Risma jadi Ahok ke-2

1
1275
Pemuda Surabaya menjalankan shalat Jumat di reruntuhan masjid Assakinah.

Nusantara.news, Surabaya – Wali Kota Surabaya, Tri Rismaharini (Risma) bakal menyusul Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) sebagai kepala daerah yang dilaporkan atas dugaan penodaan dan penistaan agama. Risma dilaporkan sejumlah pemuda Surabaya dari Komunitas Bambu Runcing Surabaya (KBRS) ke Polda Jawa Timur, Senin (20/11/2017).

Selama ini KBRS telah menjadi penggerak shalat Jumat berjamaah di puing-puing Masjid Assakinah, Kompleks Balai Pemuda, Surabaya. Masjid itu sebelumnya telah dibongkar pihak Pemkot untuk pembangunan gedung DPRD 8 lantai dengan anggaran menghabiskan Rp 59 miliar.

Semenjak masjid Assakinah dibongkar, hingga kini pihak Pemkot tidak memberi kejelasan soal nasib masjid ke depannya. Tidak hanya itu, DPRD Surabaya juga terkesan tidak peduli atas pembongkaran tersebut.

Dengan tidak adanya itikad yang baik untuk diajak berunding, baik dari pihak Pemkot dan DPRD Surabaya, maka KBRS akhirnya melaporkan Risma dan Armuji (Ketua DPRD Surabaya) beserta Kepala Dinas Perumahan Rakyat Kawasan Permukiman Cipta Karya dan Tata Ruang Kota Eri Cahyadi sebagai pelaksana di lapangan ke Polda Jatim.

Mereka menilai Risma telah melakukan penistaan agama seperti yang dilakukan Ahok dulu. Hal itu sesuai dengan ketentuan pasal 156 a KUHP yang bunyinya: Dipidana dengan pidana penjara selama-lamanya lima tahun barang siapa dengan sengaja di muka umum mengeluarkan perasaan atau melakukan perbuatan yang bersifat permusuhan, penyalahgunaan, atau penodaan terhadap suatu agama yang dianut di Indonesia.

 Apapun alasan Risma membongkar masjid Assakinah, dianggap sebagai bagian dari penodaan agama. Apalagi alasan pembongkaran itu hingga kini belum bisa dijelaskan. Akibatnya, masjid yang menjadi kebutuhan umat Islam, kini tidak dapat digunakan untuk beribadah.

Menurut informasi yang diperoleh Nusantara.News, proyek pembangunan gedung DPRD Surabaya disinyalir tanpa melalui prosedur yang jelas. Pihak KBRS mendapat info hingga saat ini belum ada pemenang tender untuk pembangunan gedung DPRD 8 lantai. Tapi masjid sudah terlanjur dibongkar.

Baca juga: Cuma Raja Tega yang Berani Bongkar Masjid

Wawan Kemplo, koordinator KBRS didampingi lima pengacara, Okky FS, Ida Bagus Adis Harymbawa, Heroe Maksono, Mudji Utomo dan Abdus Salim yang tergabung dalam OS&Partners saat melapor di Polda Jatim mengatakan, petugas SPKT sempat menyarankan KBRS beserta kuasa hukumnya untuk berkoordinasi dengan Ditreskrimsus Polda Jatim. Dari analisa Ditreskrimsus, kasus pembongkaran masjid itu akhirnya dinyatakan telah memenuhi unsur Pasal 156a KUHP terkait penistaan terhadap agama.

Karena kasus ini bersifat sensitif maka langsung dilaporkan ke Kapolda Jatim, Irjen Pol Machfud Arifin lewat Sekretaris Umum (Setum). Dari Setum ini terbit surat bukti laporan tertulis dengan nomor 44/Pid/P(at/09-201).

Anggota KBRS mendatangi SPKT Polda Jatim untuk melaporkan penodaan agama yang dilakukan Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini, Senin (20/11/2017).

Menurut Wawan, pihaknya terpaksa melaporkan pentolan Surabaya itu karena yang bersangkutan tidak kunjung memberi respon. KBRS sudah mencoba menemui Wali Kota Surabaya dan ketua DPRD Surabaya, namun yang bersangkutan tidak bersedia ditemui.

