Saling Gertak AS – Korea Utara, Gertak Sambal?

0
487
Howard (kanan), pria berdarah Australia-China meniru pemimpin Korea Utara Kim Jong-un dan Dennis Alan meniru Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyapa penggemar rugby saat kejuaraan Hong Kong Sevens antara Australia dengan Korea Utara di stadion Hong Kong, China, Sabtu (8/4). ANTARA FOTO/REUTERS

Nusantara.news Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dua minggu lalu menggertak Korea Utara dengan mengirimkan armada kapal induk USS Carl Vinson ke perairan Semenanjung Korea. Korea panik, lalu kembali menggertak AS dengan mengancam akan meluncurkan rudal balistik berhulu ledak nuklir yang bisa memporak-porandakan daratan Amerika.

Benarkah semua gertakan itu? Nyatanya, seminggu setelah perintah Trump kirimkan armada kapal induk, USS Carl Vinson masih berada di Selat Sunda, ribuan kilometer ke Semenanjung Korea. Begitu pula dengan gertakan Korea Utara, meski dikhawatirkan memiliki senjata nuklir yang canggih, nyatanya pada minggu, (16/4) sehari setelah parade rudal di hari peringatan pendiri Korea Utara, sebuah rudal gagal meledak saat diluncurkan.

Pihak Korea Selatan, sekutu AS di kawasan itu, sebagai negara yang paling terancam jika perang Korea terjadi, berseloroh jangan-jangan semua gertakan itu bluffing (gertak) belaka alias cuma ‘gertak sambal’, baik yang dilakukan AS maupun Korea Utara. Jangan-jangan, parade rudal Korea Utara yang tampak megah itu pun, hanya pameran rudal kosong alias casing saja.

Gertakan Trump yang akan mengirim armada kapal induk ke laut Korea guna melindungi Korea Selatan dan Jepang dari ancaman Korea Utara, memang telah membuat Korea Utara panik. Tapi jika faktanya kapal induk AS itu tidak pernah ada di Semenanjung Korea, ini bisa menjadi bahan tertawaan, dan akan berdampak pada hubungan Korea Selatan dan AS, apalagi Korea Selatan sedang menghadapi pemilu presiden 9 Mei mendatang, setelah presiden lama dimakzulkan.

“Apa yang dikatakan Trump sangat penting untuk keamanan nasional Korea Selatan,” kata calon presiden Hong Joon-pyo kepada Wall Street Journal, Kamis (20/4).

“Jika dia (Trump) berbohong, maka selama masa pemerintahan Trump, Korea Selatan tidak akan mempercayai apa pun yang dikatakannya,” kata Hong sebagaimana dikutip CNN, Jumat (21/4).

Sementara, hasil pemilihan presiden Korea Selatan akan sangat memengaruhi hubungan AS dan Korea Selatan ke depan, sebab salah satu kandidat calon presiden ada yang pro Cina. Jika dia menang, maka kebijakan Korea Selatan akan lebih pro Cina. Beberapa kebijakan strategis pemerintah Korea Selatan bisa saja berbalik mendukung Cina, seperti kebijakan pemasangan anti-rudal THAAD di Seoul yang ditentang Cina karena dianggap mengganggu sistem keamanan negara itu.

Media-media di Korea Selatan melaporkan pemberitaan yang cenderung mengkritik pemerintah AS tentang armada kapal induk Car Vinson. Salah satu judul surat kabar di negara itu misalnya memberi judul, Carl Vinson bohong Trump, yang mengolok-olok ‘gertak sambal’ presiden AS itu, dengan menggambarkan bahwa para pemimpin Rusia dan Cina pasti tertawa terbahak-bahak saat Carl Vinson tidak datang-datang ke Laut Korea.

Di sisi lain media Korea Selatan juga mengolok-olok rudal balistik Korea Selatan, dengan menyebut sebagai “rudal palsu” yang diarak melalui jalan-jalan di ibukota Korea Utara.

“Seperti Korea Utara, yang sering dituduh menampilkan rudal palsu dalam parade militer, apakah Amerika Serikat juga sekarang menggunakan ‘gertakan palsu’ seperti Korea Utara?” kata media tersebut.

“Trump, (Wakil Presiden Mike) Pence dan (Menteri Pertahanan James) Mattis semua menggunakan ini (gertakan kapal induk) untuk meningkatkan ketegangan dan tekanan terhadap Korea Utara,” kata Yang Moo-jin, dari Universitas Korea Selatan, sebagaimana dituturkan kepada CNN.

“Kekuatan negara yang kuat berasal dari transparansi, bukan sebaliknya. Bagaimana AS mengharapkan Korea Selatan untuk mempercayainya saat pemimpinnya menggertak dan membesar-besarkan, perasaan orang-orang Korea Selatan sangat dirugikan oleh ucapan pemimpin sekutu Korea Selatan itu,” tambahnya.

Untuk menjawab provokasi Korea Utara yang beberapa kali meluncurkan uji coba senjata rudal balistik ke Laut Jepang, Presiden AS Donald Trump mengatakan bahwa armada kapal induk USS Carl Vinson dikirim ke perairan Semenanjung Korea.

“Kami mengirim armada, sangat kuat,” kata Trump kepada Fox Business Channel. “Kami juga memiliki kapal selam, sangat kuat, jauh lebih kuat daripada kapal induk, itu bisa saya katakan,” kata Trump saat itu.

Tapi ternyata, kelompok kapal induk tidak pernah benar-benar sampai di Semenanjung Korea, tapi malah mengarah ke latihan bersama dengan angkatan laut Australia.

Sejumlah pejabat AS bersikeras bahwa USS Carl Vinson sekarang sedang dalam perjalanan ke Laut Jepang, atau yang dikenal di Korea Selatan sebagai Laut Timur, tapi masih belum sampai.

Kamis (20/4) lalu, Angkatan Laut AS mengumumkan pihaknya memperluas penjelajahan Vinson selama 30 hari untuk berada di perairan Semenanjung Korea.

Meski gertak-gertak sambal, tapi bukan berarti ketegangan di Semenanjung Korea tidak membahayakan. AS sudah menindaklanjuti gertakannya dengan segera mengirim Carl Vinson ke Semenanjung Korea, dalam beberapa hari lagi mungkin akan sampai.

Bagaimana dengan Korea Utara? Jika rudal-rudal yang dipamerkan itu bukan sekadar gertakan? Jika senjata nuklir yang canggih itu memang ada dan siap diledakkan? Gertak sambal itu berubah jadi bencana. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here