Rupiah Jalani Rute Anomali Pasca Kenaikan Bunga Acuan

0
140
Baruran kebijakan yang ditempuh Bank Indonesia dan 16 Paket Kebijakan Ekonomi Pemerintah seolah tak dihiraukan pasar. Rupiah terus melemah, capital outflow seperti sulit dicegah.

Nusantara.news, Jakarta – Nilai tukar rupiah hari ini ditutup melemah ke posisi Rp14.152,18 setelah Bank Indonesia menaikkan bunga acuan 25 basis poin (bps). Seolah rupiah menapaki rute anomali yang seharusnya menguat, malah ditutup melemah.

Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia memutuskan menaikan bunga acuan 25 bps, kini BI 7-day Reverse Repo Rate menjadi 4,5%. Kemudian deposit facility naik menjadi 3,75% dan lending facility naik menjadi 5,25%. Suku bunga acuan ini berlaku efektif mulai hari ini, 18 Mei 2018 hingga kebijakan baru diambil dalam RDG bulan depan.

Rupiah di sesi penutupan perdagangan anjlok menjadi Rp14.152,18 per dolar AS. Sepanjang perdagangan hari ini rupiah bergerak pada kisaran terendah Rp14.038 dan tertinggi Rp14.155 per dolar AS.

Seolah rupiah ingin mengatakan bahwa dirinya punya cerita sendiri dan mengacuhkan kebijakan yang baru saja diputuskan BI. Padahal puluhan ekonom telah merekomendasikan kebijakan kenaikan bunga acuan, hingga dieksekusi BI, namun rupiah justru makin melemah.

Pergerakan rupiah dalam setahun terakhir cenderung melemah (Sumber XE Currency).

Rupiah seperti melawan teori, melawan pakem yang berlaku di sektor moneter, bahkan rupiah seperti melawan arus. Tentu saja ada faktor x sehingga rupiah bergerak keluar dari alur normal tersebut.

Beberapa ekonomi menyebut melemahnya rupiah hari ini sebagai dampak lanjutan dari melemahnya euro terhadap dolar AS. Disamping juga kebijakan mewajibkan devisa hasil ekspor agar diparkir di perbankan nasional belum ditempuh.

Center of Reform on Economy (CORE) Indonesia memberi sinyal agar BI dan pemerintah dapat berhati-hati, karena penanganan yang terlambat dapat menyebabkan pelemahan nilai tukar rupiah berlanjut.

CORE menilai kebijakan suku bunga BI sudah dapat ditebak pasar tidak akan besar, sehingga pasar sudah mengambil keputusan lebih awal dan capital outflow sulit ditahan.

“Kondisi ini lebih lanjut menyiratkan gejolak nilai tukar tidak akan berlangsung temporer, masih cukup panjang menuju kestabilan nilai tukar, tugas BI dan pemerintah semakin tidak mudah,” kata Direktur Riset CORE, Pieter Abdullah Redjalam hari ini.

Dia menilai, sinyal kenaikan suku bunga acuan 25 basis poin sudah disampaikan oleh Bank Indonesia sekitar seminggu yang lalu, dan sudah dibaca oleh pasar. Maksudnya investor sudah memperkirakan kenaikan suku bunga tidak akan tinggi, dan dengan cepat mengambil keputusan untuk mengompensasikan investasinya lebih awal.

“Sehingga dampaknya sudah tidak ada lagi, dan pasar mungkin melihat kenaikan 25 bps tidak cukup besar untuk menahan capital outflow, atau bahkan untuk menarik kembali investasi yang sudah keluar,” tegasnya.

Sementara Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawai mengklaim kinerja ekonomi tidak akan terganggu, meski nilai tukar rupiah yang masih bergejolak setelah suku bunga acuan BI naik 25 bps.

“Kami bisa memberikan kepastian, karena BI dan pemerintah juga memiliki bauran kebijakan yang akan disiapkan untuk menjaga stabilitas,” demikian kilah Sri.