“Kami sudah menemui ketua DPRD Surabaya (Armuji). Tapi dia tidak cukup nyali menemui kami. Begitu juga dengan Risma yang katanya sepulang dari Amerika Serikat akan menjelaskan seputar kejelasan masjid Assakinah. Namun sampai hari ini tetap tutup mulut,” kata Wawan.

Dikatakan Wawan, tuntutan KBRS hanya sederhana, yakni ingin masjid Assakinah dikembalikan seperti semula. Kalau memang masjid Assakinah sudah terlanjur dibongkar, maka bisa diperbaiki lagi untuk lebih megah. Toh, fungsi masjid juga diperuntukkan untuk umat. Tidak jauh beda dengan gedung DPRD Surabaya yang bakal dibangun nanti. Selain itu, pihaknya juga menuntut agar fungsi Balai Pemuda menjadi ruang publik.

“Tuntutan kami sederhana, kembalikan masjid seperti semua. Bikin kompleks Balai Pemuda sebagai ruang publik. Ruang di mana pemuda bisa membangun karakternya, sesuai dengan perjuangan Arek-arek Suroboyo pada masa kemerdekaan dulu,” ujar Wawan.

Adapun pelaporan Risma dan Armuji ke Polda Jatim atas dasar penodaan agama, kata Wawan, berdasarkan ketentuan pasal 156a KUHP. Karena itu pihaknya berani melaporkan Risma dan Armuji. Untuk Kepala Dinas Perumahan Rakyat Kawasan Permukiman Cipta Karya dan Tata Ruang Kota Eri Cahyadi, KBRS melaporkan yang bersangkutan karena pihaknya mengaku melakukan pembongkaran atas perintah atasan.

Baca juga: Serakah Bongkar Masjid, Pemimpin Surabaya Perlu ‘Dikafani’

“Pembongkaran itulah yang kami sesalkan. Inilah yang kami laporkan. Yang namanya pembongkaran masjid kan ada adab-nya. Orang mau bongkar masjid ada aturannya. Adabnya kalau bongkar masjid, harus dibuat penggantinya dulu. Tapi ini tidak,” tandasnya.

Sebelumnya Kepala Dinas Perumahan Rakyat Kawasan Permukiman Cipta Karya dan Tata Ruang Kota Surabaya Eri Cahyadi dalam hearing bersama Komisi C, Selasa (14/11/2017) lalu, menegaskan pembangunan masjid akan dimulai. Menurutnya, penghentian masjid terjadi akibat ada protes dan spanduk-spanduk yang dipasang oleh organisasi masyarakat.

Ia menyebutkan, masjid ini menjadi kesatuan dengan gedung DPRD. Namun pihaknya mengklaim pembangunan masjid akan didahulukan dan menjadi prioritas. Eri sekaligus membantah tudingan bahwa Pemkot meniadakan bangunan masjid Assakinah. Justru menurutnya, masjid akan dibangun lebih mewah dan megah. Dengan luasan 13 meter kali 29 meter, masjid ini akan lebih luas dibandingkan dengan luas sebelumnya, yaitu 13 meter kali 13 meter.

Masjid yang baru ini tetap satu lantai tapi tingginya lima meter. Bisa menampung sebanyak 400 jamaah. Jika dulu jamaahnya hanya mampu menampung 150 jamaah saja.

Ia meminta masyarakat untuk tidak berprasangka buruk. Pembongkaran masjid itu memang untuk membangun gedung DPRD. Namun selama pembangunan tersebut masjid direlokasi di gedung merah putih. “Masjidnya tetap ada di lantai paling bawah. Tidak eksklusif. Namun lahannya memang ada di gedung DPRD,” kata Eri.

Dari hasil hearing ini, Ketua Komisi C DPRD Surabaya Syaifuddin Zuhri lantas mengatakan, agar organisasi masyarakat yang memasang spanduk di masjid Assakinah yang lama untuk segera mencopot spanduk tersebut. “Kami juga meminta agar tidak dibahas terus. Pembongkaran masjid ini bukan untuk ditiadakan. Justru dibangun lebih luas. Bergaya timur tengah, dan bisa menampung dua kali lipat,” katanya.

