Saham Facebook Semakin Anjlok oleh Penyelidikan FTC

0
77
CEO Gacebook Mark Zuckerberg

Nusantara.new, Jakarta – Perusahaan apa saja yang berurusan dengan Komisi Perdagangan Federal (FTC/Federal Trade Commission) dipastikan ketir-ketir. Karena lembaga bentukan pemerintah federal Amerika Serikat (AS) dikenal tanpa kompromi dalam menyelidiki produk apa pun yang dinilai membahayakan atau merugikan konsumen.

Tidak seperti Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) yang statusnya lembaga swadaya masyarakat. FTC adalah alat kelengkapan negara yang independent dan memiliki kewenangan penyelidikan dan penegakan hukum. Sejumlah merk terkenal dipaksa menarik produknya, sebagian lagi dikenai sanksi denda yang membuatnya bangkrut.

Demikian juga dengan Facebook (FB) yang sahamnya semakin terbenam setelah FTC mengumumkan akan melakukan penyelidikan tertutup atas kinerja perusahaan yang dirancang dan didirikan oleh Mark Zuckerberg itu, pada Senin (26/3) kemarin. FTC akan menyelidiki sejauh mana perusahan itu melindungi privasi data penggunanya.

“FTC secara tegas dan berkomitmen penuh menggunakan semua alatnya untuk melindungi privasi konsumen,” ungkap Direktur Biro Perlindungan Konsumen FTC Tom Pahl dalam pers rilis yang disebarkan ke sejumlah media. “FTC menindaklanjuti pemberitaan media yang sangat serius baru-baru ini yang mengkhawatirkan tentang praktek privasi pengguna Facebook.”

Semakin Anjlok

Saham FB memang sudah anjlok sejak kasus Cambridge Analytica terbongkar ke publik. Kala itu anggota Parlemen AS menyerukan CEO Mark Zuckerberg bersaksi di Capitol Hill. Alih-alih menemui Senat atau DPR, Mark Zuckerberg dikabarkan menghilang beberapa hari dari kantor dan baru muncul saat menyampaikan penyesalan kepada pengguna FB.

Pergerakan saham Facebook

Kini dengan kabar penyelidikan non-publik oleh FTC, harga saham FB semakin terbenam – menambah penurunan tajam yang dimulai sejak mantan staf Cambridge Analytica – Chris Wylie – mengungkap bagaimana perusahaannya mengambil data 50 juta pengguna FB yang digunakan untuk target iklan dalam kampanye Donald J Trump. Saham FB sepanjang Senin (26/3) sore waktu setempat kemarin dikabarkan turun 2,5%.

Opini publik di Facebook juga bergeser. Mengutip hasil jajak pendapat Axios, kesukaan masyarakat terhadap jejaring sosial FB telah menurun sejak Oktober sebesar 28 poin – hampir dua kali lipat dibandingkan penurunan perusahaan jejaring sosial raksasa lainnya. Tagar #deletefacebook terus berkembang di media sosial. Dikabarkan pula miliarder teknologi Elon Musk meghapus halaman FB untuk dua perusahaannya: Tesla dan SapceX.

Tapi tidak jelas, berapa pengguna lainnya yang – mengikuti jejak Musk – benar-benar memutuskan hubungan mereka sendiri dari plarform media sosial terbesar di dunia – yang bagi sebagian besar pengguna merupakan pengalaman online yang mengasyukan.

Hari Minggu (25/3) kemarin lusa, Illinois menjadi negara bagian pertama di AS yang mengajukan gugatan kepada Facebook dan Cambridge Analytica dengan sangkaan telah terjadinya “skema penipun untuk mengunduh data jutaan pemilih AS”.

“Pengumpulan data massal secara ini tidak hanya diizinkan – melainkan juga didorong oleh Facebook yang memberikan kesempatan kepada pengembang membuat aplikasi pada platformnya dan menyediakan perusahaan dengan semua alat yang mereka butukhkan untuk mempengaruhi dan memanipulasi pengguna,” tulis gugatan itu. “Itu karena Facebook bukan perusahaan media sosial – ini adalah operasi penambangan data terbesar yang pernah ada.”

Riwayat Panggilan

Pada hari yang sama, Facebook menyebutkan pihaknya telah menyimpan data SMS dan log panggilan untuk jutaan pengguna ponsel Android untuk mengakses Facebook Messenger. Pernyataan itu justru mendapat reaksi negative tentang bagaimana perusahaan menangani data pengguna yang bisa membongkar pengaturan rekam (record setting).

