Sakera, Simbol Militansi Perjuangan Arek Pasuruan

0
150
Ilustrasi Sakera (Sumber: Arislvr)

Nusantara.news, Kabupaten Pasuruan – Sakera yang merupakan sebuah simbol bagi masyarakat Kabupaten dan Kota Pasuruan ini menyimpan berbagai macam sejarah dan cerita yang panjang. Sekilas, Sakera merupakan julukan yang berasal dari bahasa Kawi, artinya ringan tangan dan ramah.

Sakera merupakan salah satu pejuang daerah sebelum kemerdekaan dan legenda kelahiran Bangil di Pasuruan, Indonesia. Berasal dari perantauan Madura yang kemudian berkelana ke Surabaya, menjajaki bumi Pasuruan di Kelurahan Raci, Bangil, Tampong, dan terakhir di Rembang tempat ia bekerja di  perkebunan tebu Kancil Mas.

Sakera bersama rakyat berjuang melawan penjajahan Belanda sekitar permulaan abad ke-19. Perjuangannya yang heroik terekam pada perlawanannya melawan ketidakadilan yang dilakukan oleh pegawai perusahaan tebu Belanda di Bangil kepada buruh pabrik, yang notabene banyak dari kalangan pribumi.

Masyarakat Pasuruan menyebut Sakera merupakan seorang pemuda yang memiliki keberanian, semangat tinggi dan daya juang yang gigih untuk menegakkan keadilan masyarakat Pasuruan kala itu.

Diceritakan, Sakera merupakan seorang pemuda dari Pulau Madura yang merantau ke Jawa Timur. Pemuda itu bernama Sagiman. Ia memutuskan untuk meninggalkan kampung halamnnya (Red: Madura) untuk mengadu nasib di luar pulau. Mengadu nasib di luar pulau memang telah menjadi tradisi bagi masyarakat Madura, tak khayal apabila kita menemui orang Madura tersebar dimana-mana. Kebanyakan dari mereka menjadi pedagang di berbagai wilayah.

Sakera memulai perantauan nasibnya di suatu wilayah yakni Kecamatan Rembang, Kabupaten Pasuruan. Di sana ia merasa cocok, dengan iklim Pasuruan yang kala itu masih dataran tinggi hijau membuat udara dan suasana di wilayah Pasuruan kala itu sejuk dan nyaman.

Ia pun merasa nyaman di Pasuruan melihat hamparan dataran tinggi, perkebunan sayuran, palawija, persawahan, tebu dan lainnya. Sebelumnya, ia tak menjumpai suasana seperti yang ada di Pasuruan. Akhirnya ia pun memutuskan untuk tinggal dalam waktu cukup lama di Pasuruan.

Ternyata, di Pasuruan ia juga menjumpai banyak warga keturunan Madura, hal itu menambah mantapnya hati Sakera untuk tinggal di Pasuruan. Sakera dalam kesehariannya bekerja sebagai mandor perkebunan tebu milik Belanda. Pekerjaan utama Sakera adalah mengawasi pengairan lahan perkebunan tebu.

Kisah cerita yang heroik dari Sakera tidak hanya menjadi lakon cerita rakyat dalam seni tradisional pertunjukan ludruk saja, melainkan cerita ini sempat dilirik dan diproduksi oleh industri perfilman tanah air pada tahun 1982.

BZ Kadaryono, Seorang ahli sutradara dan penulis scenario sejarah kala itu membuat Film berjudul Pak Sakerah dengan artis film ternama di era 80-an yakni; WD Mochtar sebagai Sakera, Alan Nuari (Brodin), Minati Atmanegara (Marlena, isteri muda) Chintami Atmanegara, Tien Kadaryono (Kinten, istri tua), Usbanda, Chaidar Djafar dan Sofia WD.

Perjuangan Bersama Buruh yang Tertindas

Rentang waktu yang cukup lama ia bekerja di perkebunan tebu milik Belanda, ia menemua sebuah tindak ketidakjujuran dan ketidakadilan para pengelola perusahaan tebu. Melihat hal tersebut pada awalnya hanya berdiam diri saja.

