Saksi Kunci e-KTP Tewas, KPK Didesak Tahan Tersangka

0
175

Nusantara. News, Jakarta – Publik kembali heboh dengan kabar kematian saksi kunci kasus megaproyek e-KTP, Johannes Marliem di kediamannya di Baverly Grove, Los Angeles, Amerika Serikat pada Jumat (12/8/2017) malam. Kematian Marliem harus menjadi perhatian bagi KPK untuk segera menahan seluruh pihak yang terlibat , terutama yang sudah ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus e-KTP.

Marliem Saksi Kunci

Dalam kasus e-KTP, Marliem selaku Direktur Biomorf Lone LLC, Amerika Serikat. Peranaannya cukup vital, karena disebut sebagai penyedia produk automated finger print identification system (AFIS) merek L-1 untuk proyek e-KTP.

Meskipun hingga kini, penyebab kematian Marliem masih misteri dan sedang diselidiki otoritas AS, namun  masalah ini wajib menjadi perhatian serius Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang tengah mengusut kasus yang merugikan negara hingga Rp2,3 triliun itu.

Sebab, bukan tidak mungkin kematian Marliem terkait kasus e-KTP mengingat posisinya sebagai saksi kunci. Apalagi, Marliem disebut memiliki bukti rekaman 500 GB soal kasus yang melibatkan sejumlah tokoh penting termasuk Ketua DPR Setya Novanto (SN).

Saksi Kunci Lain

Jauh sebelum kasus kematian Marliem, seorang saksi kasus e-KTP bernama Paulus Tannos juga mengaku diancam akan dibunuh. Lantaran itu, Paulus memilih ke Singapura untuk menyelamatkan diri. Saat bersaksi di pengadilan Tipikor beberapa waktu lalu, pemilik PT Sandipala Arthaputra itu terpaksa harus bersaksi lewat video conference dari Singapura. “Saya diancam dibunuh. Saya tinggal di Singapura sejak Maret 2012 yang mulia,” tutur Tannos saat ditanya Majelis Hakim KPK.

PT Sandipala Arthaputra yanf dipimpin Paulus Tannos, adalah anggota konsorsium Percetakan Negara Republik Indonesia (PNRI) yang memenangi tender proyek e-KTP di Kemendagri.

Perusahaannya bertanggung jawab mencetak 103 juta blanko e-KTP dan personalisasi kartu serta distribusinya, sekaligus memasok chip buatan Oxel System Ltd Pte.

Oxel System Ltd sendiri adalah perusahaan milik Andi Winata, anak pemilik Artha Graha Grup, Tomy Winata. Namun dalam pelaksanaannya, chip itu tidak bisa terhubung dengan sistem biometrik yang akan dipakai. Karena, software dalam chip ternyata merupakan chip yang dipakai untuk proyek surat izin mengemudi (SIM) Polri. Akibatnya, Tannos rugi Rp 100 miliar.

Namun, Tannos dituding menipu  dan dilaporkan pengacara Oxel, Viktor Laiskodat yang kini menjabat Ketua Fraksi Partai NasDem DPR.

Demi keselamatan diri dan keluarga, Tannos kabur ke Singapura pada Maret 2012.

Selain Marleim dan Tannos, penyidik senior KPK, Novel Baswedan juga menjadi korban. Mantan polisi itu disiram cairan air keras oleh orang tak dikenal pada 11 April 2017. Saat itu, Novel baru saja shalat Subuh berjemaah di Masjid Jami Al Ihsan dekat rumahnya di Kelapa Gading, Jakarta Utara. Penyiraman itu pun banyak dikaitkan dengan kasus e-KTP, sebab Novel termasuk dalam tim penyidik kasus e-KTP.

Novel bahkan sempat menyebut dugaan keterlibatan perwira tinggi kepolisian dalam kasus yang menimpanya. Pasalnya, polisi terkesan lambat dalam menuntaskan kasus yang dianggapnya tidak sulit dibandingkan kasus teroris yang selalu sukses ditangani kepolisian.

Hingga kini, Novel masih di rawat di Singapore General Hospital. Kedua matanya masih dalam tahap penyembuhan akibat cairan air keras yang mengenai matanya.

Dilihat dari kedekatannya dengan kasus e-KTP, maka masih ada beberapa nama yang dapat dikategorikan sebagai saksi kunci. Misalnya Gamawan Fauzi, dan Andi Narogong. Gamawan Fauzi adalah Mendagri yang membawahi pryek e-KTP, sedang Andi Narogong disebut-sebut sebagai orang dekat Setya Novanto.

Seperti Marleim, sejauh ini pihak berwajib memang belum bisa mengungkap siapa di balik kasus penyiraman air keras ke wajah Novel. Sehingga, motifnya pun tentu masih misterius. Apakah kasusnya terkait proyek e-KTP yang sedang ditangani KPK atau tidak.

Namun, jika dicermati ada kesamanan dari Marliem, Novel, yang sudah menjadi korban, maupun Tannos, Gamawan Fauzy (masih bebas) dan Andi Narogong (sudah ditahan KPK), adalah pihak-pihak yang berada dalam lingkaran kasus e-KTP.

Jika, Marliem dan Novel kini sudah menjadi korban, maka tidak tertutup kemungkinan giliran Tannos, Gamawan Fauzi dan Andi narogong yang menjadi korban.

Karena itu, tidak kurang Ketua Komisi III DPR Bambang Soesatyo angka bicara. Menurut Bambang, KPK kurang memberikan perlidungan kepada para saksi.

“Sesuai Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2014 tentang Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK), disebutkan bahwa seorang saksi berhak mendapatkan perlindugan maksimal atau jaminan keamanan pribadi, keluarga, dan harta bendanya serta bebas dari ancaman terkait kesaksian yang akan atau sudah diberikannya,” kata Bambang.

Selain perlindungan kepada saksi, Bambang juga menyorot tersangka. “Penyidik sebaiknya juga melakukan penahanan tersangka kasus e-KTP,” kata Bambang.

Berdasarkan Pasal 21 ayat (1) Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP), penyidik dapat melakukan penahanan tersangka atau terdakwa dengan tiga alasan :

  1. Tersangka akan melarikan diri,
  2. Tersangka akan merusak atau menghilangkan barang bukti
  3. Tersangka akan mengulangi tindak pidana.

KPK sendiri sudah mengklaim memiliki ribuan bukti untuk menetapkan tersangka SN.

Juru Bicara KPK Febri Diansyah bahkan sempat menyebut sedikitnya memiliki 6.000 bukti. Seperti, keterangan ratusan saksi, bukti surat, keterangan ahli ataupun termasuk keterangan terdakwa (Irman dan Sugiharto).

Dalam tuntutan jaksa di pengadilan Tipikor, dalam proyek senilai Rp 5,9 triliun tersebut, SN mendapat bagian 11 persen atau Rp 574 miliar.

Kini bola di tangan KPK, apakah akan segera mengambil langkah konkret dengan menahan tersangka, atau membiarkan kasus e-KTP berkembang tidak jelas dan saksi kunci terus berjatuhan menjadi korban. []

 

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here