Sastra Pembebasan : Rendra, Jose Rizal, Neruda dan Vaclav Havel (1)

1
356
Rendra

Nusantara.news, Jakarta – Sebenarnya masih banyak lagi sastrawan yang berkisah tentang pembebasan manusia dari penindasan, ketidak-adilan, penghisapan dan seterusnya. Seperti misal Albert Camus, Boris Pasternak, Bertold Brech, Maxim Gorky dan masih banyak lagi.

Namun kali ini nusantara.news tampilkan dulu Rendra, penyair dan ikon teater yang melegenda di Indonesia, juga Jose Rizal, pahlawan nasional Filipina yang multi talenta, selanjutnya Pablo Neruda penyair berbahasa latin yang mahir menuliskan beragam thema kehidupan ke dalam puisi dan Vaclav Havel, penggerak Revolusi Beludru di Cekoslovakia yang membawanya menjadi Presiden.

Rendra

Potret Pembangunan dalam Puisi adalah kumpulan puisinya yang menginspirasi gerakan mahasiswa era 1970-an hingga 1990-an. “Sajak Sebatang Lisong” dan  “Sajak Orang-Orang Kepanasan” banyak dihafal dan dibacakan oleh aktivis gerakan dalam setiap demonstrasi.

Rendra yang lahir dengan nama Willibrordus Surendra Broto Rendra di Solo, Hindia Belanda, 7 November 1935 dan wafat di Depok, Jawa Barat, 6 Agustus 2009 itu menampakkan bakat kepenyairan sekaligus kepemimpinan dalam teater itu sejak SMP. Puisi-puisinya sudah dipublikasikan sejumlah media cetak seperti Siasat, Kisah, Seni, Basis dan Konfontrasi sejak 1952.

Kekayaan puisi-puisi Rendra adalah kepiawaiannya dalam meracik metafora dan kemampuannya dalam bertutur runtut sehingga enak dibawakan para pembaca sajak di atas panggung. Sejak memulai penulisan puisi dalam bentuk pamphlet, sebagaimana dikutip dari “Sejak Sebatang Lisong”, Rendra mengkritik sesama penyair yang hanya mendewakan keindahan bertutur kata

“Aku bertanya,
tetapi pertanyaanku
membentur jidat penyair-penyair salon,
yang bersajak tentang anggur dan rembulan,
sementara ketidakadilan terjadi di sampingnya
dan delapan juta kanak-kanak tanpa pendidikan
termangu-mangu di kaki dewi kesenian.”

Masih dari “Sajak Sebatang Lisong” Rendra juga mengecam dunia perguruan tinggi yang hanya menjadi kepanjangan tangan perguruan tinggi asing dan tidak pernah berdaulat atas dirinya :

“Kita harus berhenti membeli rumus-rumus asing.
Diktat-diktat hanya boleh memberi metode,
tetapi kita sendiri mesti merumuskan keadaan.
Kita mesti keluar ke jalan raya,
keluar ke desa-desa,
mencatat sendiri semua gejala,
dan menghayati persoalan yang nyata.”

Selain sajak-sajaknya, terutama dalam kumpulan puisinya yang berjudul “Potret Pembangunan dalam Puisi”, naskah-naskah teater, baik karya asli maupun karya adaptasi yang dipentaskan Bengkel Teater yang dipimpinnya senantiasa menjadi perbincangan hangat di media massa. Bahkan karena sering dianggap menelanjangi penguasa, berkali-kali pementasannya tidak berjalan mulus. Bahkan setelah membaca puisi pamfletnya tahun 1972, Rendra sempat merasakan dinginnya penjara.

Sejumlah pementasannya masih dikenang publik hingga sekarang ini, antara lain saat Bengkel Teater membawakan lakon “Mastodon dan Burung Kondor”, “Panembahan Reso”, “Kisah Perjuangan Suku Naga”, “Shalawat Barzanji”, ”Sobrat”, juga naskah-naskah adaptasi dari William Shakespeare “Hamlet” dan “Macbeth”, naskah adaptasi dari Samuel Becket “Menunggu Godot”. Naskah adaptasi dari Sophokles “Oedipus Sang Raja”, “Oedipus di Kolonus” dan “Antigone”.

