RM Djajeng Pratomo, Pejuang Yang Terlupakan Wafat di Usia 104

0
526
Pejuang "Perhimpunan Indonesia" yang gigih mengibarkan bendera Merah Putih di daratan Eropa telah wafat di usianya menjalang 104 tahun / Foto Aboeprijadi Santoso

Nusantara.news, Jakarta – Raden Mas (RM) Djajeng Pratomo mungkin satu-satunya anggota Perhimpunan Indonesia (PI) yang tersisa. Dia terlahir dari keluarga ningrat – tepatnya dari keluarga Pura Pakualaman, Yogyakarta – yang menjadi mahasiswa kedokteran di Leiden, Belanda. Selain itu, dia aktif mengembangkan Tari Jawa di daratan Eropa.

Namun kini Djajeng yang diberi karunia menikmati usia lebih dari satu abad telah tiada. Lewat akun Facebook miliknya – Aboeprijadi Santoso – menulis kabar duka cita – meskipun ada kesalahan dalam penulisan tahun kelahiran yang mestinya 1914 ditulis 1904. Tokoh yang pernah mengibarkan bendera merah putih hingga ke Praha dan Sarajevo itu wafat pada 15 Februari 2018 lalu, atau persis satu menjelang hari lahirnya yang ke-104.

Perhimpunan Indonesia

Sekedar catatan. Perhimpunan Indonesia sendiri adalah kelanjutan dari organisasi mahasiswa asal Indonesia – awalnya di negeri Belanda dan kemudian berkembang ke suluruh dunia. Wikipedia menulis, organisasi ini awalnya bernama Indische Vereeniging yang berdiri pada 1908 oleh Soetan Kesajangan Soripada dan RM Noto Soeroto. Awalnya Indische Vereeniging hanya organisasi sosialita anak-anak muda asal Hindia Belanda.

Baru setelah kendali organisasi dipegang Tjipto Mangoenkoesoemo dan Soewardi Soerjaningrat (Ki Hadjar Dewantoro) – Indische Vereeniging berubah menjadi organisasi yang memikirkan nasib bangsanya. Itu tidak mengherankan, sebab pada 25 Desember 1912 – Tjito, Ki Hadjar dan E.F.E Douwes Dekker telah mendirikan Indische Partij yang berusaha mendaftarkan diri sebagai partai politik resmi pada 11 Maret 1913 namun ditolak oleh pemerintahan Hindia Belanda.

Indische Vereeniging sendiri berubah nama menjadi Indonesische Vereeniging pada September 1922. Saat itu istilah “Indonesier” dengan kata sifat “Indonesische” sudah lazim digunakan oleh kalangan liberal – pendukung politik etis – di Belanda.

Tahun 1923 organisasi itu dipimpin oleh Iwa Koesoemasoemantri dan mulai menyebarkan gagasan-gagasan non-kooperatif. Tahun 1924 ketua dipegang M. Nazir Datuk Pamoentjak yang mengubah nama terbitan “Hindia Putera” menjadi “Indonesia Merdeka”.

Ketika organisasi dipegang Soekiman Wirjosandjojo pada 1925, nama “Perhimpunan Indonesia” itu dikenalkan secara meluas di Eropa.

Sekedar catatan pula, biasanya periode jabatan Voorzitter (Ketua) organisasi itu hanya 1 tahun. Mohammad Hatta yang sebelumnya editor “Indonesia Merdeka” yang sebelumnya bernama “Hindia Putera” menjabat Ketua PI terlama – sejak 1926 hingga 1930. Tokoh-tokoh PI yang mengemuka lainnya – antara lain – Arnold Mononutu, Soedibjo Wirjowedojo, Sunario Sastrowardojo, Sastromoeljono, Abdul Madjid, dan Soetan Sjahrir.

Raden Mas Dajeng Pratomo  – tulis Aboeprijadi Santoso di akun Facebook miliknya – adalah lulusan Koning Willem II School di Batavia yang pada 1935 bertolak ke Belanda untuk melanjutkan studi kedokteran di Leiden, Belanda. Dia menyusul adiknya Gondho Pratomo yang terlebih dulu berangkat ke sana. Di Belanda itulah Djajeng mendaftarkan diri menjadi anggota PI sekaligus mengenalkan tari-tari Jawa di Eropa.

Pejuang yang Terlupakan

Sebagaimana dikutip dari buku Djajeng Pratomo – Forgotten Freedom Fighter Who Loved Dancing & The Perhimpunan Indonesia” yang ditulis Aboeprijadi Santoso – wartawan senior Radio Nederland –Djajeng Pratomo lahir di Bagan Siapi-api, kota pasar ikan di pantai timur Sumatra, putra sulung dr. Djajengpratomo dari Pakualaman Yogyakarta, pada 22 Februari 2014. Sebelum wafat dia hidup mandiri di sebuah Apartemen, desa ‘t Zand, di ujung utara Belanda, Djajeng lama tersisih dari perhatian media di Belanda maupun Indonesia.

Djajeng bersama cucu-cucunya saat merayakan hari lahir satu abad pada 22 Februari 2014/ Foto Aboeprijadi Santoso

Ayahnya, Djajengpratomo, tulis Aboeprijadi alias Tossi, mengenyam sekolah kedokteran yang diperuntukkan bagi kaum ningrat, STOVIA, di Batavia. Ayahnya memang generasi pertama terdidik yang lahir dari politik etis Belanda di negeri-negeri jajahannya. Kala itu, ayah Djajeng, sudah tertular “virus kebangsaan” yang digerakkan oleh gerakan nasionalis di bawah kepemimpinan dr. Soetomo.

