Saatnya Tembak Mati Bandar Narkotika

0
121

Nusantara.news, Jakarta – Kasus narkotika seakan tak pernah sepi dari pemberitaan. Kali ini, perhatian publik mengarah ke Pulau Dewata, Bali. Wakil Ketua DPRD Bali Jro Gede Komang Swastika ditetapkan sebagai buronan. Swastika telah ditetapkan sebagai tersangka dan dijerat dua pasal, yakni UU Narkotika dan UU Darurat No 12 Tahun 1951 tentang Senjata Api.

Pada Kamis (9/11/2017), Kepala Badan Narkotika Nasional, Komjen Budi Waseso (Buwas) mengatakan memusnahkan barang bukti berupa 191 kilogram sabu, 43.450 butir ekstasi, dan 520 kilogram ganja di Medan, Sumut.

Barang bukti yang dimusnahkan tersebut merupakan hasil operasi tim gabungan BNN, Polri, TNI dan Bea Cukai di wilayah Aceh dan Medan pada Agustus-September 2017 lalu.

Tembak Mati

Kapolresta Denpasar, Kombes Pol Hadi Purnomo mengungkapkan bahwa pihaknya menemukan bukti transaksi dari kediaman Swastika di Jl Pulau Batanta, Denpasar, Bali. Saat anak buahnya menggeledah rumah Swastika, ditemukan 3 buah buku berisi transaksi sabu mencapai Rp200 juta per bulan.

“Berdasarkan buku yang disita di rumah Swastika, transaksi penjualan sabu mencapai Rp200 juta per bulannya,” jelas Kombes Pol Hadi Purnomo di Denpasar, Bali, Kamis (9/11/2017).

Meskipun jumlah transaksi itu terbilang kecil dibandingkan kasus narkoba lain yang sebelumnya berhasil diungkap aparat kepolisian dan BNN, namun kasus ini ironis karena dilakukan seorang pimpinan DPRD Bali. Swastika yang seharusnya berada di depan bersama aparat berwenang memberantas narkotika, ternyata menjadi bandar barang haram.

Secara kuantitas, jumlah transaksi yang dilakoni Swastika memang relatif kecil dibandingkan jumlah sabu yang beredardi Indonesia sebanyak 250 ton.”Ada 250 ton sabu yang masuk ke Indonesia berasal dari Cina,” ungkap Buwas di Jakarta, Kamis (20/7/2017).

Pernyataan Buwas itu tak lama setelah penangkapan 1 ton sabu oleh BNN bersama Kepolisian di Pantai Anyer, Banten. Saat itu, Buwas mengaku tidak bangga mengungkap 1 ton sabu, sebab dua bulan sebelumnya BNN kebobolan penyelundupan 5 ton sabu.

Pengakuan Buwas tentang jumlah barang haram yang beredar di Indonesia saat ini, patut membuat kita  prihatin. Karena itu, wajar jika Presiden Jokowi sampai mengeluarkan pernyataan keras agar aparat berwenang menembak mati para pengedar narkotika dari negara lain yang beroperasi di Indonesia.

“Harus tegas Polri dan BNN, dan saya sampaikan, sudahlah tegasin saja. Terutama pengedar-pengedar narkoba asing kalau melawan, sudah langsung ditembak saja,” tegas Jokowi dalam penutupan Mukernas PPP di Jakarta, (21/7/2017).

Sikap tegas aparat terhadap para pengedar dan bandar narkotika sudah ditunjukkan dengan menembak mati sejumlah pelakunya. Wakil Inspektur Pengawasan Umum Polri, Irjen Ketut Untung Yoga menyatakan tindakan tembak di tempat merupakan diskresi polisi. Tindakan itu terpaksa diambil demi menekan tingginya angka kasus narkotika.

Berdasarkan data Amnesty International, sejak Januari hingga awal September 2017 lalu terdapat 80 terduga pelaku kejahatan narkotika yang mati ditembak di tempat. Jumlah itu meningkat empat kali lipat dibandingkan periode yang sama tahun 2016.

Yang mencengangkan, Cina ternyata salah satu produsen narkotika jenis sabu dan menjadikan Indonesia sebagai pasar potensial. Hal itu diungkapkan Buwas bahwa di negeri tirai bambu itu produksi sabu tak bisa dibendung oleh pemerintahnya.  “Waktu saya ke Cina, mereka beri data, mereka akui bikin narkoba dan bahan narkoba untuk dimasukkan ke Indonesia. Ternyata di sana nggak melarang berbuat apa saja kecuali kejahatan. Saya sudah minta hentikan narkoba ditempat asal tapi nggak bisa tuh,” tutur Buwas.

Selain Cina, Buwas membeberkan ada 11 negara lain yang ikut memasok narkotika ke Indonesia. Ironisnya, para pemasok itu bekerjasama dengan 72 jaringan aktif yang memiliki hubungan dengan para bandar yang meringkuk di dalam lapas.

Karena itu, tak heran jika hampir semua jenis narkotika tersedia di pasar Indonesia. Padahal, di negara lain hanya ada 3 sampai 6 jenis narkotika yang beredar di pasaran. Seperti di Amerika Serikat hanya ada 6 jenis, Belanda 5 jenis, Kolumbia 3 jenis, Rusia 3 jenis,dan Prancis 3 jenis. Sementara diIndonesia, ada sekitar 800 jenis baru narkoba telah beredar, diantaranya sabu, ekstasi, ganja, dan heroin.

