‘Sandiaga Effect’ Ungguli ‘Jokowi Effect’

0
193

Nusantara.news, Jakarta – Calon wakil presiden nomor urut 02 Sandiaga Uno dianggap lebih kreatif ketimbang lawannya calon presiden inkumben Joko Widodo atau Jokowi. Begitulah hasil survei yang digelar Alvara Research Center, beberapa waktu lalu. Sandiaga Uno unggul secara kreatifitas dengan perolehan 62 persen, dan Jokowi menempati urutan kedua dengan 59,8 persen.

Kreativitas atau creativity yang dimaksud dalam survei ini adalah menggunakan cara-cara kreatif dalam berkomunikasi dengan pemilih. Sandiaga Uno memang acap menyebut istilah tak biasa saat berkampanye. Mulai dari melontarkan istilah tempe setipis kartu ATM untuk membahasakan ekonomi lesu. Istilah politik teletubbies untuk menyebut kampanye yang damai dan bersahabat, serta istilah lainnya.

Di luar itu, jika melihat aktivitas Sandiaga di media sosial, ia juga kerap mengadopsi sesuatu yang sedang tren di kalangan anak muda. Misalnya, melalui video seberapa gereget dalam akun Instagramnya. Selain itu, ia juga tak ragu menggaet para influencer instagram atau selebgram untuk terlibat dalam aktivitas daringnya.

Menyoal busana dan pembawaan, Sandi juga tak mau kalah dengan Jokowi. Ia mulai sadar bahwa pembawaan ‘anak muda’ itu penting dalam konteks politik. Sandi tetap bergaya selayaknya anak muda seperti memakai sneakers dan celana chino sebagai identitas kemudaannya. Apalagi ia diberkahi tampang rupawan dan gelimang harta. Tak heran, ‘keunikan’ dan style Sandi ini menjadi ‘gereget’ tersendiri, utamanya bagi kalangan muda dan ‘emak-emak’.

Pengamat politik mengatakan gaya komunikasi Sandiaga Uno ini sebagai politik dumbing down, yakni tren istilah yang muncul di Eropa dalam 10 tahun ini untuk menyederhanakan kalimat politik dan kampanye yang sangat serius. Kini di era milenial, ketika politik bagi sebagian orang adalah hal yang membosankan, apalagi bagi anak muda, maka kreativitas adalah bagian penting dalam sebuah kampanye politik. Dengan begitu, kondisi politik tampak terkesan lebih fun dan dapat diterima dengan mudah.

Berbicara tentang kreativitas, tak bisa dilepaskan dari peran budaya pop yang memaksa politisi untuk beradaptasi dengan sesuatu yang sedang tren atau viral saat ini. Lalu apa itu budaya pop dan bagaimana signifikansinya dalam politik? Menurut Julie McGaha dalam tulisanya Popular Culture & Globalization, budaya populer  adalah totalitas ide, perspektif, perilaku, meme, citra, dan fenomena lainnya yang dipilih oleh konsensus informal di dalam arus utama sebuah budaya.

Dalam politik modern, budaya populer menjadi semakin penting sebagai alat komunikasi politik. Hal ini diungkapkan Liesbet Van Zoonen dalam tulisanya Popular Culture as Political Communication yang menjelaskan bahwa fungsi budaya populer adalah sebagai panggung politik. Ia juga mencontohkan banyak anekdot para politisi yang tampil di panggung budaya populer yang akhirnya berhasil menarik simpati para pemilihnya. Misalnya Bill Clinton yang tampil dalam salah satu talkshow populer Amerika, Arsenio Hall, di tahun 1992. Pada waktu itu, ia memainkan saksofon yang seketika membuat dirinya kian populer menjelang pemilu.

Ada contoh politisi lain misalnya seperti Harold Wilson, mantan perdana menteri Inggris yang pada saat kemunculan band fenomenal The Beatles, ia mendapat simpati publik secara luas setelah berfoto dengan band yang sempat diketuai John Lennon tersebut. Boris Yeltsin, mantan presiden Rusia juga pernah mendompleng ketenaran sebuah band rock ketika menari bersama di panggung.

Dalam konteks politik Indonesia, kejenakaan penampilan Jokowi yang terkesan lebih pop melalui aksi menunggangi sepeda motor pada pembukaan Asian Games beberapa waktu lalu misalnya, bukan berarti tak memiliki tujuan secara politik. Aksi Jokowi tersebut memang dimaksudkan untuk mendatangkan atensi di media masa dan ledakan meme di internet.