Kendati membawakan naskah terjemahan, namun Rendra mempertemukan tradisi teater barat dengan seni pertunjukan lokal seperti memasukan unsur kethoprak dalam karyanya. Karena Rendra memang dikenal sebagai pelopor teater modern Indonesia. Karya-karyanya, baik puisi maupun teaternya banyak diulas para kritikus dunia sekaliber Profesor Harry Aveling (Australia), Profesor Rainer Carle (Jerman) dan Profesor A. Teeuw (Belanda).

Sepanjang karir kepenyairannya sudah 14 kumpulan puisi yang dilahirkannya, belum termasuk puisi-puisi baru menjelang wafatnya. Karena gaya penulisannya yang epic, bukan lyric sebagaimana umumnya cara penulisan puisi, maka oleh Prof. A. Teeuw puisi-puisi Rendra tidak digolongkan pada angkatan-angkatan baik itu 45, 50-an, Manikebu maupun Lekra. Sebab Rendra adalah penulis yang independen dan tidak terpengaruh oleh kelompok yang ada pada zamannya.

Setidaknya, Rendra pernah meraih delapan penghargaan bergengsing, masing-masing Hadiah Pertama Sayembara Penulisan Drama dari Bagian Kesenian Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Yogyakarta (1954), Hadiah Sastra Nasional BMKN (1956), Anugerah Seni dari Pemerintah Republik Indonesia (1970), Hadiah Akademi Jakarta (1975), Hadiah Yayasan Buku Utama Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (1976), Penghargaan Adam Malik (1989), The S.E.A. Write Award (1996) dan Penghargaan Achmad Bakri (2006).

Oposan Abadi

Rendra memang dikenal kritis terhadap siapapun penguasa di negeri ini. Seperti halnya Sastrawan Mochtar Lubis, Rendra juga dikenal sebagai Oposan Abadi. Era Orde Lama Rendra tidak sejalan dengan Soekarno. Tapi saat konflik kepemimpinan Orde Lama meruncing, Rendra mengambil tawaran beasiswa dari “American Academy of Dramatical Art” yang dijalaninya antara 1964 hingga 1967. Era Soeharto dia sempat dilarang tampil di muka public dan berkali-kali dicekal, bahkan bukunya “Seni Drama untuk Remaja” meskipun ditulis dengan nama Wahyu Sulaiman tetap saja dilarang terbit.

Paska kejatuhan Soeharto pun Rendra juga belum bisa berdamai dengan penguasa. Saat Aktivis Malari Hariman Siregar mendirikan Indonesia Democracy Monitor (Indemo), Rendra termasuk tokoh yang ikut bergabung. Tokoh lainnya tercatat Profesor Sarbini Somawinata, Ali Sadikin, Muslim Abdurahman, Mulyana W Kusumah, dan Amir Husin Daulay yang kesemuanya sudah almarhum. Tokoh yang ikut membidani Indemo yang hingga kini masih hidup adalah Jusman Syafii Djamal dan Prof. Dr. Malik Fajar yang keduanya bahkan sempat menjadi menteri.

Bersama Indemo Rendra juga melibatkan diri dalam Aksi Cabut Mandat Pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono – Jusuf Kalla pada 15 Januari 2006. Maka, begitu Rendra menghembuskan napasnya yang terakhir di Padepokan Bengkel Teater Rendra, di kawasan Citayam, Depok, pada 6 Agustus 2009 bukan saja dunia Sastra dan Teater yang kehilangan, melainkan juga berbagai kalangan termasuk aktivis gerakan.

Sebelum pada episode 2 membahas Jose Rizal, berikut ini sebait sajak Rendra yang ditulisnya pada 22 April 1984 dan masih banyak dihafal oleh berbagai kalangan hingga sekarang :

“Kesadaran adalah Matahari, Kesabaran adalah Bumi, Keberanian menjadi Cakrawala Dan Perjuangan adalah pelaksanaan kata-kata”[]

1 KOMENTAR

  1. “Karya-karya [Rendra], baik puisi maupun teaternya banyak diulas para kritikus dunia sekaliber Profesor Harry Aveling (Australia), Profesor Rainer Carle (Jerman) dan Profesor A. Teeuw (Belanda).”

    Mereka ini BUKAN “kritikus” apalagi “kritikus dunia” tapi cumak Indonesianis yang meneliti Indonesia.

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here