Terus Meningkat

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintahan (LAKIP) BNN pada 2016 menunjukkan barang haram makin menyasar generasi muda. Berdasarkan tingkat pendidikan, jumlah tersangka penyalahgunaan narkotika terbesar adalah pelajar tingkat SLTA, disusul pelajar SLTP.  Dan, setiap tahun para pengguna narkotika di Indonesia menghabiskan uang Rp72 triliun.

Sedangkan data Polri dan BNN menyebutkan ada peningkatan jumlah kasus narkotika selama 10 tahun terakhir. Bila pada 2010 hanya ada 26.678 kasus, maka pada 2016  meningkat menjadi 40.897 kasus. Pada 2010, jumlah tersangka narkoba pada tingkat SMP sebanyak 8.262 orang dan pada 2015 meningkat menjadi 12.765 orang. Untuk tersangka dengan tingkat SMA, pada 2010 jumlahnya 20.280 orang pada 2015 meningkat menjadi 30.055 orang. Sementara untuk tingkat pendidikan perguruan tinggi, pada 2010 sebanyak 943 dan pada 2015 meningkat menjadi 1.367 orang.

Pertanyaannya, mengapa ada peningkatan kasus setiap tahun?

BNN menyebutkan, untuk narkotika jenis heroin dipasok dari kawasan segitiga emas di Asia Tenggara, meliputi Burma, utara Laos, dan bagian utara Thailand. Sedangkan jenis sabu berasal dari daerah Sungai Mekong, yang berhulu di Cina.

Untuk diketahui, wilayah Sungai Mekong melintasi banyak negara. Tak heran jika pemasok beroperasi di sekitar sungai dan menggunakan alur sungai sebagai jalur transportasi. Contohnya, penangkapan 1 ton sabu di Pantai Anyer, Banten berasal dari jaringan di Sungai Mekong. Kapal Wanderlust yang mengangkut barang haram itu sempat singgah di perairan Myanmar untuk mengambil sabu-sabu sebelum masuk ke wilayah Indonesia lewat jalur pantai barat Sumatera. Untuk mencapai perairan Myanmar dan Taiwan, kapal melintas di Selat Malaka.

Menurut Direktur Jenderal Bea dan Cukai Kementerian Keuangan Heru Pambudi, wilayah pantai timur Sumatera memang termasuk rawan kasus penyelundupan khususnya sektor barat Selat Malaka. Sebab, di daerah tersebut disinyalir banyak ‘pelabuhan tikus’.

Mengacu pada pernyataan Bea Cukai dan BNN soal jalur perdagangan narkotika, tampaknya bisa menjawab pertanyaan penyebab makin maraknya kasus narkotika di Indonesia. Sebab, secara geografis, posisi Indonesia memang sangat rawan dijadikan pasar barang haram oleh mafia Internasional.

Kepala Badan Informasi Geospasial, Priyadi Kardono menjelaskan, dari sekitar 17 ribu pulau dengan panjang garis pantai 99.093  kilometer dan luas laut 5 juta  kilometer persegi di Indonesia, ada sekitar 3000 pulau yang belum diberi nama atau direkam data koordinatnya. Artinya, ada sekitar 3000 pulau yang memang rawan untuk dijadikan sebagai ‘pelabuhan tikus’ bagi para bandar narkotika Internasional untuk memasukkan barangnya ke negeri ini.

Dengan kondisi geografis seperti itu, tentu bukan pekerjaan mudah bagi aparat terkait untuk melakukan pengawasan. Kasal, Laksamana Ade Supandi mengakui tidak mudah untuk menjaga keamanan di seluruh wilayah perairan Indonesia. Apalagi dengan keterbatasan jumlah kapal patroli yang dimiliki TNI AL.

Ade menjelaskan, idealnya satu kapal patrol mengawasi 30 mil perairan. Karena itu, dibutuhkan sekitar 500 kapal patroli. Nyatanya, TNI AL hanya memilik 40 uni kapal patroli. Dan, jumlah itu ditambah kapal patrol milik Bea Cukai 189 unit.

Minimnya armada kapal patrol itu diakui Ade menjadi salah satu penyebab utama mudahnya narkotika masuk ke wilayah Indonesia. “Ada narkoba yang masuk dari Utara, seperti India dan Malaysia, mudah masuk ke Sumatera Barat. Bisa juga ke Kepulauan Riau dan Natuna yang banyak sekali pulaunya,” kata Ade.

Di sisi lain, disinyalir sejumlah aparat ikut membekingi bisnis barang haram di Indonesia. Seperti diungkapkan Panglima TNI Jendral Gatot Nurmantyo bahwa aparat TNI dan Polri sering dijadikan beking para pebisnis barang haram.

“Narkoba adalah bisnis. Bisnis yang ilegal.Sebagai ladang bisnis ada yang mencari tempat yang aman. Nah, tempat yang aman yaitu aparat keamanan, polisi dan TNI,” kata Gatot saat Pembukaan Gashuku Dan Rakernas Forki 2016 di Mabes TNI Jakarta pada 27 Februari 2016  lalu.

Kalau sudah begini, maka tak perlu heran jika perdagangan narkotika yang menyasar generasi muda  makin marak. Oleh sebab itu, memang sudah saatnya menembak mati bandar narkoba sebagaimana dikemukakan Presiden Jokowi. []

 

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here