Sang Pewaris Reog Ponorogo

0
507
Seorang perempuan muda binaan Padepokan Bathoro Katong mengangkat dadak merak Reog Ponorogo, Minggu (26/11/2017). Aksi tersebut menjadi pemandangan yang tidak biasa. Foto: novi

Nusantara.news, Surabaya – Alat musik kendang, tipung, kempul, kenong, angklung, dan sompret saling beradu. Lalu menghasilkan alunan musik yang indah. Itulah yang dimainkan pengrawit Padepokan Bathoro Katong. Alunan musik khas menandakan pagelaran kesenian Reog Ponorogo segera dimulai.

Para pemain Reog Ponorogo biasanya tampil dengan beragam atribut yang menjadi ciri khas Reog. Ada warok, jathil, ganongan, klono sewandono, dan tentunya paling khas dadak merak.

Untuk warok, ciri khasnya mengenakan celana kombor, jarik, stagen, kolor, wok (kumis buatan) dan penadon. Untuk pemain jathil atribut yang kenakan celana, jarik, stagen, sampur, sabuk, boro, binggel, baju, sempyok, udeng, eblek (kuda). Bagi pemain ganongan, mereka pakai rompi, celana, sampur, binggel, sabuk dan topeng. Untuk pemain klono sewandono mengenakan meliputi celana, jarik, uncal, sabuk, sampur, cakep, klat beho, kace, topeng, boro. Sementara untuk pembarong yang mengangkat dadak merak, mereka celana gembyong, kain mori, dan embong.

Saat itu Padepokan Bathoro Katong pimpinan Sugiri Heru Sangoko, tampil di Rungkut Harapan, Surabaya, Minggu (26/11/2017). Kesenian Reog Ponorogo ini langsung memukau orang-orang di sekitarnya. Penonton mendadak ramai. Meski sempat diguyur hujan, namun tidak menyurutkan para pelaku seni Reog Ponorogo memberi sajian klasik.

Acara makin memanas saat pembarong mulai mengangkat dadak merak. Dadak merak seberat 30-40 kilogram itu diangkat dengan hanya menggunakan kekuatan gigi. Satu hal yang mustahil. Satu pemain mulai menunjukkan tarian.

Saat dadak singo ludro berhasil ditegakkan, satu pemain mulai berjalan pelan mengikuti alunan musik. Pelan dan pelan, dia mulai menari. Tidak berapa lama muncul lagi pembarong satunya. Secara bergantian mereka menari. Yang dua baru selesai menari, muncul lagi dua pembarong. Sehingga ada empat pembarong yang menampilkan kesenian Reog Ponorogo.

Munculnya empat pembarong langsung menjadi daya magnet masyarakat. Dadak singo ludro dikibas-kibaskan silih berganti. Cukup cekatan. Mereka berguling-guling ke tanah, lalu meliuk-liuk. Mereka bangkit lagi dengan susah payah. Penonton pun bersorak.

Pembarong dari Padepokan Bathoro Katong menampilkan tarian khas yang memukau banyak orang.

Nah, di saat dadak merak sedang dimainkan, salah satu pembarong didatangi seorang perempuan muda. Dandanannya biasa, dan cukup seksi. Dengan mengenakan kaos dan celana ketat. Si pembarong lantas menjatuhkan dadak merak. Mereka tampak berbincang sebentar. Lalu tak lama, perempuan muda tersebut masuk ke dalam kepala dadak merak. Penonton sempat mengira dia akan diangkat oleh pembarong, tapi mereka kecele. Rupanya perempuan itu menjadi pembarong.