Ayah Djajeng – tulis Tossi – mempelopori pelayanan kesehatan di klinik di Bagan Siapi-api. Berkat perannya –dia mahir berbahasa Tionghoa untuk melayani mayoritas penduduk yang asal Tionghoa– namanya diabadikan pada rumahsakit lokal: RSUD Dr Pratomo.

Sedangkan Djajeng Pratomo sendiri nama lahirnya adalah Amirool Koesno, kemudian digantinya dengan nama ayahnya– bernasib hampir serupa. Seperti ayahnya, privilese yang memungkinkannya masuk sekolah menengah Koning Willem II School di Batavia membuat dirinya sadar sebagai anak jajahan. Menyusul adiknya, Gondho Pratomo, Djajeng pada 1935 bertolak ke Belanda untuk melanjutkan studi kedokteran di Leiden.

Justru di Belanda Djajeng – begitu tulis Tossi – menemukan budaya aslinya. Dia menggemari, mempelajari, dan mementaskan tari Jawa melalui kelompok seni tari De Insulinde.

Djajeng berpacaran dengan Stennie yang selanjutnya menjadi istrinya sebelum pendudukan Nazi di Belanda/ Foto Aboeprijadi Santoso

Saat Jerman menduduki Belanda, Djajeng tercatat sebagai anggota PI. Kala itu dia berkenalan dengan sang kekasih Stijntje ‘Stennie’ Gret, gadis Schiedam yang dijumpainya di sebuah toko buku pada 1937. Rupanya Stennie yang akhirnya menjadi pendamping hidupnya itu meminati perkembangan di Hindia dan tertarik pada seni tari Jawa. Bersama Djajeng keduanya menjadi mitra di bidang budaya sekaligus sekutu politik.

Beginilah saat Djajeng mengenalkan Tari Jawa di daratan Eropa dan Inggris./ Foto Aboeprijadi Santoso

Sebelum pendudukan Nazi-Hitler keduanya menikmati masa bahagia di Rotterdam. Keduanya sering menikmati pergelaran jazz di teater prestisius Pschorr di Coolsingel, Rotterdam. De Insulinde – kelompok tari jawa yang didirikannya bersama Stennie pun – sempat pentas di Koloniaal Instituut van de Tropen, Amsterdam bahkan hingga ke London dalam acara penggalangan dana untuk mengusir Jepang dari Tiongkok.

Setelah Nazi menguasai Belanda pada 1940-an awal, pada 1943 Djajeng dan Stennie yang bergabung dalam gerakan anti fasis ditahan di kamp Vught. Tahun berikutnya mereka dikirim ke kamp maut Nazi di Ravenbruck (Stennie) dan Dachau (Djajeng) di Jerman.

Sebagai tawanan Nazi di Dachau yang bekerja secara paksa di pabrik pesawat terbang Messerschmitt  – tulis Tossi – Djajeng kerap melihat pembantaian. Jika ada peluang dia berusaha menolong korban. Sedangkan Stennie di kamp Ravenbruk pernah mencat hitam rambut para manula saat Nazi ingin menghabisi para tawanan jompo.

Djajeng dan istrinya Stennie setelah kemerdekaan Indonesia turut kampanye kemerdekaan dengan kibarkan Sang Merah Putih di Praha hingga Sarajevo/ Foto Aboeprijadi Santoso

Selamat dari derita kamp, Djajeng dan Stennie dibebaskan tentara Sekutu. Keduanya baru bertemu kembali pada September 1945, sebulan setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia. Mereka lalu menikah sebagai warga negara Indonesia pada Februari 1946 dan melanjutkan pekerjaan politik untuk membela kemerdekaan Indonesia.

Ketika Belanda melancarkan agresi militer I pada Juli 1947, PI menggelar protes massal di Concertgebouw, Amsterdam. Kampanye membela kemerdekaan Indonesia membawa mereka ke Eropa Timur.  Saat memimpin delegasi Indonesia di World Federation of Democratic Youth di Di Praha, Djajeng dan kawan-kawannya turun ke jalan mengibarkan bendera Merah-Putih. Kampanye kemerdekaan berlanjut ke Serajevo dan kota kota lain di Yugoslavia.

Kembali ke Belanda, mereka bergerak di bawah tanah ketika pecah perang kemerdekaan di Indonesia. Hingga menjelang akhir hayatnya, Djajeng yang dengan alasan pragmatis mengubah kewarganegaraan dari Indonesia ke Belanda pada 1975,  tetap aktif berpolitik di front internasional, dan baru berhenti ketika Stennie jatuh sakit dan meninggal pada 2010.

Pasangan Djajeng dan Stennie sebenarnya dua kali ingin pulang ke tanah air. Pada 1948 dia terhalang oleh Agresi Militer Belanda I. Selanjutnya pertengahan 1960-an terhalang oleh konflik politik yang berujung pembantaian 1965-1966 dan lengsernya Soekarno dari kursi kepresidenan. Baru setelah menjadi warga negara Belanda pasangan ini sempat berkunjung ke Indonesia.

Meski begitu, tulis Tossi, Djajeng tak merasa kecewa. Dia masih mencintai Indonesia, dengan seni tari, musik gamelan, serta kulinernya. Djajeng dalam masa tuanya tak mampu lagi berbahasa Indonesia.

Namun, dengan semangat internasionalnya, idealisme kepatriotan dan aksi-aksi perjuangannya, Djajeng Pratomo patut ditempatkan sebagai Pahlawan yang setidaknya berperan aktif mengkampanyekan Kemerdekaan Indonesia di Eropa. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here