Rupiah Memprihatinkan, Nasabah Kaya Mulai Pegang Dolar

0
140
Nasabah kaya di perbankan nasional mulai mengonversi tabungannya ke dalam dolar AS.

Nusantara.news, Jakarta – Dari hari ke hari nilai tukar rupiah makin melemah meski Bank Indonesia (BI) sudah tiga kali menaikkan bunga acuan 7 Days Reverse Repo Rate. Melihat gejala rupiah yang terus melemah, ribuan nasabah kakap pun mulai menarik dana dari perbankan nasional.

Suasana ini mirip-mirip dengan tahun 1997 dimana terjadi penarikan dana besar-besaran dari perbankan nasional (rush). Dana itu kemudian dikonversi ke dalam dolar AS, sehingga rupiah terkoreksi sangat tajam dari Rp2.300 menjadi Rp17.000.

Hanya saja kondisi rush saat ini masih tahap awal dan belum berubah menjadi rush masif. Rupiah hari ini diperdagangkan makin melemah ke posisi Rp14.450 pasca kenaikan suku bunga acuan ketiga. Akan kah rush berlanjut? Tentu saja kita berharap tidak terjadi seperti tahun 1997.

Belakangan nasabah kaya dengan nilai simpanan di atas Rp2 miliar dikabarkan mulai melakukan penarikan dan penutupan rekening sepanjang bulan Mei 2018.

Berdasarkan data Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), jumlah rekening nasabah dengan simpanan di atas Rp2 miliar berkurang 1.009 rekening hanya dalam satu bulan. Pada Mei 2018, jumlah rekening nasabah kaya turun 0,41% menjadi 247.846 akun, sementara bulan sebelumnya masih 248.855 akun.

Penutupan rekening ini mempengaruhi nilai nominal simpanan para nasabah kaya yang ditaruh di perbankan nasional. Jumlah nominal simpanan nasabah dengan saldo di atas Rp2 miliar pada Mei 2018 mencapai Rp3.051,04 triliun, turun 1,03% menjadi Rp31,57 triliun, dibandingkan bulan sebelumnya yang tercatat Rp3.082,6 triliun

Nasabah kaya dengan saldo di atas Rp2 miliar memiliki porsi 0,01% dari total seluruh rekening nasabah yang tercatat sebesar 257,42 juta akun. Namun, nasabah ini menguasai 56,22% dari total nilai simpanan seluruh nasabah perbankan yang mencapai Rp5.404,97 triliun.

Sementara itu, jumlah nominal simpanan dalam valuta asing (valas) di perbankan nasional, meningkat 1,06% setara dengan Rp740,68 triliun pada akhir Mei 2018 dibandingkan dengan sebulan sebelumnya Rp732,88 triliun. Adapun jumlah rekening simpanan dalam Valas meningkat 2,10%, dari 1,01 juta akun menjadi 1,03 juta akun.

Terlihat jelas bahwa motif penarikan dana nasabah kaya tersebut karena ingin mengonversi ke dalam valas, utamanya ke dalam dolar AS. Pendek kata, pelemahan rupiah belakangan ini dikontribusi peralihan dari rekening rupiah ke rekening valas.

Perbandingan krisis rupiah

Jika menengok kondisi krisis 1997 lantaran permintaan dolar AS sangat besar pada saat itu. Terutama untuk kebutuhan membayar pokok dan bunga utang dari perusahaan swasta, BUMN maupun kebutuhan pemerintah sendiri.

Hanya saja struktur utang pada saat itu belum tercatat secara rapih, dan masih banyak yang tak tercatat, ditambah pula aksi spekulasi para spekulan kakap seperti Goerge Soros dan kawan-kawan. Sehingga terjadilah krisis nilai tukar yang terus berkembang menjadi krisis moneter, hingga akhirnya menjelma menjadi krisis kepemimpinan nasional.

Kondisi krisis hari ini tentu lebih kompleks. Paling tidak ada beberapa pemicu melemahnya rupiah hari ini, dimana yang sebagian masalahnya mirip, tapi lebih banyak masalah baru yang lebih kompleks.

Beberapa pemicu melemahnya rupiah secara fundamental sepanjang tahun 2018 ini, pertama, target Federal Reserve yang akan menaikkan suku bunga Fed Fund Rate (FFR) antara tiga hingga empat kali selama tahun ini. Rencana ini membuat dolar AS menguat terhadap hampir seluruh mata uang utama dunia, tanpa kecuali rupiah.

Kedua, perang dagang yang makin keras antara Amerika dan China, dimana Presiden Donald Trump bolak balik mengancam akan menaikan bea masuk atas produk China. Sebaliknya Presiden Xi Jinping juga mengancam hal serupa dengan ancaman bea masuk yang lebih besar.

