Sandiaga Uno, Daya Tarik Cawapres “Black Swan”

0
223

Nusantara.news, Jakarta – Sandiaga Uno menyodok di hari-hari terakhir proses lobi cawapres Prabowo. Kemunculannya seolah menjadi pemecah kebuntuan politik koalisi Prabowo yang sama-sama berkeras menempatkan kadernya sebagai cawapres: Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) yang disodorkan Partai Demokrat dan Salim Segaf Al-Jufrie yang diusulkan Partai Keadilan Sejahtera. Sementara Partai Amanat Nasional (PAN) lebih melunak dengan menawarkan cawapres dari luar partai.

Akhirnya, di pengujung malam, Kamis, 9 Agustus 2018, Prabowo Subianto resmi mendeklarasikan diri sebagai capres pada Pilpres 2019 dengan cawapresnya Sandiga Salahuddin Uno. Deklarasi digelar di kediaman Prabowo, Kertanegara, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Terpilihnya Sandi, panggilan akrab Wakil Gubernur DKI tersebut, memang tidak mudah. Namun, kata Prabowo, Sandi adalah pilihan terbaik dari beberapa pilihan kandidat yang ada.

“Gerindra, PKS, dan PAN telah memberi kepercayaan kepada saya dan Saudara Sandiaga Uno untuk maju sebagai calon presiden dan calon wakil presiden Republik Indonesia,” demikian kata Prabowo dalam deklarasi yang disaksikan elite PKS dan PAN sebagai mitra koalisi. Demokarat, meski tak hadir di saat deklarasi serta sempat diwarnai “keributan kecil”, namun di detik-detik akhir partai besutan SBY ini memutuskan tetap berkoalisi dengan kubu Prabowo.

Penunjukkan Sandi memang mengejutkan, tidak saja bagi partai koalisi Prabowo tetapi juga bagi kubu Jokowi. Sebagai sebuah kejutan, kisah tentang Sandi ini serupa the Black Swan atau kejadian Angsa Hitam. Nassim Nicholas Taleb dalam bukunya The Black Swan: The Impact of The Highly menyebut konsep Black Swan secara umum berbicara tentang fenomena atau kejadian-kejadian yang sama sekali tidak diprediksi, namun ketika terjadi punya dampak yang sangat besar, dan ketika sudah terjadi barulah orang “ngeh” atau mendapatkan gambaran tentang penjelasannya.

Secara spesifik, ia menyebut tiga syarat sebuah kejadian disebut sebagai Black Swan event: tidak terprediksi atau terpikirkan, punya dampak yang besar, dan baru mendapatkan penjelasan setelah terjadi. Fenomena Black Swan ini misalnya bisa dijelaskan dalam kemunculan Donald Trump. Dalam segala pertautan persoalan yang ada, termasuk yang mempengaruhi keterpilihannya saat Pilpres Amerika Serikat pada 2016 lalu, Donald Trump adalah seorang  Black Swan. Kemenangannya tidak terprediksi, punya dampak yang besar, dan setelah berkuasa barulah orang-orang melihat kembali dan mulai menganalisis penyebabnya.

Dalam konteks Sandi, terpilihnya pengusaha muda itu nyatanya juga memenuhi semua faktor yang membuatnya bisa dikategorikan sebagai Black Swan: awalnya tak terprediksi, tak diperhitungkan, dan cenderung rendah probabilitasnya, namun ketika terjadi punya dampak yang besar. Setelah Sandi terpilih, semua orang baru merasionalisasi seberapa kuat posisi politik dan kapasitas finansialnya untuk mendukung pencalonan dirinya mendampingi Prabowo. Sebelumnya, semua orang seolah lupa bahwa Sandi bukanlah sosok sembarangan.

