Saat Bank Indonesia Harus Melawan Aksi Spekulan

0
73
Menko Perekonomian Darmin Nasution meminta Bank Indonesia untuk melakukan stabilisasi rupiah agar perekonomian lebih kondusif.

Nusantara.news, Jakarta – Tidak biasanya Menko Perekonomian Darmin Nasution meminta Bank Indonesia (BI) sebagai otoritas moneter untuk menstabilkan rupiah. Maklum, rupiah dalam waktu belakangan sempat menembus level Rp13.800 dari posisi stabilnya di kisaran Rp13.500.

Darmin mengatakan apa pun perkembangan moneter yang diakibatkan kondisi global karena asalnya dari eksternal, maka bank sentral, dalam hal ini BI yang harus mengambil langkah kebijakan.

“Ini peran BI untuk mengambil langkah-langkah mengembalikan rupiah. Kalau faktor dari dalam atau nasional baru pemerintah yang akan mengambil langkah terlebih dahulu,” katanya pagi ini.

Nilai tukar rupiah pada pengujung perdagangan Senin, (5/3), berbalik melemah. Rupiah ditutup melemah tipis 0,04% atau 5 poin pada posisi Rp13.762 per dolar AS, meski dibuka menguat 10 poin atau 0,07% ke posisi Rp13.747 per dolar AS.

Untuk itu, Darmin meminta BI melakukan pengendalian sedari sekarang, meski dirinya tetap memastikan gejolak rupiah yang terjadi saat ini belum dalam taraf mengkhawatirkan.

Mantan Gubernur BI itu memastikan fundamental perekonomian Indonesia tidak memiliki persoalan. Hal ini dilihat dari pertumbuhan ekonomi yang tidak terlalu tinggi, tetapi berada di kisaran 5%. Tak hanya itu, inflasi yang memiliki gejolak pangan juga masih terkendali, belum neraca perdagangan yang surplus.

BI sendiri telah melakukan sejumlah upaya terus memonitor perkembangan situasi global dan melakukan langkah-langkah stabilisasi di pasar valuta asing dan pasar Surat Berharga Negara (SBN) agar volatilitas rupiah tetap terkendali dan sesuai dengan fundamentalnya.

Sementara Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengaku pelemahan rupiah saat ini belum sampai taraf mengkhawatirkan. Namun demikian pemerintah belum punya rencana untuk mengubah struktur Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Menurutnya revisi anggaran hanya akan dilakukan jika situasi fiskal dan moneter benar-benar sudah menunjukkan adanya revisi.

Kedua Kadin Indonesia Rosan P. Roslan sebelumnya telah mengingatkan pemerintah bahwa dengan kenaikan harga minyak dunia, plus pelemahan rupiah, sudah saatnya pemerintah merevisi APBN. Alasannya perubahan asumsi makro ekonomi akan membuat APBN lebih sustainabel.

Di dalam APBN 2018, asumsi nilai tukar rupiah ditetapkan sebesar Rp13.400, sementara rupiah saat ini sudah undervalued di kisaran Rp13.800. Sedangkan asumsi harga minyak dunia dalam APBN 2018 ditetapkan sebesar US$48 per barel, namun harga minyak dunia per hari ini ada di kisaran US$67 per barel.

Itu sebabnya Kadin menyarankan agar ada revisi APBN 2018 agar tidak terjadi mismatch dalam fiskal dan moneter.

IHSG menguat

Satu hal yang masih menggembirakan di tengah melemahnya rupiah hari ini adalah, indeks harga saham gabungan (IHSG) justru dalam posisi membaik. Satu anomali lain yang sebenarnya sedang berlangsung.

Menko Perekonomian menilai melemahnya nilai tukar rupiah saat ini tidak berada di level mengkhawatirkan seiring dengan menguatnya IHSG. Akan berbeda halnya jika rupiah melemah berbarengan dengan jatuhnya pasar modal, baru diperlukan langkah ekstra.

Enggak (mengkhawatirkan). Kurs itu mengkhawatirkan kalau rupiah melemah dan IHSG melemah. Tapi ini kan tidak,” kata Darmin. 