Namun, tindakan tersebut dilakukan terus menerus dalam waktu yang cukup lama, dan Sakera mengetahuinya. Melihat kesenjangan masyarakat yang semakin mengangga di mana kaum Pribumi kala itu hidup dengan jauh dari kata layak sedangkan para penjajah dan petinggi perusahaan tebu Belanda hidup dengan mewah.

Gaji para buruh pabrik dalam hal ini gaji para pribumi yang kian hari kian dipotong dan menurun membuat Sakera merasa geram. Melihat permasalahan dan kenyataan yang semakin parah tersebut, Sakera tergerak hatinya untuk menolong para buruh yang tertindas.

Ia menyadari, apabila dirinya hanya berdiam diri saja tanpa berbuat sesuatu justru akan semakin memperparah keadaan dan membari kesempatan pegawai Belanda untuk memperbesar kecurangannya. Para buruh akan semakin miskin dan para petinggi perusahaan semakin kaya.

Sakera pun mengambil tindakan dengan perlahan untuk mencari dalang dari ketidakjujuran para petinggi Belanda merugikan para pribumi (Red: buruh pabrik). Setelah lama dengan jeli mencari dan menyelidiki oknum yang memiliki peran besar dari kecurangan yang terjadi, akhirnya Sakera berhasil menemukan dalang kecurangan tersebut.

Akhirnya, diketemukan beberapa atasan pegawai Belanda yang menskenario tindak kecurangan sehingga mencekik gaji para buruh tebu yang notabene para pribumi. Ketika di klarifikasi oleh Sakera terkait perbuatannya, salah satu atasan pegawai Belanda mengelak atas beberapa tuduhan yang disampaikan oleh Sakera terkait perbuatannya.

Atasan pegawai Belanda itu pun tidak terima, di tuduh melakukan perbuatan tidak adil yang kemudian mengancam Sakera akan dilaporkan ke Pimpinan Perusahaan. Dengan tegap dan berpegang teguh dengan kebenaran, Sakera tidak gentar dengan ancaman yang diberikan oleh atasan pegawai Belanda tersebut.

Semakin hari, perseteruan antar Sakera dan atasan pegawai belanda semakin runcing dan panas. Intimidasi dan beberapa tindakan seperti potongan gaji, pembatasan, pengalihan, hingga pemberhentian kerja yang diterima saat itu membuat Sakera semakin geram. Sampai pada suatu ketika perseteruan tersebut berujung pada pertumpahan darah.

Sakera terpaksa menghabisi pegawai Belanda itu dengan celuritanya ketika ia ditantang berkelahi. Peristiwa itu terjadi di dalam kantor di ruangan atasan pegawai Belanda. Ketika Sakera bermaksud menuntaskan masalah kecurangan dan serangkaian hal tindakan yang dilakukan oleh pegawai Belanda.

Tanpa disangka, pegawai Belanda itu naik pitam dan mengancam Sakera dengan pistolnya yang ada di samping pinggangnya. Sebelum pistol pegawai Belanda itu menyalak, clurit Sakera terlebih dahulu menebas leher pegawai Belanda itu hingga tewas bersimbah darah.

Para pegawai Belanda lainnya merasa aneh dengan tingkah laku Sakera pada saat keluar dari ruangan atasan pegawai Belanda dengan baju berlumuran darah. Salah seorang pegawai Belanda lainnya mencari tahu.

Betapa terkejutnya saat ia melihat atasannya terbujur lemas dengan lumuran darah di dalam ruangan yang baru saja ditinggalkan Sakera. Dengan sigap pegawai yang mengetahui hal tersebut langsung melaporkan perbuatan Sakera membunuh pimpinannya. Akhirnya Sakera dijebloskan ke dalam penjara.

Penjara merupakan resiko yang harus diterima dari perjuangannya membela pekerja kebun tebu yang tertindas. Dengan dada lapang, ia menurut untuk digelendang polisi belanda masuk dalam bui kala itu.

Para pekerja tebu bersuka ria atas tewasnya salah seorang pegawai Belanda yang selama ini telah menyengsarakan hidup mereka. Mereka sepenuhnya mendukung perjuangan Sakera dalam membela nasib mereka yang dipermainkan oleh pegawai Belanda tersebut. “Hidup Sakera, Hidup Sakera, kau orang benar! Jangan takut dan mundur selama kau benar,” Gambaran sorak sorai para buruh kala itu.

