Saatnya, Pelindo III Ambil Alih Terminal Petikemas dari Asing

0
121
"Pengamat Maritim, Rusdi menyebut pihaknya hingga saat ini belum melihat upaya Pelindo III untuk serius memutus hubungan pengelolaan TPS yang sebagian sahamnya dimiliki oleh asing" (Foto: Humas Pelindo)

Nusantara.news, Surabaya – Pengamat Maritim yang juga Direktur The National Maritime Institute (Namarin) Siswanto Rusdi mempertanyakan keseriusan PT Pelabuhan Indonesia III (Persero) untuk mengakhiri kerjasama pengelolaan pelabuhan Terminal Petikemas Surabaya (TPS), yang terletak di Pelabuhan Tanjung Perak, dengan Dubai Port World. Pertanyaan itu dilontarkan Rusdi mengingat perjanjian kerjasama antara Pelindo III dengan Dubai Port World akan berakhir pada April 2019 mendatang.

Rusdi menyebut pihaknya hingga saat ini belum melihat upaya Pelindo III untuk serius memutus hubungan pengelolaan TPS yang sebagian sahamnya dimiliki oleh asing. Sementara, Dubai Port World sudah menyatakan akan menarik diri dari TPS, itu seperti pernyataan Chairman and CEO DP World Group Sultan Ahmed Bin Sulayem di sejumlah media beberapa waktu lalu.

Terlebih, Pelindo III juga merespon akan mengelola TPS secara mandiri.
Menurutnya, Pelindo III punya alasan untuk segera mempercepat proses pengambilalihan TPS yang pada tahun 1999 lalu sahamnya dijual ke asing.

“Kami berharap Terminal Petikemas Surabaya sepenuhnya dapat dikelola oleh Pelindo III untuk mewujudkan visi ‘Poros Maritim Dunia’ yang didengungkan oleh pemerintahan saat ini,” tegas Siswanto Rusdi dihubungi Nusantara.news, Senin (19/3/2018).

Saatnya Investasi Asing Diambil Alih

“Pelindo III juga merespon akan mengelola TPS secara mandiri. Menurutnya, Pelindo III punya alasan untuk segera mempercepat proses pengambilalihan TPS yang pada tahun 1999 lalu sahamnya dijual ke asing”

Menurut Rusdi, sudah saatnya Indonesia tegas membatasi kerja sama dengan asing. Misalnya, akan lebih baik jika investasi asing di Indonesia diwujudkan dalam pembangunan fasilitas pelabuhan baru, bukan mengakuisisi saham pelabuhan atau terminal yang sudah ada. Rusdi menampik anggapan jika dirinya tidak mendukung upaya investasi asing di Indonesia.

“Maaf, bukan berarti saya tidak mendukung upaya investasi asing di Indonesia,” katanya.

Menurutnya, Pelindo III jika membutuhkan dana untuk pembangunan maupun pengembangan pelabuhan maka dapat dilakukan dengan cara menerbitkan obligasi seperti yang pernah dilakukan perseroan di tahun 2014 lalu.

Dia menambahkan, selama kurun waktu 20 tahun bermitra dengan Dubai Port World sebagai pengelola dirasa cukup bagi Pelindo III untuk mempelajari model bisnis kepelabuhanan, serta menerapkan untuk mengelola sendiri TPS serta pelabuhan lainnya secara mandiri termasuk juga untuk Terminal Teluk Lamong.

“Saya rasa Pelindo III mampu terlebih teknologi saat ini sudah berkembang dan mudah dipelajari. Pelindo III dapat memanfaatkan Terminal Petikemas Surabaya dan Terminal Teluk Lamong untuk mendukung program-program pemerintah di bidang kemaritiman,” terangnya.

