Koalisi Global (2)

Rothschild dan 7 Pengusaha Terkaya Sejagat

0
689
Ilustrasi, strategic-culture.org

Nusantara.news – Menjadi pertanyaan bagi dunia, kenapa Keluarga Rothschild, JP. Morgan, Rockefeller, dan Warburg tidak pernah masuk orang terkaya dunia lagi padahal kekayaan korporasi Rothschild mencapai Rp 5.200 triliun (2,5 kali lipat dari APBN kita)?

Pertama, secara legal nama-nama keluarga kerajaan bisnis global ini tidak ada lagi di korporasi, dan Kedua, kita tidak pernah mendengar keuntungan The Fed dan Bank Sentral Eropa diumumkan, tentu jika dirilis secara terbuka pemilik Microsoft (Bill Gates) dan Warren Buffett bakal tergusur dari daftar orang terkaya dunia.

Kita tahu bahwa lembaga-lembaga survei melihat dari data pembayaran pajaknya, padahal konspirasi keuangan global ini selalu tertutup dalam investasi, termasuk di dana moneter internasional IMF (International Monetary Fund) dan Bank Dunia.

Bill Gates adalah orang terkaya di abad modern berkat kreativitasnya di bidang IT (Informasi dan Teknologi), melalui Microsoft menempatkan dirinya sebagai pengusaha terkaya dalam waktu singkat. Sementara tujuh perusahaan terkaya lainnya bergerak di bidang perbankan, otomotif, manufaktur, dan migas, serta berjaya setelah puluhan tahun berusaha.

Namun yang paling menonjol adalah Rothschild, dapat dikatakan merupakan raja Inggris sesungguhnya dan telah menjadi penguasa keuangan global bersama JP Morgan dan Rockefeller. Setelah mendirikan Bank of England (1684), Bank of France (1716), The Fed (1913), World Bank dan IMF sebagai lembaga keuangan dunia atas nama Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) telah menempatkannya pada rantai tertinggi sindikat keuangan global.

Dapat dikatakan, tiga serangkai tersebut adalah sokoguru keuangan global, Warburg, Sachs, Kuhn & Loeb adalah nama lain yang bisa disejajarkan, termasuk Lehman Brothers yang bangkrut pada tahun 2008 pada saat krisis subprime mortgage terjadi.

Anak-anak Rothschild kemudian meneruskan bisnisnya setelah dia meninggal di tahun 1812. Di antara kelima anaknya, Nathan Rothschild di Inggris adalah anak bungsu yang paling berbakat mengendalikan Bank of England, yang fokus meminjamkan uang pada kerajaan Inggris dan merekayasa “pernikahan” Yahudi dengan keluarga kerajaan Inggris. Inilah cikal bakal kenapa Inggris menjadi ‘saudara tua’ bagi Yahudi global di dunia. Pada abad ke-19 mereka berekspansi ke Amerika Serikat (AS) diawali dengan pendirian The Fed pada tahun 1913, sebuah Bank Sentral AS yang dimiliki oleh konsorsium swasta.

Kiprah Rothschild di Inggris mengupayakan agar selalu berperang dan berutang pada kerajaan bisnis Rothschild. Lalu, empat anaknya yang lain ditempatkan ke seluruh Eropa dengan modal awal USD 3 juta hasil dari kerja sama dengan Wilhelm von Hanau IX dalam bisnis tentara bayaran. Carl Mayer von Rothschild ditempatkan di Italia, Salomon di Austria (Vienna), Amsel di Berlin, Jacob di Perancis, dan kantor pusat mereka tetap di London, Inggris.

Puncak kekuasaan mereka, setelah bersama Warburg, JP Morgan, Rockefeller, dan beberapa senator mengadakan pertemuan di Jekyll Island merumuskan The Fed. Pada tahun 1913 kongres mengambil suara konspirasi ini dan melahirkan The Federal Reserve sebagai Bank Sentral Amerika Serikat yang mencetak dan mengatur peredaran USD di AS.

Mayer Amschel Rothschild adalah Yahudi Jerman, awalnya dengan bekal ruko sederhana di Frankfurt, dia menjadi bankir dan pedagang emas pada usia 26 tahun. Dia berkongsi dengan Prince William IX, salah satu orang terkaya di Eropa kala itu (1769).

Dimulailah sinergi bisnis bank, emas, dan perang sehingga Rothschild menyadari bahwa “perang adalah uang”. Maka tak heran perang justru banyak terjadi setelah PBB berdiri. Markas PBB yang dibangun adalah hibah dari keluarga ini, bersama dengan JP Morgan (AS).

Pada masa revolusi Perancis tahun 1799, tentara Napoleon didanai oleh Rothschild sebagai hadiah Bank Sentral Perancis yang diswastakan menjadi milik keluarga ini. Pada tahun 1791 di AS mereka mengendalikan Menteri Keuangan pertama Amerika Serikat, Alex Hamilton pada era Geoge Washington (Presiden AS pertama) yang menganggap illuminati yang dikembangkan Rothschild adalah ideologi berbahaya.