Sejak hari pertama terbongkarnya perusahaan data Cambridge Analytica telah menyalahgunakan platform Facebook untuk mengunduh data 50 juta pengguna secara tidak sah, banyak di antara pengguna Facebook yang mengunduh datanya sendiri untuk mengetahui seberapa banyak (pengguna) jaringan sosial yang tahu tentang dirinya.

Satu di antara pengembang adalah Dylan McKay yang memposting minggu lalu bahwa file-nya muncul untuk menunjukkan log panggilan dari setiap panggilan yang dibuatnya selama beberapa tahun terakhir. Data itu mencakup ke atau dari “siapa”, tanggal, waktu, dan durasi percakapan. Padahal panggilan tidak dilakukan menggunakan Facebook atau salah satu aplikasinya – melainkan dari panggilan telepon biasa.

Saat “tweet” itu menjadi viral, pengguna lain mengungkap pengalaman yang sama.

Namun Facebook telah membantah adanya penyadapan “riwayat panggilan” dari tempat lain ke platform media sosialnya.

“Call dan text history logging adalah bagian dari fitur opt-in untuk orang yang menggunakan Messenger atau Facebook Lite di Android,” tulis perusahaan itu. “Ini membantu Anda menemukan dan tetap terhubung dengan orang-orang yang Anda sayangi, dan memberi Anda pengalaman yang lebih baik di Facebook.”

Setelah diaktofkan, apliaksi Messenger mulai “untuk terus mengunggah kontak Anda serta riwayat panggilan dan text Anda.” Dan Facebook menegaskan pihaknya tidak menjual data dan tidak merekam pesan teks atau audio dari panggilan itu sendiri.

Tercatat ada sekitar 1,2 miliar pengguna Facebook Messenger pada tahun 2017. Tidak jelas berapa banyak pengguna yang mencatat riwayat panggilan atau teks di sana. Terlebih sistem operasi Android mendominasi pasar smartphone – atau sekitar 80 persen dari pangsa pasar. Sedangkan bagi pengguna iPhone tidak terpengaruh oleh kekhawatiran itu.

Para ahli teknologi komunikasi juga menyayangkan atas fitur layanan untuk merekam riwayat panggilan penggunanya sebagaimana yag dipromosikan oleh Facebook itu.

“Sangat tidak biasa bagi aplikasi untuk mengumpulkan data log panggilan, karena sebagian besar dari mereka tidak memiliki tujuan yang jelas untuk melakukannya,” beber Jason Hong – seorang profesor ilmu komputer di Carnegie Mellon University yang pakar dalam mempelajari privasi aplikasi.

Pulihkan Kepercayaan

Apa pun itu, Facebook akan kesulitan memulihkan kepercayaan pengguna yang masih “shock” atas berita pengambilan data pengguna oleh Cambridge Analytica tanpa sepengetahuan pemiliknya melalui aplikasi yang dirancang khusus untuk mengelabuhi pengguna agar memberikan data – termasuk data teman=temannya – lewat kuis kepribadian.

Penulis Avi Bagla juga bersaksi di akun Twitter – sejak 2015 menggunakan ponsel Android yang masuk ke Facebook Messenger. Ternyata Facebook memiliki log setiap panggilan telepon dan SMS yang dia kirim. Lewat screen shoot Bagla menunjukkan kepada NBC News riwayat panggilan dari 12 panggilan yang berbeda – apakah panggilan masuk atau keluar, nama penelepon lain, serta waktu dan durasi panggilan ke detik yang tepat.

Bagla mengatakan, dirinya “pecandu privasi” yang mestinya harus melewati izin dan terkejut ketika melihat catatan panggilannya di file. Dia pun menulis kepada temannya, dirinya tidak menyadari ada panggilan telepon atau SMS yang dia gunakan di luar aplikasi tersambung ke layanan itu,

Setelah hampir seminggu “menghilang”, Zuckerberg akhirnya tampil di depan wartawan pada Rabu pekan lalu dan mengakui te;ah terjadinya “pelanggaran kepercayaan” dan berjanji untuk memperbaiki masalah. Facebook juga menayangkan iklan satu halaman penuh di sejumlah surat kabar sepanjang akhir pekan.

“Saya minta maaf karena tidak bisa melakukan hal yang lebih baik pada saat itu,” begitu pernyataan yang tertulis pada iklan dengan tanda tangan Zuckerberg dan pernyatan, “Kami sekarang mengambil langkah untuk memastikan ini tidak terjadi lagi.”

Namun kepercayaan itu ibarat gelas, Sekali retak maka sulit memulihkannya seperti sedia kala. Jadi jagalah kepercayaan itu dengan benar.[] Sumber : NBC News

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here