Sasaran Teror Bom: Gereja, Candi sampai Masjid

0
301
Gereja adalah salah satu sasaran aksi teror. Pelaku juga mengincar masjid dan candi.

Nusantara.news, Jakarta – Aksi teror bom bunuh diri  di tiga gereja di Surabaya pada Minggu pagi, 13 Mei 2018 kemarin, dipastikan adalah satu keluarga. Menurut keterangan Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavia, si kepala keluarga, Dita Oepriarto, adalah ketua  Jamaah Ansarut Daulah (JAD) di Surabaya.

Bom pertama terjadi di Gereja Santa Maria Tak Bercela di Jalan Ngagel Madya, Kecamatan Gubeng, pada pukul 06.30 WIB. Pelakunya adalah Yusuf Fadil (berusia 18 tahun) dan adiknya Firman, (16 tahun). Keduanya adalah putra Dita.

Bom kedua meledak meledak pukul 07.15 WIB di Gereja Kristen Indonesia Jalan Raya Diponegoro, Surabaya. Pelakunya adalah istri Dita, Puji Kuswati, yang membawa dua anaknya yang masih sangat belia, berusia 12 dan 9 tahun.  Puji sempat berupaya masuk ke ruang kebaktian yang berisi banyak jamaah, namun dicegah oleh seorang petugas satpam gereja, sehingga mereka wanita itu meledakkan bom yang dibawanya di halaman gereja.

Sedang bom ketiga diledakkan oleh Dita sendiri di Gereja Pantekosta di Jalan Arjuno pada pukul pukul 07.53 WIB. Akibat rangkaian aksi teror ini 56 orang menjadi korban, 13 orang di antaranya tewas termasuk para pelaku.

Ini adalah untuk kesekian kalinya rumah ibadah menjadi sasaran kebiadan teroris. Yang paling mengagetkan adalah serangan aksi teror pada malam Perayaan Natal tahun 2000. Waktu itu, sejumlah gereja yang dipenuhi jemaat yang merayakan Malam Kudus di Jakarta, Bekasi, Sukabumi, Bandung, Mojokerto, Mataram, Pematang Siantar, Medan, Batam, dan Pekanbaru, diledakkan teroris.

Hasil penyelidikan polisi kemudian menunjukkan inilah awal keterlibatan geng pelaku Bom Bali I dalam aksi teror bom di Indonesia. Pemimpinnya adalah Hambali atau juga dikenal dengan nama Riduan Isamuddin. Pria yang nama aslinya adalah Encep Nurjaman, yang lahir di Cianjur 54 tahun lalu, kini mendekam di Penjara Guantanamo.

Untuk pelaksana bom malam Natal itu, Hambali merekut beberapa kader yang kemudian menjadi arsitek Bom Bali I, antara lain Imam Samudera yang menjadi  pelaksana eksekusi di Batam dan Idris alias Gembrot untuk eksekutor di Pekanbaru.

Sepanjang tahun 2000 itu ada tiga kali teror bom terhadap gereja, yakni bom yang dilakukan orang tak dikenal di Gereja Kristen Protestan Indonesia (GKPI) Medan pada 28 Mei 2000, dan pada 29 Mei 2000 lagi-lagi GKPI menjadi sasaran. Pelakunya pun tetap tak jelas.

Beberapa bulan kemudian, Gereja Santa Anna di  Pondok Bambu Jakarta Timur hancur karena ledakan bom pada 22 Juli 2001. Sejak itu praktis, tak terdengar lagi aksi teror bom terhadap gereja, sampai kejadian di Surabaya, Minggu pagi kemarin.

Rumah ibadah memang sering menjadi sasaran ledakan bom. Bahkan Candi Borobudur sebagai tempat suci atau tempat ibadah bagi umat Budha juga pernah diledakkan pelaku teror pada 20 Januari 1985. Menurut versi polisi, pelakunya adalah Husein Al Alhabsy yang marah dengan Peristiwa Tanjungpriok. Tapi Husein membantah, dan menyebut pelakunya adalah Mohammad Jawad. Husein, mubaligh tuna netra itu, dipenjara seumur hidup, namun 1999 dibebaskan berkat grasi Presiden Habibie.

Masjid juga beberapa kali menjadi sasaran kebiadaban teroris. Pada Kamis malam pukul 22.20 WIB tanggal 11 November 1976, Masjid Nurul Iman di Padang, diledakkan orang. Langit-langit masjid terbesar di kota itu runtuh seluas 60 meter. Jendela kaca hancur berkeping-keping. Menurut keterangan Pangkopkamtib Laksamana Sudomo waktu itu, pelakunya adalah bagian dari gerakan ekstrem Komando Jihad. Namun hingga kini tak jelas siapa pelaku sebenarnya.

Kabarnya bom itu akan diledakkan pada saat Shalat Jumat keesokan harinya, namun karena salah mengatur timer, bom meledak lebih awal. Tidak ada korban jiwa, karena masjid sudah sepi.

Masjid terbesar di Indonesia, Masjid Istiqlal, bahkan dua kali diguncang bom. Teror pertama di Masjid Istiqlal terjadi pada 14 April 1978. Tapi pelakunya  tak pernah diketahui.

Kejadian kedua pada sore hari 20 April 1999. Sebuah bom meledak  di lantai bawah Masjid Istiqlal yang menjadi tempat perkantoran sejumlah organisasi Islam, termasuk Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat. Ruang kerja Ketua MUI, yang waktu itu dijabat K.H. Ali Yafie, rusak parah. Demikian juga kantor Lembaga Pengkajian Pangan Obat obatan dan Kosmetika (LPPOM) MUI, Lembaga Pengembangan Tilawatil Quran (LPTQ) MUI, kantor sekretariat Dewan Masjid Indonesia (DMI), dan beberapa ruangan lain.

Bahkan, pada Mei 2017 lalu, masjid yang jadi kebanggaan umat Islam Indonesia itu kembali diancam teror bom. Namun, sebelum melakukan aksinya, si pengancam berhasil ditangkap Unit II Jatanras Ditkrimum Polda Metro Jaya. Pelaku bernama Mudji Dachri kelahiran Balikpapan, 31 Mei 1948.

Masjid lain yang pernah jadi sasaran bom bunuh diri adalah Masjid Mapolres Poso pada 9 Juni 2013 yang menewaskan pelaku tewas dan melukai seorang pekerja bangunan. Ledakan bom terjadi pada pukul 08.03 WITA. Pelakunya adalah Zaenul Arifin alias Arif Petak, asal Kelurahan Blimbing, Paciran, Lamongan. Zainul terkait dengan Ahmad Wahyono dan Farid Ma’ruf, anggota Mujahidin Indonesia Timur pimpinan Santoso, yang dikenal ahli merakit bom.

Masjid di Markas Polresta Cirebon juga pernah diledakkan oleh pelaku bom bunuh diri menjelang shalat Jumat 15 April 2010. Teroris yang mati di tempat itu adalah Muhammad Syarif.  Kapolresta Cirebon AKBP Herukoco dan 25 orang anak buahnya yang hendak menunaikan shalat  terluka.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here