Kisah Heroik di Era Kolonial

Sarip Tambak Oso, Pembela Rakyat Miskin dan Tertindas

0
464
Sarip Tambak Oso dengan Mboknya dalam sebuah pergelaran Ludruk

Nusantara.news, Surabaya – Ini kisah heroik Sarip Tambak Oso, pemuda desa yang pemberani, termasuk menentang arogansi penjajah Belanda dan pengikutnya yang menindas rakyat berdalih memungut pajak kepemilikan.

Dikisahkan, Sarip Tambak Oso merupakan anak seorang janda tua miskin di kampung pesisir Timur Sidoarjo. Setiap hari ia selalu mengalungkan sarung di tubuhnya, tidak sombong dan suka menolong masyarakat desa yang kerap dirundung malang.

Dalam kisahnya, Sarip menaruh kebencian terhadap Belanda dan warga pribumi yang menjadi antek-antek alias kaki tangan Belanda yang kerap melakukan penindasan terhadap masyarakat.

Lelaki itu tinggal berdua dengan ibunya di sebuah gubuk di wilayah Tambak, masuk Kecamatan Gedangan, Sidoarjo, Jawa Timur.

“Cerita yang saya dengar dari mbah buyut saya seperti itu. Sarip Tambak Oso dikenal pemuda pemberani yang suka menolong rakyat,” ujar Supardi, warga Sidoarjo saat berbincang dengan Nusantara.news.

Masyarakat yang hidup di jaman penjajahan saat itu, tidak hanya dihantui perasaan takut, karena kesewenangan pemerintah kolonial Belanda. Harta yang miliki dipastikan tidak aman, karena antek-antek mereka tidak jarang mengambil paksa barang milik masyarakat, dengan dalih karena tidak bisa membayar pajak (upeti) untuk gubermen.

Kiprah yang dilakoni anak tunggal dari Mbok Sarip (panggilan untuk ibunya Sarip-red), kerap dimainkan dalam kesenian Ludruk Jawa Timuran. Dalam alur cerita Ludruk, Sarip dikisahkan sebagai pemuda kampung yang tinggal di Brang Wetan (Timur-red) Sungai Sedati, Sidoarjo. Selain pemberani, Sarip dikenal berhati lembut dan memiliki perhatian terhadap penderitaan orang-orang miskin, utamanya yang menjadi korban pungutan pajak semena-mena oleh Belanda.

Pemuda lajang itu memiliki ikatan batin yang kuat dengan ibunya, Mbok’e (panggilan untuk ibunya Sarip-red), seorang janda tua yang miskin. Konon, saat masih kecil, Sarip diberikan oleh almarhum bapaknya sebuah piandel (jimat untuk kekuatan-red). Ada yang menyebutnya Lemah Abang (tanah merah-red), juga ada yang mengatakan mutiara atau akik Merah Delima. Dengan ajian itu, tubuh Sarip kebal alias tidak mempan ditembak. Sarip bisa hidup kembali asal mendengar teriakan Mboknya.

“Katanya, jimat itu pemberian bapaknya saat masih hidup. Konon, setelah terbunuh, Sarip bisa hidup kembali. Ini cerita orang tua-tua dulu,” ucap Supardi.

Sarip memiliki paman, adik kandung bapaknya, yang mau menang sendiri. Diantaranya,  mengambil paksa semua harta warisan, termasuk tambak peninggalan ayah Sarip, untuk dimanfaatkan sendiri oleh pamannya.

Suatu hari, Lurah Gedangan bersama petugas penarik pajak dan sejumlah tentara Belanda mendatangi rumah Sarip. Tujuannya, menarik pajak petak tambak kepada Mbok’e Sarip, karena tambak yang dirampas dan dikelola paman Sarip itu masih atas nama orang tua Sarip Tambak Oso. Saat itu Sarip tidak ada di rumah.

Dengan kasar Lurah Gedangan serta sejumlah tentara Belanda dan petugas pemungut pajak memperlakukan orang tua Sarip semena-mena. Ia dipaksa membayar pajak, meski kenyataannya tidak lagi mengelola tambak. Yang tersisa hanyalah gubuk reot yang menjadi tempat tinggalnya. Karena tidak mampu membayar wanita tua itu dicaci maki, dipukuli dan ditendang hingga nyaris pingsan, kemudian ditinggalkan begitu saja.
Dalam kondisi itu, dia menangis dan merintih kesakitan sambil memanggil-manggil nama Sarip. “Sarip, mulio nak…Mbok-mu diajar lurah ambek Londho… (Sarip, pulang lah nak, ibu-mu dihajar lurah dan Belanda-red).

