Rubuhkan Masjid, Risma Digugat Rp10 Ribu

0
414
Shalat Jumat di reruntuhan masjid Assakinah, Jumat (17/11/2017).

Nusantara.news, Surabaya – Sudah dua kali ini pemuda Surabaya menjalankan shalat Jumat berjamaah di puing-puing Masjid Assakinah di Kompleks Balai Pemuda, Surabaya, yang telah dirobohkan. Meski shalat di bawah terik panas dengan karpet dan tikar seadanya, namun tidak mengurangi kekhusukan para jamaah. Bahkan pengeras suara yang digunakan khatib Jumat cuma pengeras biasa yang dipakai untuk para aktivis berdemo.

Khatib shalat Jumat, Ustadz Suroto yang juga Ketua Baithul Muslimin Indonesia mengatakan, mereka yang merobohkan Masjid Assakinah dalam hatinya telah sirna Allah. “Hatinya sudah tidak ada Allah. Telah hilang keimanan. Sebaliknya, orang yang beriman pada hari akhir, mereka tidak akan semena-mena menggunakan pangkat dan jabatannya. Mereka yang membela masjid berarti membela Allah di dunia,” sindir Ustadz Suroto dengan lantang.

Ustadz Suroto menambahkan, para penguasa dan pejabat Surabaya yang berani merobohkan masjid Assakinah, adalah suatu perbuatan dzalim terhadap Muslim. “Apapun yang terjadi, berjuang membela tegaknya masjid adalah wajib. Allahu Akbar! Allahu Akbar! Allahu Akbar!  Siap jihad,” teriak sang ustadz.

Baca juga: Cuma Raja Tega yang Berani Bongkar Masjid

Komunitas Bambu Runcing Surabaya (KBRS) yang menjadi penggerak shalat Jumat berjamaah  mengapresiasi para pemuda Surabaya yang masih bersedia sujud di puing-puih masjid.

Jamaah shalat Jumat tampak khusuf mendengarkan khutbah.

“Kami sangat mengapresiasi kehadiran teman-teman yang masih bersedia shalat di masjid Assakinah. Ini adalah shalat Jumat kedua yang kita gelar sejak masjid dirobohkan,” terang Wawan Kemplo, koordinator KBRS seperti dikutip Nusantara.News, Jumat (17/11/2017).

Menurut Kemplo, pihaknya tidak akan beranjak dari tempat ini (masjid Assakinah) sebelum ada kejelasan soal nasib masjid ke depannya. Namun pihaknya juga tidak menjanjikan apakah shalat Jumat akan dilanjutkan pekan depan atau tidak, sebab di samping masjid sudah ada alat berat yang sewaktu-waktu dapat merobohkan sisa-sisa bangunan.

“Kami tidak bisa berjanji apakah ini shalat Jumat terakhir. Soalnya di depan kita sudah ada alat berat yang siap merobohkan bangunan. Namun untuk memperjuangkan sisa bangunan masjid, kami tidak akan berhenti. Ini adalah rumah Allah. Tidak alasan bagi kami untuk tidak mempertahankan rumah Allah,” tegas Kemplo.

Pihak KBRS berencana untuk mendatangi kantor Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah untuk mendesak sikap mereka terkait perobohan masjid Assakinah. Tidak hanya itu, Kemplo menegaskan pihaknya pada Senin (20/11/2017) akan melaporkan perobohan masjid Assakinah ke Polda Jawa Timur.

“Apa yang dilakukan Pemkot Surabaya dan DPRD Surabaya adalah bentuk penodaan dan penistaan terhadap agama. Kami akan melaporkan perbuatan mereka,” terangnya.

Yang menarik, KBRS akan melayangkan gugatan perdata dan meminta ganti rugi materil sebesar Rp 10 ribu. “Ini rumah Allah, kami hanya akan menggugat mereka Rp 10 ribu. Ini agar mereka tahu bahwa niat kami untuk membuktikan kebenaran. Dan yang namanya kebenaran harus dimenangkan Allah,” jelas Kemplo.