Hal ini kemudian dibantah Wawan. Menurutnya masjid Assakinah yang dibangun dan menjadi satu kesatuan dengan gedung DPRD sangat tidak masuk akal. Pihaknya tidak habis pikir dengan jalan pemikiran pemerintah. Pasalnya, masjid Assakinah yang dibangun nantinya akan berada di bawah gedung. Nah, yang namanya masjid dibangun di bawah atau dalam gedung, menurut ulama itu tidak boleh.

“Katanya mau dibangun di ruang bawah, di bawah ruang kerja mereka. Ini makin ngawur. Masa masjid di dalam atau di bawah gedung. Filosofinya masjid itu berdiri sendiri. Ada tempat sholat. Ada adzan menggunakan toa. Ada sholat jamaah, termasuk sholat Jumat. Kalau dewan menempatkan masjid di bawah gedung, itu sama saja dengan gedung kandang bedhes (kera) dicampur dengan masjid,” imbuhnya.

Sementara, Kabid Humas Polda Jatim, Kombes Pol Frans Barung Mangera, menuturkan, pihaknya masih mempelajari laporan itu. “Laporan baru saja diterima lewat Setum dan itu perlu kroscek dan kita pelajari lebih mendalam,” ungkapnya.

Memakmurkan Masjid Tanpa Masjid, Bagaimana Bisa?

Pembongkaran masjid Assakinah sebelumnya mendapat protes dari Dewan Pimpinan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Jawa Timur pada Kamis (16/11/2017). MUI Jatim telah melayangkan keberatan atas rencana Risma yang merobohkan masjid Assakinah di Kompleks Balai Pemuda.

Ketua MUI Jatim KH Abdusshomad Buchori mengatakan pihaknya telah menerima aduan dari sejumlah elemen masyarakat terkait dengan rencana Pemkot Surabaya dalam hal ini Risma, merobohkan masjid Assakinah.

“Memohon dengan hormat Ibu Walikota Surabaya mempertimbangkan kembali rencana tersebut. Masjid Assakinah merupakan masjid yang mempunyai letak strategis di tengah-tengah kompleks perkantoran dan menjadi tempat shalat warga perkantoran sehingga keberadaannya sangat dibutuhkan,” tulis Buchori.

Baca juga: Rubuhkan Masjid, Risma Digugat Rp10 Ribu

Sementara Muhammadiyah juga memprotes dibongkarnya masjid Assakinah. Rencananya Muhammadiyah akan menemui DPRD Surabaya pada Kamis (23/11/2017) untuk meminta penjelasan terkait dengan pembongkaran masjid.

Informasi yang diterima Nusantara.News, Muhammadiyah akan mengambil sikap setelah mendapat kepastian dari DPRD Surabaya. Sebaliknya, Muhammadiyah mendukung perjuangan pemuda-pemuda dari KBRS yang kini tengah memperjuangkan pembongkaran masjid Assakinah, serta melaporkan Risma dan Armuji ke Polda Jatim.

Selain itu, kata sumber yang tidak mau disebutkan namanya, Muhammadiyah saat ini juga masih menunggu sikap dari Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNUJawa Timur.

Pembongkaran masjid Assakinah yang dilakukan Risma, sebenarnya sangat bertolak belakang dengan Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) yang juga sebagai Ketua Umum Dewan Masjid Indonesia (DMI). Pada Muktamar ke VII di Asrama Haji Pondok Gede Jakarta, Sabtu, (11/11/2017) lalu, JK mengatakan bahwa jumlah penduduk Muslim Indonesia kurang lebih 220 juta orang, sedangkan masjid dan mushola lebih dari 800 ribu. Hal itu wajar apabila jumlah masjid dan mushola di Indonesia terbanyak di dunia.

“Indonesia merupakan salah satu hal yang sangat kita tonjolkan dan sangat kita banggakan ialah jumlah kita negara di mana jumlah penduduk Muslim terbesar di dunia. Karena itu wajar kalau jumlah masjidnya kita terbanyak di dunia,” ujarnya.

