Rupiah Bisa Menuju Titik Psikologis Rp16.500

0
337
Nilai tukar rupiah melemah menurut Standard & Poorsbisa menembus level Rp15.000. bahkan menurut Indef bisa mencacpai level Rp16.500.

Nusantara.news, Jakarta – Lembaga pemeringkat internasional Standard & Poors (S&P) Global Ratings memperkirakan pelemahan mata uang rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) akan mencapai level Rp15.000 per dolar, seperti yang sempat terjadi di tahun 2015. Prediksi S&P ini seperti menakut-nakuti, tapi Bank Indonesia tetap harus waspada.

“Kami sudah mengestimasi bahwa depresiasi rupiah menuju Rp15.000 per dolar AS adalah level yang harus diperhatikan,” kata Senior Director Corporate Ratings S&P Global Ratings, Xavier Jean, kemarin.

Pelemahan rupiah, menurut S&P, memang tidak akan secara langsung berdampak terhadap aliran dana asing, tetapi tekanan akan dirasakan berbagai perusahaan yang operasionalnya terkait dengan valuta asing.

Beberapa langkah, seperti lindung nilai (hedge) dan restrukturasi proaktif terhadap utang berdenominasi valas akan diambil oleh perusahaan saat rupiah sudah menyentuh level psikologis tersebut. Jika level itu tercapai, mereka akan kesulitan meneruskan kegiatan usahanya.

Namun, Xavier mengatakan, S&P tidak melihat level tersebut sebagai masalah besar layaknya yang terjadi pada tahun 2015, karena kondisi fundamental ekonomi Indonesia saat ini lebih baik dibandingkan periode tersebut. Justru, isu yang perlu lebih diperhatikan adalah laju depresiasi.

“Tidak hanya memberi tekanan, tetapi kepercayaan diri para investor juga terdampak dengan depresiasi yang cepat,” menurut Xavier.

Nilai tukar rupiah terhadap greenback kemarin menguat sejalan dengan mata uang kawasan yang menguat terhadap mata uang Paman Sam itu. Rupiah ditransaksikan di Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) berada di level Rp13.757 per dolar ASatau terapresiasi 0,08% dibandingkan sehari sebelumnya.

Di pasar spot antar bank, dolar AS pada pukul 10.00 WIB diperdagangkan di posisi Rp13.758 per dolar AS, menguat 0,05% dibandingkan penutupan hari sebelumnya. Kemarin posisi terkuat rupiah berada di Rp13.750 per dolar AS, sementara terlemah ada di level Rp13.760 per dolar AS.

Posisi rata-rata rupiah belakangan ini memang telah melewati level target makro ekonomi di posisi Rp13.400. Bahkan posisi hari ini melewati level rerata rupiah akhir tahun 2017 dan awal tahun 2018 di kisaran Rp13.200 hingga Rp13.500.

Sebelumnya, rupiah sempat melemah hingga Rp 13.800 akibat ekspektasi kenaikan suku bunga acuan bank sentral AS, Federal Reserve, yang lebih cepat dan kekhawatiran akan dampak buruk kebijakan bea impor baja AS.

Capital outflow

Salah satu penyebab melemahnya rupiah sehingga mengalami undervalued, karena adanya capital outflow di beberapa pasar. Sejak Februari 2018, investor asing mulai keluar dari pasar finansial domestik. Di pasar saham, invesor asing mencatat net jual senilai Rp10,34 triliun sepanjang bulan lalu. Demikian pula investor asing di pasar Surat Utang Negara (SUN) juga mencatat net jual Rp21,55 triliun.

Total, sepanjang Februari 2018 investor asing mencatat net jual di bursa saham dan pasar SUN mencapai Rp31,88 triliun. Alhasil, indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) mengalami koreksi 0,13% menjadi 6.597,22 dan nilai tukar rupiah melemah 2,19% ke level 13,750 per dolar AS.

Keluarnya investor asing kembali berlanjut pada bulan ini. Selama periode 1  hingga 9 Maret 2018, investor asing kembali mencatat net jual di bursa saham sebesar Rp5,9 triliun dan di pasar SUN Rp17,3 triliun dan jika ditotal mencapai Rp 23,17 triliun. Imbasnya, IHSG kembali terkoreksi 2,48% demikian pula rupiah kembali terdepresiasi 0,63%.

