Saat Indonesia Mencatat Pertumbuhan Ekonomi Negatif

0
88
Kinerja ekonomi Indonesia pada kuartal I-2019 mencatat pertumbuhan negatif 0,52%. Ini sebuah sinyal bahwa ekonomi sedang turun ke bawah dan menjadi tugas pemerintah untuk mengangkatnya kembali menjadi positif.

Nusantara.news, Jakarta – Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Ketjuk Suharyanto baru saja mengumumkan pertumbuhan ekonomi Indonesia dalam tiga bulan terakhir (Januari-Maret 2019) negatif 0,52%. Namun untuk pertumbuhan secara tahunan (year on year—YoY) masih positif 5,07%.

Ini adalah fenomena unik sekaligus memprihatinkan, karena kalau pertumbuhan ekonomi mencatat angka negatif 0,52% mengandung arti terjadi kemunduran ekonomi. Harusnya ekonomi kita tumbuh ke atas, dalam tiga bulan pertama tahun ini ternyata tumbuh ke bawah. Pendek kata ini adalah prestasi negatif terhadap perekonomian, mengingatkan kita pada krisis 1998.

Hanya saja kinerja ekonomi secara YoY justru tumbuh positif 5,06% dibandingkan kuartal pertama 2018. Demikian juga jika dibandingkan 2016 pertumbuhan ekonomi kuartalan kali ini juga lebih tinggi.

"Menurut triwulanan (kuartalan) 5,07% lebih bagus dari triwulan I-2017, dan triwulan I-2016," kata Kepala BPS Suhariyanto saat jumpa pers di kantornya pagi ini.

Ia menyatakan, beberapa hal yang mempengaruhi pertumbuhan ekonomi Indonesia yang negatif antara lain harga komoditas migas di pasar internasional yang mengalami penurunan, sehingga pertumbuhan ekonomi negara mitra dagang yang melambat.

Ekonomi China melambat dan hanya tumbuh 6,4% dari sebelumnya 6,6%, Singapura juga melambat jadi 1,3% dari sebelumnya 1,9%. Ditambah Korea Selatan (Korsel) juga melambat jadi 1,8%. Jadi tiga negara alami perlambatan, kecuali AS yang tumbuh lebih bagus.

Sebenarnya pertumbuhan ekonomi nasional pada kuartal I-2019 diprediksi tumbuh sekitar 5% hingga 5,18%. Dari tahun ke tahun, angka pertumbuhan masih ditopang oleh tingkat konsumsi rumah tangga, karena faktor jumlah penduduk Indonesia yang besar sehingga memberi kontribusi pertumbuhan yang tinggi.

Direktur Riset CORE Indonesia Piter Abdullah mengatakan laju tingkat konsumsi rumah tangga akan berada di level 5,1% pada kuartal I-2019.

"Seperti biasa pertumbuhan kita bergantung pada pertumbuhan konsumsi rumah tangga yang pada triwulan pertama kami perkirakan sekitar 5,0% hingga 5,1%," ujarnya.

Dapat diketahui, struktur Produk Domestik Bruto (PDB) masih dominan ditopang oleh konsumsi rumah tangga yang berkontribusi 56,13% dari PDB, PMTB atau investasi berkontribusi 32,16%, dan ekspor yang berkontribusi 20,37%.

Adapun, pada hari Senin besok (6/5/2019), Badan Pusat Statistik (BPS) dijadwalkan merilis angka pertumbuhan ekonomi Indonesia periode kuartal-I 2019.

Selain itu, BPS menyebutkan pertumbuhan didukung semua lapangan usaha, dengan pertumbuhan tertinggi dicapai oleh Jasa Perusahaan sebesar 10,36%; diikuti Jasa Lainnya sebesar 9,99%; Informasi dan Komunikasi sebesar 9,03%; dan Pengadaan Air, Pengelolaan Sampah, Limbah dan Daur Ulang sebesar 8,95%.

Berdasarkan sumber pertumbuhan ekonomi Indonesia triwulan I-2019 (YoY), menurut Suharyanto, sumber pertumbuhan tertinggi berasal dari Lapangan Usaha Industri Pengolahan sebesar 0,83%; diikuti Perdagangan Besar-Eceran, Reparasi Mobil-Sepeda Motor sebesar 0,70%; Konstruksi sebesar 0,59%; dan Informasi dan Komunikasi sebesar 0,47%. Sementara pertumbuhan ekonomi Indonesia dari lapangan usaha lainnya sebesar 2,48%.

Suhariyanto memaparkan, pertumbuhan ekonomi Indonesia triwulan I-2019 terhadap triwulan IV-2018 (q-to-q) diwarnai faktor musiman pada Lapangan Usaha Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan yang tumbuh ekspansif sebesar 14,10%.

Pertumbuhan positif juga terjadi pada Lapangan Usaha Jasa Keuangan dan Asuransi sebesar 3,33%; Informasi dan Komunikasi sebesar 2,77%; Real Estat sebesar 2,52%; Jasa Perusahaan sebesar 2,44%; dan beberapa lapangan usaha lainnya. Namun, pertumbuhan lapangan usaha tersebut di atas tidak cukup menahan terjadinya kontraksi pertumbuhan ekonomi Indonesia di triwulan I-2019 sebesar 0,52%.

Berdasarkan informasi di atas, sudah sepatutnya pemerintah perlu menggenjot kinerja ekspor dan menekan impor. Sebab komponan ekspor dan impor ini juga berperan tinggi dalam meningkatkan pertumbuhan ekonomi dari yang negatif menjadi positif.

Salah satu yang menjadi harapan untuk menggenjot pertumbuhan ekonomi menjadi positif adalah kinerja ekspor. Dimana produk-produk ekspor dimaksimalkan pertumbuhannya lewat industri manufaktur, karena industri inilah yang memiliki daya saing tinggi dan sudah memenuhi standar internasional.

Sayangnya pertumbuhan industri manufaktur yang diharapkan tinggi ternyata tidak sesuai harapan. Pada 2018 pertumbuhan industri manufaktur hanya 4,07%, tetap ada pertumbuhan, tapi pertumbuhan itu terhitung melambat jika dibandingkan pertumbuhan industri manufaktur pada 2017 sebesar 4,74%.

Penyebabnya industri manufaktur pada 2018 menghadapi tantangan besar, yakni perang dagang antara Amerika dan China yang membuat ekonomi dunia terayun-ayun.

Itu sebabnya pemerintah harus mengembalikan kinerja pertumbuhan ekonomi yang positif pada kuartal II-2019. Jika momentum itu tak berhasil direalisasikan, dikhawatirkan pertumbuhan ekonomi negatif akan berlanjut ke kuartal-kuartal selanjutnya.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here