Daya Tarik Sandiaga Uno

Jika Jokowi memilih Ma’ruf Amin sebagai kompromi atas tuntutan dari partai-partai koalisinya serta semacam penangkal dari sentimen anti-Islam, maka Sandiaga dipilih Prabowo selain sebagai jalan tengah, juga karena mewakili elite politik baru yang berasal dari kalangan pengusaha-profesional yang diharapkan mampu mengelola isu-isu ekonomi. Hal ini sekaligus menunjukkan Prabowo ingin menawarkan narasi baru yang lebih fresh dan menjual, tak melulu pada politik identitas keagamaan. Sebab, jika Prabowo masih menggunakan narasi lama, sepertinya akan susah bersaing dengan Jokowi.

Namun jika narasi kampanye Prabowo-Sandiaga berubah, misalnya soal isu ekonomi, keadilan, kesejahteraan rakyat, protoleransi, dan nasionalisme, maka Jokowi akan kesulitan memenangi pemilu. Terlebih, kubu Jokowi kerap melambungkan narasi-narasi lawas yang diulang-ulang dan membosankan seperti intoleransi, tudingan hoax, tolak politik identitas dan politisasi agama. Tema-tema narasi itu, utamanya soal politisasi agama dan politik identias, kini jutsru menjadi warna baru politik kubu Jokowi. Sehingga dalam konteks ini, pragmatisme Jokowi dalam memilih cawapres lebih “telanjang” ketimbang Prabowo.

Di luar itu, Sandiaga juga diharapkan bisa menarik suara dari kelompok milenial (pemilih muda) yang jumlahnya lebih dari 50 persen dari total jumlah pemilih pada Pilpres 2019, perempuan, dan ibu rumah tangga (emak-emak) yang juga signifikan populasinya. Jika tiga “golongan” pemilih ini mampu digaet maksimal, tentu merupakan kunci kemenangan bagi Prabowo-Sandi. Pun jangan lupa, tampilan luar seperti wajah tampan Sandi dan estetika lainnya, masih jadi penentu preferensi pemilih tradisional.

Sandiaga Uno di Masjid Sunda Kelapa Jakarta jelang pendaftaran ke KPU sebagai cawapres mendampingi capres Prabowo Subianto di Pilpres 2019

Pengamat Politik Lingkar Madani (Lima) Ray Rangkuti menilai, dengan memilih cawapres Sandiaga Uno, Prabowo akan menarik massa tengah lebih besar ketimbang pasangan Jokowi-Ma’aruf Amin. Massa tengah yang dimaksud Ray adalah massa yang belum menentukan pilihan politik. “Potensi dari Prabowo-Sandi lebih banyak peluang menarik massa. Kalau dilihat yang sektor tengah, ingin pemilih milenial, kelompok kelas menengah, terdidik yang di mana figurnya Sandiaga bisa masuk ke sini. Sementara Ma’aruf tak memiliki daya tarik di kalangan massa tengah,” kata Ray.

Sandiaga lahir di Pekanbaru, Riau pada 28 Juni 1969. Beasiswa mengantarkan Sandiaga menamatkan studi di Wichita State University pada 1990 dan George Washington University pada 1992. Pria yang beberapa kali dinobatkan sebagai salah satu manusia terkaya di Indonesia oleh sejumlah media internasional ini sebenarnya mengawali kariernya seperti orang kebanyakan. Pada 1990, Sandiaga tercatat sebagai karyawan Bank Summa.

Periode 1993 hingga 1995, ia sempat bekerja untuk perusahaan besar di Kanada dan Singapura dengan penghasilan yang cukup besar. Krisis moneter yang melanda Asia pada 1997 ternyata berdampak cukup berat terhadap mata pencahariannya. Perusahaan tempat dia bekerja mulai terseret krisis. Sejak pertengahan tahun itu, Sandi tidak lagi menerima gaji. Setelah dipecat tanpa pesangon dan uang kian menipis, Sandiaga dan keluarga kecilnya memutuskan pulang ke tanah air walau amat berat.

