Saat Pelaku Pasar Mulai Meninggalkan Indonesia

0
183
Presiden Joko Widodo saat melakukan penutupan pasar akhir 2017 di Bursa Efek Indonesia begitu sumringah karena kinerja IHSG di atas ekspektasi. Namun hari ini ruipiah dan IHSG kembali terkoreksi sangat signifikan. Adakah jalan keluar yang cesplenk?

Nusantara.news, Jakarta – Setelah rupiah terdepresiasi signifikan terhadap dolar AS, kini di akhir pekan giliran Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terkoreksi secara dramatis. Pelaku pasar seolah kompak melepas porftfolio mereka di pasar Indonesia yang seksi ini. Ada pakah gerangan?

Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS sebenarnya terkoreksi sejak pekan lalu. Pelemahan rupiah ini karena faktor global khususnya kebijakan dari pemerintah Amerika Serikat (AS). Pemerintah, Bank Indonesia (BI) dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memastikan bahwa ekonomi Indonesia masih aman.

Jika dihitung dari dari awal bulan, pelemahan rupiah mencapai 1,3%. Sedangkan jika dihitung dari awal tahun atau year to date, pelemahan rupiah tercatat 2,59%. Pada Kamis (26/4), nilai tukar rupiah sempat menyentuh Rp13.980 atau 20 poin lagi menyentuh level Rp14.000 per dolar AS.

IHSG terkoreksi cukup dalam pada penutupan sore hari ini, Kamis (26/4) di tengah aksi jual oleh investor asing.

Pelemahan hari ini memasuki hari kedua, setelah kemarin indeks juga tertekan oleh aksi jual oleh asing. Sejumlah saham papan atas menjadi kontributor bagi pelemahan yang terjadi di lantai bursa pada hari ini.

Pukul 16.00 IHSG ditutup turun 2,8% atau 170,65 poin di posisi 5.909,19. Sebanyak 345 saham diperdagangkan melemah, 81 saham stagnan dan hanya 67 saham diperdagangkan menguat.

Volume perdagangan mencapai 9,5 miliar saham dengan nilai transaksi mencapai Rp10,15 triliun. Net sell asing di seluruh pasar mencapai Rp1,31 triliun dan di pasar reguler capai Rp1,6 triliun.

Saham-saham bluechips yang menyumbang pelemahan bagi bursa yakni BMRI, BBRI, TLKM, BBCA, ASII, PGAS dan INKP.

Selain itu, seluruh indeks sektoral seluruhnya melemah, yakni perdagangan (-2,52%), industri dasar (-1,25%), properti (-2,96%), konsumer (-3,08%), pertambangan (-3,46%), agribisnis (-2,46%), manufaktur (-2,36%), aneka industri (-1,44%), infrastruktur (-3,11%) dan keuangan (-3,19%).

IHSG pun jatuh ke level terendahnya sepanjang tahun ini di level 5.909,19. Nilai kapitalisasi pasar (market cap) Bursa Efek Indonesia (BEI) pun telah turun Rp375 triliun sejak awal tahun ini.

Saat ini, nilai kapitalisasi pasar mencapai Rp6.566 triliun. Komposisi saham-saham emiten yang menghuni 10 kapitalisasi pasar terbesar juga bergeser.

Faktor penyebab

Para analis mengatakan kenaikan yield obligasi Indonesia tenor 10 tahun mempengaruhi pergerakan IHSG, hari ini. Pasalnya, yield surat utang negara (SUN) sudah mencapai level 7%.

Tingginya yield obligasi ini, membuat pelaku pasar switch ke instrumen obligasi, sambil menunggu kepastian pasar terkait nilai tukar rupiah. Sebagai gambaran, kenaikan yield SUN didorong imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun yang juga menembus ke atas level 3% pada perdagangan rabu waktu Amerika Serikat.

Namun demikian sejumlah pejabat usai dipanggil Presiden Jokowi di Istana Negara, seperti Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, Gubernur BI Agus DW Martowardojo, Menko Perekonomian Darmin Nasution, dan Dirut Bursa Efek Indonesia Tito Sulistyo, sepakat pelemahan rupiah dan IHSB hanyalah bersifat sementara karena dipengaruhi faktor-faktor eksternal.

Faktor-faktor yang dimaksud adalah suku bunga bank sentral Amerika The Fed yang terus meningkat dan diprediksikan akan kembali meningkat hingga tiga kali tahun ini, isu perang dagang antara China dan Amerika, serta kondisi geopolitik Amerika dan Suriah yang sedang memanas beberapa waktu belakangan.

Meskipun demikian, volatilitas IHSG hari ini cukup membuat beberapa kalangan khawatir dan panik, sehingga berhenti berinvestasi.

