Sastra Pembebasan : Rendra, Jose Rizal, Neruda dan Vaclav Havel (2)

1
447
Jose Rizal, seorang dokter yang juga Sejarahwan, Filsuf dan Sastrawan yang karyanya terkenal di Indonesia

Nusantara.news, Jakarta – Sebenarnya masih banyak lagi sastrawan yang berkisah tentang pembebasan manusia dari penindasan, ketidak-adilan, penghisapan dan seterusnya. Seperti misal Albert Camus, Boris Pasternak, Bertold Brech, Maxim Gorky dan masih banyak lagi.

Setelah pekan lalu mengulas Rendra, penyair Indonesia yang menginspirasi gerakan mahasiswa era 1970-an hingga 1990-an, kali ini nusantara.news mengulas Pahlawan Nasional Filipina Jose Rizal yang puisinya berjudul “Mi Ultimo Adios” menjadi sumber insprasi, bukan saja para pejuang kemerdekaan Filipina, bahkan Bung Karno sendiri pernah menyelipkan nukilan “Mi Altimo Adios” dalam pidatonya.

Baca : Sastra Pembebasan : Rendra, Jose Rizal, Neruda dan Vaclav Havel 

Jose Rizal adalah pahlawan Filipina yang dihukum mati pada 30 Desember 1896. Intelektual Filipina yang memiliki bermacam gelar akademis itu lahir di Calamba, Provinsi Laguna, Filipina, pada 19 Juni 1861. Selain berprofesi dokter, dia juga dikenal sebagai seniman, pendidik, ekonom, ahli pertanian, sejarahwan, jurnalis, pemusik, sosiolog, penyair, penulis drama dan novelis.

Jose Rizal juga menguasai 22 bahasa lokal maupun internasional,seperti Tagalog, Cebuano, Melayu, Tionghoa, Arab, Ibrani, Inggris, Jepang, Catalan, Italia, Portugis, Latin, Perancis, Jerman, Yunani, Rusia dan Sansekerta. Sebagai seorang pahlawan hari kematiannya pada 30 Desember diperingati sebagai hari libur nasional yang disebut “Rizal Day”.

Mi Ultimo Adios

“Mi Ultimo Adios” adalah karya terakhir Jose Rizal sebelum dieksekusi oleh pemerintahan Kolonial Spanyol pada 30 Desember 1896. Puisi itu berhasil diselundupkan keluar penjara dan diterjemahkan 38 bahasa, selain terjemahan ke dalam 46 bahasa daerah Filipina sendiri. Puisi itu lengkapnya terdiri dari 14 bait yang masing-masing bait terdiri dari 5 baris. Tulisan tangan Jose Rizal tentang puisi itu dapat dilihat di Project Gutenberg, Jerman.

Sebenarnya puisi itu tidak diberi judul oleh penulisnya. “Mi Ultimo Adios” yang selanjutnya dijadikan judul dikutip dari bait pertama puisinya. Kemashuran “Mi Ultimo Adios” dan José Rizal ini juga dibenarkan sastrawan Taufiq Ismail. Bahkan saat berkunjung ke Rizal Park yang tempat Rizal dieksekusi hukuman mati di Filipina pada 1996, Taufiq Ismail sempat menulis puisi tentang penyair besar itu.

Seperti halnya para perintis kemerdekaan Indonesia, Jose Rizal adalah intelektual didikan pemerintahan kolonial yang sadar atas ketertindasan bangsanya. Dia pun aktif melibatkan diri di sejumlah organisasi, terutama saat kuliah di Spanyol, Perancis dan Jerman. Kala itu lahir novel pertamanya berjudul “Noli Me Tangere” atau dalam bahasa Indonesianya “Jangan Sentuh Aku” yang sangat terkenal di dunia.

Novel itu dikerjakan selama 4 tahun selama dia kuliah di Madrid, Paris dan Berlin ketika usianya 26 tahun, atau 2 tahun setelah dia meraih gelar doktor Filsafat dan Sastra.  Novel keduanya, El Filibusterismo (Merajalelanya Keserakahan) merupakan kelanjutan dari novel sebelumnya.

Memang, hampir semua karya Rizal ditulis dalam bahasa Spanyol, bahasa penjajah bagi bangsa Filipina. Kedua novel Rizal ini telah diterjemahkan ke Bahasa Indonesia (melalui edisi bahasa Inggris) oleh Tjetje Jusuf dan diterbitkan oleh Pustaka Jaya, masing-masing pada 1975 dan 1994.

Berkebalikan dengan kalkulasi pemerintah jajahan Spanyol, eksekusi mati terhadap Rizal justru semakin meneguhkan kesyahidan (martyrdom) Rizal dan membuat novel-novel dan puisi José Rizal itu bergema lebih keras. Kematiannya justru semakin mengobarkan Revolusi Filipina untuk mencapai pemerintahan sendiri (merdeka). Apalagi di masa penindasan kolonial yang serba-sensor, puisi juga jauh lebih mudah tersebar dan dihapal serta menginspirasi setiap orang yang bergerak.

Meskipun puisi asli “Mi Ultimo Adios” terdiri dari 14 bait namun bait yang terkenal adalah satu bait pertama dan tiga bait terakhir. Terjemahan dalam bahasa Inggris saja terdiri dari 35 versi, namun terjemahan oleh Trinidad T Subido dianggap paling banyak diterjemahkan kembali ke dalam berbagai bahasa, termasuk bahasa Indonesia. Di Indonesia sendiri puisi itu sudah diterjemahan oleh Rosihan Anwar pada 1945.

“Mi Ultimo Adios” hasil terjemahan Rosihan Anwar ke bahasa Indonesia dianggap sangat berhasil. Atas karyanya itu, Rosihan Anwar pernah diundang untuk menerima penghargaan dari pemerintah Filipina. Berikut terjemahan “Mi Ultimo Adios” dalam bahasa Indonesia yang disebut oleh penterjemahnya sebagai karya adaptasi.

Selamat tinggal, Tanah tercinta, kesayangan mentari,
Mutiara lautan Timur, Kahyangan yang hilang!
Demi kau jiwa-raga kupasrahkan, dengan rela hati;
Andai ‘ku lebih indah, lebih segar, lebih utuh dari ini,
‘Kan kuserahkan jua, padamu ‘tuk kebahagiaanmu …

Bila kau lupakan aku, apalah artinya jika
‘Ku bisa susuri tiap jengkal tercinta relungmu?
Jadilah seutas nada, berdenyut dan murni; sesudahnya
Jadilah aroma, cahya, senandung; lagi jadilah tembang atau tanda
Dan melalui semua, lagukan kembali keyakinanku.

Tanah pujaan, dengarkan selamat tinggalku!
Filipina Cintaku, dukamu sangat laraku jua,
Kutinggalkan kalian semua, yang sangat kucintai;
‘Ku pergi ke sana, di mana tiada hamba tiada tiran berada,
Di mana Keyakinan tiada merenggut nyawa,
dan Tuhan mahakuasa beradu.

Selamat tinggal segala yang dimengerti jiwaku
Ya sanak-saudara tanah airku yang dirampasi;
Syukurilah berakhir hari-hari tertindasku;
Selamat tinggal, engkau yang asing nan manis, sukacita dan sahabatku;
Selamat tinggal, orang-orang yang kucintai. Mati hanyalah tetirah ini.[]

1 KOMENTAR

  1. Sastra itu jalan yg sunyi, tapi bertebaran arti saat dilalui. Sastra itu jalan gelap, tapi banyak mengungkap ketika disambangi. Sayang msh banyak orang kurang mengakrabinya …

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here