Diburu Belanda dan Dikhianati Pribumi

Tak lama ia di penjara, beberapa tahun berlalu akhirnya di keluarkan karena bukti-bukti tindak kecurangan, korupsi, dibenarkan dan dimenangkan dalam pengadilan kala itu, dengan buruh tebu yang merasa di rugikan sebagai penuntut. Sakera pun keluar dari penjara disambut hangat oleh masyarakat pasuruan yang sebagian besar buruh perusahaan tebu.

Meskipun lepas dari penjara, Sakera pun tetap mendapat pengawasan dari Pemerintah Belanda, karena tingkat kritis pengetahuan dan membela masyarakat pribumi.  Ia pun di cap sebagai ekstrimis oleh Pemerintah Belanda, Bromocorah (pembuat onar) dan penjahat kejam oleh antek-antek Belanda.

Lepas dari penjara, Sakera tetap kritis pada masalah-masalah sosial di Pasuruan yang ada kala itu. Pemikiran kritis dan gigih dalam memperjuangkan hak-hak rakyat tetap tertanam dalam dirinya. Hingga ia mempelopori aksi angkat senjata celurit pada awal abad ke-19.

Aksi tersebut menjadi simbol perlawanan Sakera dan masyarakat bawah untuk bergerak melawan segala bentuk penindasan kaum penjajah. Masyarakat dengan dipelopori Sakera mulai berani melakukan perlawanan di berbagai daerah.

Namun, karena pendidikan yang masih rendah dan politik licik (devide et impera; pecah belah) Pemerintah Hindia Belanda sangat handal. Gerakan Sakera akhirnya berujung pada penggembosan dan penghkhianatan antar sesame pribumi yang membuat anak bangsa itu saling bunuh satu sama lain. Para Pejuang seperti Pak Sakera diadu dan dihasut dengan kaum Blater (jagoan) pribumi untuk saling berkhianat satu sama lain dengan iming-iming harta.

Sejatinya, Sakera memiliki kesaktian yang luar biasa ia dikenal bilih tanding dan selama ini sangat sulit untuk ditangkap maupun dibunuh oleh antek-antek Belanda. “Pak Sakera sulit untuk diketahui persembunyiannya. Kesaktiannya waktu itu tak ada yang bisa menandinginya,” urai  Faisol, Tokoh Desa Tampong, Kecamatan Rembang, Kabupaten Pasuruan.

Pemerintah Belanda kala itu kemudian mengadakan sayembara terbuka yakni menjanjikan akan memberikan seluruh hasil penarikan pajak pasar se-Karasidenan Pasuruan kepada setiap petarung atau jawara silat yang berhasil menangkap dan mengalahkan kesaktian Pak Sakera.

“Pak Sakera sempat beradu kesaktian dengan seorang lelaki misterius. Konon, lelaki itu memiliki kemampuan yang hampir sama dengan Pak Sakera. Tetapi kemudian, ia pergi tanpa melakukan penangkapan pada Pak Sakera,” urai Martina Ari Saraswati, dalam skripsinya yang membahas tentang Perjuangan Sakera.

Seperti nasib pahlawan daerah lainnya, Sakera ditaklukan oleh Pemerintah Belanda setelah mereka berhasil menghasut dan memecah belah rasa persaudaraan antar sesama Pribumi. Teman seperguruan Sakera di Batu Ampar, Madura H Asil dan H Bakri bersekongkol dengan Pemerintah dengan memberikan informasi terkait kelemahan Sakera.

Berdasarkan hasil penelusuran, Gubermen (Gubernur) Belanda waktu itu, Pemerintah mendapat kabar jika Sakera memiliki beberapa titik kelemahan.

“Pak Sakera memiliki kelemahan berupa darah sapi. Semua kekuatan Pak Sakera hilang setelah terkena darah sapi yang sudah disiapkan di salah satu lubang oleh antek – antek Belanda,” imbuh Martini, Mahasiswa ISI Jogjakarta yang mengaku mendapatkan sumber dari kerabat dekat Pak Sakera.

Sepak terjang Sakera berakhir dengan sebuah kisah penghianatan yang dilakukan oleh teman seperguruannya sendiri. Menurut sejumlah versi cerita lainnya, selain darah sapi, Pak Sakera juga memiliki kelemahan lain yakni bambu apus atau ilalang.

