Rumornya Anas Didongkel, Diganti Halim atau Risma

0
200

Nusantara.news, Jawa Timur – Pasangan calon gubernur dan wakil gubernur Jawa Timur Saifullah Yusuf (Gus Ipul) dan Abdullah Azwar Anas diambang keretakan. Rumor menyebut, posisi Anas bakal dimundurkan karena posisinya dianggap ‘rumit’.

Posisi Azwar Anas disebut-sebut akan didongkel atau dimundurkan dari posisi sebagai Cawagub Jatim. Belum diketahui alasan pendongkelan tersebut. Ada yang menyebut Anas memiliki beberapa kasus di Banyuwangi selama menjabat bupati. Meski belum diketahui secara pasti kasus yang melibatkan Anas tersebut, namun DPP PDIP sangat khawatir masalah tersebut akan rawan dijadikan kampanye hitam oleh lawan-lawan politik.

Sementara ada pertimbangan lain Anas mengapa dimundurkan. Itu karena dinamika politik di Jatim yang sangat tinggi jelang pendaftaran calon pasangan gubernur dan wakil gubernur Jatim pada 8-10 Januari 2018. Sehingga posisi Anas saat ini dianggap semakin melemah karena kalah bersaing dengan pendamping Khofifah Indar Parawansa, yakni Emil Dardak.

Adapun rumor yang beredar posisi Anas sebagai cawagub akan digantikan oleh Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini atau akrab disapa Risma. Rumor itu menguat seiring rajinnya Risma menghadiri acara-acara yang digelar PDIP.

Seperti saat Risma menghadiri pengumuman empat pasangan calon Gubernur dan Wakil Gubernur yang akan bertarung di Pilkada Serentak 2018 di Kantor DPP PDIP, Jl. Diponegoro, Jakarta, Kamis (4/1/2018).

Ketua Umum DPP PDIP, Megawati Soekarnoputri mengumumkan empat calon kepala daerah, di antaranya Papua, Lampung, Nusa Tenggara Barat dan Maluku Utara. Keempat paslon yang diumumkan Megawati yakni Cagub Papua John Wempi Wetipo dan wakilnya Hebel Melkias Suwae. Cagub Lampung Herman HN dan wakilnya Sutono. NTB Cagub NTB Tuan Guru Haji Akhyar Abduh dan wakilnya Mori Hanafi. Cagub Malut Abdul Ghani Kasuba dan wakilnya M. Yasin Ali. Bersamaan itu pula, Mega secara resmi mengumumkan Djarot Saiful Hidayat sebagai bakal calon Gubernur Sumatera Utara (Sumut) meski wakilnya belum diumumkan.

Dalam pengumuman hari ini, partai berlambang Banteng moncong putih itu mengusung tema pendidikan politik. Di sinilah posisi Risma di mata Mega sangat penting. Megawati mengatakan, tema ini diambil memiliki pesan kepada seluruh paslon agar memberikan pendidikan politik kepada masyarakat. Pada kesempatan tersebut, Megawati mengundang Risma karena dianggap sebagai contoh yang memberikan pendidikan politik kepada masyarakat. Risma dianggap contoh Ibu bagi warga Surabaya karena berhasil memberikan model pendidikan baik bagi partai politik maupun masyarakat yang dipimpinnya.

Karena posisi Risma dianggap penting inilah, maka PDIP tidak ingin menyia-nyiakan posisi Risma di Pilgub Jatim 2018. Sebab, bila dibanding Anas, nama Risma lebih menjual bahkan dianggap dapat mendongkrak perolehan suara Gus Ipul.

Saat ini arah angin memang belum berubah. Posisi Azwar Anas masih kuat mendampingi Gus Ipul. Kendati sebelumnya Risma hanya ditugaskan untuk pemenangan tim pasangan Gus Ipul-Anas, namun dinamika politik dalam hitungan hari sewaktu-waktu dapat berubah.

Terkait dimundurkannya posisi Azwar Anas tersebut, Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto tidak menyebut secara gamblang. Namun Hasto hanya mengatakan dinamika politik jelang dibukanya pendaftaran pasangan calon kepala daerah di KPU memang terus terjadi. PDIP akan mencermati aspirasi rakyat sebelum mengambil keputusan.

“Dinamika politik Jatim memang sangat tinggi, kita lihat beberapa tempo lalu Mbak Yenny Wahid dicalonkan jadi calon gubernur tapi beliau lebih memilih sikap untuk mendorong keutuhan NU dijalankan. Nah tentu saja sebelum batas akhir 10 Januari, PDI Perjuangan akan mencermati suara rakyat,” ujarnya seusai pengumuman cagub-cawagub di markas DPP PDIP, Kamis (4/1/2018).

Apakah benar Risma akan menggantikan Azwar Anas di posisi cawagub, Hasto mengatakan PDIP akan melihat kemungkinan-kemungkinan yang ada, meski dia menekankan partainya tidak mudah berubah setelah mengambil keputusan.

“Tidak ada evaluasi tetapi saudara-saudara sekalian menjadi pemimpin memang tidak mudah. Apalagi menjadi pemimpin di daerah yang misalnya punya potensi pertambangan mineral yang sangat baik,” ujarnya seusai pengumuman cagub-cawagub di markas DPP PDIP, Kamis (4/1/2018).

Menurut Hasto, PDIP biasanya akan konsisten etika keputusan sudah diambil, termasuk soal pasangan calon yang diusung di Pilkada. “Tetapi ketika PDIP telah mengambil keputusan politik sikap kami adalah kokoh, kami tidak mudah digoyahkan oleh berbagai hal. Karena kami konsisten penetapan itu karena semua melalui pertimbangan yang matang. Kecuali tiba-tiba ada angin puting beliung di musim pancaroba ini, misalnya begitu, tetapi kami sebagai partai yang konsisten dalam mengusung pasangan calon,” tandasnya.

Sementara sumber internal PDI Perjuangan mengatakan, saat pengumuman empat kepala daerah dari 4 provinsi beserta wakilnya dan ditambah pengumuman Djarot sebagai Cagub Sumut, di sini ada semacam keganjilan. Pasalnya pasangan Gus Ipul-Anas tidak disebutkan dalam pengumuman tersebut. Kendati PDIP telah mendeklarasikan duet Gus Ipul-Anas pada Oktober tahun lalu, namun dalam pengumuman tersebut sama sekali tidak disinggung. “Duet Gus Ipul-Anas sama sekali tidak disinggung. Bisa jadi rumit, dan rumor Anas diganti Risma sangat kuat,” terang sumber.

Masih kata sumber, posisi Anas diganti saat ini masih digodok di DPP PDIP. Saat ini muncul nama Ketua DPW PKB Halim Iskandar atau kakak kandung Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar. Cicit Pendiri NU Hasyim Asy’ari menguat dalam pembahasan untuk mendampingi Gus Ipul. Selain itu disebutkan, nama Bupati Ponorogo, Ipong Muchlissoni. Lalu ada nama Bupati Ngawi Budi Sulistyono (Kanang). Dari nama-nama ini, posisi Halim dan Risma sangat kuat.[]

 

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here