Samber Nyawa, Panji Perang Mangkunegara I yang Menggentarkan

0
182
Ilustrasi Pangeran Samber Nyawa pada salah satu covr buku

Nusantara.news, Jakarta – Raden Mas Said atau Mangkunagara I, pahlawan nasional Indonesia, punya julukan legendaris: Pangeran Samber Nyawa. Namun, dari mana sebutan Samber Nyawa itu bermula? Dalam Wikipedia julukan Pangeran Samber Nyawa diberikan oleh Nicolaas Hartingh, perwakilan VOC, karena dalam peperangan dianggap selalu membawa kematian bagi musuh-musuhnya.

Informasi di Wikipedia tersebut dikoreksi oleh ahli sejarah Jawa asal Australia M.C. Ricklefs. “Itu adalah kesalahan tentang Samber Nyawa yang sudah banyak beredar,” katanya lewat tayangan video yang diputar dalam acara peluncuran buku barunya, Soul Catcher: Java’s Fiery Prince Mangkunegara I, 1726-1795, di auditorium UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta, Rabu (26/9).

Untuk mengoreksinya, Ricklefs mengutip Serat Babad Pakunegaran. Serat tertua tahun 1757 yang pernah ditulis di Jawa itu memuat otobiografi Pangeran Mangkunegara I atau R.M. Said. “Dari Babad Pakunegaran, bisa dikutip kata-kata Pangeran Mangkunegara sendiri,” kata Ricklefs.

Dalam naskah itu dijelaskan, muasal nama Samber Nyawa sebenarnya adalah nama dari panji perang pasukan Mangkunegara I. Panji tersebut berwarna biru kehitaman (wulung) dengan bulatan putih, yang kata Ricklefs disebut bulan sabit. “Jadi, Samber Nyawa itu berasal dari panji perang Mangkunegara,” jelas Ricklefs.

Menyoal Serat Babad Pakunegaran, judul itu merefleksikan variasi yang lazim mengenai nama-nama Jawa waktu itu: Mangkunagara kadang ditulis Pakunagara, Gunung Merbabu pernah dinamakan Gunung Prababu, dan sebagainya. Serat itu menyebut secara jelas bahwa Mangkunagara I-lah yang menulisnya: ingkang murwa carita, Kangjeng Pangeran Dipati, ingkang saking lalana andon ayuda.

Sejarawan Peter Carey yang menjadi narasumber launching buku Ricklefs mengungkapkan, Serat Babad Pakunegaran isinya semacam notulen ketika perang berjalan. “Sastra berbaur dengan pertempuran. Jadi, bagaimana membangkitkan ksatria,” jelas Carey.

Mengenai pribadi R.M Said, kata Carey, dia merupakan pemimpin yang di eranya begitu mengutamakan martabat perempuan. Ketika itulah, Jawa mengenal adanya Prajurit Estri di mana perempuan bisa maju sebagai pengawal raja yang terdidik. “Ini mencerminkan realitas dari Keraton Mangkunegaran. Harus diwariskan. Kalau negara mau maju harus memajukan pendidikan perempuan,” tegasnya.

Merle Calvin Ricklefs meluncurkan buku terbarunya berjudul “Soul Catcher; Java’s Fiery Prince Mangkunagara I (1726-1795)” di UIN Jakarta

Adapun guru besar sejarah dari UIN Syarif Hidayatullah, Azyumardi Azra, yang juga hadir sebagai narasumber, menyoroti bahwa masa Mangkunegara I merupakan era ketika pembentukan tradisi Islam Jawa dan Nusantara tergambar secara luas.

“Dia adalah tipikal orang muslim Jawa. Priyayi pencinta gamelan wayang tapi di saat yang sama dia juga muslim yang saleh. Suasana keislaman meningkat pada masa Mangkunegara I di keraton. Itu disebut dalam buku Ricklefs,” ujarnya.

Yang tak banyak diketahui, menurut Azyumardi, pendiri Praja Mangkunegaran itu juga sempat membangun pesantren di lingkungan Mangkunegaran. Dalam bukunya, Ricklefs menyebutnya sekolah. Namun, pada masa itu apa yang disebut dengan sekolah secara institusi belum ada. “Jadi, itu mengacu pada pesantren. Keterangan berikutnya dikasih tahu bahwa itu untuk menampung orang-orang belajar ilmu pengenalan Islam,” pungkas Azyumardi.