Berdasar informasi yang diterima Nusantara.News, sebelumnya Dewan Pimpinan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Jawa Timur pada Kamis (16/11/2017), telah melayangkan keberatan atas rencana Walikota Surabaya Tri Rismaharini (Risma) yang merobohkan masjid Assakinah di Kompleks Balai Pemuda.

Ketua MUI Jatim KH Abdusshomad Buchori mengatakan pihaknya telah menerima aduan dari sejumlah elemen masyarakat terkait dengan rencana Pemkot Surabaya dalam hal ini Risma, merobohkan masjid Assakinah.

“Memohon dengan hormat Ibu Walikota Surabaya mempertimbangkan kembali rencana tersebut. Masjid Assakinah merupakan masjid yang mempunyai letak strategis di tengah-tengah kompleks perkantoran dan menjadi tempat shalat warga perkantoran sehingga keberadaannya sangat dibutuhkan,” tulis Buchori.

Baca juga: Serakah Bongkar Masjid, Pemimpin Surabaya Perlu ‘Dikafani’

Sebaliknya, MUI Jatim tidak setuju jika nantinya posisi masjid dipindah ke dalam gedung perkantoran seperti yang direncakan sebelumnya. Setelah gedung DPRD Surabaya baru selesai dibangun, rencananya masjid akan diposisikan di dalam gedung. Malah, ada yang menyebut lokasinya berada di basement atau bawah tanah gedung.

“Jika masjid itu posisinya dipindah ke dalam gedung perkantoran jelas hal tersebut akan menghilangkan akses publik untuk secara lebih mudah menggunakan fasilitas tersebut sebagai tempat shalat. Selain itu juga melenyapkan syiar Islam. Sebagai seorang Muslimah, kami yakin Ibu Walikota Surabaya bisa mempertimbangkan hal ini,” tegasnya.

MUI Jatim melayangkan keberatan atas rencana Walikota Surabaya Tri Rismaharini (Risma) yang merobohkan masjid Assakinah.

MUI juga menyarankan jika masjid Assakinah sudah terlanjur dirobohkan, maka akan sangat baik jika dibangun kembali masjid yang lebih baik. “Insya Allah akan menjadi amal yang baik bagi Ibu Walikota di sisi Allah. Kami selalu mendoakan kepada Ibu Walikota agar dalam menjalankan tugasnya senantiasa memperoleh bimbingan dan petunjuk dari Allah Swt, sehingga dapat merumuskan kebijakan-kebijakan yang lebih maslahah dan menjauhi dari hal-hal yang mafsadah,” tutup Buchori.

Saat ini pembangunan gedung baru DPRD Kota Surabaya telah terhenti lantaran ada gejolak masyarakat akibat pembongkaran gedung masjid Assakinah. Sebelumnya Kepala Dinas Perumahan Rakyat Kawasan Permukiman Cipta Karya dan Tata Ruang Kota Surabaya Eri Cahyadi dalam hearing bersama Komisi C, Selasa (14/11/2017), mengatakan pembangunan masjid akan dimulai. “Pembangunan masjid akan dilanjut. Kemarin sempat terhenti karena ada protes dan spanduk-spanduk yang dipasang oleh organisasi masyarakat,” kata Eri.

Ia menyebutkan, masjid ini menjadi kesatuan dengan gedung DPRD. Namun pihaknya mengklaim pembangunan masjid akan didahulukan dan menjadi prioritas. Eri sekaligus membantah tudingan bahwa Pemkot meniadakan bangunan masjid Assakinah. Justru menurutnya, masjid akan dibangun lebih mewah dan megah. Dengan luasan 13 meter kali 29 meter, masjid ini akan lebih luas dibandingkan dengan luas sebelumnya, yaitu 13 meter kali 13 meter.

“Masjid yang baru ini tetap satu lantai tapi tingginya lima meter. Bisa menampung sebanyak 400 jamaah. Jika dulu jamaahnya hanya mampu menampung 150 jamaah saja,” katanya.

