Rudal Korut Jangkau Amerika, Trump Kecewa Cina

0
109
Perisai rudal atau THAAD diluncurkan dari Pacific Spaceport Complex Alaska dalam Uji Coba Peluncuran THAAD (FET)-01 di Kodiak, Alaska, AS (30/7). ANTARA FOTO via REUTERS

Nusantara.news, Washington – Presiden Amerika Serikat Donald Trump kecewa berat dengan Cina karena dianggap tidak bisa memenuhi janjinya untuk mengendalikan program senjata nuklir Korea Utara. Kini, senjata nuklir Korea Utara sudah pada tahap mengkhawatirkan AS, sebab dalam uji coba rudal terbaru, pada Jumat (28/7) dinyatakan analis, rudal Korea Utara sudah bisa menjangkau sebagian daratan AS seperti Alaska, Chicago, dan Los Angeles.

Di awal pemerintahan Trump, presiden AS itu telah bertemu dengan presiden Cina, Xi Jinping, dan dia menyatakan harapan terhadap Beijing agar menggunakan kekuatan ekonominya untuk mengekang ambisi nuklir Korea Utara.

Namun berselang minggu hingga bulan, yang diharapkan AS dari Cina tak kunjung terlaksana. Akhirnya, pada Sabtu (29/7) lalu, Trump pun tak bisa menahan kekesalannya terhadap Xi Jinping, presiden Cina. Melalui akun Twitter-nya Trump menuliskan bahwa ia “sangat kecewa dengan Cina” yang telah mendapat keuntungan dari perdagangan dengan AS tapi tidak “melakukan apa-apa untuk kita (AS) terkait Korea Utara”.

Nikki Haley, duta besar AS untuk PBB juga mengatakan di Twitter-nya pada hari Sabtu (29/7) yang menyindir Cina. Sebagaimana dilansir The Guardian, ia mengatakan bahwa AS telah “selesai berbicara” tentang Korea Utara, yang “bukan hanya masalah AS”.

“Cina sadar mereka harus bertindak,” kata Haley, yang juga mendesak negara-negara sekutu AS lainnya seperti Jepang dan Korea Selatan untuk meningkatkan tekanan dan meminta solusi internasional.

Sekutu AS lainnya, seperti Inggris dan Australia awal bulan lalu ikut menuding Cina sebagai “biang” masalah dari pengembangan senjata nuklir Korea Utara. Menteri Pertahanan Inggris Michael Fallon dan Menteri Luar Negeri Australia Julie Bishop awal bulan lalu sudah bertemu di Sydney Australia, membahas ancaman rudal antar-benua (ICBM) dan senjata nuklir Korea Utara yang telah dilarang PBB.

Fallon juga marah terhadap Cina karena tidak terlihat meningkatkan tekanan terhadap tetangga dan sekutu ekonominya, negara militer yang sangat tertutup itu. Dia menuding Cina tidak bertanggung jawab dengan keamanan global.

Problematik Cina

Di sisi lain, mengandalkan Cina untuk menekan Korea Utara juga hal yang problematik. Bukan saja karena Korea Utara merupakan sekutu dekat Cina, sehingga bukan tidak mungkin ‘secara sembunyi-sembunyi’ Cina justru “membantu” pengembangan nuklir Korea Utara, tapi juga karena Cina butuh alat untuk mencegah upaya AS memperluas jejak militernya di Asia Pasifik. Bagi Cina, kekuatan nuklir Korea Utara adalah “alat” efektif secara politik menekan AS.

Bukankah selama ini, meski Cina mengutuk ambisi nuklir Korea Utara, tapi Cina juga mengkritik AS yang ingin memperluas jejak militernya di Asia Pasifik? Cina, misalnya memprotes keras pemasangan sistem anti-rudal AS (Terminal High Altitude Area Defense/THAAD) di Korea Selatan, sekutu AS. Cina juga selalu bereaksi keras ketika AS melakukan operasi militer di kawasan Asia Pasifik seperti di Laut Cina Selatan maupun Laut Cina Timur, termasuk saat AS mengirim kapal USS Carl Vinson ke Semenanjung Korea. Saat itu dilaporkan Cina sudah siaga dengan mengirim ribuan tentaranya ke wilayah perbatasan dengan Korea Utara.

Selain itu, secara global, baik di bidang politik maupun ekonomi, Cina merupakan rival utama AS, sehingga tampak selalu “bersaing” dalam menancapkan pengaruh di sejumlah kawasan. Pangkalan militer Cina yang rencananya akan dibangun di Afrika Timur, tepatnya di Djibouti dan satu lagi di Pakistan baru-baru ini, adalah contoh bagaimana geliat Cina “menantang” AS di kawasan global.

