Rusia Kuasai 50 % Saham Kilang BBM di Tuban

0
258

Nusantara.news, Tuban – 

Rosneft perusahaan minyak asal rusia, sahamnya selain dikuasai pemerintah rusia(50%) juga dimiliki British Petroleom(19,5%), Qatar(19,5%0, CNPC(1,9%) dan sisanya publik. Apakah ini menjadi indikasi Rosneft mengerjakan kilang Tuban?

Rosneft digandeng oleh Pertamina untuk membangun kilang minyak dituban, investasi yang mencapai USD13 miliar dengan proporsi saham 45% rosneft dan 55% pertamina. Sebagai jaminan kedua telah menyetor masing-masing USD200 juta.

Kehadiran Pertamina sebagai kelanjutan adanya Perpres 146/2015 tentang pelaksanan pembangunan dan pengembangan kilang minyak dalam negeri. Bahwa pembangunan kilang minyak bisa dilakukan pemerintah dan badan usaha. Untuk pelaksanaan dilakukan oleh pemerintah maka dilakukan penugasan dalam hal ini kepada Pertamina dengan pembiayaan bisa dari pemerintah atau korporasi.

Kilang Tuban dilaksanakan oleh Pemerintah yang menugasi kepada Pertamina,dengan pembiayaan korporasi. Terkait pembiayan Rosneft berjanji akan menyediakannya. Untuk pembiayaan Rosneft akan meminjam dari bank-bank yang ada di Rusia, tidak menutup kemungkinan bank di luar Rusia.

Hal ini justru menjadi pintu masuk bagi pihak-pihak yang keinginan terhadap Indonesia. Selain Rusia tercatat 3 negara yang memiliki andil terhadap Rosneft melalui korporasinya. Salah satunya adalah Republik Rakyat Cina melalui China National Petroleum Corporation (CNPC) yang hanya memegang 1,9 % saham.

Kehadiran Rosneft juga dibarengi pengiriman minyak jadi sebanyak 200 ribu barrel, sebuah pengiriman pertama dan terbesar minyak dari bumi belahan utara ke selatan. Sebab selama ini minyak dialirkan dari selatan ke utara, bukan sebaliknya.

Terlebih Perpres 146/2015 memberikan berbagai fasilitas seperti konsesi sampai 50 tahun, Insentif pajak dan keringanan sewa lahan. Memang dalam pembangunan kilang ada Pertamina, namun siapa yang akan menjamin pertamina mengambil peran lebih, mengingat pembiayaannya sepenuhnya dari Rosneft. Celakanya Rosneft juga mengandalkan dana pinjaman. Bukan modal sendiri.

Kalau begitu kenapa Pertamina tidak mengerjakan sendiri proyek kilangnya. Kalau persoalan modal bisa saja Pertamina mengajukan suntikan dana melalui fasulitas penyertaan modal negara (PMN). Selain itu, Pertamina sebagai perusahaan besar bisa saja memobilisasi dana, baik dari dalam maupun luar negeri, misalnya melalui pinjaman pemerintah atau penerbitan obligasi.

Nasi sudah menjadi bubur. Yang terpenting adalah dilakukan kewasdapaan terhadap kegiatan pembangunan Kilang dan pengoperasiannya kelak.  Mengingat Tuban, dijaman majapahit tempat perkumpulnya para Cina, sehingga romantisme masa lalu sangat mudah di hidupkan.

Tapi yang jelas, keputusan siapapun pejabat, baik ESDM maupun Pertamina yang melatar-belakangi penyerahan proyek kilang minyak Tuban ke Asing yang ternyata juga mengandalkan modal pinjaman, perlu dipertanyakan keberpihakannya kepada bangsa dan negara ini. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here