Ia meminta masyarakat untuk tidak berprasangka buruk. Pembongkaran masjid itu memang untuk membangun gedung DPRD. Namun selama pembangunan tersebut masjid direlokasi di gedung merah putih. “Masjidnya tetap ada di lantai paling bawah. Tidak ekslusif. Namun lahannya memang ada di gedung DPRD,” imbuhnya.

Gambar rencana desain masjid Assakinah yang ada di kompleks Balai Pemuda, Surabaya. Foto: repro

Dari hasil hearing ini, Ketua Komisi C DPRD Surabaya Syaifuddin Zuhri lantas mengatakan, agar organisasi masyarakat yang memasang spanduk di masjid Assakinah yang lama untuk segera mencopot spanduk tersebut. “Kami juga meminta agar tidak dibahas terus. Pembongkaran masjid ini bukan untuk ditiadakan. Justru dibangun lebih luas. Bergaya timur tengah, dan bisa menampung dua kali lipat,” katanya.

Matinya Kepedulian Risma pada Kebudayaan

Selain KBRS yang shalat Jumat di reruntuhan masjid Assakinah, sejumlah seniman dari Dewan Kesenian Surabaya (DKS) juga melaksanakan shalat Jumat. Bagi para seniman Surabaya, robohnya masjid Assakinah sekaligus akan membahayakan eksistensi Bengkel Muda Surabaya.

Pasalnya, ada instruksi dari Pemkot Surabaya untuk mengosongkan gedung DKS. Rupanya gedung yang menjadi markas para seniman Surabaya ini juga mau dirobohkan.

M. Anis, sesepuh Bengkel Muda Surabaya mengatakan, sangat menyesalkan sikap Pemkot Surabaya yang hendak merobohkan gedung-gedung di Balai Pemuda, di antaranya masjid Assakinah dan Bengkel Muda Surabaya.

Soal masjid, Anis menceritakan tahun 1993, lokasi masjid berada di sisi timur sebelah utara kompleks Balai Pemuda. Masjid itu dibongkar dan dipindahkan ke sisi barat, karena Walikota Surabaya ketika itu Sunarto Sumoprawiro bermaksud membangun Gedung Pemuda yang menghadap ke Jl. Yos Sudarso.

Gedung Pemuda itu terbengkelai karena sponsor pembangunan gedung itu yaitu Surabaya Post membatalkan kerjasamanya dengan Pemkot. Tetapi masjid Assakinah sudah berdiri di sisi barat kompleks Balai Pemuda.

Tahun 1996 bangunan yang terbengkalai itu dirobohkan setelah Pemkot mengubah rencananya dengan membangun Gedung DPRD Kota Surabaya. Masjid Assakinah yang sudah berdiri megah ikut dirobohkan, tanahnya digunakan untuk untuk parkir dan rumah jenset DPRD.

Sebelum kantor DPRD berdiri, masjid pengganti sudah berdiri yaitu di atas tanah yang sekarang dipakai untuk masjid Assakinah, lokasinya berada di sebelah utara Gedung Utama Balai Pemuda. Pada prasasti tertulis, masjid Assakinah diresmikan Walikota Sunarto Sumoprawiro tanggal 4 Juli 1997. Meskipun berdekatan dengan kantor DPRD Surabaya, masjid Assakinah ini bukan bagian dari DPRD Surabaya, melainkan bagian dari Balai Pemuda.

Masjid Assakinah berada di tengah kota dengan areal parkir yang luas. Masjid ini digunakan untuk sholat lima waktu yaitu Subuh, Dhuhur, Ashar, Mahgrib dan Isya. Jamaah berasal dari berbagai kalangan antara lain anggota dan staf DPRD Surabaya, seniman, para pelajar SMAN 6, serta masyarakat luas. “Jadi, dulu kalau masjid mau direlokasi, dibangun dulu yang baru. Terus yang lama dibongkar,” terangnya.

Sementara terkait dengan pengosongan Bengkel Muda Surabaya, Anis mengkritik langkah Pemerintah Kota Surabaya yang tidak peduli lagi dengan kesenian. “Pembangunan Surabaya jauh dari kebudayaan. Politik telah menggusur kesenian,” sindirnya.

