Sastra Pembebasan : Rendra, Jose Rizal, Neruda dan Vaclav Havel (3)

1
223
Pablo Neruda yang memang mencintai Laut. Beberapa puisinya berkisah tentang laut FOTO Poetry Foundation

Nusantara.news, Jakarta – Tahukah anda, Pablo Neruda peraih Penghargaan Nobel di bidang Sastra tahun 1971 memperoleh jodohnya di Indonesia? Itulah sekelumit kisah Minggu ini tentang Sastra Pembebasan setelah pekan lalu membahas Rendra dan Jose Rizal.

Baca : Sastra Pembebasan : Rendra, Jose Rizal, Neruda dan Vaclav Havel (1)

Baca : Sastra Pembebasan : Rendra, Jose Rizal, Neruda dan Vaclav Havel (2)

Tentang kehebatan Neruda dalam berpuisi, Novelis Kolombia Gabriel Garcia Marquez menyebutnya “Penyair Terbesar dalam Bahasa Apa pun”. Hampir semua bidang kehidupan, dari sajak patah hati, percintaan, keindahan alam, kepahlawanan, hingga politik, pernah dipuisikan oleh penyair kelahiran Parral, Chili, 12 Juli 1904 itu.

Pablo Neruda hanyalah nama samaran. Nama aslinya, Ricardo Eliecer Neftali Reyes Basoalto. Ayahnya, Jose del Carmen Reyes Morales adalah seorang pegawai jawatan kereta api. Sedangkan ibunya, Rosa Neftali Basoalto Opazo adalah guru sekolah yang meninggal dunia setelah Neruda dilahirkan.

Kala itu, bahkan sampai sekarang pun, menjadi penyair bukan profesi yang menjanjikan. Maka ayahnya pun menentang keras tatkala Ricardo, nama asli Pablo, sejak kecil menaruh perhatian yang besar di dunia puisi. Namun minat Ricardo mendapatkan dorongan motivasi dari Sastrawan Gabriela Mistral yang juga meraih Penghargaan Nobel di bidang Sastra.

Puisi pertama Ricardo pertama dipublikasikan oleh surat kabar harian “La Manana” berjudul “Entusiasismo y Perseverancia” (Antusiasisme dan Kegigihan) di usianya yang baru 13 tahun.

Sejak itu Pablo Neruda menjadi penyair produktif. Sudah ribuan karya puisinya yang diterbitkan. Tema-temanya sangat beragam : ada puisi-puisi erotic, ada pula yang surealis, kadang memuisikan epos sejarah, tidak sedikit pula bicara soal politik, hingga ke masalah kehidupan sehari-hari  seperti alam dan laut.

Nama samara Pablo Neruda sudah dia kenalkan sejak 1920. Selain menulis puisi, Pablo Neruda juga mempublikasikan prosa dan karya-karya jurnalistik. Tapi kegigihannya menulis tidak membuatnya hidup berkecukupan. Bahkan dia terperangkap di bawah garis kemiskinan.

Kumpulan puisi pertamanya terbit pada 1923 dengan judul “Crepusculario” (Buku Senja). Satu tahun berikutnya terbit kumpulan puisinya ke-2 berjudul “Veinte poemas de amor y una canción desesperada” (Dua Puluh Puisi Cinta dan Nyanyian Putus Asa). Kritikus menyebut kumpulan puisinya yang ke-2 nyleneh, karena memasukkan unsur-unsur erotisme.

Toh begitu, kedua karyanya itu mendapatkan perhatian sejumlah kritikus sastra. Bahkan puisi-puisi erotisnya dalam kumpulan puisinya yang ke-2 terjual jutaan eksemplar yang membuat Pablo Neruda menjadi penyair paling terkenal di dunia.

Tapi sayang, sukses Pablo Neruda berpuisi berbanding terbalik dengan kehidupan pribadinya yang serba pas-pasan. Tuntutan hidup membuat Ricardo di tahun 1927 menerima saat pemerintah Chili menempatkannya menjadi Konsul Kehormatan di Rangoon, ibu kota Burma yang menjadi wilayah jajahan Inggris ketika itu.

Lepas dari Ranggon, Ricardo ditempatkan di berbagai kota Asia, seperti Kolombo (Sri Lanka), Batavia, dan Singapura. Nah, saat bekerja di Pulau Jawa itu Ricardo alias Pablo Neruda menemukan jodohnya. Bukan orang Jawa jodohnya, melainkan perempuan Belanda bertubuh tinggi bongsor yang bekerja di Bank bernama Maryka Antonieta Hagenaar Vogelzang.

