Runtuhnya Kerajaan Jawa Pos Dahlan Iskan (1)

1
17056
Dengan tangan dingin Dahlan Iskan, Jawa Pos yang tadinya hampir mati menjadi koran besar. Bahkan, Jawa Pos tercatat dalam rekor MURI sebagai koran dengan pertumbuhan oplah tercepat di Indonesia.

Nusantara.news, Surabaya – Dahlan Iskan sepertinya tidak lagi dicap sebagai Raja Media dari Surabaya. Kerajaan bisnis media Jawa Pos sedang mengalami pasang surut. Namun lebih banyak surut ketimbang pasang. Sehingga seperti diberitakan Warta Ekonomi yang kemudian menjadi viral, Mantan Menteri Badan Usaha Milik Negara di masa kepemimpinan Susilo Bambang Yudhoyono ini kemudian melego kepemilikan sahamnya di Jawa Pos Group kepada taipan properti Ir Ciputra.

Memang masuknya Ciputra ke bisnis media bukan hal yang baru. Sebab Ciputra terdaftar sebagai salah satu pemilik di Harian Bisnis Indonesia. Ciputra bersama pengusaha Sukamdani Sahid Gitosardjono pemilik Sahid Group, Anthony Salim pemilik Salim Group, dan Eric Samola mendirikan PT Jurnalindo Aksara Grafika (JAG) yang menjadi penerbit Bisnis Indonesia.

Diwartawakan, selain melepas saham ke Ciputra, mantan Menteri BUMN yang eksentrik ini juga melepas sahamnya ke pemilik lama Jawa Pos yakni Eric Samola.

Eric Samola merupakan Direktur Utama Grafiti Pers yang merupakan penerbit Tempo serta pemilik 24,28 persen saham di PT Tempo Inti Media Tbk.

Berbicara mengenai Tempo, ternyata sang pendirinya Goenawan Mohamad (GM) juga menjadi salah satu yang menyerap saham di Jawa Pos Group yang dilelang Dahlan.

Hal tersebut terealisasi setelah Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) Jawa Pos Group digelar 14 November 2017 lalu. Hasil keputusan RUPSLB juga menyetujui pengunduran diri putra Dahlan Iskan Azrul Ananda atau yang lebih dikenal dengan Ulik dari posisi Direktur Utama Koran Jawa Pos sekaligus Komisaris Jawa Pos Group. Ulik akan digantikan oleh Hidayat Jati, putra Goenawan Mohamad.

Ya, pada Jumat (24/11/2017), Dahlan secara resmi melepas Azrul dari kursi pimpinan puncak PT Jawa Pos Koran (JPK). RUPS LB PT JPK yang berlangsung singkat di markas induk Jawa Pos di Gedung Graha Pena, Surabaya, resmi menerima pengunduran diri Azrul. Keputusan penggantian tersebut dihadiri para pemegang saham PT JPK, di antaranya GM.

Mundurnya Ulik tentu menjadi pukulan telak bagi Abah, begitu Dahlan biasa dipanggil anak buahnya. Azrul Ananda, 40, putra mahkotanya, mundur dari semua posisi pucuk pimpinan Jawa Pos, koran yang dibesarkannya. Secara beruntun, November ini, Raja Koran itu kehilangan tongkat penerus kejayaannya di industri media.

Kursi Azrul di puncak PT Jawa Pos Koran (JPK) kemudian digantikan oleh Leak Kustiyo, salah seorang direksi PT JPK dan mantan pemred koran Jawa Pos.

Apa penyebab Azrul mundur dari posisi puncak di Jawa Pos? Itulah yang masih dirahasiakan Abah. Ia tak mau menjawab dan menjelaskan ihwal itu kepada wartawan yang mencegatnya di Surabaya dan Jakarta.

Usai melakukan senam pagi di Lapangan Monas, Jakarta, beberapa waktu lalu, bos media yang keranjingan senam sehat itu, hanya melengos meninggalkan wartawan yang menungguinya. “Abah tak mau diwawancarai, ” lapor seorang reporter Jakarta kepada redaksinya di kantor pusat di Surabaya.

Memang sejak berita itu muncul, Dahlan Iskan, menurut teman dan anak buahnya tampak agak uring-uringan. Dia tak mau ngomong soal pencopotan Azrul yang terasa mendadak dan mengejutkan.

