Saat Pidato Perdana Gubernur The Fed Hempaskan Rupiah

0
440
Gubernur Federal Reserve Jerome Powell dalam pidatonya akan mencegah overheating namun akan menggenjot iinflasi ke level 2%. Pidato Powell membuat mata uang dunia terkoreksi, termasuk rupiah.

Nusantara.news, Jakarta – Saat yang ditunggu-tunggu itu telah tiba. Gubernur Federal Reserve Jerome Powell menyampaikan pidato yang membuat mata uang utama dunia terkoreksi terhadap dolar AS, tanpa kecuali rupiah.

Prediksi bahwa dolar AS bakal menguat sudah disampaikan banyak analis dunia, terutama di Wallstreet. Digambarkan bahwa Fed Fund Rate sebagai pemicu penguatan dolar AS akan dinaikan sebanyak tiga kali tahun ini menyusul membaiknya ekonomi Negeri Paman Sam itu.

Benar saja, begitu pidato Powell disampaikan, greenback menguat terhadap mata uang utama dunia, termasuk rupiah ikut terhempas oleh euforia pemulihan ekonomi AS.

Pidato Powell benar-benar ujian berarti bagi euro, hari ini mata uang tunggal Eropa itu terkoreksi 1,2% ke posisi 1,2205 dibandingkan posisi sebelumnya 1,2354. Penguatan greenback mengonfirmasi kembalinya keperkasaan dolar AS pasca kebijakan quantiative easing, tappering off, dan saatnya hiking rate.

Dolar AS menguat terhadap yuan China 0,24% menjadi 6,33 yuan per dolar AS, demikian juga menguat terhadap won Korea Selatan 0,89% menjadi 1.080 won, juga menguat 0,04% terhadap dolar Singapura menjadi Sin$1,32, termasuk terhadap 0,48% terhadap ringgit Malaysia menjadi 3,92 ringgit per dolar AS.

Greenback juga menguat 0,38% terhadap baht Thailand menjadi 31,46 baht, dan terapresiasi 0,07% terhadap peso Filipina di level 52,06 peso per dolar AS. Sementara terhadap rupiah dolar AS menguat 0,34% atau 47 poin ke posisi Rp13.707 dibandingkan posisi sehari sebelumnya Rp13.660.

Namun berdasarkan situs www.xecurrency.com,  nilai tukar rupiah hari ini ditutup di level Rp13.745 per dolar AS. Rupiah sempat diperdagangkan pada posisi terendah Rp13.670 dan tertinggi Rp13.746. Sedangkan terhadap yen Jepang, dolar AS justru menurun 0,12% menjadi 107,8 yen per dolar AS.

                Nilai tukar rupiah diperdagangkan di XE Currency dengan level terendah Rp13.746.

Cegah overheating

Dalam pidatonya hari ini, Powell menekankan perlunya bank sentral Amerika mengambil kebijakan untuk mencegah overheating ekonomi, pada saat  yang sama juga mendorong agar inflasi bergerak ke level 2%.

“The Fed akan terus menyeimbangkan kebijakan antara mencegah ekonomi menjadi overheating dengan mendorong inflasi ke level  2% secara berkelanjutan,” demikian pidato pembuka Powell seperti dikutip Reuters.

Pidato tersebut tentu saja dibaca pasar bahwa kebijakan moneter The Fed akan semakin ketat, karena ada kalimat “mencegah overheating“. Powell juga menegaskan perkembangan ekonomi Amerika yang semakin membaik.

Perkembangan yang terjadi sejak rapat Federal Open Market Committee (FOMC) pada Desember 2017 akan menjadi perhatian dan menjadi pijakan dalam kebijakan suku bunga yang baru. “Kita melihat berbagai data, dan menurut saya akan menambah kepercayaan bahwa inflasi bergerak menuju targetnya. Kita juga melihat penguatan di berbagai sektor dan kebijakan fiskal pun semakin stimulatif,” papar Powell.

Oleh karena itu, pasar menilai ada kemungkinan suku bunga acuan akan dinaikkan sampai empat kali, melebihi perkiraan sebelumnya yaitu tiga kali. Ini membuat investor kembali enggan bermain di aset-aset berisiko seperti saham dan beralih ke instrumen aman seperti obligasi pemerintah AS dan (tentunya) dolar AS.

Dolar AS pun mendapatkan suntikan tenaga. Dolar Index, yang mencerminkan posisi dolar AS terhadap enam mata uang utama dunia, masih dalam tren menguat sejak malam kemarin.

Waspadai aksi balasan

Bank Indonesia (BI) tentu saja tidak akan lari dari pasar, melihat posisi rupiah yang tertekan, kemungkinan besar BI melakukan intervensi agar pelemahan rupiah tidak terlalu dalam. Apalagi Gubernur BI Agus DW Martowardojo sebelumnya sudah mengingatkan akan terjadinya tekanan rupiah terhadap dolar AS saat The Fed menaikkan bunga.

Yang perlu diwaspadai sebenarnya adalah, aksi balasan bank-bank sentral di dunia. Apakah kenaikan bunga Fed Fund Rate ini akan diikuti kenaikan bunga acuan bank-bank sentral lainnya?

Tentu saja perang kebijakan meneter ini akan disahuti oleh European Central Bank (ECB), People Bank of China (PBC), Bank of Japan (BoJ), Reserve Bank of India (RBI), maupun Bank of Korea (BoK), dan tentu saja oleh BI.

Kenaikan harga minyak dunia yang kini telah menyentuh level US$67 per barel, tentu saja menjadi pekerjaan rumah yang tak tidak ringan. Karena setiap kenaikan minyak US$1 per barel saja dampaknya akan meningkatkan beban Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) sangat signifikan.

Yang paling penting, demi mengantisipasi kenaikan bunga Fed Fund Rate, telah terjadi capital outflow atau dana pergi ke luar sejak Januari—Februari 2018 mencapai Rp31 triliun. Di posisi Januari dana  asing di Indonesia masih di kisaran Rp41 triliun, kini tinggal Rp13 triliun.

Ini merupakan pekerjaan rumah yang maha besar, karena Gubernur BI selain bertugas menjadi palang pintu stabilisasi moneter, juga bertugas menjaga framing investasi bersama Menteri Keuangan.

Karena itu, BI harus menunjukkan dedikasi dan kredibilitasnya di pasar. Ini adalah ujian maha penting bagi bank sentral untuk menunjukkan kedigdayaannya pasca krisis moneter 1998. Kalau rupiah masih terus melemah, maka buat apa bank sentral dikhususkan tugasnya menjaga nilai tukar rupiah.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here