Sanksi Amerika Lukai Rusia, Eropa Hingga Cina

0
100
Presiden AS Donald Trump. Foto: Reuters

Nusantara.news – Banyak yang terluka setelah sanksi baru ditandatangani oleh presiden Amerika Serikat Donald Trump, Rabu (2/8) dalam situasi politik penuh ironi. Trump, sambil menandatangani sanksi menggerutu, undang-undang tersebut “cacat” dan “inkonstitusional”. Lalu orang-orang bertanya, kalau begitu kenapa tanda tangan? Sebagian menduga dia tersandera, tangannya terikat kekuatan politik yang bermain di Kongres AS.

Terlepas dari urusan internal politik Trump, yang jelas sanksi itu telah dijatuhkan. Targetnya adalah Rusia, Iran, hingga Korea Utara. Banyak yang terluka, sudah pasti. Bahkan Trump sendiri juga mungkin terluka dengan undang-undang yang ditandatanganinya sendiri.

Rusia yang paling marah karena negara ini menjadi target langsung sanksi baru Washington. Seorang pejabat Rusia menyatakan, sanksi tersebut sama saja dengan ajakan “perang” dalam hal ekonomi dan perdagangan.

Selain itu juga, dalam proses penjatuhan sanksi, Presiden Rusia Vladimir Putin menjadi orang yang dipermalukan, dia  “ditelanjangi” oleh Washington. Rahasia Putin diungkap di hadapan Senat AS, tepatnya di Komisi Kehakiman. Putin dituding sebagai pejabat yang “kotor” dengan menumpuk kekayaan dengan cara yang buruk melalui penyiksaan, penculikan dan pemerasan. Hartanya diungkap senilai USD 200 miliar, dan jika benar dia orang terkaya di dunia, melampaui pemilik Amazon Jeff Bezos (USD 80 miliar) dan pemilik Microsoft Bill Gates (USD 90 miliar), bahkan jika harta kekayaan kedua orang tersebut digabung sekalipun.

Adalah Bill Browder, mantan CEO Hermitage Capital Management yang mengungkap rahasia Putin itu di hadapan Kongres AS. Browder adalah pendiri Hermitage Capital Management, yang dari tahun 1996 sampai 2005 merupakan perusahaan penasihat investasi di Rusia dan memiliki dana investasi sebesar USD 4 miliar dalam bentuk saham di Rusia. Pada 2005, dia diangap sebagai “ancaman terhadap keamanan nasional” Rusia dan dilarang masuk ke negara itu.

Setelah dia dipaksa keluar, pejabat Rusia lalu menyita dana investasi Hermitage Capital Management dan, menurut Browder, Putin mencuri USD 230 juta milik perusahaan itu yang telah membayarkan pajaknya ke Rusia.

Browder mau bersaksi di depan Kongres karena pengacara Rusia yang dipekerjakan untuk menyelidiki perampasan perusahaannya itu, Sergei Magnitsky, disiksa dan akhirnya dibunuh di penjara pada tahun 2009. Sejak saat itulah, Browder menjadi advokat yang bekerja untuk memperjuangkan keadilan bagi Magnitsky dan melawan praktik korupsi Putin di Rusia.

Browder dipanggil ke Kongres untuk bersaksi sebagai bagian dari penyelidikan mengenai campur tangan Rusia dalam Pilpres AS 2016. Kongres akhirnya menyetujui penjatuhan sanksi terhadap Rusia karena mencampuri politik dalam negeri AS.

Jelas saja Putin marah, karena negaranya disanksi, lebih-lebih dirinya secara pribadi juga “ditelanjangi”. Untuk langkah awal, Putin membalas AS dengan mengusir sebagian besar staf kedutaan besarnya yang ada di Moskow. Ini menandai hubungan diplomatik yang sangat buruk, bahkan menurut Menteri Luar Negeri AS, Rex Tillerson lebih buruk ketimbang hubungan AS-Rusia pada masa Perang Dingin.