Sampai sekarang tidak ada rilis atau pemberitahuan resmi dari grup usaha media raksasa itu berkaitan dengan penggantian pucuk pimpinan manajemennya. Setelah RUPS LB, koran Jawa Pos hanya menuliskan dimasthead koran. Perubahan nama direktur utama PT Jawa Pos Koran. Dari sebelumnya tertulis Azrul Ananda, kini menjadi Leak Kustiyo. Dirut baru didampingi dua direksi lain, yakni Andreas Didi dan Ivan Firdaus.

Jawa Pos Tanpa Dahlan Iskan

Sementara di luar, para mantan punggawa koran Jawa Pos saling kasak kusuk. Mereka bahkan berlomba menulis satu sama lain di webnya masing-masing terkait dengan permasalahan yang dihadapi Dahlan Iskan. Salah satunya adalah Arif Afandi, mantan Pemimpin Redaksi Jawa Pos, yang menulis di medianya ngopibareng.id.

Arif menyebut, bisakah Jawa Pos tanpa Dahlan Iskan? Pertanyaan ini yang terbersit begitu mendapat kabar kalau founder dan owner koran terbesar di Indonesia yang terbit dari Surabaya ini akan melego sahamnya ke taipan properti Ciputra.

Arif tidak memungkiri kabar itu memang akhirnya tak jadi kenyataan. “Saya tidak tahu dari mana sumber kabar tersebut. Sebab, dalam berita itu memang tak disebutkan sumbernya.

Saya pun langsung menshare berita itu ke whatsapp Azrul Ananda, Direktur Utama Jawa Pos Koran (JPK) yang baru saja mundur dan digantikan Hidayat Jati, anak Goenawan Mohamad yang juga pemegang saham Jawa Pos. “Ulik, iki piye ceritae (bagaimana ceritanya ini?,” tanya saya dibawah link berita yang saya share. “Abah lebih bisa menjelaskan dengan baik, Mas,” katanya tanpa beban dan sambil tertawa,” tulis mantan Wakil Walikota Surabaya ini.

Arif mengaku, sebetulnya dia sudah mendengar slentingan Dahlan akan melepas saham ke pemegang saham lain ini agak lama. Namun, melihat gelagat Dahlan yang tanpa beban setiap ketemu, maka dia tak berminat menanyakan.

Dahlan sendiri di mata anak buahnya adalah satu dari sedikit wartawan di Indonesia yang sukses menjadi pengusaha media. Memulai karir jurnalistiknya sebagai wartawan Tempo. Ia dipasrahi mengelola Jawa Pos sejak tahun 1982. Koran yang dulunya merupakan suratkabar komunitas Tionghoa itu diambil alih Tempo Group setelah oplahnya tinggal 3 becak.

Bos Tempo Eric Samola melihat bakat bisnis Dahlan lewat sorot matanya. Ia pun mempercayakan pengelolaan Jawa Pos kepada pria asal Magetan Jawa Timur ini. Eric tidak hanya orang yang percaya atas kemampuan Dahlan. Tapi sekaligus menjadi guru bisnisnya. Ia mengasah instink bisnis Dahlan sekaligus membimbingnya hingga Jawa Pos menjadi koran besar.

Ternyata benar. Insting Eric Samola tentang Dahlan tepat. Dengan tangan dinginnya, Dahlan berhasil membangun Jawa Pos yang tadinya hampir mati menjadi koran besar. Bahkan, Jawa Pos sempat tercatat dalam rekor MURI sebagai koran dengan pertumbuhan oplah tercepat di Indonesia. Dahlan pun kemudian dikenal sebagai raja media di negeri ini.

Jika dalam bisnis Eric menjadi orang paling berjasa dalam hidupnya, lain halnya dalam jurnalistik. Orang yang dianggap sebagai guru jurnalistiknya adalah Goenawan Mohammad. Founder dan Pemimpin Redaksi Majalah Tempo ini dianggap Dahlan sebagai suhu dalam dunia kewartawanan. Tidak hanya saat masih menjadi wartawan Tempo, tapi juga ketika ia membesarkan Jawa Pos.

Secara jurnalistik, Jawa Pos menggunakan gaya jurnalistik Majalah Tempo. Baik dalam hal penulisan maupun dalam kebijakan keredaksian. Jawa Pos di tangan Dahlan bisa disebut sebagai majalah harian. Memberitakan peristiwa dengan banyak angle dan tuntas. Gaya penulisannya bertutur seperti pada umumnya majalah jaman itu. Asyik. Saat itu, menjadi pionir jurnalisme baru koran di Indonesia.