Sarip, yang punya kelebihan bisa merasakan yang dialami ibunya, seketika berlari pulang. Ia terkejut mendapati Mbok-nya tersungkur di tanah teras rumahnya. Setelah memberikan pertolongan, Sarip sambil menghunus pisau berlari dan berteriak mengejar Lurah Gedangan. Pemangku wilayah desa itu kemudian dibunuh termasuk sejumlah kompeni Belanda. Sisanya  tunggang-langgang melarikan diri. Sejak itu, Sarip Tambak Oso ditetapkan sebagai buronan Belanda, karena membunuh.

Tak berhenti sampai disitu, kemarahan Sarip terhadap Belanda berlanjut. Setiap ada kesempatan, tentara penjajah dibunuhnya dan mayatnya dibuang ke sungai. Suatu hari, Sarip menemui pamannya untuk membuat perhitungan. Perkelahian pun tak terelakan. Kalah sakti, sang paman dengan mudah dilumpuhkan Sarip dengan sejumlah pukulan tangan kosong.

Setelah kejadian itu, Paman Sarip melarikan diri, menemui seorang jagoan kampung Kulon Kali (sebelah Barat Sungai-red) bernama Paidi, di kawasan Sedati, Juanda, untuk meminta bantuan.

Sehari-hari Paidi bekerja sebagai kusir dokar dan dikenal memiliki senjata andalan “Jagrak Dokar”. Permintaan paman Sarip untuk menuntut balas kepada Sarip diterima Paidi. Bantuan Paidi sebenarnya tidak tulus, karena sejak lama Paidi naksir anak perempuan Paman Sarip, yang dikenal berparas cantik.

Dengan lagak sebagai jagoan, Paidi menemui dan menantang Sarip untuk berduel di tepi Sungai Sedati. Terjadi perkelahian hebat antara keduanya. Dengan pukulan Jagrak Dokar, Sarip tersungkur dan terbunuh. Mayatnya dilempar ke sungai.

Ketika itu Mboknya Sarip mencuci pakaian di alur sungai, terkejut melihat tetesan darah yang terbawa aliran air. Kemudian, setelah ditelusurinya, ia mendapati tubuh Sarip tergeletak tak bernyawa.  Sontak wanita renta itu menjerit, “Sariiip…. Tangio Nak, durung wayahe awakmu mati,” (Sariiip…. Bangun Nak, belum waktunya kamu mati-red). Sarip pun bangun dari kematian, berdiri dan memeluk tubuh perempuan itu, sambil mencium kedua kaki Mboknya.

Di hari pembalasan, giliran Sarip mencari Paidi. Pertemuan mereka berlanjut dengan perkelahian, hingga akhirnya Paidi jagoan seberang sungai itu mati di tangan Sarip.
Peristiwa tewasnya Paidi menjadikan gempar masyarakat sekitar, hingga sampai ke telinga pemerintah kolonial Belanda. Kembali nama Sarip diumumkan sebagai pembunuh dan pemberontak. Sarip kemudian menghilang meninggalkan orang tuanya, hidup berpindah-pindah menghindari pengejaran.

Sebagai buronan, Sarip merampok rumah-rumah tuan tanah antek-antek Belanda. Hasil rampokan dibagi-bagikan kepada masyarakat miskin. Belanda pun semakin geram dengan sepak terjang Sarip.

Kemudian, dengan cara licik Belanda mendapat celah kelemahan Sarip dari penuturan pamannya, yang seperguruan dengan bapaknya semasa masih hidup. Upaya ini dilakukan sang paman karena tergiur iming-iming janji manis Belanda. Selanjutnya, sejumlah pendekar disewa  Belanda untuk menangkap Sarip, dengan lebih dulu menangkap Mboknya Sarip. Setelah rahasia kesaktian Sarip terkuak, wanita tua itu akhirnya ditembak oleh Belanda.

Dalam perburuan itu, Sarip Tambak Oso akhirnya terkepung dalam sebuah aksi penyergapan. Belanda dibantu sejumlah pendekar dan antek-antek penjajah berhasil membawa Sarip, menghadapi ke regu tembak.

Di pertunjungan Ludruk, kisah Sarip Tambak Oso biasanya diawali dengan adegan teriakan “Maling…Maling…” dari pengiring kesenian. Kemudian, sejumlah dialog meluncur dari mulut Sarip, yang mengatakan semua yang dilakukan termasuk merampok dan membunuh karena Belanda sewenang-wenang menindas rakyat dengan dalih memungut pajak. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here