Benar-benar luar biasa. Penonton yang memadati langsung histeris melihat pembarong perempuan mampu mengangkat dadak merak. Sungguh di luar nalar. Alunan musik makin rancak. Para pemain makin bersemangat. Teriakan-teriakan pemain makin kencang untuk memberi semangat pembarong perempuan. Setelah diam sejenak atau mungkin mempersiapkan kekuatannya, pembarong perempuan mulai menari. Suasana makin hingar. Sekitar 7 menit perempuan itu menari sembari mengangkat dadak merak. Usai menari, perempuan itu meletakkan dadak merak sembari tersenyum sumringah. Tepuk tangan penonton membahana.  Dia berlari ke arah pemain gamelan dan duduk di sana.

Sugiri Heru Sangoko mengatakan, kesenian Reog Ponorogo kini mulai diminati generasi muda. Dalam menghadapi jaman modern dan kemajuan teknologi yang cukup pesat, memang tingkat kesadaran masyarakat Indonesia soal kebudayaan sangat rendah. Namun kesenian ini boleh dibilang cukup berhasil mengambil hati anak muda. Hal itu tidak lepas dari semangat para pegiat seni sekaligus pelestari Reog Ponorogo yang ingin mewariskan kesenian tersebut kepada generasi muda.

“Kita tidak boleh mengabaikan kesenian warisan nenek moyang. Ada banyak kebudayaan di Indonesia yang perlu dilestarikan. Paling susah mempertahankan kebudayaan itu agar tidak punah. Sebab kebudayaan bagian dari peradaban. Itu identitas bangsa. Tanpa kebudayaan negara akan mati,” kata Ketua Persatuan Reog Ponorogo Indonesia (PRPI) Jawa Timur ini.

Saatnya Reog Ponorogo Regenerasi

Kesenian Reog Ponorogo bukanlah pertunjukan atau hiburan instan. Melainkan sudah menjadi tradisi leluhur turun temurun. Karena itu Mbah Heru, sapaan akrab Sugiri Heru Sangoko, sangat concern dengan kesenian tersebut. Di sanggar Padepokan Bathoro Katong, yang beralamatkan Rungkut Asri Barat no. 2, Surabaya, Mbah Heru banyak menampung anak-anak muda untuk giat belajar kesenian Reog Ponorogo.

Di sanggar Bathoro Katong, Mbah Heru sudah menyiapkan segala macam atribut Reog Ponorogo untuk dipelajari. “Di sini anak-anak bebas berlatih kapan pun. Bahkan setiap minggu kami menyiapkan pelatih yang ahli di bidang Reog untuk mengajari mereka. Kami tidak memungut biaya. Justru kami senang anak-anak sudah bersedia datang. Dengan begitu mereka punya minat cukup besar untuk belajar. Harapan kami anak-anak dapat menjadi regenerasi masa depan bagi kesenian Reog Ponorogo. Inilah kepuasan batin kami,” tutur Mbah Heru.

Para pemain karawitan Reog Ponorogo.

Disebutkan Mbah Heru, banyak anak muda datang dari segala penjuru untuk belajar kesenian. Ada yang tertarik bermain gamelan, ada yang ingin belajar menari, ada yang bernyanyi. Ya, dalam sanggar Bathoro Katong, Mbah Heru tidak hanya terpaku pada satu kesenian saja.

“Ada banyak kesenian Indonesia yang bisa dipelajari. Saya tidak membatasi anak-anak dalam berkesenian. Silahkan pelajari sebanyak mungkin,” imbuh Mbah Heru.

Kepada Nusantara.News, Mbah Heru sempat menunjukkan penampilan para mahasiswi Seni Tari dan Seni Karawitan (STKW) Surabaya. Saat itu mereka menarikan Tari Gandrung. Tari Gandrung adalah salah satu jenis tarian tradisional yang berasal dari Banyuwangi, Jawa Timur. Tarian ini sebenarnya merupakan tarian yang dilakukan secara berpasangan antara pria dan wanita. Tari Gandrung ini hampir sama dengan tarian di daerah lain seperti tari ketuk tilu (Jawa Barat), Tari Tayub (Jawa Tengah), Tari Lengger (Banyumas) dan daerah lainnya, dimana penari wanita mengajak para tamu pria untuk ikut menari bersama. Tarian ini sangat terkenal di Banyuwangi dan menjadi salah satu icon kota Banyuwangi.