Antisipasi kenaikan suku bunga acuan bank sentral AS (The Fed), para pemilik dana mengalihkan investasinya dari mata uang yang dianggap berisiko ke mata uang safe haven (dianggap aman) seperti dolar AS atau yen Jepang.

BI waspada

Melihat warning dari S&P dan realitas capital outflow yang besar, Gubernur Bank Indonesia (BI) Agus DW Martowardojo angkat bicara.

“Karena selama ini BI bisa menjaga stabilitas rupiah tetap mencerminkan fundamental ekonomi kita dan selama ini ada di kisaran seperti sekarang Rp13.750,” ujarnya kemarin.

Di sisi lain, BI melihat bahwa tahun 2018 khususnya sejak Februari hingga Maret bakal terjadi tekanan pada rupiah. Penyebabnya, pertama, dampak dari sentimen eksternal seperti rapat The Federal Open Market Committee (FOMC).

“Pertemuan FOMC memberikan kesan bahwa ekonomi Amerika sedang dalam proses pemulihan dan ada kemungkinan suku bunga Fed dinaikkan lebih dari tiga kali,” ungkapnya.

Kedua, efek dari kebijakan Presiden Donald Trump yang mengeluarkan aturan terkait dengan bea masuk untuk baja dan aluminium. Kedua hal tersebut memberi sentimen positif bagi dolar AS sehingga menekan mata uang dari negara lain.

Untuk itu, Gubernur BI memprediksi secara year to date (Ytd) rupiah akan terdepresiasi sekitar 1,5% dan penguatan dolar AS tidak akan berlangsung lama.

Pengamat ekonomi Indef Bhima Yudhistira Adhinegara menanggapi, dalam dua bulan terakhir nilai tukar rupiah memang mengalami guncangan yang cukup hebat.

Dari awal rupiah berada di level Rp13.300 pada awal Januari, kemudian terus terdepresiasi hingga Rp13.800 per dolar AS pada awal Maret 2018. “Berbagai analis ikut dalam permainan tebak-tebakan nilai tukar rupiah. Yang terbaru, lembaga rating internasional S&P mengeluarkan rilis bahwa rupiah sangat berpotensi melemah hingga Rp15.000 per dolar,” ujarnya.

Menurutnya, ramalan S&P biasanya sangat moderat. Artinya, rupiah bisa terperosoklebih dalam dari Rp15.000, mungkin di kisaran Rp16.000 hingga Rp16.500 per dolar AS sepanjang 2018–2019. Penurunan nilai tukar ini sering kali dihubungkan dengan tekanan global, yakni kenaikan suku bunga acuan Bank Sentral AS alias Fed rate.

Sementara di sisi yang lain ada tekanan dari harga komoditas khususnya minyak mentah, CPO, dan batubara. Ketiga komoditas terpenting dunia ini trennya cenderung naik. Bahkan, harga minyak mentah diprediksi menembus US$80 per barel di semester II mendatang, dari harga saat ini di kisaran US$63 hingga US$67 per barel, menurut Indef.

Sebagai negara utama eksportir komoditas seperti batubara dan CPO, harga komoditas global berpengaruh terhadap stabilitas ekonomi nasional.

Langkah tepat

Dengan melihat kondisi rupiah yang melemah mendekati level Rp15.000, ditambah dengan rencana kenaikan Fed Fun Rate antara tiga hingga empat kali dalam tahun ini, dapat dipastikan kecenderungan rupiah ke depan akan semakin melemah.

Situasi ini bertambah sulit dengan naiknya harga minyak dunia yang mendekati level US$80 per barel, akan menambah derajat kesulitan itu. Sehingga para pengusaha, rakyat kebanyakan, dan tanpa kecuali pemerintah, menghadapi dua pukulan sekaligus.

Namun yang agak unik, mungkin saja dengan melemahnya rupiah cukup signifikan akan menguntungkan BI sebagai otoritas moneter. Lewat operasi moneter, BI bisa membukukan kinerja surplus seperti yang terjadi pada 2015. Itu artinya BI terlalu irit dalam melakukan intervensi, namun terlalu berbahaya buat bangsa ini karena bisa saja krisis 1998 bisa terulang jika langkah bank sentral tidak tepat.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here