Saatnya Terapkan Pengelolaan Manajemen Bencana

0
125
Daerah titik gempa bumi yang dipetakan oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).

Nusantara.news, Surabaya – Sudah saatnya sejak dini kemudian secara berkesinambungan, dijabarkan melalui kurikulum dan dikuatkan dengan surat keputusan Menteri Pendidikan RI, di semua tingkatan sekolah mulai dasar, menengah hingga perguruan tinggi, pemahaman soal gempa diajarkan. Termasuk tentang posisi strategis negara kepulauan Indonesia yang menjadi pertemuan tiga lempeng tektonik besar di dunia. Tentu, tujuannya agar semua anak didik sejak dini memahami manfaat dan juga resiko yang ada di depan mata tentang posisi tersebut. Adalah tugas pemerintah untuk menjabarkan itu semua dan didukung dengan semua elemen termasuk lembaga penelitian tentang ilmu bumi.

Pertemuan Lempeng Bumi di Indonesia

Semua pihak hendaknya mengetahui, Negara Kepulauan Indonesia merupakan wilayah pertemuan 3 lempeng tektonik besar, yaitu Lempeng Indo-Australia, Eurasia dan Lempeng Pasific.

Dengan komposisi, Lempeng Indo-Australia keberadaannya bertabrakan dengan lempeng Eurasia di lepas pantai Sumatra, Jawa dan Nusatenggara, sedangkan dengan Pasific di utara Irian atau Papua dan Maluku utara. Di sekitar lokasi pertemuan lempeng ini akumulasi energi tabrakan terkumpul sampai suatu titik dimana lapisan bumi tidak lagi sanggup menahan tumpukan energi sehingga lepas berupa gempa bumi.

“Peristiwa-peristiwa seperti itu layaknya harus dipahami oleh pelajar di semua tingkatan hingga perguruan tinggi, termasuk juga oleh masyarakat luas lainnya di Indonesia,” ujar Yoyok Sulistyo guru bidang studi Geografi.

Alumni Fakultas Pendidikan Ilmu Pendidikam Sosial (FPIPS) Jurusan IPS Geografi Universitas Negeri Surabaya itu mengatakan saatnya pemerintah, melalui Kementerian Pendidikan menerapkan hal itu melalui pendidikan di semua tingkatan, mulai dasar hingga perguruan tinggi, menjadi pelajaran wajib.

Lanjutnya, pemahaman soal ilmu bumi dan letak geografis posisi Indonesia itu juga dibarengi dengan kiprah pemerintah yang mulai menerapkan zonasi peruntukan sebuah wilayah di daratan. Misalnya, daerah-daerah mana saja yang layak untuk permukiman, perkebunan, peternakan pusat-pusat kegiatan perekonomian dan lain sebagainya, yang mengacu pada topografi dan sesuai peta geologi.

“Dengan sistem zonasi tersebut diterapkan untuk menghindari hal terburuk jika datang musibah gempa, tanah longsor atau tsunami,” katanya.

Kemudian dia menceritakan, gejolak pergeseran lempeng tanah di dalam perut bumi pasti akan menimbulkan dampak di permukaan tanah. Jika di permukaan tanah itu permukiman padat, dipastikan akan berdampak pada banyaknya korban yakni manusia yang terancam meninggal dunia. Sebaliknya, jika zona tersebut diperuntukkan sebagai lokasi peternakan, persawahan, perkebunan dan lainya, dampak kerugian yang akan timbul adalah materi, yakni berupa investasi kerugian dari proses pengelolaan yang membawa kerugian.

“Intinya, menurut saya peruntukan atas sebuah lahan dengan sistem zonasi tadi mulai sekarang harus diperhitungkan dan di tata. Dan, itu oleh pemerintah harus ditetapkan melalui keputusan pemerintah,” tambahnya.

Mengulas soal gempa bumi dan akibatnya, lelaki yang mengajar di sejumlah sekolah menengah atas itu menceritakan, bahwa proses gempa bumi adalah karena ada
pelepasan energi di dalam perut bumi dan kemudian menimbulkan berbagai dampak terhadap bangunan yang ada di sekitar atau di atas zona bergolak itu. Yakni, berupa percepatan gelombang seismik, longsor, liquefaction, bahkan juga diikuti tsunami, yakni gelombang air laut yang besar akibat proses lepasnya tekstur atau lempeng tanah di dalam bumi.

Besarnya dampak gempa bumi atau tsunami terhadap bangunan tergantung pada beberapa hal, diantaranya adalah skala gempa, jarak epicentrum, mekanisme sumber, jenis lapisan tanah di lokasi bangunan dan kualitas bangunan bangunan itu sendiri.

