Rupiah Makin Liar, Capital Outflow Rp50 Triliun

0
217
Dolar AS makin melambung terhadap mata uang utama dunia, termasuk terhadap rupiah.

Nusantara.news, Jakarta – Fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS beberapa hari terakhir sepertinya semakin liar dengan kecenderungan melemah. Pelemahan ini kalau dibiarkan bisa memperlemah sendi-sendi perekonomian, untung saja Bank Indonesia menaikan bunga acuan BI 7-Day Reverse Repo Rate.

Dalam pekan ini saja rupiah yang tadinya di kisaran Rp13.900 saat libur lebaran, langsung melejit ke level Rp14.100. Lalu bergerak perlahan namun pasti ke level Rp14.200, dan kemarin ke level Rp14.375, bahkan hari ini sempat menyentuh level terendah Rp14.410 per dolar AS.

Untung saja Rapat Dewan Gubernur BI hari ini memutuskan menaikan BI 7-Day Reverse Repo Rate sebesar 50 basis poin menjadi 5,25%. Ini termasuk kenaikan bunga acuan yang cukup besar, mengingat arah pelemahan rupiah dalam beberapa hari ini dirasakan begitu liar.

“Kalau perkembangan nilai tukar year to date (ytd) dari Desember 2017 sampai sekarang ini rupiah terdepresiasi 5,72% year to date,” kata Gubernur BI Perry Warjiyo hari ini.

Praktis rupiah menguat kembali secara perlahan hari ini ke level Rp14.305 dan terakhir Rp14.291 per dolar AS. Diperkirakan awal pekan depan rupiah akan kembali menguat seiring makin percaya diri dan nyamannya investor hot money atas posisi bunga acuan baru.

Perlu diketahui, sejak awal tahun hingga hari ini total dana terbang ke luar negeri (capital outflow) sudah mencapai Rp50 triliun di pasar modal. Bahkan ada yang memperkirakan hingga Rp60 triliun. Walaupun gejolak terjadi di pasar uang, namun imbasnya juga dirasakan di pasar modal. Investor portfolio rame-rame mengonversi sahamnya menjadi rupiah untuk kemudian diubah menjadi dolar.

Terkait kecenderungan rupiah yang melemah, lembaga pemeringkat internasional juga sudah memberi sinyal tentang potensi keluarnya dana asing. Moody’s Investors Service, menyebutkan, seiring dengan menguatnya dolar Amerika Serikat terhadap valuta global, risiko kredit di negara emerging market yang mengandalkan pendanaan luar negeri cenderung meningkat.

IHSG merosot karena derasnya aksi jual sejalan dengan posisi rupiah yang semakin terdepresiasi terhadap dolar AS. Selama enam bulan terakhir, rupiah terdepresiasi sebesar 5,71% terhadap dolar AS, sebuah depresiasi yang dalam sepanjang 2018.

Ada beberapa pemicu melemahnya rupiah secara fundamental sepanjang tahun 2018 ini. Pertama, target Federal Reserve yang akan menaikkan suku bunga Fed Fund Rate (FFR) antara tiga hingga empat kali selama tahun ini. Rencana ini membuat dolar AS menguat terhadap hampir seluruh mata uang utama dunia, tanpa kecuali rupiah.

Kedua, perang dagang yang makin keras antara Amerika dan China, dimana Presiden Donald Trump bolak balik mengancam akan menaikan bea masuk atas produk China. Sebaliknya Presiden Xi Jinping juga mengancam hal serupa dengan ancaman bea masuk yang lebih besar.

Aksi perang dagang ini tentu saja berimbas terhadap negara-negara berkembang seperti Indonesia.

Ketiga, komplikasi defisit perdagangan yang terus melebar, sampai Mei 2018 besaran defisit pedagangan sudah mencapai US$2,84 miliar atau ekuivalen Rp40,61 triliun.

Selain masalah defisit perdagangan, Indonesia juga sedang terjangkit berbagai jenis defisit. Berdasarkan data gabungan BI, Badan Pusat Statistik, dan Kementerian Keuangan (2018), terutangkap bahwa Indonesia tak hanya mengalami defisit transaksi berjalan, tapi juga mengalami defisit neraca pembayaran pada kuartal I/2018 tercatat US$3,9 miliar.

