Robohnya industri Ritel Modern (1)

Saat Industri Ritel Berguguran, PHK Pun Tak Terelakkan

0
154
PT Hero Supermarket Tbk memutuskan akan menutup 6 gerai Giant. Tahun sebelumnya sudah menutup 26 gerai dengan risiko mem-PHK 532 karyawan.

Nusantara.news, Jakarta – Beberapa hari belakangan warga pecinta belanja ritel dikejutkan oleh keputusan PT Hero Supermarket Tbk yang akan menutup 6 gerai Giant miliknya. Apakah ini pertanda runtuhnya industri ritel nasional? Atau hanya strategi restrukturisasi Hero menghadapi persaingan industri ritel yang ketat?

Info resmi Hero menyebutkan keenam gerai Giant itu efektif ditutup pada 28 Juli 2019. Penutupan 6 gerai Giant tersebut diawali dengan diskon besar-besaran di keenam Giant atas barang dagangan yang ada, tujuannya agar barang dagangan tersebut segera menjadi uang.

Gerai Giant yang akan ditutup adalah Giant Ekspres Cinere Mall, Giant Ekspres Mampang, Giant Ekspres Pondok Timur, Giant Ekstra Jatimakmur, Giant Ekstra Mitra 10 Cibubur, dan Giant Ekstra Wisma Asri. 

Direktur PT Hero Supermarket Hadrianus Wahyu Trikusumo mengatakan penutupan 6 gerai Giant tersebut disebabkan oleh persaingan ritel makanan di Indonesia yang semakin ketat.

Ritel makanan di Indonesia mengalami peningkatan persaingan dalam beberapa tahun terakhir karena perubahan pola belanja konsumen. Giant adalah brand yang kuat namun Hero harus terus beradaptasi untuk bersaing secara efektif dengan menerapkan program multi-year transformation untuk memberikan peningkatan jangka panjang.

Hero diketahui akan memperkuat bisnis ritel melalui anak usaha lain yang dimilikinya yakni Guardian Health & Beauty dan IKEA. Hal ini dilakukan sebagai upaya penyesuaian kebutuhan konsumen di Indonesia yang berubah cepat. Penyesuaian ini sebagai bentuk komitmen jangka panjang bisnis Hero di Indonesia dan untuk memenuhi kebutuhan pelanggan yang berubah dengan cepat.

Adrianus mengakui penutupan 6 toko Giant tersebut tak mudah bagi pihaknya namun harus tetap dilakukan. Karyawan toko sudah dikomunikasikan, memang tidak mudah, tapi langkah itu perlu dilakukan guna merespon perilaku konsumen yang berubah begitu cepat.

Hingga Mei 2019, Giant masih memiliki 125 toko yang tersebar di Indonesia. Artinya, dengan ditutupnya 6 gerai tersebut maka Giant hanya memiliki 119 toko di seluruh Indonesia. Padahal pada 2018 Hero juga sudah menutup 26 gerai Giant di tanah air, penutupan 6 gerai lagi menambah panjang catatan terpuruknya bisnis ritel.

Saat menutup 26 Giant, Hero terpaksa mem-PHK 532 karyawannya. Dengan tambahan penutupan 6 gerai lagi, maka Hero sedikitnya bisa menambah jumlah PHK sedikitnya 120 karyawan lagi. Miris meang mendengarnya.

Pada saat menutup 26 gerai Giant, manajemen Hero, Corporate Affairs GM Hero, Tony Mampuk, menjelaskan dipicu karena adanya penurunan total penjualan 1% menjadi Rp9,85 triliun. Penjualan penjualan itu dipicu oleh penjualan bisnis makanan yang lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya sebesar Rp9,96 triliun.

Hal itu memicu kinerja keuangan perseroan melemah sejak kuartal III 2018.  Kondisi keuangan tersebut membuat perusahaan terpaksa mem-PHK karyawannya. Masih belum ada kejelasan apakah masih ada gerai lainnya yang akan ditutup setelah ini.

Meski demikian, bisnis non makanan tetap menunjukkan pertumbuhan yang cukup kuat. Atas hal tersebut, perusahaan meyakini bahwa keputusan akan langkah efisiensi tersebut adalah hal yang paling baik dalam menjaga laju bisnis yang berkelanjutan. 

Tony menyatakan Hero Group telah menerapkan strategi yang mendukung keberlanjutan bisnis dengan memaksimalkan produktivitas kerja melalui proses efisiensi. Dari 532 karyawan yang di-PHK, 92%-nya telah mengerti dan memahami kebijakan efisiensi ini dan menyepakati untuk mengakhiri hubungan kerja.

Bisnis ritel dalam beberapa tahun ini memang sedang dilandai badai yang kencang. Kabar tutupnya ritel yang menjual produk mulai dari makanan hingga fesyen bukanlah hal baru. Beberapa tahun ke belakang para pemain ritel di Indonesia memang satu per satu gugur atau gulung tikar.

Sebenarnya penutupan gerai toko ritel modern bukan hanya monopoli Hero atau Giant. Tahun 2017 peritel 7-Eleven juga menutup 187 gerainya di seluruh tanah air karena tergilas zaman. Toko ritel 7-Eleven itu tak kuasa menghadapi hantaman persaingan yang keras di industri ritel.

Sementara emiten PT Matahari Putra Prima Tbk atau Matahari Group dalam duat tahun terakhir diketahui sudah menutup 80 gerainya di seluruh Indonesia. Jumlah gerai tersisa hingga akhir 2018 sebanyak 219 gerai.

Pada 2016 dan 2017, jumlah gerai Hypermart, Foodmart, Smart Club dan Boston Health & Beauty masing-masing 259 unit dan 299 unit. Dengan begitu, setiap tahun emiten bersandi saham MPPA ini melakukan penutupan 40 gerai.

Sekretaris Perusahaan Matahari Putra Prima (MPPA) Danny Kojongian menuturkan, gerai-gerai yang sedang beroperasi akan terus dikaji secara regular dan intensif. Penutupan gerai pada tahun lalu karena beberapa hal antara lain gerai yang tidak memiliki keuntungan dan habisnya masa sewa gerai.

"Kemungkinan [penutupan gerai] selalu ada. Kami akan melihat gerai, kalau ada yang bisa diperbaiki untuk menciptakan hal yang positif, akan kami lakukan," demikian Danny menjelaskan.

Lebih rinci, jumlah 219 gerai Matahari Group yang tersisa terdiri dari Hypermart sebanyak 107 gerai,  Foodmart 24 unit, FMX sebanyak 12 unit, Smart Club mencapai 2 unit dan sisanya  Boston Health  &  Beauty. Gerai perseroan tersebar di 155 lokasi, tepatnya 74 kota di Indonesia.

Jika situasi semakin memburuk, bisa saja 107 gerai Hypermart juga tutup. Demikian pula gerai-gerai lainnya. Di luar itu Debenhams, Lotus Departement Store, Central Park, Centro juga ikut menutup gerai-gerainya di sejumlah titik.

Meskipun melakukan penutupan gerai, Matahari Group juga melakukan pembukaan 4 Hypermart dan 2 Foodmart sepanjang 2018.

Dia mengungkapkan, penutupan gerai, tidak langsung menghilangkan Hypermart di lokasi tertentu, sebab perseroan tetap terus mengkaji lokasi-lokasi strategi untuk gerai perseroan.

Di luar itu, bisnis ritel modern seperti Indomart diketahui mengalami penurunan laba bersih hingga 74%, sementara Alfamart mengalami penurunan laba bersih lebih dari 50%.[bersambung]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here