Sahabat Riyanto Banser Pejuang Kemanusiaan

0
234

Nusantara.news, Surabaya – Di Peringatan Natal tahun ini, tak ada salahnya mengenang kembali peristiwa tragis dan torehan catatan heroik lelaki pemberani ‘Sahabat’ Riyanto anggora Barisan Ansor Serba Guna (Banser) Kota Mojokerto, Jawa Timur yang tewas saat tugas pengamanan Misa Natal tahun 2000.

Betapa tidak, pemuda lajang anak pasangan Sukarnim dan Katinem ini menjadi korban, nyawanya melayang bersamaan luapan amarah dendam, benci entah ditujukan kepada siapa yang dilakukan segelintir orang pelaku dengan sengaja melalui benda-benda berbahan peledak yang sengaja disiapkan, untuk meledakan gereja. Riyanto mengorbankan nyawa untuk menyelamatkan ratusan jemaat saat beribadat di Gereja Sidang Jemaat Pantekosta di Indonesia (GSJPDI) Eben Haezer, di Jalan Kartini 4, Kota Mojokerto.

17 tahun silam, Riyanto menghembuskan nafas terakhir bersamaan dengan ledakan sebuah benda dalam dekapannya. Dikisahkan, itu terjadi saat lelaki itu berlari menjauhi gereja bermaksud melempar atau membuang bahan berbahaya tersebut agar tidak meledak di dalam gereja. Namun, kehendak berkisah lain, tiba-tiba suara keras terdengar Blar….! Percikan ledakan dan api membumbung tinggi dan tubuh berseragam loreng itu terpental, tercabik dan terberai puluhan meter.

Baca Juga: Jejak Umar bin Khattab di Jerusalem

Kisah tragis itu tak boleh begitu saja dilupakan, oleh siapa pun. Masih melekat diingatan sejumlah saksi mata tragedi berdarah tersebut sangat keji, ditujukan kepada si pelaku peletak benda berbahaya di tempat ibadat. Dan, pastinya meninggalkan duka mendalam bagi keluarga korban, kerabat dan banyak orang lainnya termasuk yang bermukim di sekitar tempat suci itu. Tak hanya Ansor dan umat Islam yang kehilangan anggota Banser pemberani dan berdedikasi menjalankan perintah dan tanggungjawab atasan mengamankan Misa Natal, kita semua ikut kehilangan sosok tak berdosa itu.

Berawal, Sebuah Benda Meledak di Dekat Gereja

“Anak pasangan Sukarnim dan Katinem ini jadi korban amarah, dendam dan benci segelintir orang yang berusaha meledakan gereja di Mojokerto” (Foto: Museum NU)

Dikisahkan oleh Pendeta GSJPDI Eben Haezer, Rudi Sanusi Wijaya, sebelumnya ibadat Misa Natal 24 Desember 2000 di gereja tersebut berjalan tertib dan lancar. Ratusan jemaat khusuk memanjatkan doa. Pendeta mengaku juga tak melihat ada keganjilan di malam suci itu.

Beberapa menit kemudian kehendak berkisah lain, sekitar pukul 20.00 WIB terjadi ledakan keras. Itu berasal dari sebuah benda terbungkus tas kresek plastik hitam yang kemudian diketahui tergelatk di dekat telepon umum seberang jalan depan gereja. Ada yang menyebut, persisnya di pojok kanan percetakan foto Studio Kartini.

Suara keras ledakan diiringi asap dan api membumbung tak jauh dari gereja yang dibangun tahun 1964 itu, sontak suasana berubah mencekam. Tak hanya jemaat, yang saat peristiwa tengah keluar gereja usai ibadat, kerumunan orang sekitar gereja juga panik, berhamburan. Dengan sigap petugas kepolisian memerintahkan semua orang untuk menjauh sumber ledakan.

