Padaha dibutuhkan kebijakan yang ofensif agar rupiah bisa pulih dan bahkan bisa stabil, kalau tidak bisa dikatakan menguat. Caranya, menggenjot ekspor dan memudahkan para eksportir lebih aktif mengirim barang-barang unggulan Indonesia. Tentu dalam hal ini tugas pemerintah adalah menyediakan kebijakan yang mendorong ekspor.

Ia menyarankan agar pemerintah membuat kebijakan mendorong ekspor lebih agresif atau yang bersifat ofensif ketimbang mengendalikan impor. Pemerintah melalui Kementerian Keuangan saat ini sedang mengkaji sekitar 900 komoditas impor barang konsumsi untuk dikendalikan dalam rangka mengatasi pelebaran defisit transaksi berjalan yang sempat mencapai 3% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).

“Strategi pemerintah cenderung defensif. Enggak bakal menang kita kalau defensif terus, mestinya ofensif,” usul Faisal.

Layaknya pertandingan sepak bola, Indonesia mesti melakukan serangan sebagai bentuk pertahanan terbaik dalam perdagangan internasional.

Keputusan mengkaji 900-an komoditas impor barang konsumsi dinilai Faisal terlalu defensif dan dampaknya tidak akan seberapa ketimbang fokus untuk memperluas pasar dan diversifikasi produk ekspor. Dia menyebut, Indonesia bisa saja mengekspor produk unggulannya ke negara-negara kecil yang jika dilihat belum tentu produk dari sana sebanding dengan barang dari Indonesia.

Meski begitu, upaya tersebut dinilai bisa secara perlahan memperkuat posisi Indonesia di perdagangan global, bahkan dapat memanfaatkan produk dari sana untuk diekspor ke negara lain jika tidak berdaya saing bila dipasarkan di dalam negeri.

“Mungkin mereka tidak punya uang, tapi mereka punya produk. Kita ambil, tapi kita tidak perlu produknya, tugaskan PT PPI (Perusahaan Perdagangan Indonesia) cari pasar untuk jual itu,” tutur Faisal.

Terlepas dari hal tersebut, yang perlu diingatkan supaya pemerintah mendukung pengembangan industri unggulan dalam negeri. Selama ini pelaku industri di Indonesia masih dipersulit dengan berbagai kebijakan dan aturan yang justru mengekang kinerja mereka sehingga tidak bisa mencatatkan ekspor dengan maksimal.

“Industri mamin (makanan minuman), farmasi, itu ujung tombak, tapi diganggu terus. Kemarin UU Sumber Daya Alam, sebelumnya gula rafinasi. Itu kelakuan pemerintah dan DPR, (industri) yang bagus diganggu terus,” papar Faisal.

Selain itu, Faisal turut meminta pemerintah mendorong lagi peran tiap duta besar dalam memasarkan produk Indonesia di negara tempat mereka ditugaskan. Jika semua upaya itu dapat dilakukan, Faisal meyakini ekspor Indonesia akan meningkat yang pada akhirnya defisit transaksi berjalan bisa dikendalikan ke tingkat yang lebih rendah.

Agresivitas Erdogan

Berkebalikan dengan apa yang dilakukan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan. Ia dengan gagah berani mengambil langkah super ofensif guna mempertahankan mata uang lira.

Ketika Presiden AS Donald Trump melipatgandakan bea masuk barang-barang ekspor Turki ke AS sangat mahal. Maka Erdogan pun melipatgandakan barang-barang ekspor AS ke Turki. Ini adalah aksi balasan perang dagang yang dilakukan Paman Sam.

Erdogan juga meminta seluruh rakyatnya memboikot dan mengganti produk-produk AS yang biasa dipakai ke produk dari negara lain. Seperti mereka yang biasa pakai Iphone diminta beralih ke Samsung, termasuk menghentikan meminum Coca Cola, Fanta dan lainnya. Turki punya produk handphone lokal yang mendadak laris yakni Venus Vestel.

