Saham Delta Djakarta Harus Dijual Karena Induk Segala Keburukan

0
167
Meskipun ditolak Ketua DPRD DKI Jakarta Prasetyo Edi Marsudi dan anggota DPRD DKI Jakarta Bestari Barus, Gubernur DKI Jakarta Anies Rasyid Baswedan memastikan tetap akan melepas saham Pemprov DKI Jakarta di PT Delta Djakarta Tbk sebanyak 26.25%. Kabarnya San Miguel dan Ping An Insurance Company of China Ltd dikabarkan juga tertarik saham Pemprov DKI Jakarta di Delta Djakarta.

Nusantara.news, Jakarta – Rencana Gubernur DKI Jakarta Anies Rasyid Baswedan untuk menjual seluruh saham Pemprov DKI Jakarta di PT Delta Djakarta Tbk seperti menemui jalan buntu. Ketua DPRD DKI Prasetyo Edi Marsudi dengan tegas menolak, namun sepertinya warga DKI siap membantu Gubernur melepas barang haram tersebut.

Hampir setahun lamanya surat Gubernur Anies tak berbalas. Bahkan belakangan kader PDIP yang menjadi Ketua DPRD DKI Jakarta itu malah balik bertanya,”Salahnya Delta apa sih? Saya tetap berprinsip, enggak ada yang merugikan untuk pemerintah daerah, apalagi yang dikatakan setahun dapat (dividen) Rp50 miliar,” demikian pernyataan itu meluncur dari bibir Prasetyo Edi itu.

Ia menilai perusahaan produsen dan distributor bir bermerk Anker Bir, Sanmiguel dan, Calrsberg ini, sama sekali tidak merugikan Pemprov DKI Jakarta. Karena itu, dia tetap menolak rencana pelepasan saham di PT Delta Djakarta Tbk.

“Saya tetap berprinsip, enggak ada yang merugikan untuk pemerintah daerah, apalagi yang dikatakan setahun dapat Rp50 miliar,” kata Prasetio.

Sementara Ketua Fraksi Partai Nasdem DPRD DKI Jakarta Bestari Barus menanyakan alasan Anies melepas saham Pemprov DKI di PT Delta Djakarta Tbk tidak kuat. Bestari meminta Anies tak memakai alasan halal dan haram dalam rencana pelepasan saham di perusahaan bir itu.

Jika memakai alasan halal dan haram, Bestari menyebut harusnya Anies juga menjual saham Pemprov DKI di Bank DKI. “Kalau urusannya halal haram, cobalah tanya kepada Gubernur, kalau praktik perbankan konvensional, halal atau haram? Apa Bank DKI juga dimasukan list untuk dijual?” ujar Bestari.

“Kalau memang saham Delta mau dijual, sekalian Bank DKI juga karena ada praktik riba kan kalau di bank konvensional,” tambahnya. Bestari meminta Anies memberikan alasan yang jelas jika ingin menjual saham Pemprov DKI di Delta Djakarta.

Menurut Bestari, DPRD bisa saja menyetujui rencana Pemprov DKI jika alasannya jelas. “Enggak usah pakai riba-riba. Apa alasannya mau dijual? Kalau masuk akal, kan rakyat juga pasti terima. Prinsipnya, kalau untuk kebaikan, enggak ada masalah, asal jelas,” kata Bestari.

Bestari juga meminta Anies berkomunikasi langsung dengan DPRD DKI Jakarta untuk membicarakan rencananya menjual saham di Delta Djakarta. Pelepasan saham Pemprov DKI di Delta Djakarta merupakan janji kampanye Anies dan mantan Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Uno pada Pilkada DKI 2017.

Gubernur Anies diketahui sudah merealisasikan janji politiknya ketika menutup operasional tempat maksiat Alexis. Rencana Anies selanjutnya ingin menjual saham Pemprov di Delta Djakarta juga merupakan rangkaian mengurangi praktik maksiat dari aspek minuman keras.

Pegiat dakwah internasional DR. Zakir Abdul Karim Naik atau lebih dikenal dengan Zakir Naik dalam berbagai ceramahnya menyebutkan bahwa khamr (termasuk PT Delta Djakarta Tbk) adalah induk dari segala keburukan. Guru kharismatik itu mengutip hadits yang diriwayatkan oleh Ath Tabrani, Ad Daruquthni dan Al Qudhai, bahwa khamr itu adalah induk segala keburukan. Siapa saja yang meminum khamar, Allah tidak menerima shalatnya selama 40 hari. Jika peminum khamr mati dan khamr itu ada di dalam perutnya maka ia mati dengan kematian jahiliyah.