Lebih lanjut JK menuturkan, banyaknya jumlah masjid menjadi kewajiban umat Muslim seluruh Indonesia yang harus dikelola secara bersama-sama dengan baik. “Karena itulah maka mengurus Masjid di Indonesia adalah suatu kewajiban yang baik kita semuanya. Untuk itu diperlukan kerja sama yang baik pelibatan seluruh masyarakatnya,” terangnya.

Wapres juga menyinggung soal kenapa Dewan Masjid mengusung tema memakmurkan dan dimakmurkan masjid, dijelaskan JK bahwa makmurkan masjid menurutnya dengan cara meramaikanya dengan melaksanakan ibadah dan juga memelihara kebersihan masjid.

“Alhamdulillah dari tahun ke tahun jumlah masyarakat yang memakmurkan masjid makin baik,” jelasnya.

Meski demikian, yang tidak kalah pentingnya adalah bagaimana peranan masjid dapat  memakmurkan jamaahnya. Kata JK, fungsi masjid harus tetap berkembang sesuai dengan jamannya.

Oleh karena itu, kepengurusan DMI harus menjalankan program yang bermanfaat untuk masyarakat di samping dia harus memakmurkannya dengan mengajak masyarakat melakukan ibadah ritual di masjid. “Tanpa itu maka tidak lengkap mengurus mesjid, tanpa masyarakat mengambil manfaat yang besar,” pungkasnya.

Sayangnya JK tidak tahu, jumlah masjid yang disebutkan telah berkurang satu setelah masjid Assakinah dibongkar oleh Risma. Tidak hanya itu, Wapres JK juga tidak tahu bagaimana jamaah bisa memakmurkan masjid jika tempat ibadahnya sudah tidak ada lagi.

Ya, Risma boleh saja dikenal sebagai tokoh internasional dari Surabaya, dikenal pemimpin merakyat, tapi mungkin dia tidak sadar betapa pentingnya Balai Pemuda bagi pemuda-pemuda Surabaya. Apakah Risma sering shalat di masjid Assakinah yang kecil, indah dan nyaman itu? Apakah dia menikmati sebagai jamaah sebagaimana yang lain menikmatinya?

Apakah Risma pernah menyaksikan banyak tokoh besar, seniman besar, bahkan sejumlah guru besar seperti almarhum Prof Ayu Sutarto, Dramawan Internasional WS Rendra, penyair Taufik Ismail, yang biasa leyeh-leyeh di masjid ini habis sholat Dhuhur atau Ashar?

Mungkin dia tidak melihat betapa bangganya anak-anak muda, anak SMP dan SMA yang rajin ke perpustakaan daerah Surabaya di komplek Balai Pemuda, terus selalu rajin sholat di masjid ini, sementara ribuan anak muda lain suka jalan-jalan ke mall atau nongkrong di taman-taman Indah yang dibangun Risma.

Di halaman masjid ini juga, setiap bulan ada ribuan anak-anak muda, mulai jam 21.00 hingga 03.00 dini hari, kumpul untuk bermaiyah dalam acara Bangbang Wetan yang dihadiri oleh Emha Ainun Nadjib, atau Sabrang letto dan Kyai Muzzamil. Di tengah banyak anak muda nongkrong di warung kopi dan menikmati keriuhan kota yang indah, masih ada suasana dialogis, religius di halaman masjid dan Balai Pemuda, dan itu adalah sebuah karya nyata dan abadi yang tak ternilai harganya. Yang jelas, Risma tidak pernah merasakan keindahan kebersamaan dalam bersilaturahmi, berbudaya, dan berdialog menjaga nilai-nilai di area masjid ini. Sehingga jangan kaget menggusur dan merobohkan masjid Assakinah dan sekitarnya begitu mudah. Dan jangan kaget juga jika kini Wali Kota Surabaya itu dilaporkan Polda Jatim atas tuduhan penodaan agama seperti Ahok dulu.[]

1 KOMENTAR

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here