Erdogan menggandakan tarif sejumlah produk AS yang masuk ke Turki. Tak hanya iPhone dan Coca Cola, Turki juga melipatgandakan tarif mobil asal Amerika, menaikkan hingga 140% alkohol dan tembakau 60%.

Rakyat Turki pun secara massif melepas dolar AS dalam genggamannya dan menukarkan ke dalam lira. Bahkan beberapa yang mampu membakar dolar AS sebagai bentuk perlawanan simbolik terhadap kebijakan Trump.

Diam-diam para emir di Saudi Arabia dan negara sahabat Turki juga memborong lira dan melepas dolar AS untuk membantu mengembalikan lira ke posisi semula.

Selain melakukan aksi melawan, Erdogan juga telah menyiapkan sejumlah langkah corrective action guna melawan Amerika. Pemerintah Turki menyebutkan telah menyusun rencana langkah ekonomi demi meredakan kekhawatiran investor sehubungan dengan jebloknya nilai tukar mata uangnya, Lira. Menteri Keuangan Turki Berat Albayrak menyatakan bahwa pelemahan Lira adalah sebuah bentuk serangan.

Qatar yang sempat diboikot 9 negara teluk dan dibantu oleh Turki, juga langsung menyatakan dukungan kepada pemerintahan sah Turki. Erdogan sukses ‘membujuk’ Emir Qatar Sheikh Tamim Bin Hamad Bin Al Thani berjanji untuk menanamkan investasi senilai US$15 miliar di Turki dalam pertemuan kedua pemimpin di Ankara.

Bank Sentral Eropa dan Bank of China dikabarkan juga siap membantu masing-masing US$1 miliar sebagai bentuk dukungan terhadap Turki. Demikian juga Inggris dan Jerman sedang dalam perundingan memberikan bantuan kepada Turki masing-masing US$1 miliar.

Terakhir Erdogan dengan tegas memindahkan cadangan emasnya di Bank Sentral Amerika sebanyak 220 ton senilai US$25,3 miliar (ekuivalen Rp378,5 triliun). Kebijakan super ofensif Erdogan ini perlahan namun pasti telah membuat lira yang awalnya terdepresiasi dari 7,3 lira per dolar menjadi 6,68 dengan kecenderungan terus menguat.

Bentuk perlawanan yang super ofensif inilah yang membuat rakyat Turki makin mencintai Erdogan. Karena sebagai kepala negara ia terlihat benar perjuangannya sekaligus menunjukkan perlawanan yang sengit. Wajar kalau kepercayaan rakyat terus meningkat kepada Presiden Turki.

Sementara di Indonesia upaya untuk mempertahankan rupiah masih setengah hati. Bahkan dalam kondisi tertentu seperti kehabisan akal, pada bagian lain ada kebijakan yang justru makin memperlemah rupiah seperti impor pangan dan bahan baku konstruksi, serta impor kebutuhan migas makin gencar dilakukan.

Wajar kalau kemudian rakyat tidak lagi respek kepada kepala negara, bahkan muncul berbagai gerakan #2019gantipresiden sebagai bentuk kekecewaan Presiden Jokowi dalam mengelola ekonomi.

Mumpung masih ada waktu, Presiden Jokowi harus menunjukkan kualitasnya, kalau memang masih ada, dengan menunjukkan keberpihaknnya kepada rakyat Indonesia. Dan hal itu bisa ditunjukkan dengan penguatan nilai tukar rupiah.

Presiden BJ Habibie lebih hebat dari Erdogan, pada 1998 ia berhasil mengatrol rupiah dari posisi terlemah sepanjang sejarah Rp16.850 ke level terendah setelah krisis di Rp6.700. Level mana yang tak pernah diulang oleh kepala negara setelah beilau. Semoga ke depan kita bisa dipimpin oleh Habibie-Habibie lainnya.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here