Itu sebabnya Nabi Muhammad saw melaknat 10 pihak yang terkait dengan khamr, yaitu pemerasnya, yang minta diperaskan, peminumnya, pembawanya, yang minta dibawakan, penuangnya, penjualnya, pemakan harganya, pembelinya dan yang minta dibelikan (HR at-Tirmidzi dan Ibn Majah). Apalagi yang memproduksinya seperti Delta Djakarta, ada 10 mata rantai keburukan khamr yang telah diproduksinya.

Secara kasat mata, bisnis khamr memang menguntungkan. Tapi keuntungan itu diperoleh lewat menjerumuskan warga DKI dalam mabuk khamr, sehingga wajar kalau keuntungannya tidak mendapat berkah dari Allah SWT. Dalam perspektif ini benarlah langkah Gubernur Anies untuk memutus rantai penerimaan tidak berkah Pemprov DKI dari PT Delta Djakarta.

Zakir Naik menyebutkan dalam Al Quran, khamr itu adalah najis dan kebiasaan setan (Al Maidah 90). Bibel juga melarang konsumsi miras. Larangan itu terdapat dalam ayat-ayat berikut: “Anggur adalah pencemooh, minuman keras adalah peribut, tidaklah bijak orang yang terhuyung-huyung karenanya.” (Amsal 20:1).

“Dan janganlah kamu mabuk oleh anggur ….” (Efesus 5:18).

Itu sebabnya Zakir Naik mengungkapkan dalam berbagai risetnya, kasus-kasus perzinaan, pemerkosaan, incest dan AIDS didapati di kalangan pecandu miras. Setiap pecandu miras pada mulanya adalah social drinker, lama kelamaan menjadi pecandu dan pada akhirnya menjadi aktor berbagai kejahatan.

Dampak sosial lainnya, menurut Zakir Naik, jika orang mabuk sekali saja dan melakukan hal memalukan, itu akan melekat padanya seumur hidup. Termasuk munculnya berbagai macam penyakit terkait dengan kecanduan miras.

Adapun alasan mengapa Anies juga tidak melepas saham PT Bank DKI Tbk, tentu karena semua agama melarang riba, bahkan dalam kita Talmud orang yahudi dilarang berternak riba. Itu sebabnya penolakan Bestari Barus terhadap argumentasi agama, sama saja hendak melawan arus warga Jakarta yang mayoritas Islam dan mayoritas tidak ingin warganya menjadi pemabuk.

Itu sebabnya Zakir memastikan tak ada orang tua yang rela melihat anaknya mabuk dan terjerumus dalam limbah kesesatan. Termasuk mungkin Prasetyo Edi Marsudi dan Bestari Barus dipastikan tak ingin anak-anak dan istrinya menjadi pemabuk karena alasan pendapatan dari menjual bir ini menguntungkan.

Bahkan dalam kapasitas DKI Jakarta, bahkan Indonesia, janganlah menjadikan dasar keuntungan sehingga produksi minuman disemarakkan. Apa jadinya bangsa ini kalau semua jadi pemabuk, betapa terenyuhnya Prasetyo Edi dan Bestari Barus kalau melihat anak dan istrinya menjadi pemabuk, artinya, hati kecil mereka tentu tetap menginginkan anak-anak dan istrinya menjadi orang sehat dan tidak dicekoki alkohol.

Bahkan dalam kerangka yang lebih besar, setelah narkoba, minuman keras, dan shabu yang berhasil menjerumuskan anak-anak muda dalam jurang kerusakan moral. Bila tidak dicegah, dapat dipastikan potret demograsi kependudukan kita akan banyak diisi oleh SDM pemabukan, apakah dengan mental pemabukan itu kita akan bisa berkompetisi dengan anak-anak bangsa lain yang lebih maju?

Jangan-jangan rencana kita yang akan melahirkan gemerasi emas oleh karena adanya bonus demografi, dengan kondisi yang mabuk dikhawatirkan generasi muda nanti akan menjadi bencana demografi. Tak terbayangkan seperti apa kacaunya bangsa ini.

Semoga Prasetyo Edi Marsudi dan Bestari Baru masih hidup ketika bencana demografi itu tiba. Kita sih tetap menginginkan ada bonus demografi, itu sebanya segala sesuatu yang berpotensi merusak generasi muda bangsa harus dihentikan. Lanjutkan Pak Anies, selamatkan generasi muda bangsa dengan langkah awal menghentikan kepemilikan saham Pemprov DKI di Delta Djakarta.

Semoga pada 17 April nanti, lahir pemimpin baru yang juga mencintai generasi muda bangsa. Sehingga barisan manusia yang ingin membuat Indonesia ke depan hebat, maju dan berjaya semakin banyak.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here