Kisah lain menyebut, rentetan peristiwa diawali ditemukan sebuah tas kecil diduga milik salah seorang jemaat yang tertinggal di bawah bangku peribadatan. Tanpa curiga, salah seorang pengurus gereja meneruskan menyerahkan tas tersebut kepada petugas keamanan. Kemudian, diletakkan di salah satu sudut di dalam gereja. Ada yang menyebut, seorang jemaat menunjuk ada sebuah bingkisan terbungkus plastik hitam tergeletak di depan pintu masuk gereja.

Riyanto menghampiri dan mengamankan bingkisan itu. Kemudian, di hadapan petugas gereja termasuk ada seorang polisi, kantong plastik hitam itu dibuka. Tampak menjulur untaian pasangan kabel, dibarengi percikan api.

Baca Juga: Jejak Orang Yahudi di Indonesia

Kemudian, Riyanto dengan sigap berteriak “Tiarap…” sambil membawa benda itu menjauh dari gereja dan melemparkannya ke tong sampah, namun benda itu terpental. Ia kemudian mengambil kembali dan dilemparkan ke selokan air. Namun, benda itu keburu meledak dan tubuh Riyanto ikut terlempar.

Bersamaan dengan itu tembok pagar bangunan di seberang gereja juga roboh, hancur. Sejumlah kaca lemari dan etalase toko termasuk Studio Kartini tepat di depan gereja juga hancur berantakan.

“Saat itu Misa Natal sudah selesai, para jemaat mulai meninggalkan gereja,” ungkap Rudi.

Ledakan di Depan Gereja Disusul Ledakan Temuan Dari Dalam Gereja

Setelah terjadi ledakan pertama, sejumlah orang berhambur kembali ke dalam gereja, mereka teringat sebuah tas yang ditemukan di tergelatk di dalam gereja. Keterangan lain menyebut, sambil membuka untuk mengetahui isi tas, Riyanto membawa dan dimasukkan benda itu ke dalam saluran air di depan sebuah rumah, di jalanan depan gereja. Dimungkinkan itu seperti mercon jika dimasukkan air agar tidak terjadi ledakan. Nahas, berbarengan terjadinya ledakan tubuh Riyanto terpental hingga sekitar 30 meter melewati bangunan gereja. Akibat ledakan cukup keras itu tubuh anggota Banser itu sulit dikenali.

Akibat ledakan dahsyat itu, Studio Kartini dan bangunan sekitarnya ikut porak-poranda, pintu dan pagar serta atap genting berhamburan, hancur berantakan. Tak hanya itu, bahu kiri seorang lelaki berusia 70 tahun, ada yang menyebut pemilik sebuah toko di depan gereja juga terluka terkena lemparan serpihan akibat ledakan.

Saat terjadi ledakan lelaki itu mengatakan tokonya masih buka. Mendengar suara ledakan pertama dia bergegas keluar toko, untuk melihat apa yang tengah terjadi. Tak lama kemudian, ledakan ke dua terjadi di jalan, itu berasal dari tas plastik hitam yang dibawa keluar dari dalam gereja. “Itu di tengah jalan, terjadi tepat di depan toko saya,” katanya.

Riyanto Dikenang Sebagai Pahlawan Kemanusiaan

Jenazah Riyanto dimakamkan di makam umum Kelurahan Prajurit Kulon, Kota Mojokerto. Hingga kini, kisah keberanian dan pengorbanan Riyanto, terus dikenang. Tak hanya oleh Banser atau Ansor di wilayah Kota Mojokerto, masyarakat di Indonesia pasti sepakat dengan itu. Terbukti ziarah ke makam Riyanto kerap dilakukan oleh pengunjung dari sejumlah daerah saat singgah di wilayah itu. Termasuk, di Museum NU di Surabaya juga kerap didatangi pengunjung yang ingin melihat langsung seragam Banser milik Riyanto, yang terpajang di salah satu lemari Museum NU yang terlatak di Jalan Gayungsari, Surabaya.