Memang tidak dipungkiri, dari peristiwa tektonik yang diikuti gempa dan luapan sedimen atau juga tsunami aktif, selain menimbulkan dampak kerugian, kelak di kemudian juga membawa berkah lantaran terbentuknya banyak cekungan sedimen (sedimentary basin), di dasar laut.

Cekungan itu akan mengakomodasikan sedimen yang selanjutnya menjadi batuan induk maupun batuan reservoir hydrocarbon. Kemudian, memang butuh waktu jutaan atau ratusan tahun akan menjadi tempat kandungan minyak, atau gas alam. Yang selanjutnya, tentu oleh generasi manusia selanjutnya bermanfaat karena menghasilkan tambang dan menjadi tulang punggung perekonomian. Di Indonesia, proses terbentuknya cekungan-cekungan itu kemudian bisa dimanfaatkan, khususnya di tahun 1990-an.

Indonesia, juga merupakan negara yang secara geologis memiliki posisi yang unik karena berada pada pusat tumbukan Lempeng Tektonik Hindia Australia di bagian selatan, Lempeng Eurasia di bagian Utara dan Lempeng Pasifik di bagian Timur laut. Hal ini mengakibatkan Indonesia mempunyai tatanan tektonik yang komplek dari arah zona tumbukan yaitu Fore arc, Volcanic arc dan Back arc. Fore arc merupakan daerah yang berbatasan langsung dengan zona tumbukan atau sering di sebut sebagai zona aktif akibat patahan yang biasa terdapat di darat maupun di laut. Pada daerah ini material batuan penyusun utama lingkungan ini juga sangat spesifik serta mengandung potensi sumberdaya alam dari bahan tambang yang cukup besar. Volcanic arc merupakan jalur pegunungan aktif di Indonesia yang memiliki topografi khas dengan sumberdaya alam yang khas juga. Back arc merupakan bagian paling belakang dari rangkaian busur tektonik yang relatif paling stabil dengan topografi yang hampir seragam berfungsi sebagai tempat sedimentasi. Semua daerah tersebut memiliki kekhasan dan keunikan yang jarang ditemui di daerah lain, baik keanegaragaman hayatinya maupun keanekaragaman geologinya.

“Belum terlambat, intinya ini menjadi tanggungjawab perintah, dan semua pihak harus ikut mendukung terkait penyampaian pemahaman tentang letak geografis, topografi dan posisi Indonesia yang sangat unik ini, dengan berbagai keuntungan dan resikonya. Penerapannya ya itu tadi, harus dikenalkan kepada semua kalangan pelajar, bahkan harus sejak dini,” pintanya dengan nada serius.

Indonesia Berada di Posisi Unik

Dikutip dari sejumlah sumber, tentang posisi Indonesia. Secara Geologis, Indonesia terletak di posisi unik yakni di pusat tumbukan Lempeng Tektonik Hindia Australia di bagian selatan, Lempeng Eurasia di bagian Utara dan Lempeng Pasifik di bagian Timur laut.

Lempeng Indo-Australia bertabrakan dengan Lempeng Eurasia di lepas pantai Sumatra, Jawa dan Nusatenggara, sedangkan dengan Lempeng Pasific di utara Irian dan Maluku utara. Ini mengakibatkan Indonesia mempunyai tatanan tektonik yang komplek dari arah zona tumbukan yaitu Fore arc, Volcanic arc dan Back arc. Fore arc merupakan daerah yang berbatasan langsung dengan zona tumbukan atau sering di sebut sebagai zona aktif akibat patahan yang biasa terdapat di darat maupun di laut. Pada daerah ini material batuan penyusun utama lingkungan ini juga sangat spesifik serta mengandung potensi sumber daya alam dari bahan tambang yang cukup melimpah.

Pemahaman yang keliru dan harus diluruskan, jika ada yang mengartikan kalau bumi padat dan tenang. Karena sejatinya, didalam perut bumi ada beberapa lempengan dunia yang terus bergerak saling menyeimbangkan satu sama lain. Dalam proses penyeimbangan dan pergerakan itu menyebabkan terjadinya pergesekan yang mengakibatkan gempa, atau lazim disebut gempa Tektonik.

Sedangkah akibat proses aktifitas tektonik itu selanjutnya akan dapat memicu gunung api aktif bereaksi untuk menyeimbangkan juga yang nantinya akan menyebabkan gempa vulkanik.

Di dalam peta geologi, lazimnya zona-zona pergerakan tersebut selalu diberikan tanda dengan warna-warna khusus.

Untuk diketahui, lempengan dunia yang terus bergerak dan bergesekan untuk mencari keseimbangan dan tanpa disengaja lempengan itu juga akan tepat berada di wilayah Indonesia dan sebagian Jepang. Untuk itu yang sering mengalami gempa dan tsunami sebenarnya adalah Indonesia dan Jepang, dan itu mengawali munculnya teori mengapa sering terjadi gempa di Indonesia.