Di London (tahun 1815) mereka menggoyang saham London Stock Exchange sehingga sebagian saham besar sudah menjadi milik Rothschild. Setelah itu, membeli Bank of England, dan mengubah tatanan sistem perbankan modern seperti sekarang. Di Inggris inilah sistem keuangan Eropa dimulai, dan di AS mereka berpartner dengan JP Morgan, di mana seterusnya menjadi penguasa keuangan global.

Dapat dikatakan, sejak tahun 1820 Rothschild adalah orang terkaya sejagad bumi. Di Afrika, untuk kepentingan tambang PT Rio Tinto miliknya, dia membangun Terusan Suez, dan perusahaan berlian De Beers.

Dari sisi agama dia membangun Vatikan dan sistem keuangannya. Setelah menguasai Eropa, Rothschild mengirim orangnya Jacob Schiff yang sangat brilian dalam hal keuangan. Orang inilah bersama John D. Rockefeller, JP Morgan, James Stillman Rockefeller (Citibank), Andrew Carnegie membangun Wall Street sebagai kerajaan keuangan global. Rothschild dan kawan-kawan dikenal setelah itu menjadi golongan elite dan berkuasa di abad ke-20.

Krisis keuangan AS tahun 2008 adalah indikasi mulai melemahnya elite global Yahudi karena Lehman Brothers, salah satu raksasa keuangan global, bangkrut. JP Morgan, Goldman Sachs, Citibank, Kuhn & Loeb, dan sokoguru Yahudi goyang, terpaksa mereka meminta Cina membeli Surat Utang AS.

Semenjak tahun 2008 Cina menjadi raksasa ekonomi yang sangat mengganggu elite global (Rothschild, dkk.) sehingga Presiden AS Donald Trump pada awal jabatannya sesumbar akan mengalahkan Cina dalam konteks proxy war.

Faktanya, ternyata Inggris juga terseok-seok karena keputusan Brexit (British Exit), dan Eropa justru sekarang dikuasai Jerman. Angela Merkel yang anti AS justru terpilih menjadi Kanselir Jerman untuk keempat kalinya. Rusia yang semula menjadi partner strategis pemerintahan Donald Trump malah berakhir menjadi seteru. Bahkan Rusia saat ini membantu Korea Utara bersama Cina dalam konflik Semenanjung Korea (sekutu  ideologis).

Pamor elite global (Rothschild, dkk.) sangat terganggu reputasinya saat ini. The Fed yang biasanya jika menaikkan suku bunga berefek pada mata uang dunia, ternyata tidak berlaku bagi Cina.

Hal ini diperburuk oleh kelakuan politik Trump yang kontraproduktif, padahal elite dunia ingin mengandalkannya dengan isu ‘populisme’. Rothschild dan kawan-kawannya pernah sukses lewat isu populisme di era Jimmy Carter, dan terpilih menjadi Presiden AS pada tahun 1976 dengan skema ‘Trilateralisme’.

Sosok Jimmy Carter yang low profile direkayasa melalui opini publik sebagai sosok yang populis dan langsung diterima oleh masyarakat AS kala itu.

The Great Depression 1929

Di AS, setelah The Fed dikuasai dengan gaya mafia, maka AS “dibangkrutkan”, dan Presiden AS kala itu, Franklin Delano Roosevelt, dalam kendali Rothschild dan kawan-kawan. Pemerintah meminta rakyat AS menyerahkan emas untuk jaminan agar The Fed mencetak uang Dollar AS.

Sebelumnya, tahun 1917 Rothschild melakukan kudeta lewat ideologi Komunisme Tsar Rusia Nicholas II yang kaya raya, karena salah satu raja yang tidak mau tunduk pada kekuatannya dan tidak mau berutang. Direkayasa dengan lahirnya paham Komunisme, dengan mendukung Karl Marx untuk menyebarkan ideologi Komunis dengan bukunya Das Kapital dan Manifesto of Communist Party, yang disponsori oleh Engels, agen dari Rothschild.

Kita mengenal Revolusi Rusia dengan kemenangan Komunis sebagai pengimbang baru dari Kapitalisme. Setelah Komunis kuat 74 tahun kemudian, kemudian dihancurkan lewat Mikhail Gorbachev dengan Glasnost dan Perestroika yang mengakibatkan Uni Soviet bubar pada tahun 1991, disusul dengan bersatunya Jerman Timur dan Jerman Barat (1993). Rakyat Uni Soviet meyakini bahwa Mikhail Gorbachev telah “ditipu” oleh penguasa global.

The Great Depression dengan cara mafia, AS dibangkrutkan karena utang pada The Fed. Pada tahun 1963 Presiden AS John Fitzgerald Kennedy mencoba mengubah fungsi dan kepemilikan The Fed, seperti yang kita tahu, dia akhirnya justru terbunuh. Lalu terpilih Presiden Lyndon Johnson yang membatalkan kebijakan Kennedy.