Sebelumnya, Kerjasama Diperkirakan Berakhir 2018

Sebelumnya PT Pelindo III memperkirakan kerja sama pengelolaan pelabuhan termasuk TPS dengan Dubai Port World bisa berakhir Januari 2018. Kedua pihak akan segera meneken perjanjian jual beli syarat, dan Pelindo III akan membeli 49% saham Dubai Port World di TPS. Direktur Utama Pelindo III, IGN Askhara Danadiputra mengatakan perseroan dengan Dubai Port World sepakat untuk tidak melanjutkan kerja sama pengelolaan TPS, dan akan berakhir April 2019.

“Oleh karena itu, Pelindo III akan membeli kembali saham di TPS yang dilepas pada 1999 lalu itu,” ujar IGN Askhara Danadiputra.

Lanjutnya, Dubai Port World juga telah menyatakan kesiapan, pihaknya tidak akan memperbarui kontraknya di Indonesia setelah gagal menyetujui persyaratan perpanjangan dengan Pemerintah RI.

Dubai Port Word Pegang 49 Persen Saham Terminal Peti Kemas

Untuk diketahui, operator pelabuhan yang didukung pemerintah Dubai adalah pemegang saham 49% di PT Terminal Petikemas Surabaya (TPS) di Indonesia, yang terletak di utara Jawa. 51% saham lainnya dimiliki oleh Korporasi Pelabuhan Indonesia (Pelindo III). Chairman dan CEO DP World Group Sultan Ahmed bin Sulaymen mengatakan, pihaknya tidak mampu untuk memenuhi persyaratan pembaharuan kontrak operasional yang ditawarkan.

“Kami berharap Terminal Petikemas Surabaya sepenuhnya dapat dikelola oleh Pelindo III untuk mewujudkan visi ‘Poros Maritim Dunia’ yang didengungkan oleh pemerintahan saat ini”

Dubai Port World kemudian mengakuisisi induk P&O Dover, 2006. Adapun P&O Dover memiliki 49% saham TPS sejak 1999, yang saat itu Pelindo III melakukan privatisasi saham di TPS. TPS berkontribusi 2,1 juta TEUs terhadap total arus peti kemas yang ditangani DP World sebanyak 85 juta TEUs di seluruh dunia.

Sekedar tahu, TPS terletak di Surabaya utara tepatnya di lingkungan Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya. Merupakan perusahaan yang menangani kegiatan bongkar muat, penumpukan petikemas baik jalur domestik maupun luar negeri, yang beroperasi sejak 20 tahun silam.

Di TPS, pergerakan peti kemas dapat dipantau dengan kondisi real time baik oleh Petugas TPS dan juga oleh pemilik barang. Sistem TOPS menyediakan kondisi aktual dari sistem perencanaan dan pengontrolan peti kemas, serta menyediakan pertukaran data elektronik secara modern. Juga ditunjang perangkat lunak terpadu untuk melayani kegiatan operasional.

UU No. 17/2008 Tentang Pelayaran

Tahun 2016, Dubai Port World mengoperasikan 78 terminal tersebar di 40 negara, termasuk di Indonesia. Ditargetkan, jumlah peti kemas yang ditangani oleh perusahaan itu mencapai 100 juta TEUs, sampai tahun 2020.

Sementara, masih soal Terminal Peti Kemas Surabaya (TPS) di Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya, Corporate Secretary Pelindo III, Faruq Hidayat menyebut kalau perjanjian kerja sama dengan Dubai Port World harus diakhiri sesuai waktu jatuh tempo. Karena tidak lagi relevan dengan Undang-undang No. 17/2008, tentang Pelayaran. Dan, selanjutnya bisa dikelola dibawah naungan Badan Usaha Milik Negara (BUMN).

