Ritual Tiwah, Upacara Kematian yang Penghabisan Khas Kaharingan

0
613
Ritual Tiwah yang biasa diselenggarakan suku dayak di Kalimantan Tengah, khususnya bagi penganut agama Kaharingan

Nusantara.news, Palangkaraya – Bagi suku Dayak Kalimantan Tengah yang menganut agama Kaharingan, jasad seseorang yang telah dikuburkan belum sempurna manakala belum melakukan Ritual Tiwah.

Oleh karenanya perlu prosesi untuk mengantar roh leluhur atau kerabat ke alam baka, dengan cara menyucikan dan memindahkan sisa jasad dari liang kubur ke sebuah rumah bernama Sandung. Biasanya jasad yang hendak disucikan sudah terkubur lama sehingga hanya menyisakan tulang belulangnya saja.

Hasil gambar untuk ritual tiwah - kalimantan tengah

Bila anda seorang janda atau duda yang ditinggal wafat oleh pasangan, keputusan untuk bisa menikah lagi baru bisa diambil setelah secara adat melakukan ritual tiwah.

Namun, melaksanakan ritual tiwah bukan perkara mudah. Selain dibutuhkan biaya yang relatif besar juga dibutuhkan kesabaran karena upacara membutuhkan waktu berhari-hari, bahkan bisa satu bulan penuh.

Sebagai contoh ritual tiwah yang digelar keluarga Ari Dewar di Kota Waringin Timur (Kotim) yang menghabiskan waktu 30 hari dan biaya sekitar Rp1 miliar. Tiwah dilakukan untuk almarhum ayahnya Dewar IA Bajik yang sudah meninggal 12 tahun, sang paman Simon Martir dan 21 kerabatnya yang sudah meninggal dunia.

“Saya dan saudara saya Alfian O Dampa yang menanggung seluruh biaya tiwah ini, sebab tidak semua orang Kaharingan mampu melaksanakan tiwah. Tiwah ini sifatnya wajib dilaksanakan, sebab sebelum orang yang meninggal dunia ditiwah, maka ia belum bisa masuk ke dalam surga. Ini kepercayaan penganut Agama Kaharingan,” terang Ari Dewar.

Gambar terkait

Tiwah yang diselenggarakan keluarga Ari Dewar di tempat kelahirannya di Desa Rubung Buyung, Kecamatan Cempaga, Kabupaten Kotim ini sudah berlangsung sejak November hingga 12 Desember 2010 yang lalu.

Meskipun dia sudah menganut agama Islam, namun sebagai keturunan Dayak Kaharingan Ari Dewar merasa berkewajiban melakukan ritual Tiwah sebagai wujud kecintaannya kepada leluhur. Toh begitu, sebelum melakukan upacara dia mengaku sudah berkonsultasi dengan ulama dan guru mengaji di Banjarmasin. Setelah diizinkan baru dia melakukan upacara itu.

“Ritual ini sudah dilaksanakan sejak ratusan tahun silam, jadi perlu dilestarikan. Mengangkat kerangka orang yang sudah meninggal kemudian menaruhnya di dalam sandung atau rumah kecil dengan tidak menyentuh tanah,” jelas Ari Dewar.

Osoh T Agan, pisor atau pemimpin ritual tiwah menjelaskan, ritual tiwah merupakan rukun kematian tingkat terakhir yang waktu pelaksanaannya tidak ditentukan. Bisa dilaksanakan kapan saja sesuai kesiapan keluarga yang ditinggalkan.

Gambar terkait

Puncak acara Tiwah adalah memasukkan kembali tulang-belulang yang digali dari kubur dan sudah disucikan melalui ritual khusus ke dalam Sandung. Namun, sebelumnya lebih dahulu digelar acara penombakan hewan-hewan korban, kerbau, sapi, dan babi.

Upacara Tiwah atau Tiwah Lale atau Magah Salumpuk liau Uluh Matei ialah upacara sakral terbesar untuk mengantarkan jiwa atau roh manusia yang telah meninggal dunia menuju tempat yang dituju yaitu Lewu Tatau Dia Rumpang Tulang, Rundung Raja Dia Kamalesu Uhate, Lewu Tatau Habaras Bulau, Habusung Hintan, Hakarangan Lamiang atau Lewu Liau yang letaknya di langit ke tujuh.

Hasil gambar untuk ritual tiwah - kalimantan tengah

Perantara dalam upacara ini adalah Rawing Tempun Telun, Raja Dohong Bulau atau Mantir Mama Luhing Bungai Raja Malawung Bulau, yang bertempat tinggal di langit ketiga. Dalam pelaksanaan tugas dan kewajibannya Rawing Tempun Telun dibantu oleh Telun dan Hamparung, dengan melalui bermacam-macam rintangan.

Kendaraan yang digunakan oleh Rawing Tempun Telun mengantarkan liau ke Lewu Liau ialah Banama Balai Rabia, Bulau Pulau Tanduh Nyahu Sali Rabia, Manuk Ambun. Perjalanan jauh menuju Lewu Liau melewati empat puluh lapisan embun, melalui sungai-sungai, gunung-gunung, tasik, laut, telaga, jembatan-jembatan yang mungkin saja apabila pelaksanaan tidak sempurna, Salumpuk liau yang diantar menuju alam baka tersesat. Pelaksana di pantai danum kalunen dilakukan oleh Basir dan Balian.[]

 

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here