Solusi Utang (2)

Penjadwalan Utang, Mengapa Tidak?

0
61

Nusantara.news, Jakarta – Ada banyak cara mengatasi utang yang terus melilit negara, mulai dari meminta potong utang, melakukan debt roll-over (mengganti utang jangka pendek menjadi jangka panjang, bahkan melakukan debt rescheduling (penjadwalan utang).

Namun sejarah utang Indonesia, ketika pemerintahan dikuasai oleh kaum kapitalis, neo liberal dan gank Berkeley, maka haram hukumnya menjadwal utang. Mereka lebih memilih bersusah payah terus membayar utang, bila perlu membuka utang baru untuk membayar bunga utang lama yang jatuh tempo.

Sindroma good boy benar-benar menjangkiti para pemuja teori Keynesian (teori yang lahir dari John Maynard Keynes), dimana negara bisa tumbuh dengan utang. Kemudian beban utang itu ditanggung oleh rakyat.

Jika diamati gejala untuk menjadi good boy benar-benar dianut oleh Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati. Itu sebabnya semua solusi atas persoalan defisit, shortfall pajak, menggenjot pertumbuhan ekonomi, hingga membiayai pendidikan dan kesehatan, solusinya hanya satu, yakni lewat utang.

Seperti diketahui, Sri Mulyani sudah meng-arrange utang baru kepada Bank Dunia sebesar US$650 juta, kemudian ditambah US$300 juta dalam beberapa bulan belakangan. Tentu saja beban utang pokok dan bunga akan dipikulkan ke pundak rakyat Indonesia.

Apalagi pada Oktober 2018 Indonesia menjadi tuan rumah Annual Meeting IMF-World Bank di Bali. Siapa bisa menjamin Indonesia juga pada akhirnya lewat rezim ini membuka kembali utang kepada Dana Moneter Internasional (IMF)?

Padahal ada beberapa cara negara-negara menyelesaikan utang. Seperti Indonesia yang terkenal sebagai good boy, selalu mencicil pokok dan bunga utang tepat waktu. Sampai seberapa kuat ini dilakukan, karena dalam kondisi tekanan utang luar negeri, defisit anggaran, shortfall pajak, dan tekanan harga minyak dunia, pasti ada batas kemampuan itu.

Kedua, cara Pakistan yang memanfaatkan geopolitiknya. Pakistan meminta potongan utang hingga 50% karena merasa punya senjata nuklir dan siap menyokong Amerika dalam pertemanan negara-negara sekutu Amerika.

Ketiga, cara Argentina yang mengemplang utang. Karena Argentina punya beban utang US$80 miliar per tahun, sehingga ekonominya tak tumbuh signifikan. Untuk menciptakan pertumbuhan, Argentina jelas-jelas mengemplang utang dan declare kepada para kreditor dengan alasan agar negeri itu bisa tumbuh.

Rizal Ramli, Menko Perekonomian dimasa Presiden Gus Dur, menggunakan cara-cara inovatif untuk mengurangi beban utang. Pertama, pada sidang Consultative Group on Indonesia (CGI) di Tokyo pada 2001, diupayakan komponen grant CGI diperbesar. Indonesia akhirnya dapat grant paling besar yakni US$400 juta, paling tinggi dalam sejarah CGI.

Kedua, Rizal melakukan debt to nature swap, Jerman selalu mengritik Indonesia soal lingkungan hidup. Rizal lalu menemui menteri Jerman, minta penghapusan utang Indonsia dan Indonesia menyediakan sekian ratus ribu hektare hutan untuk tidak dipotong. Untuk konservasi dan menghasilkan oksigen.

“Kalau kita inovatif, maka kita dapat mengurangi utang beberapa miliar dolar AS dari Jerman,” jelasnya.

