Ekonomi Sedang Krisis

Rupiah Terdepresiasi Karena Fundamental Ekonomi Sakit

0
65
Mantan Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Anwar Nasution memastikan pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS menunjukkan bahwa fundamental ekonomi kita sakit.

Nusantara.news, Jakarta – Berulang kali Menkeu Sri Mulyani Indrawati menegaskan bahwa fundamental ekonomi Indonesia masih kuat, APBN sehat, dan utang terkendali. Namun semua itu dibantah oleh ekonom senior Anwar Nasution sambil mengatakan semua hanya bualan.

Bagaimana ceritanya? Bagi mantan Deputi Gubernur Bank Indonesia itu, pelemahan rupiah nyaris menembus level Rp15.000 per dolar AS benar-benar menggambarkan bahwa fundamental ekonomi kita lemah. Kalau dikatakan fundamental ekonomi bagus, APBN sehat, dan utang terkendali, itu hanyalah lips service semata.

“Rupiah hampir menembus level Rp15.000 jadi salah satu indikator bahwa fundamental ekonomi kita belum kuat. Fundamental ekonomi kita lemah sekali. Bohong pemerintah katakan fundamental kuat. Omong kosong itu,” kata Anwar dalam sebuah diskusi di Jakarta akhir pekan lalu

Selain itu, indikator yang mencerminkan fundamental ekonomi Indonesia lemah, adalah dari sisi rasio penerimaan pajak atau tax ratio Indonesia terhadap produk domestik bruto (PDB) yang relatif rendah.

Tax ratio kita hanya 10%, di dunia rata-rata 20%. Kita sudah 73 tahun merdeka, kapan merdekanya? Utang melulu, minta sedekah melulu. Jadi tangan di bawah. Harus menutup defisit APBN dan neraca pembayaran,” kritiknya ketus.

Anwar menegaskan, hanya satu dari beberapa masalah fundamental yang masih dialami Indonesia. Ekspor nasional yang tidak bergairah, juga menjadi penyebab nilai tukar rupiah cukup rentan. Ekonomi Indonesia saat ini sedang sakit panas.

“Sama seperti sakit panas, temperatur hampir 40 derajat celcius. Obat paling ampuh bukan lagi Panadol, bukan lagi Tolak Angin, tapi anti biotik yang paling kuat supaya turun,” katanya.

Lebih  jauh dia menyarankan, “Dipaksa itu para eksportir sementara di Indonesia, supaya rupiah mereda. Baru secara perlahan, ekspor juga ditingkatkan,” saran mantan Ketua Badan Pemeirksa Keuangan (BPK) itu.

Selain itu, menurut Anwar, faktor  penyebab rupiah melemah adalah tekanan terhadap nilai tukar lebih banyak disebabkan oleh gelontoran devisa yang dikeluarkan dari Indonesia tidak sebanding dengan devisa yang masuk.

Misalnya, lonjakan impor secara drastis tanpa diiringi dengan geliat ekspor. Padahal, devisa hasil ekspor bisa mempertebal devisa, dan membuat mata uang memiliki pijakan yang lebih kuat.

“Harga tempe naik karena kedelainya impor. Ini sangat rawan terhadap gejolak luar negeri itu,” kata Anwar.

Selain itu, ada beberapa masalah lain yang dianggap membuat nilai tukar rupiah melemah. Salah satunya keputusan pemerintah memberangkatkan jamaah haji dalam jumlah besar, yang menguras devisa.

“Jamaah haji dan umrah kita terbanyak di dunia, tapi apakah di sana ada restoran Padang misalnya? Tidak ada. Paling warung-warung kecil. Ini yang salah, tidak dimanfaatkan betul-betul,” katanya.

Masalah lain, adalah persoalan fundamental yang cukup rentan. Sehingga, ketika kondisi perekonomian global mulai penuh dengan ketidakpastian, Indonesia akan terkena dampaknya.

Apalagi, saat ini kepemilikan surat utang Indonesia mayoritasnya dipegang oleh asing. Ketika terjadi gejolak, bisa saja obligasi tersebut dilepas, dan berdampak pada stabilitas nilai tukar.

“Tabungan kita sangat rendah, maka pemerintah ngutang jual obligasi.’ Siapa yang beli? Cek di bursa efek, itu 70% yang beli adalah orang asing,” tegasnya.

Lebih jauh, Anwar menilai ekonomi Indonesia saat ini sangat rawan terhadap gejolak dari luar negeri yang menyebabkan jika bunga meningkat maka biaya pembayaran utang di Indonesia juga meningkat.

Anwar juga mengkriti lembaga keuangan yang ada di Indonesia juga dinilai masih sangat lemah. Lembaga keuangan yang dimaksud yaitu bank pemerintah seperti empat bank negara (BUMN). “Maksudnya 4 bank negara ini nggak bisa lawan bank-bank seperti CIMB, Maybank dan juga Development Bank of Singapore.”

Masalah lain, adalah persoalan fundamental yang cukup rentan. Sehingga, ketika kondisi perekonomian global mulai penuh dengan ketidakpastian, Indonesia akan terkena dampaknya.

Seperti biasa, Menkeu Sri Mulyani mengatakan dinamika nilai tukar rupiah terhadap dolar AS belakangan ini ternyata memberikan dampak positif terhadap APBN. Buktinya, setiap pelemahan atau depresiasi Rp100 per US$ maka ada kenaikan penerimaan dan belanja negara.

“Pelemahan Rp100 mempengaruhi kenaikan penerimaan Rp4,7 triliun dan belanja naik Rp3,1 triliun,” kata Sri Mulyani di ruang rapat Komisi XI DPR pagi ini.

Menurutnya mengelola APBN itu bukan untung rugi, kalau APBN sehat maka ekonomi lebih baik lagi. Di tengah dinamika nilai tukar ini pemerintah berhasil mencatatkan penerimaan negara sebesar Rp1.152 triliun atau 60,8% dari target sebesar Rp1.894,7 triliun.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here