Dengan akan berakhirnya pengelolaan TPS, April 2019. Dubai Port World Ltd mengaku kecewa karena syarat perpanjangan (kembali) kontrak yang ditawarkan Indonesia dinilai tidak sesuai ekspektasi perusahaan itu. Selama mengelola TPS, di lingkungan Pelabuhan Tanjung Perak itu, Sultan Ahmed Bin Sulayem menyebut perusahaannya ikut andil dalam pembangunan infrastruktur pelabuhan di Indonesia selama 20 tahun terakhir. Termasuk manfaat yang dirasakan oleh TPS. Manfaat itu di antaranya berupa peningkatan produktivitas, program pengembangan dan pelatihan, budaya kerja dalam aspek keamanan dan keselamatan. Termasuk pengembangan infrastruktur, menciptakan lapangan kerja serta pertumbuhan untuk pelabuhan dan pertumbuhan ekonomi daerah.

“Kami kecewa karena syarat perpanjangan kontrak yang ditawarkan otoritas Indonesia tidak memenuhi ambang batas yang kami miliki untuk melanjutkan investasi,” kata Sultan Ahmed.

DP World memegang 49% saham di TPS sedangkan mayoritas sisanya dimiliki oleh PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) III. DP World menjadi pemilik 49% saham TPS setelah mengakuisisi induk P&O Dover pada 2006. Adapun P&O Dover memiliki 49% saham TPS sejak 1999 di mana saat itu Pelindo III melakukan privatisasi saham di TPS. TPS berkontribusi 2,1 juta TEUs terhadap total arus peti kemas yang ditangani DP World sebanyak 85 juta TEUs di seluruh dunia.

Harus meninggalkan TPS pada 2019, Sultan Ahmed mengaku perusahaannya akan terus menanamkan modal di Asia, dan membuka kesempatan investasi asing. Termasuk berkomitmen terus melayani pelanggan global dan pembangunan ekonomi negara tempat Dubai Port World beroperasi.

2016, Arus Peti Kemas di TPS Naik 1,6%

Direktur The National Maritime Institute (Namarin) Siswanto Rusdi memberikan catatan, arus Peti kemas di PT Terminal Petikemas Surabaya (TPS) terus meningkat. Untuk Peti kemas internasional (ekspor-impor) selama tahun 2017, yang melalui TPS peningkatannya signifikan.

“Peningkatannya cukup signifikan sebesar 5,3% dibanding tahun 2016. Di tahun 2016 arus peti kemas internasional 1.241.225 TEUs, meningkat menjadi 1.306.876 TEUs di tahun 2017. Pencapaian ini juga meningkat 5,4% dibanding dengan rencana yang ditetapkan pada awal tahun 2017, yakni sebesar 1.239.665 TEUs,” urai Siswanto Rusdi.

Peningkatan itu ditandai dengan bertambahnya kunjungan kapal internasional di TPS mulai bulan Oktober 2017 dan cenderung terus meningkat. Biasanya jumlah kunjungan kapal internasional di bawah 90 kunjungan, namun sejak Oktober 2017 jumlah kunjungan kapal internasional meningkat lebih dari 90 kunjungan.

“Meningkatnya arus peti kemas internasional di TPS menunjukkan peningkatan kinerja dan layanan. Diharapkan pada tahun 2018 lebih meningkat lagi,” kata Kepala Humas TPS M Soleh.

Sampai tahun 2017, kemarin TPS masih menguasai 86,41% arus peti kemas internasional di Pelabuhan Tanjung Perak.

Untuk diketahui, tahun 2018 ini terjadi penggantian Direktur Utama Yon Irawan diganti Joko Noerhudha dan Direktur Operation Asma El Moufti diganti Rodrigo Sanchez. Yon Irawan menempati posisi baru menjadi Direktur Keuangan PT. Pelindo IV, Makassar. Kemudian Asma El Moufti ditempatkan di Hongkong sebagai Head of Opertions Asia Pacific Dubai Port World. Saat itu, Joko Noerhudha dalam acara serah terima di Kawi Lounge Hotel Sheraton, Januari lalu memberikan apresiasi atas kinerja Yon Irawan dan Asma El Moufti selama memimpin TPS.