Aksi perang dagang ini tentu saja berimbas terhadap negara-negara berkembang seperti Indonesia.

Ketiga, komplikasi defisit perdagangan yang terus melebar, sampai Mei 2018 besaran defisit pedagangan sudah mencapai US$2,84 miliar atau ekuivalen Rp40,61 triliun.

Selain masalah defisit perdagangan, Indonesia juga sedang terjangkit berbagai jenis defisit. Berdasarkan data gabungan BI, Badan Pusat Statistik, dan Kementerian Keuangan (2018), terutangkap bahwa Indonesia tak hanya mengalami defisit transaksi berjalan, tapi juga mengalami defisit neraca pembayaran pada kuartal I/2018 tercatat US$3,9 miliar.

Pada periode yang sama kita juga mengalami defisit perdagangan migas sebesar US$2,4 miliar, defisit perdagangan jasa US$1,4 miliar, defisit neraca perdagangan primer US$5,5 miliar, defisit neraca pembayaran US$3,9 miliar, dan defisit neraca pendapatan primer sebesar US$7,9 miliar.

Hanya keseimbangan primer (primary balance) yang biasa mencatat defisit, pada kuartal I/2018 mencatat surplus sebesar US$1,7 miliar.

Keempat, melebarnya defisit sampai bulan Mei 2018 dipicu oleh derasnya arus impor komoditas pangan seperti beras dan gula sebagai penyumbang terbesar.

Nilai ekspor Indonesia Mei 2018 mencapai US$16,12 miliar atau meningkat 10,90% dibanding ekspor April 2018. Demikian juga dibanding Mei 2017 meningkat 12,47%.

Ekspor nonmigas Mei 2018 mencapai US$14,55 miliar, naik 9,25% dibanding April 2018. Demikian juga dibanding ekspor nonmigas Mei 2017, naik 11,58%.

Secara kumulatf, nilai ekspor Indonesia Januari–Mei 2018 mencapai US$74,93 miliar atau meningkat 9,65% dibanding periode yang sama tahun 2017, sedangkan ekspor nonmigas mencapai US$68,09 miliar atau meningkat 9,81%.

Sementara nilai impor Indonesia Mei 2018 mencapai US$17,64 miliar atau naik 9,17% dibanding April 2018, demikian pula jika dibandingkan Mei 2017 meningkat 28,12%.

Impor nonmigas Mei 2018 mencapai US$14,83 miliar atau naik 7,19% dibanding April 2018, demikian pula jika dibanding Mei 2017 meningkat 23,77%.

Impor migas Mei 2018 mencapai US$2,82 miliar atau naik 20,95% dibanding April 2018 dan naik 57,17% dibanding Mei 2017.

Nilai impor semua golongan penggunaan barang baik barang konsumsi, bahan baku/penolong dan barang modal selama Januari–Mei 2018 mengalami peningkatan dibanding periode yang sama tahun sebelumnya masing-masing 27,75%, 22,59%, dan 33,73%.

Ketidakseimbangan ekspor dan impor inilah salah satu pemicu pelemahan nilai tukar rupiah.

Kelima, kenaikan harga minyak dunia yang mencapai US$76 per barel sedikit banyak menjadi pemicu pelemahan rupiah. Karena harga minyak acuan dalam APBN 2018 ditetapkan sebesar US$48 per barel, artinya terjadi defisit US$28 per barel antara target dengan realisasi.

Sementara Indonesia dalam posisi net importir minyak mentah sebesar 1,4 juta barel per hari, sementara kebutuhannya 2,2 juta barel per hari, mengingat produksi kita per hari hanya 800.000 barel per hari. Ini yang menjelaskan mengapa pertamax dan biodiesel dex belakangan naik karena memang mengikuti pergerakan pasar.

Artinya, dengan rupiah yang melemah, ditambah harga minyak yang melambung, maka terjadi pukulan ganda atas fiskal kita. Sehingga biaya yang harus dikeluarkan untuk mengimpor minyak makin membengkak. Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto pernah menghitung bahwa kita butuh likuiditas antara Rp2,3 triliun hingga Rp2,5 triliun untuk mengimpor minyak mentah.

Semoga saja pelemahan rupiah pada 1997 tidak terulang pada 2018 ini. Terutama rush yang menggerogoti likuiditas perbankan nasional pada 2017 tidak sepenuhnya terjadi pada 2018.

Itu sebabnya pemerintah, Bank Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan, Lembaga Penjamin Simpanan perlu duduk bersama merumuskan upaya pencegahan pelemahan rupiah lebih lanjut, agar kondisi rush yang masih terlalu awal ini benar-benar terhenti sama sekali.

Kita ingin Indonesia tak lagi terjerumus dalam kubangan krisis lanjutan.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here