Solusi Utang (1)

Saatnya Meninggalkan Sindroma Good Boy

0
66
Menteri Keuangan Sri Mulyani indrawati sedikit bercengkrama dengan Managing Director IMF Christine Lagarde, disaksikan oleh Presiden Bank Dunia Jim Yong Kim dalam satu kesempatan.

Nusantara.news, Jakarta – Setelah dirunut-runut penyebab melemahnya rupiah belakangan ini ternyata dukan disebabkan oleh persoalan moneter. Melainkan didominasi oleh sebab utang luar negeri dan defisit transaksi berjalan. Maka belakangan ada usuan untuk menunda pembayaran utang guna mengurangi tekanan terhadap rupiah.

Tak bisa dipungkiri, pelemahan rupiah hingga ke level Rp14.600 sungguh sangat memusingkan pemerintah, swasta, BUMN dan rakyat Indonesia. Karena nilai tukar rupiah semakin tak berharga, kehilangan wibawa dan menunjukkan inferioritasnya terhadap mata uang Paman Sam.

Itu sebabnya ketika Bank Indonesia aktif melakukan intervensi, konon kabarnya cadangan devisa sejak awal tahun sudah terkuras US$12 miliar sehingga tersisa US$119 miliar akibat intervensi, namun rupiah tak kunjung menguat.

Bahkan BI sudah tiga kali menaikkan 7 Days Reverse Repo Rate masing-masing 25, 25 dan 50 basis poin, namun rupiah malah terus melemah. Dari sini dapat disimpulkan bahwa penyebab melemahnya rupiah bukan oleh sebab-sebeb moneter, melainkan oleh sebab lain yang harus dicarikan solusinya.

Bahkan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menduga penyebab utama pelemahan rupiah karena defisit yang mendera transaksi berjalan, defisit perdagangan, defisit jasa, defisit migas, defisit keseimbangan primer dan aneka defisit lainnya.

Sampai dengan Mei 2018, total defisit perdagangan dikabarkan sudah mencapai US$2,8 miliar, sehingga di bulan Juni Menkeu memperketat impor. Memang sejak Januari 2018—bahkan sejak November 2017—Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita gencar sekali mengimpor beras, gula, garam, jagung, kedelai, dan lainnya.

Sehingga wajar sumbangan defisit perdagangan dari barang konsumsi ini melejit dan menumbulkan tekanan berarti terhadap rupiah. Selain juga impor barang-barang konstruksi untuk keperluan pembangunan infrastruktur, sehingga impor hanya dibatasi pada pembangunan infrastruktur yang berpengaruh langsung pada pertumbuhan ekonomi.

Pengurangan volume impor ini dipastikan akan mengurangi tekanan terhadap rupiah, karena tingkat kebutuhan dolar untuk impor juga dikurangi. Sehingga diharapkan dapat mengurangi tekanan terhadap rupiah.

Menurut Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira Adhinegara, nilai tukar rupiah masih akan berfluktuasi hingga akhir tahun di level Rp14.700 hingga Rp14.800 per dolar AS.

Selama kinerja ekonomi domestik belum ada perbaikan yang signifikan, investor akan menahan untuk masuk ke pasar keuangan Indonesia. Karena itu tak ada salahnya pemerintah mencari instrumen yang aman safe haven, seperti membeli treasury bond dan dolar AS.

Bhima berpendapat, persoalan devisa negara memang harus melibatkan lintas sektor lantaran menyangkut berbagai hal, eskpor, impor, pariwisata, utang, hingga remitansi tenaga kerja Indonesia. Makanya jangan hanya BI yang didorong mengambil kebijakan moneter, pemerintah pun perlu berupaya mendorong cadangan devisa.

Terkait pengurangan impor, Bhima berpendapat jika pemerintah mau mengurangi impor kewajiban Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) proyek infrastruktur, seperti dikurangi menjadi 60% hingga 70%, dapat dipastikan tekanan terhadap rupiah semakin berkurang.

“Komitmen BUMN penting agar defisit perdagangan mengecil sehingga permintaan valas turun. Kalau impor BUMN-nya diatur saya kira cukup signifikan menguatkan cadev,” demikian Bhima.

Selain itu, untuk memperkuat cadadangan devisa, pemerintah juga bisa memacu lifting minyak untuk mengurangi impor minyak mentah, mendorong kinerja ekspor habis-habisan lewat relaksasi perpajakan, dan penjadwalan ulang pembayaran kewajiban utang-utang bilateral pemerintah.

Itu sebabnya agar rupiah tidak terus menerus di bawah tekanan, maka tak ada salahnya kita bertindak out of the box. Mencari solusi di luar kebijakan normatif. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here