Rupiah dan IHSG Belum Terkena Dampak Risiko Politik

0
25
Rupiah terus mengalami pelemahan terhadap dolar AS, demikian pula Indeks Harga Sahab Gabungan cenderung melemah. Pelemahan kali ini lebih disebabkan permintaan domestik murni.

Nusantara.news, Jakarta – Nilai tukar rupiah hari ini terkoreksi 45 poin ke level Rp14.525, sementara Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hari ini ditransaksikan terkoreksi 0,20% ke posisi 5939. Adakah pelemahan indikator rupiah dan IHSG ini sebagai dampak demo rusuh di Jakarta?

Sejujurnya dampak kerusuhan pihak ketiga dengan polisi—bukan demonstran penolak hasil Pilpres 2019—merugikan para pedagang di Pasar Tanah Abang dan Thamrin City. Mengingat pekan kedua hingga sehari menjelang Hari Raya Idul Fitri adalah masa panen para pedagang.

Jutaan orang pembeli biasanya memenuhi Pasar Tanah Abang dan Thamrin City menjelang lebaran. Namun karena kedua lokasi itu ditutup akibat amuk massa sehingga peluang para pedagang menangguk laba pun sirna.

Namun dampak kerusuhan Jakarta 22 Mei lalu terhadap rupiah dan IHSG memang maish debatabel.

Secara umum, nilai tukar rupiah kemarin melemah kemarin melemah 45 poin ke posisi Rp14.525 dibandingkan penutupan sehari sebelumnya. Pelemahan rupiah terbilang terlemah dibandingkan pelemahan yang dialami mata uang utama Asia.

Sementara IHSG yang sempat mendekati level 6000 harus terkoreksi lagi ke posisi 5939. Sementara indeks sektor infrastruktur dan konsumsi terpantau memimpin pelemahan ISHG yang masing-masing melemah 0,9% dan 0,42%.

Head of Research Institusi MNC Sekuritas Thendra Crisnanda berpendapat saat ini investor lebih banyak yang mengambil posisi wait and see di tengah-tengah perkembangan kondisi domestik. Sedangkan fokus utama pelaku pasar adalah menginginkan stabilitas politik dan keamanan nasional.

Aksi massa 22 Mei, menurut Thendra juga merupakan salah satu perhatian investor mengingat hal tersebut telah mengganggu aktivitas perekonomian khususnya di daerah radius terdekat Bawaslu dan sekitarnya.

"Dampaknya terhadap transaksi bursa juga terefleksikan dari estimasi penurunan nilai transaksi harian hingga 18% dari rerata mingguan sebesar Rp7,84 triliun sehari menjadi hanya sekitar Rp6,3 triliun hingga Rp6,4 triliun pada hari ini," ujarnya kepada media.

Namun demikian, Thendra meyakinkan bahwa pelemahan IHSG kali ini masih cukup wajar dengan investor asing tercatat tetap melakukan beli bersih (net buying) hingga Rp702,92 miliar.

Ia mengimbau agar investor domestik tetap bersikap positif di tengah-tengah perkembangan saat ini dan tidak panik dengan pemberitaan yang tidak benar validitasnya.

Sementara Ekonom dari Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Bhima Yudisthira, menilai aksi massa yang memprotes hasil rekapitulasi Pilpres dari Komisi Pemilihan Umum bisa meningkatkan risiko politik di Indonesia. Dan ini membuat persepsi investor menurun terhadap iklim investasi di Indonesia.

Hal ini terlihat dari Indikator jangka pendek, dimana kurs rupiah terhadap dolar Amerika Serikat mengalami pelemahan dan IHSG yang terkoreksi sejak sesi pembukaan hingga siang ini.

"Dan adanya gejolak politik yang memanas paska Pilpres juga berpengaruh terhadap outlook ekonomi sepanjang 2019. Investor khususnya asing akan melakukan posisi hold atau menahan realisasi investasi langsung," ujar Bhima.

Investasi langsung (foreign direct investment—FDI) dari luar negeri diperkirakan masih akan menurun tahun ini, setelah di kuartal I 2019 hampir minus 1%. Imbas dari rendahnya investasi membuat pertumbuhan ekonomi mengalami perlambatan dibawah 5%.

"Ini kondisi yang harus diwaspadai. Padahal investasi dan ekspor adalah motor penggerak utama yang diharapkan selain konsumsi rumah tangga," jelasnya.

Sementara itu Bank Indoenesia (BI) berpendapat bahwa pelemahan rupiah hari ini bukan karena adanya dampak aksi massa yang menolak hasil rekapitulasi hasil Pilpres oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU). Pelemahan rupiah kali ini lebih disebabkan oleh murni permintaan domestik yang tinggi terhadap dolar AS.

“Pelemahan rupiah kali ini lebih disebabkan oleh kepentingan impor barang sehingga membutuhkan jumlah dolar yang tinggi, termasuk untuk kebutuhan repatriasi dan pembagian dividen,” demikian pendapat Kepala Departemen Moneter BI Nanang Hendarsyah kepada media.

Lepas dari perbedaan pendapat antara pengamat dan BI terkait penyebab melemahnya rupiah dan IHSG, secara orisinil keduanya memang sudah mengalami pelemahan yang cukup dalam sepanjang bulan Mei.

IHSG diketahui sudah melemah 11% jika dibandingkan sebelumnya masih di atas level 6000. Begitu pula rupiah juga sudah melemah signifikan lebih dari 400 poin. Akibatnya sampai dengan Mei 2019 sudah terjadi capital outflow sebesar Rp11,3 triliun. Rinciannya, Rp7 triliun dari Surat Berharga Negara (SBN) dan Rp4,3 triliun dari pasar saham.

Jika melihat riwayat pelemahan rupiah dan IHSG belakangan ini, lebih dominan disebabkan oleh perang dagang AS-China dan defisit transaksi perdagangan yang terendah sepanjang sejarah. Sehingga rupiah sempat melemah lebih dari 400 poin, sementara dampak aksi massa terhadap penolakan hasil rekapitulasi KPU, baru 45 poin.

Dengan demikian, memang ada sedikit pengaruh melemahnya rupiah dan IHSG sebagai dampak aksi massa rusuh hari ini. Tapi pelemahan rupiah dan IHSG terhadap dampak perang dagang dan defisit transaksi perdagangan jauh lebih signifikan.

Itu sebabnya, sementara ini dampak risiko politik belum terlihat dominan. Walaupun gelombangnya masih tipis-tipis, otoritas moneter dan otoritas pasar modal dan pasar obligasi tetap perlu mengantisipasi kalau-kalau risiko politik itu makin membesasr.[]

 

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here