Saat bertugas sebagai diplomat itu, Ricardo alias Pablo Neruda banyak membaca puisi dan bereksperimen dengan berbagai bentuk puisi. Ia menulis jilid pertama dari kumpulan puisinya yang dua jilid “Residencia en la tierra” (Menetap di Negeri) yang mencakup banyak puisi surealis, yang belakangan juga ikut mengerek namanya.

Selain itu Pablo Neruda adalah seorang simpatisan Partai Komunis, meskipun kadang dia bertentangan dengan kebijakan-kebijakan anti kemanusiaan partainya, bahkan pernah menyesal menjadi bagian dari kekejaman Stalin yang sebelumnya dia puji setinggi langit.

Pablo Neruda yang juga pendukung setia Presiden Allende, wafat karena kanker prostat pada 23 September 1973, atau 12 hari setelah Chili jatuh dari tangan Allande ke tangan dictator Jenderal Pinochet. Berikut ini satu puisi Pablo Neruda tentang nasib manusia yang melarat sepanjang hidupnya dan terbebas oleh kematiannya. Puisi itu diterjemahkan dari bahasa Spanyol oleh Dina Oktaviani

Kepada mayat lelaki malang

Pablo Neruda

Hari ini kita menguburkan lelaki kita yang malang :
lelaki yang sangat sangat malang.

Dia selalu dalam nasib buruk
bahkan inilah untuk pertamakalinya
manusianya dimanusiakan.

Karena tak punya rumah, tak pula tanah,
tak punya abjad, tak pula kertas-kertas,
tak pula daging panggang,
maka dari satu tempat ke tempat lainnya, di jalan-jalan,
dia berjalan dalam kekurangan,
mati perlahan demi perlahan
begitulah dia semenjak lahirnya.

Mujur dan sangat jaranglah, mereka semua berpendapat sama
dari uskup sampai hakim
dalam menjaminnya masuk surga
dan kini wafatlah dengan hormat lelaki kita yang malang
ai, lelaki kita yang sangat sangat malang
dia tak akan tahu harus berbuat apa dengan begitu banyak langit.
Dapatkah dia mencangkulnya, menyemainya dan menuainya ?

Dia selalu melakukannya, dengan bengisnya
bertarung dengan tanah terjal
dan kini langit dengan leluasa membentangkan diri bagi cangkulnya,
dan kemudian di antara buah-buahan surga
dia akan mendapat bagiannya, dan di mejanya
di ketinggian sana segalanya tersedia
baginya untuk memuaskan hatinya akan surga
lelaki kita yang malang, yang membawa sebagai nasib baiknya
dari bawah, enam puluh tahun rasa lapar
untuk dikenyangkan, akhirnya, secara hormat,
tanpa pukulan-pukulan dari hidupnya lagi,
tanpa teraniaya demi makanan,
aman bagaikan keturunan raja-raja dalam kotak di bawah tanah
kini dia tak lagi berpindah-pindah untuk melindungi dirinya,
kini tak akan berjuang demi upahnya.
Dia tak pernah mengharapkan keadilan, begitulah dia,
tiba-tiba mereka memenuhi cawannya dan bersulang untuknya :
kini dia telah tersungkur dalam kesenangan.

Betapa beratnya dia sekarang, lelaki yang sangat sangat malang itu !
Kemarin dia cuma setumpuk tulang bermata legam
dan kini kita tahu, dari berat tubuhnya seorang,
ai begitu banyak hal yang dulu tak didapatkannya,
jika kekuatan ini terus-menerus,
mencari tanah-tanah tandus, menyusuri batu-batu,
menuai gandum, membasahi tanah liat,
menggiling belerang, mengusung kayu bakar,
jika lelaki yang begitu besar ini tak punya
sepasang sepatu, oh betapa sengsara, jika seluruh diri lelaki tersendiri
yang dipenuhi daging dan otot ini tak pernah mendapatkan
keadilan selama hidupnya dan semua orang memukulnya,
semua orang menjatuhkannya, dan meski demikian
dia terus saja dengan pekerjaannya, kini dengan mengangkat dirinya
dalam peti mati di atas bahu kita,
setidaknya kita tahu berapa banyak yang dulu tak dimilikinya,
bahwa kita tak membantunya selama hidupnya di dunia.

Kini mulai kita tanggung
segala yang tak pernah kita berikan padanya, dan kini sudah terlambat :
dia menindih kita dan kita tak mampu menanggungnya.

Berapa banyak orang yang menindih mayat kita ?

Dia menindih kita dengan seluruh berat dunia, dan kita terus
mengusung mayatnya di bahu kita. Jelas
bahwa surga dipenuhi makan besar.
[]

1 KOMENTAR

  1. Ah, seandainya kurikulum pendidikan juga memasukkan riwayat tokoh2 sastrawan, barangkali menambah referensi tentang nilai2 keteladanan dalam hidup.

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here