Ya, Balai Pemuda sebagai pusat kesenian dan kepemudaan sedikit demi sedikit dipreteli. Wajarlah jika sosok Anis sangat bersedih. Keyakinan dia, jika Risma terus melakukan ‘perbuatan dzalimnya’, lambat laun fungsi Balai Pemuda sebagai pusat kesenian akan lenyap karena sengaja dilenyapkan.

Terpisah, Hotman M. Siahaan Guru besar Universitas Airlangga yang juga seorang budayawan, melontarkan gugatan terhadap pemerintah kota Surabaya sebab sudah tidak memperdulikan kesenian di Surabaya.

Perkembangan kota ini yang mulai dipuja-puji banyak orang dan sering disebut-sebut sebagai kota paling bersih dan paling indah, tetapi bagi Hotman, Surabaya adalah kota yang lenyap nilai kebudayaannya. Sebab pemimpinnya tidak lagi memperhitungkan kesenian.

Wajar jika Hotman menyampaikan gugatan kultural terhadap pemerintah kota ini. Pasalnya, kehidupan politik tidak lagi memperhatikan kebudayaan. “Surabaya tak ubahnya kehidupan yang barbar,” tegas Hotman dalam suatu kesempatan.

Hotman mengutarakan rasa prihatinnya karena tersingkirkannya tempat berkesenian yang layak. Bahkan DKS pun hendak digusur dari kompleks Balai Pemuda. Pemerintah Kota Surabaya, menurutnya, hampir-hampir tidak memiliki kepedulian terhadap perkembangan kesenian.

Dilansir dari ngopibareng.id, Bengkel Muda Surabaya dulunya pernah disinggahi seniman-seniman hebat. Dulu di ruang Merah Putih pernah sesak oleh bonsai dan manuk doronya Jhon Pai. Penyair hebat seperti D. Zawawi Imron, Afrizal Malna, Acep Zamzam Noor, dan Sony Farid Maulana pernah baca puisi di ruang Merah Putih ini. Juga diskusi-diskusi teater, salah satunya dengan narsum Hare Rumemper. Di Bengkel Muda Surabaya ini pula tempat nongkrong dan diskusi seniman, pemerhati dan wartawan. Juga lahir pemikiran-pemikiran tentang kesenian yang kemudian dimuat di media massa.

Gedung Bengkel Muda Surabaya yang berada di Kompleks Balai Pemuda juga terancam dirobohkan. Tempat ini pernah melahirkan seniman-seniman hebat di masanya.

Adalah Akhudiat dan Rusdi Zaki yang rajin menulis artikel di koran. Wartawan budaya Jill P. Kalaran, Djoko Su’ud Sukahar, Pocek, Rokim Dakas dan Sirikit Syah, yang tulisan-tulisan mereka pernah menggairahkan atmosfir kesenian di Surabaya. M. Anis, wartawan yang juga penyair itu, kerap pula nulis berita-beritanya di ruang Merah Putih ini. Di area Balai Pemuda ini juga ada sanggar Aksera yang melahirkan perupa-perupa top Surabaya.

Lalu DKS mempunyai galeri yang selain sebagai tempat pameran lukisan juga tempat pentas teater, tari dan musik. Teater Gandrik, ketika masih belum top, mementaskan lakonnya di galeri ini. Judulnya “Pensiun”. Juga diskusi sastra, salah satunya, yang ciamik adalah Budi Darma bercerita tentang proses kreatif dan novel terbarunya, “Rafilus” (diselingi juga pembacaan nukilan “Rafilus” oleh Tengsoe Tjahjono, Setya Yuwono Sudikan, Leo Ida Adriana). Saking menariknya acara ini sampai-sampai Hazim Amir dari Malang hadir. Tidak ketinggalan seniman hebat lain seperti Putu Wijaya, WS Rendra, Emha Ainun Najib, Butet Kartaredjasa, Sujiwo Tedjo, Gombloh hingga Franky Sahilatua pernah singgah dan besar dari Bengkel Muda Surabaya.[]

 

 

 

 

 

 

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here