Rupiah Catat Rekor Terburuk

0
426
Nilai tukar rupiah hari ini telah menyentuh titik ekulibrium baru di level Rp15.000. Akankah ke depan rupiah semakin melemah?

Nusantara.news, Jakarta – Nilai tukar rupiah kemarin mencetak sejarah terburuk dengan ditutup di posisi Rp15.042, walaupun sebelumnya sempat menyentuh Rp15.077 per dolar AS. Akankah ke depan rupiah semakin melemah?

Mengutip data Bloomberg, nilai tukar Rupiah tak mampu menguat hingga penutupan perdagangan. Tercatat, sore kemarin Rupiah ditutup di Rp15.042 per dolar AS.

Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengatakan nilai tukar rupiah masih mengalami tekanan depresiasi namun dengan volatilitas yang masih terjaga. Menurutnya, depresiasi rupiah sejalan dengan mata uang negara peers akibat berlanjutnya penguatan dolar AS secara luas.

Dengan perkembangan ini, lanjutnya, maka secara year to date (ytd) sampai dengan 26 September 2018, Rupiah terdepresiasi 8,97% atau lebih rendah dari India, Afrika Selatan, Brasil, dan Turki. Namun jika dibandingkan posisi awal tahun, rupiah sudah terdepresiasi hingga 13%, posisi terlemah sejak krisis 1998.

Perry menyatakan ke depan BI akan terus melakukan langkah-langkah stabilisasi nilai tukar sesuai nilai fundamentalnya, serta menjaga bekerjanya mekanisme pasar dan didukung upaya-upaya pengembangan pasar keuangan.

Kebijakan tersebut, akan diarahkan untuk menjaga volatilitas rupiah serta kecukupan likuiditas di pasar. “Sehingga tidak menimbulkan risiko terhadap stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan,” tutupnya.

Kenaikan suku bunga AS telah mendorong dolar dan defisit transaksi berjalan Indonesia telah meninggalkan asumsi APBN 2018 terkena gejolak keuangan yang menimpa Turki dan Argentina. Harga minyak mentah hampir tiga kali lipat sejak Februari 2016, meningkatkan biaya impor.

“Mengingat kenaikan suku bunga AS, harga minyak yang lebih tinggi yang mungkin melihat defisit perdagangan yang terus melebar, dan dolar yang lebih kuat dalam beberapa hari terakhir, terbukti sulit bagi Bank Indonesia untuk mempertahankan rupiah di bawah level Rp15.000,” kata Khoon Goh, kepala penelitian di Australia dan Selandia Baru Banking Group Ltd. di Singapura seperti dikutip Bloomberg. “Jika sentimen tidak membaik, kami berisiko lebih jauh melemah ke level Rp15.200.”

Grafik Bloomberg menggambarkan fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap dolar yang pada akhirnya menembus level Rp15.000 per dolar AS.

Rupiah melemah bahkan ketika BI melakukan intervensi “dengan cara yang terukur” untuk membatasi penurunannya. Bank sentral juga telah menaikkan suku bunga lima kali sejak Mei untuk melindungi mata uang dari kekalahan pasar negara berkembang. Mata uang turun ke level terendah Rp15.077 per dolar pada hari Selasa, terlemah sejak krisis keuangan Asia pada Juli 1998, sebelum diperdagangkan 0,9% lebih rendah pada hari ini.

“Indonesia sekarang menjadi pengimpor minyak bersih (net importir), sehingga harga minyak mentah yang lebih tinggi dan melemahnya rupiah mengipasi kekhawatiran bahwa inflasi akan semakin cepat,” kata Toru Nishihama, ekonom pasar berkembang di Dai-ichi Life Research Institute di Tokyo. “Dengan harga minyak naik, kebijakan normalisasi Fed dan Indonesia mengalami defisit fiskal dan transaksi berjalan, spekulasi negatif lebih sulit untuk dibendung.”

Sentuh ekuilibrium baru

Pemerintah diketahui sedang memantau rupiah dan risiko yang mungkin terjadi pada bank, meskipun untuk saat ini penyesuaian mata uang telah dikelola dengan baik oleh sektor ini, papar Menkeu Sri Mulyani Indrawati. Pihak berwenang akan terus mengambil langkah untuk meningkatkan ekonomi.

“Bank Indonesia pasti akan terus mengelola nilai tukar, sehingga kita akan dapat menjaga ekonomi dan menyesuaikan ke tingkat ekuilibrium baru,” katanya.

Obligasi Indonesia juga mengalami tekanan. Hasil patokan obligasi 10-tahun naik 14 basis poin pada Selasa menjadi 8,15%, meningkat dari 6,32% pada akhir 2017. Indeks saham utama juga merosot 1,2%, mengambil penurunan tahun ini menjadi 7,6%.

Selain menaikkan biaya pinjaman, BI telah mengumumkan pengenalan penyerang domestik yang tidak dapat diteruskan, yang dikatakan akan memberikan alternatif bagi perusahaan yang ingin melakukan lindung nilai terhadap eksposur dolar dan membantu mengurangi volatilitas rupiah.

Indonesia juga hampir menyelesaikan insentif bagi eksportir yang memegang miliaran dolar di bank untuk mendorong mereka mengubah dana menjadi rupiah, karena bank sentral meningkatkan upaya untuk melindungi mata uang lokal dari kekalahan pasar-negara berkembang global.

Pelemahan rupiah hari ini juga memberi isyarat bahwa kenaikan bunga acuan yang diambil BI tidak memberi dampak besar terhadap rupiah. Guru Besar Ekonomi Universitas Gadjah Mada Tony Prasentiantono menjelaskan saat ini pasar keuangan merasa suku bunga acuan atau BI 7 days reverse repo rate belum cukup atraktif.

“Pasar merasa bunga acuan tak cukup atraktif untuk menjadi insentif bagi investor untuk ‘memegang’ rupiah,” kata Tony.

Menurutnya, jika dihitung dari level terendahnya suku bunga acuan bank sentral Amerika Serikat (AS) atau Fed Fund Rate dari 0,25% kini 2,25%. The Fed sudah menaikkan suku bunga sampai 200 basis poin atau 2%, sedangkan BI baru 150 bps dari 4,25% sampai 5,75%. Berarti memang perlu suku bunga yang lebih atraktif lagi.

Tony berpendapat kenaikan harga minyak global turut memberi sentimen negatif bagi kondisi fiskal Indonesia. Saat ini harga minyak Brent sudah mencapai US$85 per barel, jauh melebihi asumsi harga minyak di anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) yang sebesar US$48 per barel.

Dengan melemahnya rupiah hingga menembus level Rp15.000, memberi indikasi kuat bahwa rupiah telah menorehkan sejarah baru. Rupiah tengah menempati titik ekuilibrium baru setelah 20 tahun lebih bertahan di bawah level Rp15.000.

Pada 1998, rupiah sempat menyentuh level terendah sepanjang sejarah di posisi Rp17.000 akibat tekanan utang dan pinjaman yang jatuh tempo. Krisis moneter saat itu membuat kepala negara yang berkuasa selama 32 tahun itu lengser keprabon.

Apakah rupiah yang hari ini telah menembus level Rp15.000 akan terus melemah? Apakah dampak pelemahan rupiah hari ini akan membuat kinerja Pemerintah Jokowi jeblok? Akankah pelemahan rupiah ini berujung pada hilangnya kepercayaan masyarakat kepada pemerintah?

Semua masih terus bergerak dinamis. Tinggal seberapa piawai Tim Ekonomi Pemerintah mengatasi pelemahan rupiah kali ini.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here