Setelah memahami posisi Indonesia yang merupakan wilayah pertemuan lempengan dan dilalui jalur pegunungan api aktif, yakni yang berada di wilayah sekitar lempengan. Harus diakui bahwa Indonesia adalah daerah rawan gempa tektonik dan vulkanik.

Sayangnya, tidak ada alat prediksi yang sangat akurat kapan dan dimana lokasi gempa akan terjadi, dan yang pasti di sepanjang lempengan itu adalah daerah yang setiap saat berpotensi terjadi gempa.

Tsunami atau Silent Killer

Evakuasi korban pasca Tsunami di Palu

Peristiwa terjadinya gempa bumi dan tsunami telah banyak diulas melalui berbagai judul tulisan. Tsunami atau juga disebut “Si pembunuh yang sangat diam atau Silent Killer” itu karena gejala awalnya tidak kentara atau karena sangat kecil.

Tsunami terjadi jika ada proses pergesekan lempengan didasar laut, dan itu akan memicu terjadinya peristiwa di atas permukaan tanah. Misalnya, saat terjadi patahan akibat penyeimbangan lempeng maka gejala awal yang terjadi adalah gempa tektonik, terkadang akibat penyeimbangan ini salah satu lempeng akan masuk dan salah satu lempeng akan keluar ke permukaan sehingga diikuti pergerakan air yang akan mencari keseimbangan juga.

Karena, seperti dipahami bersama bahwa sifat air akan selalu mencari tempat terendah dan menyesuaikan dataran permukaannya, itu karena di pengaruhi oleh medan grafitasi bumi. Contoh sederhananya, jika tangan dimasukkan ke dalam bak mandi lalu hentakkan tangan ke atas maka air akan beriak, dan bergerak mencari keseimbangan. Dalam proses seperti ini, dan jika terjadi dalam skala dan kekuatan yang sangat besar ini yang disebut dengan tsunami.

Mengidentifikasi akan terjadi Tsunami

Jika gempa terjadi di permukaan laut maka itu akan lebih berisiko terjadinya tsunami. Jika kekuatan gempa sangat besar maka kemungkinan terjadi tsunami juga akan semakin besar, meski itu tidak mutlak. Terjadinya surutnya air laut yang mendadak setelah terjadi gempa.

Cara menyelamatkan diri saat terjadi tsunami, yakni jika setelah terjadi gempa hendaknya segera menuju ke daerah yang lebih tinggi misalnya perbukitan atau gunung terdekat, untuk mewaspadai terjadinya tsunami, jika dalam 1-6 jam tidak terjadi tsunami maka boleh kembali ke posisi semula. Tentunya, ini juga selayaknya diketahui dan mendapat perhatian oleh pemerintah, atau pemangku kepentingan di daerah tersebut untuk menjaga keselamatan masyarakatnya.

Guna mengatasi korban akibat gempa, sejak dini pemerintah juga harus melakukan berbagai langkah-langkah. Misalnya, dengan memasang alat deteksi di lokasi-lokasi strategis di pinggir pantai. Tentu alat itu juga telah diprogram dengan durasi waktu yang tepat setelah menerima sinyal goncangan gempa. Selanjutnya diteruskan dengan terdengarnya bunyian peringatan untuk mengungsi.

Untuk mengatasi kerugian materi, di berbagai tulisan ahli juga banyak menyajikan prosedur membuat bangunan dan rumah tahan gempa. Selain mencermati zona yang layak atau tidak diperuntukkan untuk hunian, juga harus memperhitungkan material atau komponen yang dipakai membangun bangunan.

Misalnya, rumah dengan material-material ringan, yakni kayu adalah salah satu bangunan yang terbukti paling kuat dan tahan saat terjadi gempa. Karena memiliki fondasi yang bisa mengikuti pergerakan tanah. Sebenarnya rumah tembok pun bisa, di Jepang sendiri struktur rumah dan bangunan mereka dibuat agar tahan terhadap gempa, itu lantaran mereka sadar daerah Jepang rawan gempa.

Sudah saatnya, sebagai negara yang menjadi pusat pertemuan sejumlah lempeng dunia, tentu selain memahami berbagai keuntungan juga resikonya, pemerintah Indonesia didukung semua pihak perlu belajar yang dilakukan negara Jepang, yakni mengelola menejemen posisi geografis tersebut menjadi kebijakan dan diterapkan di semua wilayah.

Tujuannya, adalah untuk mengurangi resiko banyaknya korban manusia dan kerugian materi akibat peristiwa alam, baik berupa gempa bumi, letusan gunung berapi dan tsunami.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here