Di Indonesia, Soekarno menolak ‘Nekolim’ ini karena dia mengetahui bahwa cengkeraman kapitalisme akan menghancurkan negara-negara berkembang, terutama yang kaya dengan sumber daya alam, maka pada tahun 1965 Indonesia keluar dari PBB.

Penguasa Global ingin menguasai energi dan migas melalui ‘Seven Sisters’ Multinational,  sebuah jaringan konspirasi global yang dipimpin oleh Exxon (Rockefeller) dan British Petroleum (Rothschild) di pertambangan, dan di bidang mineral dipimpin oleh PT Rio Tinto (AS–keluarga Rockefeller dan Rothschild) yang juga pemegang saham PT Freeport. Berikutnya, Newmont (AS) adalah multinational corporations di bidang energi. Sementara, ada nama lain seperti Cargill Int., Nestle, Cocacola, Mc Donald, Kentucky Fried Chicken, Dunkin Donat, dan lain-lain, multi-national corporations yang menguasai bidang pangan dunia.

Khusus untuk pengendalian negara berkembang, Rothschild dkk. mendirikan IMF dan Bank Dunia karena PBB sudah dalam cengkeraman mereka. Negara-negara berkembang khususnya yang kaya sumber daya alam menjadi sasaran utama. IMF dan Bank Dunia dikenal sebagai lembaga donor yang membuat negara berkembang ketergantungan sehingga tidak dapat keluar dari jebakan utang.

Para pengamat moneter dunia menganggap IMF dan Bank Dunia sebagai institusi ‘Jurrasic’ karena merupakan bagian dari skema elite dunia untuk mendikte negara-negara berkembang. Dalam persekutuan militer, mereka mendirikan NATO (North Atlantic Treaty Organization/Pakta Pertahanan Atlantik Utara) untuk mengimbangi Pakta Warsawa milik negara-negara Komunis.

Pada prinsipnya perang adalah menjual alutsista (alat utama sistem persenjataan) dan teknologi perang milik elite global,  sekaligus mengincar aset di sektor energi suatu negara yang bersengketa seperti kasus ‘Arab Springs’.

Tujuan akhir dari elite penguasa dunia adalah New World Order atau dalam bahasa praktis George Soros adalah “One World One Society. Follow the Money merupakan azas dasar kapitalisme global, digulirkan dengan nama globalisasi yang mengalami gangguan setelah Cina hadir sebagai raja dagang dunia.

Kapitalisme Global diimbangi Cina

Di Indonesia dibutuhkan strategi politik yang efektif sebagai antisipasi krisis multi-dimensi yang terjadi sebagai ekses kekacauan pasca reformasi. Krisis yang mendalam karena monopoli kapitalisme; rancunya penegakan hukum; korupsi yang merajalela; wabah narkoba yang mencemaskan; konflik antar lembaga; dan kekacauan tersebut semakin diperparah akibat lemahnya kepemimpinan nasional.

Negara, melalui menteri-menteri ekonomi dan bankir top yang dipimpin Sri Mulyani Indrawati sedang menjadi delegasi untuk pembicaraan serius terkait krisis likuiditas bersama IMF dan Bank Dunia di AS.

Come to Papa” (baca: IMF/Bank Dunia) yang menjadi jaringan elite global dengan motor AS, tentu saja sangat berminat agar Indonesia kembali ke pangkuan mereka. Selain posisi strategis secara geografis dari segi pertahanan, 40% jalur perdagangan dunia juga melalui wilayah Indonesia.

Rezim Joko Widodo selama hampir tiga tahun ini berkiblat ke Cina dengan melakukan pembangunan infrastruktur dalam konteks skema OBOR (One Belt One Road) sehingga agak berjarak dengan AS. Ditambah lagi masalah Freeport dengan AS, yang notabene pemegang saham besarnya adalah PT Rio Tinto (Rothschild & Rockefeller), Carl Icahn (Icahn Enterprises) – Koordinator Staf Khusus Presiden Donald Trump, adalah bagian dari elite global. Ketidaksepahaman mengenai skema penyelesaian PT Freeport adalah sebuah ancaman bagi Indonesia.

Posisi Presiden Joko Widodo terkesan tidak bersahabat dengan Paman Sam, namun saat ini Jokowi “terpojok” dalam hal likuiditas APBN, haruskah kita kembali kepada pangkuan IMF dan Bank Dunia?

Jika dengan IMF/Bank Dunia, tentu pembangunan infrastruktur dan ambisi Joko Widodo bakal terhambat. Sementara, Cina sendiri baru mengucurkan USD 4 miliar (untuk BUMN), dan USD 5 miliar telah disetujui, namun belum terealisasi untuk pembangunan Kereta Api Cepat Jakarta – Bandung buatan Cina. Indonesia saat ini di persimpangan jalan dalam konteks proxy war AS vs. Cina, dalam ‘bargaining position yang sangat lemah.

Reformasi selain telah meluluh-lantakan ekomoni juga moral politik Indonesia. Sekarang Indonesia dihadapkan lagi dengan krisis keuangan yang sangat serius. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here