Membaiknya kinerja di tahun 2017 dan kesiapan peralatan bongkar muat yang sangat memadai, pada 2018 TPS menargetkan sebesar 1.302.624 TEUs dapat terpenuhi. Optimisme itu ditandai dengan meningkatnya rencana kunjungan kapal pada Januari 2018 menjadi lebih dari 100 kunjungan dengan rencana volume bongkar muat lebih dari 133.000 TEUs.

Program peningkatan layanan itu ditunjang dengan online booking system untuk container import, yang dilakukan di kuartal pertama di bulan Maret dan April. System itu akan mempermudah customer dalam mencetak Job Order Delivery secara online.

Tahun 2018 ini manajemen TPS menargetkan total bongkar muat peti kemas sebesar 1.381.547 TEUs, terdiri dari 1.302.624 TEUs peti kemas internasional dan 78.923 TEUs peti kemas domestik.

Sebelumnya, di periode 2016, arus peti kemas ekspor impor melalui TPS juga meningkat, naik 1,6% dari tahun sebelumnya 2015. Arus peti kemas internasional mencapai 1.241.225 TEUs naik 2,3% dibanding tahun sebelumnya di periode yang sama. Untuk peti kemas domestik tercatat 156.203 TEUs atau 4% turun dari tahun sebelumnya.

TPS dan Sejarah Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya

“Pelabuhan Tanjung Perak merupakan salah satu pintu gerbang Indonesia, berfungsi sebagai kolektor dan distributor barang dari dan ke Kawasan Timur Indonesia. Karena letaknya yang strategis”

Pelabuhan Tanjung Perak adalah sebuah pelabuhan di Surabaya, Jawa Timur. Secara administratif, pelabuhan Tanjung Perak termasuk ke dalam Kelurahan Perak Timur, Kecamatan Pabean Cantikan, Surabaya. Terminal Peti Kemas Surabaya. Tanjung Perak merupakan pelabuhan terbesar dan tersibuk kedua di Indonesia setelah Pelabuhan Tanjung Priok Jakarta. Juga menjadi kantor pusat PT. (Persero) Pelabuhan Indonesia III.
Pelabuhan Tanjung Perak juga sebagai pusat perdagangan menuju kawasan Indonesia bagian timur. Di sebelah pelabuhan Tanjung Perak terdapat Pelabuhan Ujung, yakni pelabuhan kapal feri dengan tujuan Pelabuhan Kamal, Bangkalan, Madura.

Pelabuhan Tanjung Perak merupakan salah satu pintu gerbang Indonesia, berfungsi sebagai kolektor dan distributor barang dari dan ke Kawasan Timur Indonesia. Karena letaknya yang strategis dan didukung dataran gigir atau hinterland, maka potensial sebagai Pusat Pelayaran Interinsulair di Kawasan Timur Indonesia.

Dahulu kapal-kapal samudera membongkar dan memuat barang-barangnya di selat Madura untuk kemudian dengan tongkang dan perahu- perahu dibawa ke Jembatan Merah (pelabuhan pertama saat itu) yang berada di jantung kota Surabaya melalui sungai Kalimas.

Karena perkembangan lalu lintas perdagangan dan peningkatan arus barang serta bertambahnya arus transportasi maka fasilitas dermaga di Jembatan Merah itu akhirnya tidak mencukupi. Kemudian, tahun 1875 Ir. W. de Jongth menyusun rencana pembangunan Pelabuhan Tanjung Perak agar dapat memberikan pelayanan kepada kapal-kapal samudera untuk membongkar dan memuat secara langsung tanpa melalui tongkang-tongkang atau perahu kecil. Namun, rencana itu ditolak karena memakan biaya tinggi.

Selama abad 19 tidak ada pembangunan fasilitas pelabuhan, padahal lalu lintas angkutan barang ke Jembatan Merah terus meningkat. Sementara rencana pembangunan pelabuhan yang disusun Ir. W. de Jongth dibiarkan telantar.