Dengan begitu, Mangkunegaran menjadi salah satu tanda munculnya Jawa sebagai pusat intelektual Islam baru. Sebelumnya, pada abad ke-17, pusat intelektual Islam ada di Sumatra, seperti Aceh dan Palembang.

“Dia punya rasa yang kuat dengan identitas Islam, bagian yang tak bisa terpisah dengan identias Jawanya. Menjadi Jawa dan menjadi muslim sekaligus,” ungkap Azyumardi.

Riwayat Panji Perang Samber Nyawa

Kembali ke panji Samber Nyawa, pada bagian Babad Tutur tertanggal 15 Oktober 1791, kita bisa membaca mengenai kehidupan Sang Pangeran sebelum tahun 1757 (saat masih berperang) sekaligus penjelasan soal panji Samber Nyawa. Panji perang Samber Nyawa dideskripsikan:

Bandera denarani, pun Samber Nyawa ranipun, mila ran Samber Nyawa, pilih kang tahan nadhani, yen anamber kang mengsah kathah kang pejah. Yen langkung ageng kang mengsah, m[a]ring wana ngardi ngo[n]cati, yen sedheng mengsah kapisah, sinamber saking ing wukir, mengsah kagyat keh mati, lamun dengengi kang mungsuh, ngo[n]cati dhateng wana, Jeng Gusti Pangran Dipati, kang bandera mila ran pun Samber Nyawa.

Terjemahannya: Panji perang Samber Nyawa namanya, dinamakan Samber Nyawa karena jarang orang bisa bertahan. Kalau menyambar, banyak musuh yang mati. Kalau musuh terlalu banyak, [Mangkunagara] melarikan diri ke hutan di gunung. Kalau jumlah musuhnya yang terpisah sedang, mereka disambar dari puncak gunung. Musuh terkejut karena banyak dari mereka yang mati, kalau musuh dijumlahkan. [Mangkunagara] sudah melarikan diri ke hutan di gunung. Karena itulah panji perang Sang Pangeran Adipati [Mangkunagara] dinamakan Samber Nyawa.

Pada era itu, lazim tokoh-tokoh pemimpin punya panji perang yang diberikan nama. Misalnya, panji perang Pangeran Mangkubumi bernama Gula Kalapa. Prawira terkemuka Rongga Prawiradirja punya panji yang namanya Geniroga (api penyakit) dengan gambar seekor monyet yang berwarna wulung.

Pangeran Samber Nyawa

Panji perang Samber Nyawa memang termasyhur di kalangan orang Jawa saat Mangkunagara masih berperang, dan merupakan simbol yang membuat gentar musuh-musuhnya. Bahkan, panji perang itu dianggap punya kekuatan luar biasa.

Salah satu peristiwa yang berhubungan dengan panji perang itu diceritakan dalam sumber Jawa maupun Belanda. Peristiwa itu terjadi pada Oktober 1756. Pada paruh kedua tahun 1756, situasi Mangkunagara semakin memprihatinkan. Bersama sisa pengikutnya yang masih loyal, berjumlah tidak lebih dari 400 prajurit, dan keluarganya, dia siap membela diri di daerah pegunungan di Kaduwang. Para musuhnya –Sultan Mangkubumi, Susuhunan Pakubuwana III, dan Kompeni Belanda– mengepungnya dengan menutup semua jalan. Sultan Mangkubumi, seorang perwira yang juga amat pemberani, memimpin tentaranya sendiri.

Dalam kondisi terjepit, penasihat utamanya, Kudanawarsa, yang sedang terluka, sangat takut akan masa depannya. Namun Sang Pangeran memilih sebuah jalan yang tak diketahui orang lain (dengan mengikuti burung-burung gagak yang sepertinya menjadi pemimpin gaibnya). Dia pun bisa meloloskan diri dari kepungan musuh tanpa diketahui mereka.

Dari daerah pegunungan, dia bergerak ke Desa Giyanti, tempat persetujuan antara Mangkubumi dan VOC pada 1755, dan membakarnya. Dari sana mereka mendekati daerah Mataram. Kudanawarsa dan para prajurit, yang masih diselimuti ketakutan, menekankan situasinya amat berbahaya dan mendorong Mangkunagara untuk mundur.