Jadi, dalam perjalanan karir Dahlan, ada dua orang yang paling berjasa: Eric Samola dan Goenawan Mohammad. Eric guru bisnisnya, sedang GM guru jurnalistiknya. Masing-masing secara pribadi pemegang saham Jawa Pos. Itu di luar kepemilikan saham keduanya di PT Grafiti Pers sebagai pemegang saham korporasi terbesar grup koran yang berkantor pusat di Surabaya ini.

Selain Eric Samola dan Goenawan Mohamad, pemegang saham pribadi Jawa Pos antara lain Haryoko Trisnadi, Fikri Jufri, dan Dahlan Iskan sendiri. Sedangkan Ciputra adalah pemegang saham Jawa Pos secara tidak langsung. Ia adalah salah satu pemegang saham PT Grafiti Pers yang menjadi penerbit Majalah Tempo dan pemegang saham terbesar Jawa Pos.

Dalam perkembangannya, tulis Arif, Dahlan tidak hanya jago dalam jurnalistik. Ia telah berkembang menjadi enterpreneur, sebagai pengusaha. Tidak hanya dalam hal media tapi juga bidang lainnya. Kelebihannya dalam membaca peluang bisnis dan instingnya yang kuat dalam melihat bakat anak buahnya, telah menghasilkan para pengusaha baru yang membangun gurita bisnis Jawa Pos di seluruh Indonesia.

Ada sedikit kesamaan antara Eric dan Dahlan dalam hal kepekaan melihat bakat orang. Jika Eric menemukan potensi Dahlan melalui sorot matanya, Dahlan menemukan kader-kader bisnisnya melalui cara menyetir. Di mata dia, cara menyetir seseorang menunjukkan karakter dan sikap. Ada yang cepat tapi sembrono, ada yang suka kenceng dan aman, ada yang lambat atau lelet. Sayangnya hal itu gagal diterapkan pada putra mahkotanya.

Proses regenerasi yang cepat itu dilakukan Dahlan dengan memunculkan Azrul sebagai bintang baru di Jawa Pos. Namun, proses tampilnya Azrul bukan tiba-tiba. Ia memulai proses dari bawah. Sebagai wartawan, dengan melahirkan rubrik anak muda bernama Deteksi, Pemimpin Redaksi, dan akhirnya sebagai Dirut JPK. Sementara holding Jawa Pos Group tetap dipegang orang lama, yakni Ratna Dewi alias Wenny.

Azrul sebagai generasi baru Jawa Pos menjadi CEO Jawa Pos. Sedangkan Wenny mewakili generasi lama yang masih tersisa dalam kapal induk Jawa Pos tersebut. Wenny adalah ”warisan” dari pemilik Jawa Pos lama sebelum diambil alih PT Grafiti Pers: The Chung Sen. Perempuan inilah yang ikut Dahlan dalam proses pertumbuhan Jawa Pos kecil menjadi konglomerasi.

Apakah isu pengalihan saham Dahlan di Jawa Pos dan mundurnya Azrul dari CEO Jawa Pos itu terkait dengan kemunculan tiba-tiba generasi pemegang saham lain dalam jajaran puncak grup media ini? Arif menyebut, hanya Dahlan yang tahu.

“Yang pasti, penghormatan besar Dahlan kepada para guru dan orang yang berjasa seperti Eric Samola dan Goenawan Mohamad memungkinkan ia bersikap lebih baik mundur dari emperium bisnis yang dibangunnya ketimbang harus ”melanggar” prinsip manajemen yang selama ini diugemi,” terangnya.

Bagi Arif, Dahlan sebagai tokoh media dan pengusaha, telah menjadi nama yang jauh lebih besar dari Jawa Pos yang dibangunnya. Ia pernah menjadi menteri, bahkan sempat mencuat namanya sebagai salah satu calon Presiden di Indonesia. Ketokohan bisnisnya, jaringan internasionalnya, dan kiprahnya selama ini membuat ia menjadi sosok yang diperhitungkan di mana saja. “Namun, saya yang pernah bekerja selama 14 tahun di media ini tidak bisa membayangkan jika Jawa Pos tanpa Dahlan Iskan,” tutupnya.bersambung

1 KOMENTAR

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here