Dia mengatakan penyebab utama pelemahan rupiah adalah normalisasi kebijakan di Amerika, baik dari sisi kebijakan fiskal, moneter dan perdagangannya. Memang akan terus mengalami pergerakan dalam konteks normalisasi kebijakan di Amerika.

Meski demikian, Menkeu untuk kesekian kalinya meminta agar pelaku usaha untuk tetap tenang, karena pihaknya akan selalu menjaga pondasi APBN selalu dalam keadaan sehat.

“Kemarin sudah saya sampaikan, hasil dan kinerja sampai Mei [30 April 2018] menunjukkan APBN yang baik dari sisi pendapatan, perpajakan dan PNBP yang meningkat sangat signifikan dan belanja negara yang tetap terjaga dan defisit yang terus kami jaga sesuai UU APBN,” katanya.

Menkeu menegaskan dengan begitu fondasi semakin kuat, dan pemerintah akan tetap menjaga supaya ekonomi dan pembangunan tidak terganggu. Sebagai informasi, bauran kebijakan yang dimaksud Menkeu salah satunya adalah Bond Stabilization Framework (BSF).

Celakanya, semakin Menkeu mengklaim fondasi ekonomi semakin kuat, Gubernur BI Agus DW Martowardojo menyebut kebijakan moneter semakin solid, tapi nyatanya rupiah terus terperosok. Siapa yang tidak jujur? Kita cuma bisa menyebut yang paling jujur adalah rupiah itu sendiri dengan segala kelemahanya. Tapi kuat lemahnya rupiah amat sangat tergantung pada lemah kuatnya kebijakan fiskal dan moneter.

Pertanyaannya adalah, apakah trend pelemahan rupiah ini akan terus berlanjut atau hanya temporer? Pelemahan rupiah yang terjadi pada 2013, berlangsung selama 6 bulan. Selama itu rupiah terombang-ambing gelombang kebijakan moneter Amerika dan China.

Ditambah pula gejolak utang Eropa yang mendunia, sehingga membuat Federal Reserve mengambil kebijakan tapering off, dan kebijakan itu tentu saja berhasil menaikkan nilai dolar AS dan perekonomian AS sedikit menggeliat.

Persoalannya, jika ditelusuri lebih rinci, kebijakan demi kebijakan yang ditempuh bank sentral di dunia atau krisis demi krisis yang terjadi di dunia, mengapa efeknya selalu membuat rupiah melemah? Bahkan kebijakan terakhir yang diambil BI justru tak berpengaruh sama sekali terhadap rupiah, seolah rupiah punya jalan cerita sendiri, terus tergelincir.

Paling tidak hal ini mencerminkan kebijakan fiskal dan moneter yang ditempuh selama ini memang lemah. Bisa jadi terlalu banyak loopholes yang diintip pasar sehingga apapun fenomena yang terjadi rupiah selalu melemah.

Jika demikian halnya, apa perlunya berbagai bauran kebijakan terus ditempuh sementara rupiah terus melemah? Boleh jadi penyebab dasar semua ini adalah karena utang luar negeri kita yang semakin membesar, apalagi utang tersebut sebagian berdenominasi dolar AS.

Masalah utang inilah seharusnya yang lebih dahulu dibenahi, bukan malah terus menggali lobang dengan terus rajin menjadi goodboy menutup lobang. Hanya saja pusaran lobang utang itu kini kian menganga, mungkin pada saatnya akan tercipta big trap debt, lingkaran setan utang yang tak ada habisnya bakal terjadi.

Jika demikian halnya, maka kita sebenarnya membutuhkan seorang pemimpin yang mampu mengatasi kelemahan kebijakan fiskal dan moneter yang berulang-ulang. Mungkin saja kita membutuhkan Mahathir untuk memutus mata rantai kelemahan kebijakan fiskal dan moneter tersebut.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here