Namun, dicatat dalam otobiografi Serat Babad Pakunagaran, Sang Pangeran dengan tegas menjawab: “Walaupun saya mati, kalau sudah menemui ajal, jangan jauh dari Mataram, tempat pemakaman para leluhur saya. Mari kita bersama jangan menghitung mati, serahkan diri kepada Allah, mari kita masuk api!”

Pada 28 Oktober 1756, dengan 300 pasukan kuda andalannya, Mangkunagara keluar di jalan dari Prambanan ke Yogyakarta. Saat itu, Yogyakarta hanya dijaga sedikit tentara, karena kebanyakan tentara kasultanan yang dipimpin Sri Sultan dan kekuatan VOC masih berada di daerah Kaduwang untuk mencari Mangkunagara.

Saat itu, seorang bupati senior bernama Cakrakarti (atau Cakrajaya) sedang main kartu dengan orang Belanda di loji Kompeni. Seorang serdadu penjaga Eropa melihat ada kelompok pasukan yang mendekati dan masuk loji untuk bertanya apakah Sri Sultan dan Pangeran Mahkota sudah pulang dari medan perang. Cakrakarti keluar untuk melihat siapa yang memasuki kota.

Sekonyong-konyong Mangkunagara membentangkan panjinya, Cakrakarti terkejut begitu mengenali itu bukan panji dari pihak Yogyakarta! Mangkunagara dan pasukannya langsung menyerang keraton baru Sri Sultan yang terbuat dari kayu. Mereka lalu bergerak ke selatan keraton, ke kediaman Bupati Distrik Mataram Raden Adipati Jayaningrat.

Sang Bupati sedang minum teh dengan Tumenggung Sindusastra, kepala para pujangga kasultanan. Pihak Mangkunagara melepaskan tembakan. Kedua tokoh senior itu berusaha meloloskan diri lewat kebun namun gagal; Sindusastra ditangkap dan dibunuh sedangkan Jayaningrat terluka.

Di mana-mana, di keliling keraton, muncul kepanikan. Di gardu alun-alun kidul hanya ada 18 serdadu Kompeni. Mereka melepaskan dua salvo sebelum terpaksa kabur ke dalam keraton dan mengunci pintu selatannya. Mangkunagara mengejar. Menurut salah satu sumber Belanda, Mangkunegara dan pasukannya berperang “seperti macan”.

Tak dipungkiri, Mangkunegara I memang selain dikenal tokoh yang humanis, pecinta budaya Jawa, seorang muslim yang taat, juga disebut oleh Ricklefs sebagai sosok superior pada masanya. Kelihaiannya bergerilya dan berperang membuat sebutan “samber nyawa” tak semata-mata merujuk pada panji perangnya yang menggentarkan, tetapi juga disematkan pada sosoknya yang pemberani. Ia seorang komandan perang sekaligus pemimpin pemerintahan yang sanggup mengobarkan darah juang serta loyalitas rakyatnya, utamanya lewat doktrin Tiji Tibeh dan Tridharma.

Tiji Tibeh, yang merupakan kepanjangan dari “mati siji, mati kabeh; mukti siji, mukti kabeh (gugur satu, gugur semua; sejahtera satu, sejahtera semua)”, mengandung konsep kebersamaan antara pemimpin dengan rakyatnya.

Sedangkan Tridharma (tiga kebaktian), memuat prinsip-prinsip bernegara yang mengatur hubungan antara pemimpin, rakyat, dan tanah airnya. Tiga dharma itu adalah “(1) mulat sarira hangrasa wani (berani introspeksi diri), (2) rumangsa melu handarbeni (wajib merasa memiliki), (3) wajib melu anggondheli (wajib ikut mempertahankan).”

Legiun Mangkunegaran, perintis tentara modern yang menggabungkan unsur Barat (Eropa) dengan Jawa

Tidak hanya itu, Pangeran Sambernyawa juga dianggap peletak dasar strategi perang gerilya. Teknik perang gerilya yang gunakannya yaitu jejemblungan, dhedhemitan, dan weweludanJemblung (seperti orang gila yang tidak punya rasa takut), dhemit atau hantu (sulit dilacak keberadaannya), serta welud atau belut (sangat licin ketika hendak ditangkap).

Strategi itu kemudian ditiru Panglima Besar Jenderal Sudirman saat berjuang di hutan melawan penjajah. Lalu strategi ini disempurnakan oleh Jenderal A.H. Nasution melalui buku yang ditulisnya, dan hingga kini strategi gerilya itu dipakai pasukan elite di tubuh TNI.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here