Jadi, dalam konteks rivalitas global memang agak naif jika AS mengandalkan Cina untuk menekan Korea Utara, meskipun Trump selama ini menggunakan “senjata” kerja sama perdagangan dalam menekan China yang cukup mendapat keuntungan besar berdagang dengan AS. Toh, tidak ampuh juga.

Untuk menghindari kesan membela Korea Utara, karena pengembangan senjata nuklirnya dikecam internasional, termasuk PBB Cina selalu menyatakan bahwa Beijing menentang peluncuran rudal Korea Utara yang melanggar resolusi dewan keamanan PBB.

“Cina berharap semua pihak bertindak dengan hati-hati, untuk mencegah ketegangan terus meningkat,” demikian pernyataan standar dari kementerian luar negeri Cina pada Sabtu (29/7) lalu, yang sudah dikatakan Beijing berulang-ulang.

Sebelumnya, melalui kantor berita resmi milik pemerintah, Xinhua, Beijing selalu menyatakan bahwa  masalah nuklir Semenanjung Korea tidak disebabkan oleh Cina. “Sehingga kunci penyelesaiannya bukan terletak di tangan Cina,” kata juru bicara Kementerian Luar Negeri Cina Lu Kang dalam sebuah konferensi pers reguler.

“Sebagai tetangga (Korea Utara), Cina telah bekerja sama dengan masyarakat internasional untuk mengupayakan penyelesaian yang tepat dari masalah nuklir di semenanjung melalui dialog,” kata Lu Kang.

Respon Amerika

Saat ini mungkin saja Trump sudah amat kesal dengan pernyataan-pernyataan standar Beijing. Apalagi setelah uji coba rudal antar-benua terbaru Korea Utara Jumat lalu, diklaim sangat mengancam AS. Bersama Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe, Trump telah menyepakati akan melakukan tindakan lebih lanjut melawan Korea Utara.

Abe mengatakan kepada para wartawan di Jepang setelah melakukan komunikasi telepon dengan Trump pada Senin pagi (31/7), bahwa Trump berjanji untuk mengambil tindakan yang diperlukan untuk melindungi Jepang. Abe mengatakan, Jepang akan melakukan langkah-langkah konkret untuk memperkuat sistem pertahanannya untuk melindungi keselamatan orang-orang Jepang. Rudal Korea Utara beberapa kali mendarat di kawasan laut Jepang dan telah menuai protes keras negara sekutu AS itu.

Merespon uji coba rudal Korea Utara terbaru, Trump pun telah mengirimkan dua pesawat pembom B-1B supersonik ke semenanjung Korea pada Minggu (30/7).

“Penerbangan B-1B merupakan tanggapan atas uji coba rudal pada Jumat lalu dan peluncuran roket Hwasong-14 Korea Utara pada tanggal 3 Juli sebelumnya,” demikian kata pihak Pentagon, sebagaimana dikutip Reuters.

Pesawat pembom itu telah lepas landas dari sebuah pangkalan udara AS di Guam dan telah bergabung dengan jet tempur milik Jepang dan Korea Selatan.

Pada hari yang sama, AS juga meluncurkan sebuah rudal penangkal dari sistem THAAD yang dimiliki AS dalam sebuah uji coba di Alaska, AS. Hal ini sebagai antisipasi jika rudal Korea Utara benar-benar diluncurkan ke daratan Amerika.

Apakah AS benar-benar telah kehilangan kesabaran dengan ulah Korea Utara dan berniat menginvasi negeri komunis itu? Setelah beberapa bulan sebelumnya AS pernah juga mengirimkan kapal induk USS Carl Vinson ke Semenanjung Korea namun menariknya kembali.

Jika invasi benar-benar terjadi, tentu akan sangat mengerikan, dan bukan sesuatu yang diharapkan siapa pun. Seperti yang dikatakan Kepala Staf Angkatan Darat AS Jenderal Mark Milley, “Perang Semenanjung Korea akan mengerikan, bagaimana pun senjata nuklir yang meledakkan Los Angeles akan mengerikan.”

Milley meyakini, AS akan menghancurkan militer Korea Utara jika sampai pada titik itu. “Tapi itu akan menelan biaya tinggi secara kemanusiaan dan infrastruktur,” kata Milley.

Menteri Pertahanan AS Jim Mattis juga memperkirakan, perang dengan Korea Utara akan menjadi bencana besar dan akan menempatkan negara-negara sekutu AS di wilayah ini seperti Korea Selatan dan Jepang dalam risiko ekstrem.

Tentu, semua berharap perang di Semenanjung Korea tidak benar-benar jadi kenyataan. Meskipun, banyak yang khawatir dengan sikapnya yang sukar diduga, presiden AS Donald Trump dapat saja secara tiba-tiba menekan tombol perang ke Korea Utara. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here