Sate Pak Turut, Ikon Kuliner Gunungkidul yang Berawal dari Pikulan

0
673
Sate Pak Turut Karangmojo di daerah Kepek, Wonosari, Gunungkidul, beserta mbak Ratmini, pengelolanya/Foto : Kabar Handayani

Nusantara.news, Wonosari – Karnoto (74) alias Turut mungkin tidak menyangka perjuangannya mikul dagangan Sate dari pedukuhan Ngrombo Wetan ke Pasar Plumbungan, Karangmojo, berjarak sekitar 4 Km, berbuah manis untuk anak cucunya.

Sate Pak Turut Karangmojo yang semula mangkal di Pasar Plumbungan, dimulai sekitar tahun 1979, kini sudah memiliki 4 cabang yang semua dikelola sendiri oleh anak-anaknya. Ratmini sendiri, sebagai anak tertua Pak Turut mengelola Cabang di dekat Pasar Bambu, Kepek II, Wonosari. Pikulan sebagai ikon perjuangan bapaknya tetap dipertahankan di semua cabang Sate Pak Turut Karangmojo.

“Selain saya, adik-adik saya juga membuka Cabang. Ada yang membuka warung di Ngipak, satunya lagi di Ledoksari dari Wonosari menuju Siyono,” terang Ratmini yang tidak ingat lagi sejak kapan bapaknya memulai usaha dagang Sate yang ternyata laris itu.

Kini Sate Pak Turut menjadi legenda kuliner Kabupaten Gunungkidul. Lokasi warungnya yang hanya berjarak sekitar 300 meter dari Kantor Pemkab Gunungkidul menjadi tempat makan favorit pegawai-pegawai Pemda. Belum lagi kantor-kantor Dinas yang lokasinya bertebaran di sekitarnya. Juga pecinta kuliner sate yang kebetulan melintas Kota Wonosari.

Tidak mengherankan bila Sate Pak Turut sudah buka sejak 09.00 pagi. Rata-rata dua ekor kambing tandas pada pukul 15.00 sore. “Nyuwun ngapunten, sampun telas (Maaf, sudah habis),” begitu kata mas-mas yang sedang mengipas sate orderan terakhir. Padahal hari Selasa (2/5) itu kami berkunjung ke warungnya di Pedukuhan Ngipak, Karangmojo itu, sekitar pukul 14.35

Akhirnya kami ke Wonosari. Di sana ada dua cabang,  satu di Kepek, dan satu lagi di Kranon, atau 1 Km dari Kota Wonosari ke arah Pasar Hewan Siyono. Di Kepek, sate di warungnya mbak Ratmini juga sudah habis. Akhirnya kami benar-benar menikmati legitnya daging kambing beserta gulai di warung Sate Pak Turut Karangmojo di Ledoksari.

Dua pelayan berusia remaja menghampiri kami berdua. Kami pesan dua porsi sate dan semangkok gulai. Satu porsi sate Pak Turut berisi lima tusuk yang tersaji di atas piring kecil. Lalapan irisan mentimun dan kubis tersaji di piring lainnya. Sedangkan nasi tersaji di atas bakul. Satu set teh poci dengan teko blirik menambah suasana khas kuliner Jawa.

Wartawan nusantara.news menikmati lezatnya Sate Pak Turut Karangmojo di Ledok Sari

Umumnya sate kambing di Yogyakarta alot, kata mantan Wapimred SCTV Putut Trihusodo. Tapi anggapan itu terbantahkan saat mencicip Sate Pak Turut. Bumbunya sangat spesial. Rahasianya, sebelum dibakar sate terlebih dulu direndam bumbu gulai dan beragam empon-empon yang dimasak selama berjam-jam. Bumbu ini diberinya nama kopyokan. Inilah rahasia kelezatan Sate Pak Turut.

“Selain sate, di warung kami juga menyediakan gulai kambing, thengkleng, dan tongseng, serta sate klathak,” cetus Ratmini yang mengaku sudah 18 tahun membuka Cabang Wonosari.

Sutrisno (32), warga Desa Kemadang yang kebetulan sedang menunggu pesanan mengaku setidaknya setiap datang ke Kota Wonosari selalu singgah di warung sate Pak Turut. Begitu juga dengan Irwan, pengendara Fortuner yang baru mampir ke warung, mengaku Sate Pak Turut Karangmojo memiliki rasa yang khas.

Kondisi warung yang sederhana dan tanpa pendingin tidak membuat penggemar sate dari kalangan menengah-atas menyurutkan minat. Sebab meskipun sederhana, ruangan yang menampung 30 orang itu meja dan bangkunya tidak berhimpitan. Tidak adanya enternit atau plafon dan berdinding bambu membuat suasananya tetap adem.

Jadi, Pak Karnoto alias Turut yang sekarang tinggal di rumahnya di Pedukuhan Ngrombo Wetan, Desa Karangmojo, Gunungkidul mungkin tidak pernah mengira, jerih payahnya sejak usia muda kini dipanen oleh anak-anaknya.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here