Sepuluh tahun pertama abad ke-20 Ir. W.B. Van Goor membuat rencana yang lebih realistis yang menekankan suatu keharusan bagi kapal- kapal samudera untuk merapatkan kapalnya pada tambatan. Dua orang ahli didatangkan dari Belanda yaitu Prof. DR. Kraus dan G.J. de Jong untuk memberikan suatu saran mengenai rencana pembangunan Pelabuhan Tanjung Perak.

Setelah tahun 1910, pembangunan fisik Pelabuhan Tanjung Perak dimulai, dan selama dilaksanakan pembangunan ternyata banyak sekali permintaan untuk menggunakan kade/tambatan yang belum seluruhnya selesai itu.
Dengan selesainya pembangunan kade/tambatan, kapal-kapal Samudera dapat melakukan bongkar muat di pelabuhan. Pelabuhan Kalimas selanjutnya berfungsi untuk melayani angkutan tradlslonal dan kapal-kapal layar, sementara pelabuhan yang terletak dl Jembatan Merah secara perlahan mulal ditinggalkan.

Sejak itulah, Pelabuhan Tanjung Perak telah memberikan suatu kontribusi yang cukup besar bagi perkembangan ekonomi dan memiliki peranan penting, tidak hanya bagi peningkatan lalu lintas perdagangan di Jawa Timur tetapi juga bagi seluruh Kawasan Timur Indonesia.

Mendukung peranan itu, tahun 1983 telah diselesaikan pembangunan terminal antar pulau yang kemudian diberi nama terminal Mirah. Untuk keperluan pelayanan penumpang kapal laut antar pulau juga dibangun terminal penumpang yang terletak di kawasan Jamrud bagian utara. Berdampingan dengan terminal penumpang antar pulau dibangun pula terminal kapal feri untuk pelayanan penumpang Surabaya-Madura yang beroperasi 24 jam penuh. Terminal feri itu kini dikenal dengan nama Pelabuhan Ujung.

Seiring dengan berjalannya waktu pelabuhan Tanjung Perak telah pula membuktikan peranan strategisnya sebagai pintu gerbang laut nasional (Gateway Port). Untuk itu dipersiapkanlah pembangunan terminal petikemas bertaraf internasional yang pelaksanaan fisiknya akhirnya dapat diselesaikan pada tahun 1992. Terminal petikemas itu saat ini dikenal dengan nama Terminal Petikemas Surabaya.

Pelabuhan Tanjung Perak dan Terminal Gapura Surya Nusantara
Pelabuhan penumpang Tanjung Perak menghubungkan Surabaya dengan kota-kota pelabuhan lain di Indonesia. Terminal penumpang Tanjung Perak bernama Gapura Surya Nusantara yang merupakan terminal penumpang kapal laut termewah di Indonesia. Terdapat kapal ferry dengan rute Surabaya-Banjarmasin dan Surabaya-Makassar. Terminal Gapura Surya Nusantara dilengkapi dengan fasilitas dua buah garbarata untuk kapal yang menjadikan Tanjung Perak menjadi pelabuhan pertama di Indonesia yang menyediakan fasilitas ini.

Pada 2015, kegiatan di Pelabuhan Tanjung Perak juga ditopang oleh kehadiran Terminal Pelabuhan Teluk Lamong yang merupakan salah satu terminal pelabuhan tercanggih di dunia di mana seluruh sistem operasinya otomatis dan menggunakan komputer. Direncanakan antara Pelabuhan Tanjung Perak dan Terminal Pelabuhan Teluk Lamong akan dihubungkan dengan sistem monorel petikemas pertama di dunia. Pelabuhan Tanjung Perak juga dilengkapi dengan fasilitas dermaga yang dapat melayani kapal pesiar baik dari dalam negeri maupun luar negeri.

Semoga dengan akan kembalinya pengelolaan PT Teminal Peti kemas Surabaya (TPS) kepada PT Pelindo III, pengelolaan pelabuhan selain menjadi baik. Hal penting lainnya juga akan diikuti bertambahnya pendapatan BUMN, khususnya perusahaan pengelola pelabuhan.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here