Rumuskan Disain Besar Pendidikan

0
113

DALAM perayaan Hari Sumpah Pemuda di Halaman Istana Bogor, Minggu (28/10/2017), seorang aktivis pendidikan, Adamas Belva Devara, menggugat sistem pendidikan Indonesia di depan Presiden Joko Widodo. Katanya, pendidikan di Indonesia hanya sekadar rutinitas monoton. Jika sistem pendidikan sekarang tidak diubah, Indonesia perlu waktu 120 tahun untuk bisa menyamai pendidikan Amerika saat ini.

Presiden Joko Widodo menyetujui gugatan itu. “Iya, benar, kalau tidak kita rombak, kita perlu 120 tahun,” kata Presiden. Presiden mengatakan, anak-anak didik perlu belajar tidak hanya di dalam ruangan, tapi juga di luar ruangan. Misalnya, kenapa anak-anak SD tidak diajak ke kantor bank, agar sejak dini dia paham mengenai sistem keuangan. Atau belajar ke museum, agar mereka bisa mengenal sejarah secara riil.

Belajar di dalam atau di luar ruangan atau kombinasi keduanya adalah salah satu konsep pendidikan. Tapi, kita ingin menegaskan, pernyataan Presiden di atas tidak berhenti pada wacana, apalagi hanya sekadar menjawab pertanyaan yang ditujukan kepadanya.

Karena Presiden juga sudah menyatakan keprihatinannya terhadap kualitas sistem pendidikan kita, inilah waktunya yang sangat tepat bagi Presiden untuk merumuskan disain besar sistem pendidikan yang lebih baik. Disain besar itu harus mengacu kepada tantangan yang akan dihadapi 10-20 tahun mendatang. Percuma saja mengalokasikan anggaran sebesar 20 persen APBN/APBD untuk pendidikan (yang untuk tahun 2018 nanti mencapai Rp440,9 triliun), tetapi anak didik Indonesia gagal beradaptasi di kompetisi masa depan.

Presiden harus segera membentuk sebuah panitia yang melibatkan semua sektor (tidak melulu menyerahkan kepada kementerian pendidikan) yang diberi mandat khusus untuk menyusun rumusan sebagai acuan menetapkan desain besar tadi.

Tugas panitia ini antara lain melakukan verifikasi tentang kondisi pendidikan kita saat ini. Dari verifikasi itu akan terlihat posisi pendidikan Indonesia saat ini berada di titik mana dalam rangkaian peta jalan mencapai tujuan utama pendidikan nasional. Lalu apa yang menjadi kelebihan dan kekurangannya.

Pemahaman yang menyeluruh terhadap posisi ini sangat penting, baik dari sisi pencapaian di dalam negeri, maupun dalam konteks kompetisi di tingkat regional dan internasional. Karena pemahaman secara komprehensif-integralistik  itu akan menjadi landasan untuk menentukan (meminjam istilah manajemen pemasaran) target yang hendak dikejar serta di segmen seperti apa kelak anak-anak didik kita hendak bermain. Negara-negara besar yang sukses berkat produk pendidikan mereka yang sempurna, juga sangat spesifik menentukan segmentasi itu.

Amerika Serikat atau Jerman misalnya bermain di teknologi tinggi yang menghasilkan produk pionir yang canggih. Sementara Jepang tidak ngoyo pada penciptaan produk teknologi baru. Mereka mencari kelebihan di penyempurnaan produk yang sudah ada. Hal yang sama juga dilakukan Cina atau Korea Selatan. Contoh kecil saja, ponsel pertama diciptakan oleh Martin Cooper dari Motorola (AS) pada 1973. Beratnya sekilo lebih. Kini, ponsel buatan Cina, Korea atau Jepang, hanya seberat 1,5 ons, dengan aneka fitur yang tak terbayangkan sebelumnya.

Nah, dari pemahaman menyeluruh dan terpadu itu, pemerintah bisa membuka peta jalan bagi anak-anak Indonesia akan akan bertempur 1-2 dekade yang akan datang.

Amanat UUD 1945 yang memerintahkan alokasi 20 persen APBN/APBD untuk pendidikan, semestinya tidak diartikan semata-mata dalam bentuk nominal rupiah, tetapi juga mesti dipahami juga memberikan perhatian dan konsentrasi penyelenggaraan pemerintahan dalam alokasi yang setara. Pemerintah jangan merasa bahwa kewajiban negara “mencerdaskan kehidupan bangsa” sudah terpenuhi hanya dengan menyediakan anggaran pendidikan Rp400-500 triliun setahun. Analoginya sama seperti kewajiban orang tua terhadap anak: Tak ada gunanya mencukupi uang jajan, jika minus perhatian.

Toh sistematika pembangunan Indonesia sudah jelas: Bangunlah jiwanya, bangunlah badannya. Intinya ada pada jiwa. Jiwa bangsa ini di masa depan ada di anak-anak didik. Proyek mercusuar infrastruktur yang dikhidmatkan Jokowi untuk masa depan bangsa itu, hanya akan dinikmati bangsa lain, jika jiwa anak-anak Indonesia tidak terbangun.

Jadi, segeralah susun rencana besar pendidikan nasional agar badan bangsa ini diisi oleh jiwanya sendiri, bukan jiwa bangsa lain.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here