Belum jelas bagaimana hubungan pribadi antara Trump dan Putin setelah sanksi baru, mereka berdua baru saja bertemu pada awal Juli Lalu di Hamburg Jerman saat KTT G-20. Pertemuan itu pada awalnya memberi harapan Moskow tentang babak baru hubungan AS-Rusia yang lebih baik. Namun ternyata politik Washington berkata lain.

Tidak hanya Rusia yang terluka, sanksi baru AS membuat negara sekutu lamanya di Eropa, Jerman, serta negara-negara Eropa lain seperti Prancis protes keras. Pasalnya, sanksi atas Rusia berekses pada investasi Jerman, terutama dalam proyek pipanisasi Nord Stream-2 yang bakal mengalirkan gas dari Rusia ke Eropa.

Baca: Pupus, Harapan “Perkongsian” Trump-Putin

Pengusaha asal Amerika Paul Goncharoff dalam wawancara dengan media RT America mengatakan, kemarahan, frustrasi, atau bahkan ada negara Eropa yang membahas persiapan membalas sanksi Amerika adalah hal wajar. Menurutnya saat ini, terlihat bahwa kebutuhan, keinginan dan persepsi masa depan yang dimiliki orang Eropa berbeda dengan Amerika.

Goncharoff juga melihat, jika ini dikembalikan ke Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) dengan melihat semangat WTO, apa yang dilakukan AS bertentangan dengan semangat perdagangan bebas yang belum pernah terlihat sebelumnya.

Bukan hanya Rusia dan Eropa, sanksi baru AS, meski belum memasukkan Cina—karena sanksi perdagangan terhadap Cina tengah disiapkan—tapi membuat negara saingan AS di dunia global itu terluka. Sanksi yang dijatuhkan terhadap Korea Utara karena bergeming dengan program nuklir juga secara tidak langsung bakal mengganggu Cina.

Cina selama ini kerap dituding “mensponsori” pengembangan program senjata nuklir Korea Utara. Kemungkinan, dalam waktu dekat Cina juga mendapat sanksi perdagangan dari AS terkait perdagangan yang tidak adil sehingga menyebabkan defisit perdagangan bagi AS, sampai masalah pelanggaran sejumlah hak cipta.

Jika Rusia, Cina, Jerman dan negara-negara Eropa lain “terluka” dengan sanksi baru Amerika, tentu merupakan kerugian secara geopolitik bagi AS. Lebih-lebih, Rusia dan Cina memiliki sejarah kesamaan ideologi (komunisme) sehingga amat mudah menyatukan kekuatan. Eropa, yang sebetulnya sekutu setia AS, setelah kegagalan Trump mem-“populiskan” Eropa justru bisa berbalik arah. Jerman adalah yang paling jelas kerap bertentangan dengan AS di era Trump saat ini. Belum lagi Inggris yang sekarang sudah “berpaling” ke Cina. Lalu Jepang, yang tampaknya tak lagi patuh dengan tuannya (AS) serta secara khusus membina kerja sama dengan Uni Eropa.

Secara geopolitik AS bisa saja terkucilkan di dunia global, dan forum G-20 di Hamburg Jerman awal Juli lalu telah membuktikan itu, dimana sebagian besar negara sudah tak lagi menganggap AS dengan Trump presidennya, sebagai pemimpin dunia. Jika demikian, bisa-bisa sanksi baru AS terhadap Rusia, Iran, dan nanti kemungkinan Cina, yang dimaknai sebagai “perang dagang” itu tidak akan berfungsi apa-apa, kecuali malah semakin membuat negeri adidaya itu dikucilkan dan ditinggalkan.

Munculnya Trump di tengah politik Amerika seperti anomali di negara pengusung demokrasi dan globalisasi tersebut. Trump seperti menjadi penanda, bahwa geopolitik dunia bakal bergeser, dimana AS mungkin tidak lagi menjadi negara digdaya. Jerman, Cina atau gabungan keduanya ditambah Rusia mungkin akan menggantikan posisi Paman Sam itu, apalagi Cina sudah punya ambisi ekspansi ekonomi ke seluruh penjuru dunia dengan konsep One Belt One Road (OBOR)-nya. Tapi, apapun perjalanan waktu jualah yang akan membuktikan. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here