Kondisi global yang saat ini tengah bergejolak memberikan pengaruh terhadap penerbitan surat utang pemerintah. Hal tersebut, menjadi kekhawatiran tersendiri bagi Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati.

“Kami akan waspada, dan tetap komunikasikan kebutuhan financing kita akan tetap terjaga, sehingga tidak menimbulkan spekulasi,” kata Sri Mulyani di gedung parlemen, Kamis (26/4).

Data Direktorat Jenderal Pengelolaan dan Pembiayaan Risiko (DJPPR), target lelang Surat Utang Negara (SUN) untuk lima seri jauh pada 24 April 2018 lalu jauh dari harapan. Bahkan realisasinya, tidak mencapai separuh yang ditargetkan.

Bendahara negara menargetkan bisa menyerap Rp17 triliun melalul lelang obligasi tersebut. Namun, realisasi akhir total utang yang bisa diraup pemerintah hanya sekitar Rp6,1 triliun.

Sementara di satu sisi, Imbal hasil (yield) obligasi pemerintah terus naik. Pada hari ini yield Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun telah menembus level 7%, atau merupakan yang tertinggi sejak Juli 2017.

Kenaikan yield mencerminkan harga instrumen tersebut sedang turun. Penurunan harga menjadi indikasi bahwa minat investor terhadap surat utang pemerintah berkurang.

Namun, mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia itu mengaku masih optimistis strategi pembiayaan tahun ini lancar. Pemerintah akan memitigasi risiko dalam penerbitan obligasi, di tengah tekanan kondisi global.

”Kita melihat bahwa proyeksi pembiayaannya masih akan cukup comfortable,” jelasnya.

Alur logis 

Sebenarnya depresiasi rupiah dan terkoreksinya IHSG merupakan risiko yang sangat terkalkulasi, terutama bila dilihat dari dari sisi fundamental struktur inflasi (suku bunga: impor inflatoir). Sementara dari sisi teknikal uang beredar driver-nya atau market maker-nya adalah harga di pasarnya adalah pihak asing.

“Asing melakukan arbitrase trading, untuk mendapatkan selisih nilai tukar dan surat berharga,” kata pengamat pasar modal Yanuar Rizky dalam akun facebooknya.

Jadi, kalau ingin mengubah keadaan hanya ada dua instrumen variabel yang bisa dilakukan sebagai intervening variable, yaitu memperbaiki struktur impor konsumsi dan bahan baku, repatriasi dana ekspor serta bauran kebijakan fiskal-moneter untuk merebut market maker di pasar surat berharga ke volatilitas dana lokal pada uang beredar.

Memperbaiki hal tersebut di atas memang tidak bisa instan, perlu kekompakan juga sebagai bangsa. Yaitu, musuh bersama soal mengatasi masalah bersama. “Kalau masalah bersama tapi disikapi kayak anak kecil ya nggak pernah naik kelas sebagai bangsa,” kata Yanuar.

Alur nalar rasionalnya adalah, boleh dilihat, untuk stabilitas bahkan BI waktu rupiah kemarin menguat lagi menahan keseimbangan di level Rp13.500. Waktu itu tahun 2016 banyak yang mengritik BI menahan kurs padahal psilkologis arus dolar AS sedang bisa lebih kuat bagi rupiah di bawah Rop13.500.

Ini bisa kita uji hari ini, dari sisi stablitas rupiah hari ini melemah tapi tidak lebih parah dari mata uang kawasan yang menguat tajam sebelumnya.

“Jadi, pijakan BI secara short term stabilitas spketrumnya jelas resiko terkalkulasi akan melemah lagi dan agar tidak. Shock dibuat tidak terlalu kuat sebelumnya,” jelas Yanuar.

Usul klasik yang dianggap dapat menjadi solusi cesplenk, namun selalu diabaikan otoritas moneter dan fiskal adalah upaya memaksa uang hasil ekspor di parkir di bank-bank lokal di Indonesia barang dua hingga tiga bulan. Syukur-syukur 6 hingga 12 bulan, tujuannya adalah untuk memperkuat cadangan devisa sekaligus sebagai bantalan ketersediaan dolar AS.

Selama ini, dana hasil ekspor diparkir di bank-bank asing di luar negeri, hanya nilainya saja yang di-deliver ke Kementerian Perdagangan. Padahal dengan cara demikian, rupiah tidak akan pernah stabil, kalau boleh dibilang rupiah terus di bawah ancaman larinya uang pemodal.

Semoga kita tidak mengulangi keledai yang harus terperosok di lubang yang sama. Lagi-lagi krisis moneter dan fiskal, karena setelah ini ruang gerak fiskal akan semakin sempit dan terbatas.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here