Darmin juga mengatakan, pidato Gubernur The Fed Jerome Powell yang disinyalir bernada hawkish atau memberikan indikasi kenaikan suku bunga atau Fed Fund Rate (FFR) lebih dari tiga kali, tidak akan menimbulkan gejolak dalam perekonomian Indonesia. Sebab fundamental perekonomian Indonesia berada di kondisi yang stabil saat ini.

“Mungkin akan ada riak-riak kecil, tapi bukan gejolak,” kata Darmin.

Menurut Darmin, nilai tukar rupiah seharusnya berada di posisi normal. Dia tidak memungkiri jika pidato Gubernur The Red yang bernada Hawkish itu menjadi pemicu melemahnya nilai tukar di hampir seluruh negara di dunia, bukan hanya di Indonesia.

“Karena pidato itu orang mulai pasang kuda-kuda walaupun FFR belum naik. Kalau pun naik mungkin ada riak tapi bukan gejolak,” kata Darmin.

Kepala Departemen Pengelolaan Moneter Bank Indonesia (BI) Doddy Zulverdi juga mengatakan hal senada. Menurutnya pelemahan rupiah tersebut terjadi karena dua faktor yakni data perbaikan ekonomi AS dan dan juga pidato Gubernur The Fed Jerome Powell yang bernada hawkish itu.

Di lain sisi, kondisi ekonomi domestik Indonesia seharusnya bisa menahan kurs rupiah di level yang lebih baik. Terlebih, angka inflasi juga masih terkendali.

Selain itu, faktor-faktor ekonomi domestik lainnya  juga membaik dengan neraca pembayaran surplus, devisa membaik serta rating pertumbuhan ekonomi juga lebih baik. Jadi, tidak ada alasan rupiah melemah jika melihat faktor domestik. Semua karena faktor global.

Ajang spekulasi

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira memprediksi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS punya kecenderungan untuk terus melemah. Tak menutup kemungkinan rupiah bisa menyentuh ke level Rp14.000 per dolar AS.

“Tembus Rp14.000 di tahun ini terbuka lebar karena tekanan dari pengetatan moneter global makin kuat,” kata dia beberapa hari lalu.

Bhima menilai makin menguatnya dolar terhadap rupiah berpotensi dijadikan ajang spekulasi. Bagi pelaku usaha tertentu akan dimanfaatkan untuk membayar cicilan dan bunga pinjaman luar negeri tahun ini. “Ini akan borong dolar sebelum terlalu mahal,” ucapnya.

Lebih lanjut, Bhima menjelaskan setidaknya ada dua perbedaan dari menguatnya dolar dibandingkan 2015 dengan 2018 tahun ini. Perbedaan mendasar terlihat dari sikap Gubernur Bank Sentral AS, Jerome Powell yang dianggap lebih berani (hawkish).

Sikap tersebut, lanjutnya, membuat pasar atau investor berspekulasi menyangkut Fed Rate dan inflasi di Amerika ke depannya. “Reaksi ini terlihat dari kenaikan imbal hasil (yield) treasury 10 tahun yang mendekati 3%,” kata dia.

Kenaikan bunga acuan bersamaan dengan normalisasi neraca The Fed. Situasi itu diikuti oleh bank sentral negara lainnya, seperti Bank Sentral Eropa (European Central Bank) dan Bank Sentral Jepang (Bank of Japan). “Jadi snowball effect-nya dapat dirasakan,” ucap Bhima.

BI sendiri harus melakukan intervensi bila rupiah terus terperosok. Bhima menyatakan BI akan menjaga rupiah tidak akan bergerak terlalu jauh dari posisi Rp13.400. Namun bila proyeksi itu meleset, regulator dinilai perlu mempertimbangkan kenaikan suku bunga 7-Day Repo Rate.

Kenaikan suku bunga di kisaran 25-50 basis poin disebut-sebut akan menahan dana asing keluar dari Indonesia. Meski demikian, kata Bhima, imbasnya bunga kredit perbankan bisa bergerak naik.

Karena bebagai masukan yang cukup keras dan penuh rekomendasi, tampaknya BI tidak punya pilihan untuk terus hadir di pasar. Terutama agar tidak segan-segan bentukan opini dan aksi spekulan di pasar yang terus berupaya menggerek rupiah ke bawah.

Inilah saatnya BI selaku otoritas moneter harus berani memerangi aksi para spekulan yang terus menggoreng mata uang rupiah di pasar.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here