Rupiah Gone with the Wind

0
98
Pelemahan rupiah terhadap dolar AS membuat nilai riil utang pemerintah meningkat signifikan. Rupiah terbang seperti angin, rupiah go with the wind...

Nusantara.news, Jakarta – Tahun 2018 merupakan tahun musibah buat Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Apa pasal? Ya, apalagi kalau bukan karena penguatan dolar AS dan naiknya harga minyak dunia yang diprediksi bisa menembus level US$75 per barel.

Dolar AS terhadap rupiah hari ini sempat menyentuh level tertingginya terhadap rupiah di posisi Rp13.980. Artinya, 20 poin lagi, dolar AS menyentuh Rp14.000. Besok diperkirakan rupiah akan menjajagi titik keseimbangan baru Rp14.000 meskipun Bank Indonesia (BI) telah melakukan intervensi dalam jumlah besar.

Bahkan menurut laporan kurs referensi Jakarta Interbank Dolar Rate (JISDOR) BI, rupiah sempat melemah ke level Rp13.900. Angka tersebut naik tipis dari posisi kemarin Rp 13.894.

Gubernur BI Agus Martowardojo mengatakan penguatan dolar AS masih dipicu oleh meningkatnya yield US treasury bills mendekati level psikologis 3,0% dan munculnya kembali ekspektasi kenaikan suku bunga Fed Fund Rate (FFR) sebanyak lebih dari tiga sampai empat kali selama 2018.

Optimisme investor terhadap prospek ekonomi AS terjadi karena data ekonomi yang terus membaik dan tensi perang dagang antara AS dan China yang berlangsung tahun ini. Menurut Agus inilah yang menyebabkan kenaikan yield dan suku bunga di AS.

“Akibat hal tersebut, mata uang negara maju pun mengalami pelemahan terhadap dolar AS. Seperti Jepang Yen (JPY) -0,25%, Swiss Franc (CHF) -0,27%, Singapore Dolar (SGD) -0,35% dan Euro (EUR) -0,31%. Dalam periode yang sama, mayoritas mata uang negara emerging markettermasuk Indonesia, juga melemah,” kata Agus.

Enam penyebab

Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira mengungkapkan, ada enam penyebab kurs rupiah terus tertekan melawan dolar AS.

Pertama, investor berspekulasi terkait prediksi kenaikan FFR pada rapat FMOC tanggal 1-2 Mei 2018. Spekulasi ini membuat capital outflow (aliran dana keluar) di pasar modal mencapai Rp7,78 triliun dalam satu bulan terakhir.

Kedua, sambungnya, harga minyak mentah diprediksi naik lebih dari US$75 per barel akibat perang di Suriah dan ketidakpastian perang dagang AS dan China. Hal ini tentu saja membuat inflasi jelang Ramadhan semakin meningkat karena harga BBM nonsubsidi (pertalite, pertamax) menyesuaikan mekanisme pasar.

Inflasi dari pangan, menurut Bhima, juga perlu diwaspadai karena harga bawang merah naik cukup tinggi dalam satu bulan terakhir.

Ketiga, permintaan dolar AS diperkirakan naik pada kuartal II-2018 karena emiten secara musiman membagikan dividen dan menyediakan valas atas utang yang jatuh tempo. Investor di pasar saham sebagian besar adalah investor asing sehingga mengonversi hasil dividen rupiah ke dalam mata uang dolar AS.

Keempat, importir lebih banyak memegang dolar AS untuk kebutuhan impor bahan baku dan barang konsumsi jelang Lebaran. Perusahaan juga meningkatkan pembelian dolar untuk pelunasan utang luar negeri jangka pendek. Lebih baik beli sekarang sebelum dolar semakin mahal.

Kelima, kurs rupiah melemah karena defisit transaksi berjalan tahun ini semakin melebar. Perkiraannya hingga 2,1% terhadap produk domestik bruto (PDB). Selain karena keluarnya modal asing juga karena defisit neraca perdagangan yang diperkirakan akan kembali terjadi jelang Lebaran karena impor barang konsumsinya naik, demikian Bhima.

Keenam, pertumbuhan ekonomi pada kuartal I- 2018 juga diperkirakan tidak akan mencapai 5,1%. Hal ini disebabkan konsumsi rumah tangga masih melemah terbukti dari Indeks Keyakinan Konsumen dan data penjualan ritel yang turun pada kuartal I 2018.

“Sentimen ini membuat pasar cenderung pesimis terhadap prospek pertumbuhan ekonomi 2018 yang ditarget tumbuh 5,4%,” Bhima memaparkan.

APBN tertekan

Tidak bisa tidak melemahya rupiah dan naiknya harga minyak dunia telah membuat ruang gerak APBN semakin sempit. Utang pemerintah tentu saja terkena dampak dari melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.

Kepala Subdirektorat Perencanaan dan Strategi Pembiayaan DJPPR Kementerian Keuangan, Erwin Ginting mengatakan total utang pemerintah akan bertambah Rp10,96 triliun setiap terjadi pelemahan Rp100 per dolar AS.

Total utang pemerintah per Maret 2018 sebesar Rp4.136,49 triliun (dengan kurs Rp13.700 per dolar AS). Sehingga kandungan valas dari total utang pemerintah otomatis akan meningkat, kalau pada awalnya rupiah di kisaran Rp13.300, kini di level Rp13.980, artinya rupiah telah melemah Rp680.

Dengan demikian porsi utang valas pemerintah selama terjadi pelemahan rupiah terhadap dolar dalam empat bulan terakhir telah bertambah sebesar Rp74,53 triliun. Utang pemerintah meningkat seperti go winth the wind, ada tambahan utang yang melayang sebesar Rp74,53 triliun..

Erwin menjelaskan, utang pemerintah dalam valas terdiri dari beragam mata uang. Tiga yang dominan, yaitu dolar AS, euro, dan yen. Namun bila disetarakan, maka utang dalam bentuk valas ekuivalen dengan US$109,6 miliar.

Dengan demikian, pelemahan rupiah pada saat ini akan membuat total utang menjadi lebih besar. Kemarin dolar AS sempat berada di level Rp13.980.

Erwin meminta masyarakat tidak terlalu khawatir. Utang pemerintah dalam mata uang asing ini tidak serta merta langsung dibayar atau dilunasi pada saat ini juga, melainkan sudah sesuai dengan jatuh temponya.

“Kembali lagi, keseluruhan utang itu punya jatuh temponya yang dikelola sedemikian rupa sehingga tidak memberatkan saat pembayaran kembali,” jelas dia.

Belum lagi kenaikan harga minyak dunia akan membuat nilai impor minyak mentah untuk menutupi minusnya lifting minyak Indonesia membuat beban APBN meningkat. Pertama meningkat karena harga beli minyak mentah lebih mahal, kedua meningkat karena nilai rupiah yang harus disediakan lebih banyak meski dengan volume impor minyak yang sama.

Tampaknya pelemahan rupiah ini masih akan berlanjut seiring rencana Federal Reserve yang akan menikkan suku bunga acuan FFR. Artinya delapan bulan ke depan risiko rupiah bisa menembus level Rp15.000 masih sangat terbuka lebar, meskipun BI terus hadir di pasar.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here