Rusia di Balik Kemenangan Trump?

0
57

Nusantara.news, New York – Geopolitik dunia terus bergeser ke arah yang mengejutkan. Setelah Trump meraih kemenangan sebagai presiden Amerika, hubungan dua negara adidaya AS dan Rusia diperkirakan bakal memasuki babak baru, setelah sebelumnya kedua negara adidaya ini selalu berseteru.

Trump memang mengejutkan, termasuk tentang kemenangannya. Presiden Rusia Vladimir Putin mengucapkan selamat dan mengaku senang ketika Trump dinyatakan menang dalam Pemilihan Presiden AS 2016. Apakah ini sinyal bahwa Trump adalah presiden yang “diinginkan” negeri beruang merah itu?

Bekas kepala tim kampanye Hillary Clinton, John Podesta, menyatakan kepada pada Minggu (18/12) bahwa orang-orang dekat Donald Trump mungkin berkolusi dengan para peretas Rusia demi memenangkan Pemilu.

Dalam wawancara pertamanya di televisi sejak Hillary kalah, Podesta mengaku tidak percaya Trump menjadi bagian dari rencana peretasan itu, namun dia menduga beberapa orang dekatnya kongkalikong dengan Rusia.

“Tidak diketahui pasti apakah ada kolusi,” kata Podesta dalam program bincang-bincang “Meet the Press”, NBC.

“Rusia berusaha memilih seekor anjing peliharaan,” kata Podesta merujuk terpilihnya Trump.

Sementara itu, Menlu Rusia Sergei Lavrov berkata kepada saluran televisi Rossiya-24 bahwa dia bingung mengenai kerlibatan Presiden Rusia Vladimir Putin dalam serangan peretasan terhadap Pemilu AS sebagaimana laporan NBC.

“Saya kira ini konyol sekali dan kesia-siaan dari upaya ini untuk meyakinkan orang terhadap soal ini adalah kentara sekali,” kata dia seperti dikutip Reuters (16/12).

Trump sendiri juga menyangkal tuduhan ini, “Jika Rusia atau entitas lainnya meretas, mengapa Gedung Putih mesti menunggu lama untuk bertindak? Mengapa keluhan itu muncul setelah Hillary kalah?” tulis Trump dalam Twitter.

Para pejabat intelijen AS meyakini bahwa Rusia berusaha mempengaruhi Pemilu AS dengan meretas orang pribadi maupun lembaga, termasuk Partai Demokrat dengan tujuan mendokrak suara Trump untuk kemudian mendeskreditkan demokrasi AS.

“Putin percaya Trump akan lebih bersahabat kepada Rusia, khususnya dalam soal sanksi ekonomi, ketimbang lawannya dari Demokrat, Hillary Clinton,” kata seorang pejabat intelijen AS yang tidak disebut namanya. (imt/berbagai sumber)

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here