Belum cukup, Jokowi juga mencoba memasuki ruang-ruang panggung budaya pop guna menggaet kaum muda milenial. Sebut saja beberapa fenomena Jokowi menyoal gayanya yang dianggap seperti anak muda melalui jaket bomber, jaket jeans, sepatu sneakers, modifikasi motor, menyukai musik metal, hingga menggunakan istilah-istilah dari film fiksi populer dalam pidato resmi kenegaraan.

Namun, dari kubu penantang muncul Sandiaga. Kehadirannya seolah mampu ‘mematahkan’ dominasi Jokowi di ruang-ruang budaya pop lewat berbagai gimmick dan kreativitasnya selama ini. Mantan wakil gubernur DKI Jakarta ini digadang-gadang popularitasnya mampu menantang sang petahana. Bisa dikatakan, tim oposisi cukup bisa bernapas lega karena Sandiaga effect juga tak kalah populer dari Jokowi effect.

Kembali pada hasil survei Alvara Research yang menyebut kreativitas Sandi lebih unggul dari Jokowi, memang cukup mengejutkan. Meski tidak apple to apple, tapi begitulah penilaian publik. Bahwa ternyata sosok Sandiaga justru lebih mampu bersanding dengan Jokowi ketimbang Jokowi dengan Prabowo atau Sandiaga dengan Ma’ruf Amin. Dan, jika berbicara jam terbang secara politik, Jokowi harusnya lebih unggul secara personality dibanding Sandiaga.

‘Rabu Biru’, Bentuk Lain Sandiaga Effect

Salah satu acara ‘Rabu Biru’

Tak sampai di situ, Sandi bersama pendukungnya juga menggagas kampanye kreatif dengan apa yang disebut ‘Rabu Biru’. Gerakan ini sangat berbeda dengan “the power emak-emak” yang dimotori Neno Warisman, beda pula dengan gerakan “Ganti Presiden” berbasis 212 yang sangat kental ada unsur Partai Keadilan Sosial (PKS).

Rabu Biru adalah gerakan kampanye yang sejuk, damai, berkarakter dan mempunyai magnet yang begitu besar di masyarakat. Gerakan ini dimotori oleh beberapa sayap paslon Prabowo Subianto-Sandiaga Uno (PADI), yakni: Laskar Prabowo Indonesia (Ketum: Saimy Saleh), Bersama Prabowo Sandi – BPAS (Ketum: Henk Mahendra), dan Relawan BY (Buni Yani). Ada juga Sandi Uno Community Milenial PS (Iwan), dan Melati Putih Indonesia (MPI) yang ketuanya Vivi Sumanti, serta Japri (Jaringan Pribumi) pimpinan Muhadi.

Istilah “biru” pada gerakan Rabu Biru ini berawal dari kebiasaan cawapres Sandiaga yang sering mengenakan busana serba biru. Kemeja biru selalu digunakan Sandi mulai saat pengumuman, pendaftaran ke KPU sebagai Cawapres Prabowo Subianto, hingga ‘blusukan’ ke berbagai daerah. Sandi menyebut, warna biru sebagai simbol pekerja, filosofi warna biru dan krem dari gerakan Rabu Biru adalah elegan dan percaya diri. Dia juga memaknai biru sebagai simbol kesejukan, artinya berpolitik dengan sejuk (damai).

Sama dengan gerakan “the power emak-emak” dan “2019Ganti Presiden”, “Rabu Biru” belakangan ini mulai marak. Tak hanya di Jakarta, setiap Rabu di beberapa kota “pemakai” kemeja biru dikombinasi celana krem semakin tak terbendung. Gerakan yang disebut ‘silent campaign’ ini pun, sanggup membetot simpati publik, khususnya kelas menengah perkotaan.

Melihat serangkaian manuver dan kerativitas politik Sandi, kubu petahana tentu patut khawatir. Di titik ini, pesona Sandi mampu memperluas ceruk pemilih Prabowo. Sementara Ma’ruf, nampaknya tidak ada yang bisa banyak diharapkan  untuk memperluas segmen pemilih, utamanya pemilih muda dan emak-emak, selain berharap pada kelompok Islam tradisional semata.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here