Ketum PP GP Ansor, Gus Yaqut: Gus Yaqut menyebut, pengorbanan Riyanto yang rela mati demi menyelamatkan jemaat Gereja Eben Heizer sebagai bentuk perjuangan menjaga kemanusiaan”

Desember 2016 silam, Ketua PP GP Ansor H Yaqut Cholil Qoumas berziarah ke makam Riyanto, dilanjutkan menemui dan memberikan santunan kepada keluarga almarhum di kediaman, Prajurit Kulon. Sejumlah tokoh lintas agama, pengurus gereja dan elemen lain juga ikut hadir, memberikan tali asih.

“Bersamaan Peringatan Haul Gus Dur dan Sahabat Riyanto ini untuk menyampaikan pesan dan spirit, bahwa negara kita banyak perbedaan. Perbedaan itu fitrah, seharusnya tak menjadi sumber perpecahan. Namun, kita kelola menjadi hubungan yang produktif untuk mempertahankan NKRI,” kata Gus Yaqut.

Gus Yaqut menyebut, pengorbanan Riyanto yang rela mati demi menyelamatkan jemaat Gereja Eben Heizer sebagai bentuk perjuangan menjaga kemanusiaan.

“Seperti yang disampaikan Pendeta Ortodok Rusia benar bahwa sahabat Riyanto rela mati demi memberi hidup bagi yang lain. Ini semangat yang kami tangkap, mudah-mudahan sahabat Banser akan mengikuti semangat ini, bahwa demi kemanusiaan dan keutuhan negara, mereka siap mengorbankan apa saja, bahkan jiwa,” tegasnya.

Salah satu elemen kumpulan dari berbagai profesi yang tergabung di Gerakan Peduli Pejuang Republik Indonesia (GPPRI), Pendiri GPPRI Aiptu Pudji Hardjanto dan Ketua GPPRI Martudji. Tak lupa menyampaikan tali asih kepada keluarga almarhum dan berziarah. Melalui SK GPPRI, diberikan piagam dan mencatat Sahabat Riyanto sebagai ‘Pejuang Kemanusiaan’ versi GPPRI.

“GPPRI memberikan piagam dan mencatat Sahabat Riyanto sebagai ‘Pejuang Kemanusiaan'” (Foto: Dok GPPRI)

“Selain ikut sedih dan haru, GPPRI bangga atas kisah kemanusiaan yang dialami Riyanto. Mengorbankan nyawanya demi menyelamatkan orang lain yang sedang beribadat,” kata Pudji saat itu.

Baca Juga: GP Ansor dan Banser Kota Malang Dukung Calon Hanura

Gus Dur: Almarhum, Potret Jatidiri Umat Beragama Kaya Nilai Kemanusiaan

Dikutip dari sejumlah sumber, KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) menyebut “Almarhum Sahabat Riyanto telah menunjukkan diri sebagai umat beragama yang kaya nilai kemanusiaan. Semoga dia mendapatkan imbalan sesuai pengorbanannya.”

Museum NU di Jl Gayungsari Surabaya (Foto: Tudji)

Kisah pengorbanan, tanggung jawab dan rasa kemanusiaan Riyanto patut diteladani. Almarhum yang terlahir Muslim bisa jadi tak pernah berpikir akan kehilangan nyawa, menjadi korban ledakan bom yang dilakukan oleh mereka, para pelaku yang tidak bertanggung jawab, melampiaskan amarah entah ditujukan kepada siapa. Tak hanya Riyanto, yang menjadi korban juga masyarakat baik Kristen yang saat itu melakukan ibadat serta khalayak dari agama lain di sekitar lokasi ledakan juga ikut dihinggapi ketakutan, panik dan dihantui perasaan cemas.

Apapun alasannya, aksi kekerasan yang mengatasnamakan agama tidak boleh terjadi di negeri ini. Tanpa membedakan agama, suku, ras dan golongan warga yang hidup di negeri Pancasila ini harus mendapat perlindungan dan keamanan, apalagi saat beribadat.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here