Peristiwa penangkapan Pak Sakera tersebut, dilakukan dengan cara menggelar hajatan berupa tarian tandak atau tayuban dengan penari samirah di Desa Tampung, Kecamatan Rembang, Kabupaten Pasuruan.

Sakera sangat mengidolakan penari tandak tayub yang bernama Samirah. Kali ini, pihak Pemerintah Belanda mengundang Samirah untuk memancing Sakera datang dalam hajatan tersebut. “Pak Sakera itu sangat mengidolakan tari tandak tayub Samirah,” ujar Bagong Sabdo Sinukerto, pemerhati seni dan budaya Pasuruan.

Tak disangka kedatangannya dalam hajatan seni tari tandak tayub tersebut ternyata berbuah petaka. Setelah dirinya menampakkan diri di muka umum, Salah seorang teman seperguruannya yakni H. Asik berpura- pura mengajak dirinya untuk berlaga seni bela diri di arena Tayub. Sakera terpelesat dan terjatuh di salah satu lubang yang telah direkayasa sebagai arena panggung oleh para antek Belanda.

Pak Sakera kemudian ditangkap oleh Belanda dan tubuhnya diseret beramai-ramai oleh para antek Belanda ke Alun-alun Bangil, untuk menunjukkan bahwa Sakera dapat ditangkap dan ditaklukan. Tubuh Sakera tak lecet sedikit pun padahal sebelumnya sempat diseret beramai-ramai dari lokasi awal penangkapan hingga Alun-alun Bangil berdasarkan cerita warga.

Berbagai macam tuduhan tak jelas arahnya, seperti pembunuh kejam, ekstrimis, pembuat onar dan lainnya dutuduhkan kepada Sakera sehingga dia dijatuhi hukuman. Meski tuduhan tersebut tak berbanding dengan hukumannya namun hukuman tersebut tetap dijalankan oleh Pemerintah Belanda yang berkuasa kala itu.

Sakera kemudian menghembuskan nafasnya setelah mendapatkan hukuman picis dari Pemerintah Belanda. “Ia dihukum picis (sebagian menyebut, hukum gantung di tengah alun – alun Bangil,”tambah Martini.

Nisan Sakera, di Gang Sakera

Sakera merupak sosok seorang tokoh yang sangat taat pada agama, hal tersebut tercermin pada saat  sebelum menjalami hukuman yang kejam tersebut, konon, Pak Sakera sempat meminta untuk bisa menjalankan Sholat Subuh.

“Sekarang, tempat penangkapan Pak Sakera diberi nama Gang Sakera, sementara lubangnya masih ada di dekat pemakaman umum desa sini,” ujar Abdul Mu’in, salah seorang warga Desa Tampung, Kecamatan Rembang, Kabupaten Pasuruan.

Filosofi dan Gaya Sakera

Sosok heroik Sakera semasa hidupnya menjadi cerita rakyat yang selalu dikenang bagi masyarakat Pasuruan, terutama para buruh pabrik tebu Belanda yang berjuang bersama Sakera untuk mengakkan keadilan dan kesejahteraan bagi para pekerja.

Pamor dan gaya dari Sakera pun menjadi tren bagi masyarakat Pasuruan, Madura dan daerah Pendalungan. Pakaian keseharian yang dipakai Sakera adalah pakaian tradisional Madura. Pakaian tersebut memiliki makna filosofis di baliknya.

Pakaian tradisional tersebut terdiri dari baju serta celana hitam longgar dengan kaos garis-garis merah putih atau merah hitam. Selain itu ada lagi pelengkapnya, yaitu tutup kepala, kain sarung, dan ikat pinggang. Pakaian ini biasa dipakai oleh para laki-laki untuk busana sehari-hari maupun resmi.

Baju adat Tradisional Madura yang sehari-hari dipakai Sakera

Baju hitam longgar yang dipakai oleh Sakera dalam kesehariannya disebut pesa’an. Ada pesa’an yang berwarna putih, yang biasanya digunakan oleh guru agama atau molang, seperti dalam legenda wirosableng pun juga busananya menggunakan pesa’an putih. Tapi, pesa’an milik Sakera berwarna hitam. Hal tersebut yang menjadi ciri khas. Sedangkan celananya disebut gomboran, celana lebar dan agak cingkrang.