“Terbukti kesenian bukan milik orangtua saja. Anak-anak muda juga giat mempelajari kesenian tradisional. Tari Gandrung ini dimainkan oleh para mahasiswi STKW Surabaya. Mereka tidak hanya mahir Tari Gandrung tapi juga menguasai 24 tarian tradisional warisan nenek moyang kita. Saya salut buat mereka!” seru Mbah Heru.

Mbah Heru memperkenalkan tari gandrung asal Banyuwangi yang dimainkan mahasiswi STKW Surabaya.

Selama ini Mbah Heru memang sangat giat mengenalkan beragam kesenian tradisional pada generasi muda. Selain Reog Ponorogo yang menjadi domain-nya, banyak kesenian lain yang kerap ditampilkan dalam setiap pagelaran Reog Ponorogo.

“Sudah saatnya kesenian regenerasi. Ada banyak kesenian. Kami sebisa mungkin mengenalkan semua kesenian Indonesia. Tentunya melalui Reog Ponorogo ini. Sebab yang namanya seni itu diwariskan. Kalau bukan tugas kita mewariskan ke anak cucu, lantas siapa lagi,” terang pria yang juga pengusaha ini.

Diakui Mbah Heru, proses regenerasi kesenian Reog Ponorogo tidak mudah. Semua orang harus terlibat. “Peran pelaku seni harus ada. Seperti pemain, pengrajin dan pelestari. Kedua, peran pemerintah untuk mendukung Reog Ponorogo sebagai warisan bangsa haruslah nyata. Dari pelaku seni sudah maksimal, namun dari pemerintah belum. Kalau mau ada regenerasi, saya kira semua orang harus terlibat, terutama pemerintah harus ikut melestarikan kesenian tradisional,” urai Mbah Heru.

Seiring dengan perkembangan jaman, imbuh Mbah Heru, kesenian Reog Ponorogo sudah menyebar ke penjuru nusantara, bahkan mancanegara. Kesenian itu membuat para pelaku seni Reog membaur.

Kalau di Surabaya, ada sekitar 60 grup Reog Ponorogo yang tergabung dalam paguyuban. Mereka sering tampil di Balai Pemuda setiap Minggu. Ada pula yang tampil di acara-acara resmi kawinan dan lain sebagainya. Di luar Surabaya, pemain Reog tentu banyak. Pemain Reog yang warga asli Ponorogo ada yang bertansmigrasi ke luar pulau mencari lapangan pekerjaan. Mereka menjual rumahnya. Ada yang pindah ke Kalimantan dan Sumatera.

Menurut Mbah Heru, meski mereka telah bertransmigrasi, tapi mereka tetap melestarikan budaya tempat asalnya di Ponorogo. “Sebagai pewaris kita harus melestarikan kesenian Reog dimana pun berada. Anak dan cucu saya kini juga bermain Reog,” ujar pria berdarah Ponorogo ini.

Pembinaan kesenian reog sejak dini dapat meningkatkan pengembangan karakter pada anak. Seorang anak mengenakan atribut Reog Ponorogo.

Maka, jangan heran kalau kesenian Reog diakui oleh Malaysia. Sebab mereka yang bermain adalah orang-orang Indonesia yang telah lama bermukim di Malaysia. Sehingga pemerintah Malaysia merasa perlu melestarikan kesenian tersebut. Padahal mereka paham bahwa Reog Ponorogo berasal dari Indonesia. Tapi Malaysia memandang pemerintah Indonesia tidak begitu care dengan keseniannya. Sehingga Malaysia merasa paling berhak.