Pada periode yang sama kita juga mengalami defisit perdagangan migas sebesar US$2,4 miliar, defisit perdagangan jasa US$1,4 miliar, defisit neraca perdagangan primer US$5,5 miliar, defisit neraca pembayaran US$3,9 miliar, dan defisit neraca pendapatan primer sebesar US$7,9 miliar.

Hanya keseimbangan primer (primary balance) yang biasa mencatat defisit, pada kuartal I/2018 mencatat surplus sebesar US$1,7 miliar.

Keempat, melebarnya defisit sampai bulan Mei 2018 dipicu oleh derasnya arus impor komoditas pangan seperti beras dan gula sebagai penyumbang terbesar.

Nilai ekspor Indonesia Mei 2018 mencapai US$16,12 miliar atau meningkat 10,90% dibanding ekspor April 2018. Demikian juga dibanding Mei 2017 meningkat 12,47%.

Ekspor nonmigas Mei 2018 mencapai US$14,55 miliar, naik 9,25% dibanding April 2018. Demikian juga dibanding ekspor nonmigas Mei 2017, naik 11,58%.

Secara kumulatf, nilai ekspor Indonesia Januari–Mei 2018 mencapai US$74,93 miliar atau meningkat 9,65% dibanding periode yang sama tahun 2017, sedangkan ekspor nonmigas mencapai US$68,09 miliar atau meningkat 9,81 %.

Sementara nilai impor Indonesia Mei 2018 mencapai US$17,64 miliar atau naik 9,17% dibanding April 2018, demikian pula jika dibandingkan Mei 2017 meningkat 28,12%.

Impor nonmigas Mei 2018 mencapai US$14,83 miliar atau naik 7,19% dibanding April 2018, demikian pula jika dibanding Mei 2017 meningkat 23,77%.

Impor migas Mei 2018 mencapai US$2,82 miliar atau naik 20,95% dibanding April 2018 dan naik 57,17% dibanding Mei 2017.

Nilai impor semua golongan penggunaan barang baik barang konsumsi, bahan baku/penolong dan barang modal selama Januari–Mei 2018 mengalami peningkatan dibanding periode yang sama tahun sebelumnya masing-masing 27,75%, 22,59%, dan 33,73%.

Ketidakseimbangan ekspor dan impor inilah salah satu pemicu pelemahan nilai tukar rupiah.

Kelima, kenaikan harga minyak dunia yang mencapai US$76 per barel sedikit banyak menjadi pemicu pelemahan rupiah. Karena harga minyak acuan dalam APBN 2018 ditetapkan sebesar US$48 per barel, artinya terjadi defisit US$28 per barel antara target dengan realisasi.

Sementara Indonesia dalam posisi net importir minyak mentah sebesar 1,4 juta barel per hari, sementara kebutuhannya 2,2 juta barel per hari, mengingat produksi kita per hari hanya 800.000 barel per hari.

Artinya, dengan rupiah yang melemah, ditambah harga minyak yang melambung, maka terjadi pukulan ganda atas fiskal kita. Sehingga biaya yang harus dikeluarkan untuk mengimpor minyak makin membengkak. Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto pernah menghitung bahwa kita butuh likuiditas antara Rp2,3 triliun hingga Rp2,5 triliun untuk mengimpor minyak mentah.

Itulah beberapa hal yang menyebabkan pelemahan rupiah dalam enam bulan terakhir. Sementara solusi yang baru disentuh hanyalah solusi moneter, yakni lewat kenaikan bunga acuan BI 7-Day Reverse Repo Rate. Itu sebabnya sifat penguatan rupiah pasca kebijakan BI diduga bersifat sementara.

Sepanjang masalah-masalah fundamental tersebut di atas belum disentuh, maka rupiah akan tetap berfluktuasi dengan keenderungan melemah. Itu sebabnya perlu rezim baru yang bisa mengangkat wibawa mata uang republik Indonesia tersebut.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here