Ketiga, Rizal minta tolong Kuwait agar utang Indonesia selama 40 tahun utang di roll over terus, Kuwait minta pembayaran dipercepat. Setelah itu Kuwait memberi utang baru dengan bunga murah, supaya Pemerintah Kuwait tidak ditanya-tanya lagi di DPR Kuwait.

“Kami setuju, kita tukar loan swap. Utang yang mahal ganti dengan yang baru. Ini adalah contoh kalau kita inovatif dapat membayar utang secara optimum,” jelasnya.

Tapi kalau mau lebih radikal ada cara lain, keempat, yakni cara Argentin saat punya utang banyak sekali dengan pembayaran satu tahun sampai US$80 miliar, ekonominya merosot terus. Pemeirntah Argentina mengatakan tidak mau membayar utang, uang US$80 miliar dia pompakan ke ekonomi. Argentina yang tadinya tumbuh negatif bisa naik 7% per tahun dengan cara ngemplang.

Pertanyaannya, mengapa Pemerintah Jokowi tak berani hanya sekadar meminta penjadwalan ulang utang kita? Apakah pemerintah ini termasuk terjangkit sindroma good boy?

Menkeu Sri Mulyani sudah terlanjur membuka pinjaman baru ke Bank Dunia. Kalau pola ini diteruskan, lambat namun pasti kita akan terjeremban dalam kubangan utang yang tak berkesudahan. “Kita bisa gali lubang tutup jurang,” kata Rizal.

Cara mengatasi persoalan utang kita, Rizal pun mengajukan beberapa opsi, pertama, ekonomi harus dipompa, tapi tidak dipompa dengan bujet karena bujetnya terbatas. Ekonomi dipompa dengan build operate transfer (BOT), atau build operate own (BOO). Ekonomi dipompa dengan revaluasi aset, dipompa dengan sekuritisasi aset, sehingga ada mesin pertumbuhan yang lain di luar APBN. Terutama di dalam pulau Jawa.

Kedua, harus ada pompa daya beli. Saat ini semua pangan impor di Indonesia mahal sekali. Harga gula dan daging dua kali harga internasional, mengapa? Karena impor dikelola dengan sistem kuota, pemegang kuotanya cuma 6-7 orang kartel, para taipan yang sudah puluhan tahun menikmati kartel ini.

Sistem kuota ini harus diganti dengan sistem tarif, siapa aja orang boleh impor, tapi kita pasang tarif untuk melindungi industri di dalam negeri.

Ketiga, kredit perbankan hanya tumbuh 10% dan menyumbang pertumbuhan ekonomi hanya 5,01%. Kalau kita mau punya pertumbuhan ekonomi 6,5%, pertumbuhan kredit harus digenjot sampai 15% tapi tetep prudent.

Keempat, harus ada kebijakan terobosan. Pemerintah sudah membuat 15 paket kebijakan, dan rencananya akan ditambah satu lagi paket 16, tapi tidak ada dampaknya.

Pada 16 tahun lalu, penumpang pesawat turun 16% karena krisis 1998. Kami izinkan 6 pemain baru, Lion Air, Sriwijaya Air, Citilink, modal mereka pesawat butut nyewa. Tapi dampaknya apa, ada kompetisi, sehingga biaya pesawat drop 60%, rakyat yang gak bisa naik pesawat terbang jadi bisa naik pesawat, sehingga penumpang naik tujuh kali.

“Kalau hanya kebijakan ecek-ecek, banyak jumlahnya tapi dikit dampaknya, mau 10 kali, 20 kali, tidak akan berdampak kepada masyarakat. Harus ada kebijakan terobosan,” jelasnya.

Gagasan Rizal sendiri sebagian sudah dilaksanakan di masa Pemerintahan Gus Dur, seperti revaluasi aset dan pertukaran utang mahal menjadi utang baru. Tingggal Pemerintahan Jokowi apakah punya itikad baik untuk mengurangi jumlah utang agar tidak menjadi warisan anak cucu nanti.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here