Di Jakarta, situasi perekonomian ternyata lebih parah. Ia harus berjuang mencari pekerjaan ketika PHK sedang marak-maraknya. “Saya mengirimkan 25 lamaran kerja, semuanya ditolak,” kisahnya. Namun, bahkan tanpa ia duga, Sandiaga mampu bangkit di tengah krisis. Di sela kesulitan itu, ia bertemu dengan dua kawan lamanya, Rosan Perkasa Roeslani dan Elvin Ramli. Mereka memberanikan diri mendirikan perusahaan penasihat keuangan bernama PT Recapital Advisors.

Lalu bersama Edwin Soeryadjaya, putra William Soeryadjaya (pengusaha papan atas pemilik PT Astra Internasional), ia menggerakkan perusahaan investasi PT Saratoga Investama Sedaya pada 1998. Sebuah perusahaan investasi yang bergerak di bidang pertambangan, telekomunikasi, konsumer dan produk kehutanan.

Sandiaga rupanya punya keahlian khusus dalam urusan menyehatkan perusahaan yang sedang sakit alias di ambang pailit. Ketika banyak perusahaan yang terpuruk lantaran diterpa badai krisis, ia justru membelinya, menyehatkannya, lalu dijual kembali dengan harga yang lebih tinggi. Dengan cara inilah Sandiaga Uno meniti jalan menjadi konglomerat.

Kecemerlangannya mengelola bisnis mengantarkan Sandiaga menjadi Ketua Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi). Salah satu fokus dia saat di Hipmi adalah memberdayakan usaha mikro kecil dan menengah (UMKM). Dia juga pernah menjabat sebagai anggota Komite Ekonomi Nasional (KEN) dan bendahara Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia (ICMI) sejak 2011.

Setelah malang melintang di dunia usaha, Sandi pun mencoba peruntungan di jagat politik. Dia bergabung dengan Gerindra pada 8 April 2015 setelah ikut dalam tim sukses Prabowo Subianto di Pilpres 2014. Ia pun kemudian didaulat mejadi cawagub pada Pilkada DKI Jakarta 2017 mendampingi Anies Basewdan. Sebelum mendampingi Anies, Sandiaga lebih dahulu bergerilya sendiri. Dia mulanya berniat jadi calon gubernur. Kemudian setelah Anies tidak lagi menjabat sebagai Mendikbud di Kabinet Kerja, Sandiaga akhirnya jadi cawagub.

Pada putaran kedua Pilgub DKI, Anies-Sandi mengalahkan pasangan petahana Basuki Tjahaja Purnama (Ahok)-Djarot Saiful Hidayat. Sandiaga kemudian dilantik menjadi Wagub DKI Jakarta pada Oktober 2017 sehingga dirinya baru menjabat sekitar 10 bulan sebelum akhirnya mengundurkan diri dari jabatannya untuk bertarung di Pilpres 2019.

Dalam acara perpisahan usai dirinya mundur, tampak raut muka sedih terpancar dari para koleganya di Pemda DKI Jakarta. Bahkan Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta Andri Yansyah tak bisa menyembunyikan air matanya. Andri mengaku kehilangan. Bekerja bersama Sandiaga selama 10 bulan terakhir memiliki kesan sendiri bagi dirinya. Menurut dia, Sandiaga pemimpin yang cerdas dan bersahaja, terbuka untuk berdiskusi dengan siapa saja, juga mampu mencairkan suasana.

“Saya ini terbilang orang yang keras dan tegas, tetapi kali ini sempat enggak kuat juga menahan air mata. Sampai enggak bisa mengatakan apa-apa. Beliau selalu menganggap bawahannya sebagai sahabat, ini pelukan seorang sahabat. Saya sangat bangga pernah dalam satu tim dengan Pak Sandi,” kata dia.

Kini, di tengah pandangan sebelah mata dari sementara kalangan, apakah penggemar olahraga yang oleh Presiden PKS Sohibul Iman disebut santri di era modern (post-islamisme) ini mampu menjadi pemicu kemenangan Prabowo di Pilpres 2019 mendatang? Dan, akankah Sandi mampu menggenapkan kegemilangannya tidak hanya di dunia bisnis tetapi juga di dunia politik? Peluang itu tentu ada. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here