Riwayat Pulau Run di Indonesia yang Ditukar dengan Manhattan di New York

0
481

Nusantara.news, Jakarta – ”Cita rasanya melayarkan ribuan kapal. Aromanya mengundang negara-negara Barat datang ke Nusantara”. Demikian Jack Turner menggambarkan bagaimana rempah Nusantara menggoda dan memikat dalam bukunya: Spice, The History of A Temptation (2004).

“Aroma surgawi” rempah, utamanya keharuman buah Pala di Kepulauan Banda, Maluku, memikat bangsa asing untuk berdagang dan meraup untung di pasar dunia pada abad ke-17. Buah pala pada zaman itu digunakan sebagai bumbu, obat, sekaligus pengawet makanan. Harganya lebih mahal dari emas.

Rempah Pulau Run, Aroma yang Mengundang Penjajahan

Bagi bangsa Eropa kala itu, rempah diasosiasikan dengan erotisme dan kemegahan. Bahkan, rempah mengandung korelasi magis dan sakralitas. Tak hanya itu, di abad pertengahan, pala dan cengkih dijadikan bahan aromatik untuk menangkal wabah pes, yang dikenal dengan black death. Maka dalam konteks sosio-kultural, rempah menunjukkan identitas, derajat, dan status seseorang. Hanya kalangan bangsawan dan saudagar kaya yang bisa menikmatinya. Sehingga, pelayaran memburu rempah adalah manifestasi hasrat yang tak tertangguhkan, sekaligus bukti kedigdayaan sang penakluk.

Inilah yang membikin Portugis, Belanda, Inggris, Prancis, dan Spanyol bergerak sampai jauh, melarungkan kapal-kapal hebat, dan mengorbankan pelaut-pelaut ulung mereka hanya untuk menemukan kepulauan rempah. Pulau Banda, Ai, Tidore, Ternate, Jailolo, dan Run adalah “sepotong surga” yang mereka cari. Gugusan pulau yang tidak eksotis dengan tebing-tebing pantai berbatu, seolah tidak memungkinkan bahtera berlabuh di sana, tetapi di tempat itulah tiap tahunnya menghasilkan sepertiga juta ton rempah-rempah!

Inilah buah pala yang pernah menjadi primadona rempah-rempah paling dicari bangsa Eropa

Masyarakat Banda yang ramah menyambut datangnya bangsa Arab, China, India, dan Eropa yang datang membeli pala. Sampai akhirnya ketika berdagang saja tak cukup, Belanda melakukan monopoli. Tak diterima, Belanda membantai masyarakat Banda asli. Bagi Belanda apapun dilakukan demi pala. Termasuk melawan sekutu sendiri dari Eropa, yakni bangsa Inggris.

Pulau Run sebagai penghasil pala diperebutkan oleh berbagai kerajaan Eropa. Kongsi dagang Inggris The East India Company (EIC) yang berdiri pada 1599 berebut keuntungan ekonomi dengan rivalnya kongsi dagang Belanda Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC), pada 1602. Genderang perang ditabuh hanya karena eksotisme rempah. Inggris, Belanda, dan penduduk asli Banda adalah pihak yang terlibat dalam kekejaman, intrik, dan kelicikan.

Pulau Run Indonesia ditukar dengan Pulau Manhattan (New York)

Kala itu, rempah-rempah berasal dari Kepulauan Banda, yang terdiri atas 10 pulau vulkanis yang tersebar di Laut Banda. Hampir semua dikuasai Belanda. Kecuali Run. Run atau Rhun adalah pulau terkecil di Kepulauan Banda, Indonesia. Panjangnya hanya sekitar 3 kilometer dan lebarnya 1 kilometer.

Pulau Run (dilingkari)

Inggris yang tak kuat menahan godaan pala terbaik dunia sempat mencoba mengambil kepulauan Banda dari Belanda. Strateginya saat itu, menjatuhkan jangkar dan membangun markas di Pulau Run. Sebab pulau besar seperti Banda Neira dan Lontor sudah dikuasai oleh Belanda dan dijaga ketat dengan 12 benteng yang berdiri kokoh. Pada tahun 1616, Inggris berhasil menguasai Pulau Run. Saking gembiranya, Raja Inggris James I mengubah gelarnya menjadi: ‘King of England, Scotland, France, Ireland, and Run‘.

Meski sudah jadi ‘milik’ Inggris, Belanda tak menyerah. Di bawah pimpinan Peter Verhoef, VOC mendesak para penguasa lokal mematuhi perjanjian-perjanjian yang telah dibuat. Verhoef juga menyatakan diri sebagai musuh bersama penguasa-penguasa lokal untuk menunjukkan kedigdayaan VOC. Arogansi tersebut dibayar mahal: Verhoef menemui ajal.

VOC segera melakukan tindak balasan. Di Banda Neira, desa-desa dibakar, kapal-kapal dihancurkan, dan orang-orang pribumi dibantai. Mereka terus-menerus menyerang Run demi mewujudkan niatnya untuk memonopoli perdagangan pala. Belanda membakar pohon-pohon pala di Pulau Run. Inggris juga kena getahnya. Simon Hoen, yang menggantikan Verhoef, mengirim surat pengusiran dari Kepulauan Banda. Inilah awal dari ‘perang antara Inggris dan Belanda’ (1652-1654).

Pada 1667, kedua negara menyepakati Perjanjian Breda. Yang isinya, Run diserahkan pada Belanda, sementara Inggris mendapatkan Pulau Manhattan yang saat itu masih sepi, membosankan, dan tak punya rempah-rempah di Amerika Utara, dan mengganti namanya dari Nieuw Amsterdam menjadi New York City.

“Kekalahan Inggris dalam perang itu menghadirkan tekanan tersendiri dalam negosiasi di Breda. Mereka sebelumnya ingin lebih menukar perkebunan gula di Suriname. Namun pada akhirnya, Pulau Run (Banda) yang ditukar dengan Manhattan (Nieuw Nederland) beserta Nieuw Amsterdam-nya (kini Kota New York),” ujar sejarawan Wim Manuhuttu dalam seminar “Banda: Heritage of Indonesia” di Erasmus Huis, Jakarta Selatan, Juli lalu.

Dalam sejarah Indonesia, Kepulauan Banda punya arti tersendiri sebagai tempat pembuangan para tokoh bangsa oleh pemerintah kolonial Belanda. Banda dalam sejarah Indonesia jadi tempat pembuangan para bapak negara. Seperti Mohammad Hatta, Sutan Sjahrir, Iwa Kusuma, dan lain-lain.

Selang 350 tahun kemudian, tanah rawa Manhattan (Nieuw Amsterdam) yang ditukar itu berkembang menjadi kota bisnis terbesar di dunia yang sekarang bernama New York. Sedangkan kehidupan Pulau Run berjalan sangat pelan, sejalan dengan harum buah pala yang tak lagi tercium oleh bangsa asing bahkan bangsanya sendiri.

Dua pulau yang dulu pernah ditukar. Kini kondisinya: New York (kiri), Pulau Run Indonesia (kanan).

Kini, Pulau Run seolah terlupakan, bahkan banyak orang Indonesia sendiri tak mengetahuinya. Ia tetap pulau kecil yang tertinggal, tak ada aliran air bersih, dan miskin. Kontras dengan Manhattan, yang megah dan moderen.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here