“Kalau tidak mau kejadian ini terulang. Pemerintah harus giat melestarikan kesenian ke generasi muda. Apalagi saat ini para generasi muda mulai tertarik mempelajari kesenian Reog Ponorogo, semisal menari, memainkan alat musik, memainkan peran warok, hingga menjadi pembarong. Jangan salah, anak-anak jaman sekarang sudah akrab dengan Reog. Sudah menjadi tugas kita mengarahkan mereka. Saatnya Reog bangkit. Hanya generasi muda inilah satu-satunya penopang bangkitnya kesenian tradisional,” ucap Mbah Heru bersemangat.

Reog Masuk Dunia Pendidikan

Mbah Heru tak henti-hentinya memperkenalkan warisan nenek moyang hingga masuk ke semua lini. Salah satu target yang diusung paguyuban PRPI Jawa Timur adalah kesenian Reog Ponorogo masuk kurikulum sekolah.

“Itu harapan kami. Sebab ini juga bagian dari pelestarian budaya. Dan, satu-satunya peluang besar adalah masuk ke dunia pendidikan. Di sana potensi besar untuk melestarikan kebudayaan sangat besar,” ungkap Mbah Heru.

Mbah Heru memandang perlunya kesenian Reog Ponorogo dikenalkan di dunia pendidikan. Kalau tidak bisa masuk dalam kurikulum, minimal masuk dalam kegiatan ekstrakurikuler.

Anak-anak belajar tari di sanggar Bathoro Katong.

“Bahasa daerah pernah jadi bagian dari kurikulum. Kenapa Reog tidak bisa. Kalau tidak masuk kurikulum, minimal masuk dalam kegiatan ekstrakurikuler sekolah. Minimal kesenian ini bisa dikenalkan pada anak-anak muda. Bayangkan bila sejak dini di sekolah-sekolah dasar, anak-anak dapat belajar kesenian Reog, tentu sebagai orang tua kita patut berbangga,” tegasnya.

Dalam wawancara terpisah, Seswando Dumadi atau akrab disapa Mbah Sis Jangkung mengatakan, pembinaan kesenian reog memang harus dimulai sejak dini. Salah satu tempat yang cocok untuk menciptakan sebuah keselarasan, lanjut Mbah Sis, adalah pendidikan.

“Kesenian Reog Ponorogo butuh ‘bapak asuh’, dan itu adalah dunia pendidikan kita. Karena itu peran pemerintah terutama Menteri Pendidikan dan Kebudayaan sangat kami ditunggu,” sebut sesepuh Reog Surabaya ini.

Ditambahkannya, untuk melawan pesatnya perkembangan jaman sehingga kebudayaan tidak punah, peran generasi muda ini cukup vital. Tanpa mereka, kebudayaan bangsa akan hilang tergerus jaman.

“Sangat disayangkan warisan leluhur itu hilang. Untuk membangun kembali tentu susah. Karenanya pembinaan sejak dini memiliki dasar dan karakter yang kuat. Kita sudah lihat bagaimana peran orang-orang seperti Mbah Heru sebagai pelestari, betapa tidak mudahnya melestarikan kesenian Reog terhadap anak-anak muda di jaman sekarang ini. Harapan kami pelestari itu juga datang dari pemerintah selaku pelaksana regulator,” tuturnya.

Para sesepuh dan pengurus Persatuan Reog Ponorogo Indonesia.

Menurut Mbah Sis, PRPI Jawa Timur sudah memiliki anggota yang tersebar di 24 kabupaten dan kota Jawa Timur. Ke depan PRPI sebagai paguyuban yang berpusat di Surabaya bisa menaungi seluruh paguyuban Reog Ponorogo se-Indonesia.

“Di Surabaya ada 40 paguyuban dengan jumlah pemain berkisaran 200 orang. Itu belum yang tersebar di Jawa Timur dan daerah-daerah lain di Indonesia. Dengan banyaknya paguyuban Reog Ponorogo, kita dapat mengenalkan pada dunia betapa hebatnya warisan nenek moyang Indonesia,” pungkas Mbah Sis.[]

 

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here