Dominasi warna hitam, yang menjadi ciri khas pesa’an melambangkan sikap gagah dan pantang menyerah. Ini merupakan sifat kerja khas dari rakyat Madura. Pesa’an dan gomboran yang secara nyata memang serba longgar melambangkan kebebasan dan keterbukaan orang Madura. Selain itu, bentuk bajunya yang sederhana melambangkan kesederhanaan.

Nilai Hidup yang dapat Dipetik dari Perjuangan Sakera

Dari serangkaian sejarah cerita Sakera yang panjang, terselip nilai hidup yang dapat dipetik untuk menjalani kehidupan. Salah satunya yakni, Semangat pantang menyerah. Semangat Sakera yang tak henti-hentinya memperjuangkan keadilan dalam segi dan keadaan apapun kemudian patut kita teladani dalam kehidupan.

Karena hidup adalah sebuah perjuangan, dan bersama pengikutnya hampir tak pernah henti-hentinya melawan penjajah. Keluarganya pun juga mendapat ancaman kematian, beliau selalu berada pada barisan paling depan melawan bangsa belanda yang kejam. Baginya, kemerdekaan, kebebasan, dan keutuhan daerah harus diperjuangkan, walau sampai titik darah penghabisan.

Selanjutnya, yakni rela berkorban meskipun dalam perjuangannya ia kehilangan banyak waktu, tenaga, pikiran, harta ia tetap gigih dan semangat dalam berjuang. Hidup keluarga dan hidupnya sendiri menjadi taruhan. Hidupnya adalah benteng dan senjata terakhir melawan penjajah.

Semasa hidupnya dalam berjuang sakera tidak mengenal suku, ras, agama. Atas nama keadilan dan mekawan penindasan Sakera berdiri tegak untuk melawan. Ia selalu membela kaum minoritas, pekerja kasar, dan rakyat jelata.

Sakerah tidak suka kesemenah-menaan Bangsa Belanda yang menindas kaum lemah. Setiap tindakan tentara belanda, akan selalu di lawan oleh Sakera dan pengikutnya. Sikap tidak pandang bulu dalam berjuang yang perlu diteladani dalam kehidupan.

Meskipun pada saat itu Indonesia tidak memiliki senjata yang kuat seperti Belanda, namun semangatnya bersama buruh melawan penjajah dengan menggunakan alat seadanya seperti celurit, tombak, parang dan lainnya. Sedangkan Belanda bersenjatakan alat-alat yang lebih modern seperti pistol laras pendek dan laras panjang.

Perjalanan perjuangan Sakera dalam memperjuangkan kaum tertindas khusunya kaum buruh pabrik tebu yang ditindas oleh Belanda kala itu perlu kita teladani sekarang. Justru kini penjajah tak nampak hidungnya, penjajah secara perlahan melalu budaya, ekonomi yang secara tidak langsung berimbas pada masalah sosial seprti kemiskinan, kesenjangan, tindak ketidakadilan dan lainnya.

Sosok Sakera pun menjadi lambang Provinsi Jawa Timur. Sakera digambarkan pria kekar berkumis menggunakan pakaian tradisional Madura yakni hitam dan kaus lurik merah putih yang mempunyai arti yang filosofi bahwa baju hitam dan celana hitam di atas mata kaki adalah baju khas Pendalungan.

Pendalungan adalah suatu sifat, karakter, dan budaya yang multikultural dan sikap hormat terhadap berbagai macam suku dan etnis yang tinggal di Jawa Timur, seperti misalnya suku Jawa, Madura, Arab, Cina, India, Pakistan, Dayak, Tengger, Osing dll.

Sedangkan kaos lurik warna merah putih adalah simbol bendera bangsa Indonesia yang dapat menyatukan berbagai macam suku tersebut dalam satu Tanah Air, satu Bahasa, dan satu Indonesia.

Sampai saat ini Sakera tetap eksis dan hidup di masyarakat Pasuruan, namanya pun berkibar di lapangan  yang mana supporter sepakbola Pasuruan menggunakan julukkan Sakera mania. Cerita sejarah perjalanan panjang Sakera pun tetap hidup di kalangan muda yang menjadi simbol militansi perjuangan arek pasuruan.

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here