Rupiah dan IHSG, Wajah Buruk Manajemen Ekonomi Jokowi

0
391
Pelemahan rupiah dan IHSG telah menjadi beban Presiden Joko Widodo (Foto: Observerbd)

Nusantara.news, Jakarta – Belakangan ini nilai tukar rupiah dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terus merosot. Hal ini tak lepas dari dampak gejolak ekonomi global sekaligus cerminan lemahnya manajemen ekonomi Pemerintahan Jokowi.

Hari ini rupiah diperdagangkan sempat melemah di penutupan sesi pertama di level Rp14.210, di sesi kedua menguat kembali menyusul kemungkinan besar adanya intervensi Bank Indonesia (BI). Hingga penutupan rupiah secara kumulatif hari ini melemah 34 poin (0,24%) menjadi Rp14.190 per dolar AS.

Sementara IHSG hari ini diperdagangkan 49,46 poin (0,86%) ke posisi 5733,85. Sejak Januari 2018, IHSG sudah mengalami pelemahan lebih dari 1000 poin di posisi terkuatnya 6735.

Nanang Hendarsah, Kepala Departemen Pengelolaan Moneter BI, berpendapat melemahnya rupiah dan IHSG hari ini dipicu oleh keluarnya spekulan global dari pasar Indonesia. Para trader jangka pendek ini tentu saja tengah melakukan carry trade dengan motif profit.

Dikabarkan imbal hasil obligasi Amerika (Treasury Bill) saat ini terus naik sehingga memotivasi investor global untuk masuk ke pasar Amerika dan untuk sementara meninggalkan pasar negara-negara berkembang, termasuk Indonesia.

Hari ini secara total investor asing masih melakukan melakukan aksi jual. Tercatat net sell asing hingga jeda siang ingin sudah mencapai Rp429,52 miliar di seluruh pasar. Sementara dari awal 2018 hingga sekarang, total dana asing yang keluar (capital flight) mencapai Rp41 triliun.

Meski begitu ternyata asing masih melakukan pembelian untum saham-saham BUMN di pasar reguler. Tecatat ada 3 saham BUMN yang menarik perhatian investor asing yakni PT Waskita Karya Tbk (WSKT), PT Semen Indonesia Tbk (SMGR), PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) dan PT Bukit Asam Tbk (PTBA).

Untuk saham WSKT asing tercatat melakukan aksi beli sebesar Rp640 miliar. Sementara SMGR sebesar Rp445 miliar.

Adapula aksi beli investor asing di saham ANTM sebesar Rp144 miliar. Sedangkan net buy yang paling besar adalah saham PTBA sebesar Rp713 miliar.

Secara total hingga jeda sesi satu investor asing melakukan aksi jual di pasar reguler sebesar Rp439,79 miliar. Sedangkan untuk pasar negosiasi justru terjadi net buying sebesar Rp10,27 miliar.

Presiden Jokowi sendiri pernah mengusulkan mengubah mata uang acuan dari dolar AS ke yuan atau renmimbi. Alasannya transaksi dagang dengan Amerika tidak terlalu besar, transaksi dagang dengan China justru semakin membesar.

Sayangnya usulan Presiden itu tidak dibakukan dalam regulasi ataupun keputusan yang mengikat. Sehingga usulan Presiden tak ubahnya seperti usulan pengamat yang lewat-lewat begitu saja.

Wajah buruk

Jika diamati, ada beberapa kinerja buruk pemerintah yang memicu melemahnya rupiah dan IHSG. Pertama, sampai dengan April 2018, kinerja defisit transaksi berjalan (current account deficit—CAD) membengkak menjadi US$1,63 miliar. Jauh dari konsensus yang memperkirakan sampai April 2018 transaksi berjalan akan surplus US$672 juta.

Sebagai catatan, neraca perdagangan Indonesia pada Januari dan Februari 2018 mencatatkan defisit, masing-masing US$756 juta dan US$52,9 juta. Baru pada Maret neraca perdagangan berhasil membukukan surplus, yaitu senilai US$1,12 miliar. Defisit neraca perdagangan April lantas menjadi yang ketiga pada tahun ini.

Penyebab CAD kali ini karena getolnya pemerintah melakukan impor beras, daging sapi dan kerbau, bawang, cabai merah, kedelai, jagung, bijih gandum, tepung terigu, gula pasir, minyak goreng, susu, telur unggas, dan lainnya.

Sehingga pertumbuhan impor kita selama empat bulan pertama 2018 ini mencapai 12%,75%, sedangkan pertumbuhan 6,17%. Ini yang menyebabkan CAD meningkat.

Kedua, membengkaknya utang pemerintah. Sampai akhir April 2018 total utang Pemerintah Jokowi sudah menembus level Rp5.023 triliun. Tentu saja kewajiban pokok dan bunganya terus bertambah. Apalagi diketahui bunga utang Indonesia ternyata 3 kali lipat lebih besar dibandingkan bunga utang Pemerintah Jepang.

Ketiga, faktor eksternal, yakni meningkatnya imbal hasil (yield) surat berharga AS dan meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga di Negeri Paman Sam tersebut. Selain itu, ada juga tiga faktor di dalam negeri yang menjadi penyebab pelemahan rupiah.

Meningkatnya yield US Treasury Bills mendekati level psikologis 3% dan munculnya kembali ekspektasi kenaikan suku bunga Fed Fund Rate (FFR) sebanyak lebih dari tiga kali selama 2018

Kenaikan yield dan suku bunga di AS dipicu oleh meningkatnya optimisme investor terhadap prospek ekonomi AS seiring berbagai data ekonomi AS yang terus membaik. Selain itu, meningkatnya tensi perang dagang antara AS dan Tiongkok.

Tentu saja Pemerintah Jokowi sudah berupaya memperbaiki ekonomi Indonesia dengan menerbitkan 16 Paket Kebijakan. Itupun masih harus dibantu oleh bauran kebijakan Bank Indonesia dan Otoritas Jasa Keuangan. Namun semua seperti tak maksimal dampaknya terhadap rupiah dan IHSG.

Mungkin saja masih ada kenaikan bunga acuan 7 Days Revers Repo Rate kedua, kebijakan mewajibkan sisa devisa ekspor diparkir di bank lokal, serta kebijakan lanjutan.

Yang jelas kebijakan hari ini belum cukup mengangkat harga diri rupiah dan IHSG. Itu sebabnya, pelemahan rupiah dan IHSG lebih mewakili wajah buruk manajemen ekonomi Pemerintah Jokowi.

Atau kalau mau dikerucutkan lagi, pelemahan rupiah dan IHSG adalah bentuk kegagalan tugas Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Indonesia.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here